Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 20. Kebahagiaan Putri Citra Sasmita



Putri Citra Sasmita membelai pipi Nilotama, dengan kasih sayang,


"Katakanlah apa yang kamu pikirkan hingga membuat kamu sakit ?" tanya Putri, Nilotama diam tanpa menjawab,


"Apapun yang kamu inginkan asalkan masih dalam jangkauanku, aku akan berusaha memenuhi, katakanlah sesuatu," Putri bertanya kembali, namun Nilotama masih diam.


Putri Citra Sasmita sangat mengasihi Nilotama, dan menganggap Nilotama seperti adiknya sendiri, Putri Citra Sasmita merupakan anak tunggal dari Raja Wreksasena, dia selalu mendambakan adik agar bisa diajak bermain namun permaisuri tak kunjung hamil.


Sementara Nilotama orang yang selalu ceria, wataknya baik dan sering mengalah, walaupun Nilotama anak tunggal karna kakak lelakinya meninggal dalam perang, hal itu yang membuat Putri Citra Sasmita sangat menyayangi Nilotama.


Putri meminta kepada pelayan setianya Nilotama agar mencari tau apa yang menjadi sebab sakitnya Nilotama,


Pagi ini Putri kembali berkunjung ke kediaman Panglima bersama Wira,


"Salam Putri salam Pangeran," Panglima Ringkin dan Dewi Damayanti menyambut kedatangan Putri dan wira, mereka terlihat kuyu dan tanpa semangat hidup.


Nilotama adalah Putri mereka satu-satunya, penderitaan Nilotama adalah penderitaan mereka bahkan mereka lebih sakit ketika orang paling mereka kasihi sakit sementara mereka tidak bisa berbuat banyak.


Mereka sudah berusaha membujuk Nilotama untuk makan namun sia-sia, Nilotama selalu diam saja.


"Paman aku mau ke kamar Nilotama," kata Putri seraya melangkah menuju kamar Nilotama, Putri melihat Nilotama sedang tertidur pulas dan terlihat makin kurus,


"Ikut aku," kata Putri pada pelayan yang selalu menjaga Nilotama.


"Katakan apa yang engkau ketahui selama menjaga Nilotama,"


"Hamba sudah berusaha menanyakan dan mengajak nona muda berbicara tapi nona muda tidak pernah mau menjawab, maafkan kebodohan hamba Putri," jawab pelayan


"Baiklah....apakah kamu pernah mendengar dia menggumam atau apapun itu yang bisa kamu lihat atau kamu dengar ?" tanya Putri penasaran


"Oh ya putri.....hamba pernah mendengar nona muda mengigau saat tidur nona berucap lirih...


kakak Wira... , kakak Wira..., selama Pangeran disini nona muda sering menemani Pangeran Mahawira jalan-jalan mungkin nona muda bermimpi hingga mengigau," pelayan menceritakan apa yang dia ketahui.


"Terimakasih....jaga terus Nilotama untukku, dia sudah ku anggap adikku sendiri," Putri memberi gelang emas yang dipakainya pada pelayan,


Pelayan kebingungan mendapat hadiah yang terlalu berharga baginya tanpa berbuat jasa yang besar,


"Tidak Putri, hamba tidak berani menerima....hamba tidak pantas"


"Sudah kukatakan Nilotama sangat berharga bagiku, melayani Nilotama dengan baik adalah jasa besar menurutku... , ambilah," Putri menyerahkan kembali gelang pemberiannya pada pelayan.


"Panggilkan suamiku, katakan aku menunggunya dikamar Nilotama," perintah Putri pada pelayan,


"Baik Putri...," jawab pelayan sambil bergegas pergi


Wira sedang berbicara dengan Panglima dan istrinya mengenai penyakitnya Nilotama,


"Apa paman sudah mencoba tabib yang lain sebagai pembanding," tanya Wira pada panglima.


"Dia tabib istana Pangeran, tabib terbaik yang ada disini, selain dia tidak ada lagi tabib yang lain," jawab Panglima


"Jangan menyebutku pangeran Paman, panggil aku Wira seperti biasanya"


"Hamba tidak berani Pangeran...,itu titah Yang Mulia Raja, melanggar perintahnya sama dengan melawan raja," ucap Panglima menjelaskan.


"Aku punya pil yang bagus untuk mengobati kelemahan fisik Nilotama, tapi tidak untuk pikirannya,"


"Itu juga bermanfaat Pangeran, minimal fisik putriku sehat, untuk kejiwaannya, aku akan mencari cara," Panglima menjawab sopan.


