Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 48. Bangkitnya semangat perjuangan



Didalam Kota Mojo Agung.


Seorang gadis muda berjalan menuju toko pakaian Ratu Keindahan, tempat Wira memesan pakaian wanita untuk pengikut istrinya.


"Silahkan masuk Nona, ada yang bisa kami lakukan untuk nona ?" tanya pelayan ramah.


"Aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini, apa bisa diantar menemuinya ?"


"Ada hal penting yang ingin Nona sampaikan pada majikan kami ?" pelayan menanyakan lebih lanjut. Pelayan perlu tahu kepentingan tamu yang ingin bertemu dengan majikannya, jika dia merasa mampu untuk menangani sendiri tentu tidak perlu sampai majikan yang menangani.


"Aku diutus majikanku untuk mengambil pesanan pakaian wanita,"


"Apa Nona Muda utusan Tuan Wira ?" pelayan menanyakan.


"Iya benar, aku Delima, utusan Pang...,eh Tuan Muda Wira," jawab Delima sembari mengeluarkan lencana