"Baiklah aku keruangan Nilotama dulu Paman, Bibi," ucap Wira sambil beranjak pergi menyusul pelayan ke ruangannya Nilotama.


"Kamu boleh tunggu diluar sementara," kata Putri kepada pelayan,


"Kanda aku tau kamu punya banyak kemampuan, tolong lakukan sesuatu untuk Nilotama, dia aku anggap adikku sendiri dan aku sangat menyayanginya, aku mohon Kanda," kata Putri Citra Sasmita, terlihat jelas kekhawatiran menyelimuti wajahnya.


"Dinda, Aku juga menyangi Nilotama seperti adik, dia selalu menemani Kanda kemanapun di dunia kecil ini, dia gadis yang periang dan berkepribadian baik," ucap wira


"Aku bisa mengobati fisiknya adik Nilotama tapi untuk jiwa dan pikirannya aku tidak mampu Dinda," jawab Wira melanjutkan


"Itu sudah cukup, lakukanlah Kanda," ucap Putri penuh harap.


Wira mengeluarkan pil berwarna hijau keemasan dari cincin dimensinya


"Apa perlu dibangunkan Kanda,"


"Tidak biar aku masukkan pilnya dan aku bantu dengan mengalirkan energi agar tubuhnya menyerap khasiat pil dengan cepat," jawab Wira.


Wira memasukkan pil ke mulut Nilotama sambil menotok titik-titik tertentu pada kerongkongan Nilotama, kemudian menaruh telapak tangannya di perut Nilotama untuk mengalirkan energi agar pilnya tercerna dengan cepat.


Sementara Putri bergerak kebagian kepala tempat tidur sambil membelai kepala Nilotama,


"Demikian besar kasih sayang istriku pada Nilotama, dia pasti sangat sedih jika Nilotama sampai kenapa-napa," Wira membatin.


Lima menit kemudian Nilotama terbangun dengan luapan energi yang sangat besar,


"Kakak Wira..." Nilotama memeluk Wira dengan refleks ketika dia bangun dan melihat Wira berada disampingnya, kemudian buru-buru melepaskan pelukannya dan memandang Wira dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Adik duduklah dan serap energi dari pil penyembuh itu bisa membuat fisikmu kembali bugar dan lebih kuat, bahkan bisa meningkatkan kultivasi," kata Wira,


"Baiklah Kakak," jawab Nilotama tersenyum riang , kemudian duduk untuk menyerap energi yang meledak-ledak dalam dirinya.


Melihat Nilotama duduk untuk menyerap energi, Putri memberi isyarat agar Wira keluar supaya Nilotama bisa menyerap energi dengan tenang.


Wira keluar ruangan diikuti istrinya menuju ruang tamu. Sesampainya diruang tamu Dewi Damayanti menyongsong dengan antusias seraya bertanya,


"Bagaimana Pangeran...?, apa putriku ada perubahan?" ucap Dewi Damayanti.


"Adik Nilotama sedang berkultivasi menyerap khasiat pil yang ku berikan, kita tunggu saja dulu," jawab Wira


Satu jam kemudian Nilotama keluar ingin menemui Wira karna mendengar percakapan ibundanya dengan wira, begitu melihat Putri dia segera menuju Putri Citra Sasmita dan memeluknya erat, kemudian menoleh kepada Wira.


"Kakak Wira terima kasih telah memberi pil, aku bisa naik 3 tingkat," kata Nilotama


"Wah luar biasa adikku yang cantik ini sudah naik tingkat," kata Putri gembira


"Mana bisa dibandingkan Kakak Putri yang sudah level Raja," jawab Nilotama riang


Sambil terus memegangi tangan putri.


Nilotama selalu memanggil Putri Citra Sasmita dengan sebutan Kakak Putri. Karna Putri Citra Sasmita menginginkan untuk dipanggil kakak oleh Nilotama, supaya tidak terkesan lancang maka Nilotama memanggil Kakak Putri.


Diantara mereka semua Putri Citra Sasmita yang terlihat paling bahagia melihat kesembuhan Nilotama, dia terus mengelus rambut Nilotama gadis 15 tahun yang tubuhnya sudah sama besar dengan dirinya


Mereka ngobrol lama, sampai kemudian putri mohon diri untuk kembali ke kediamannya.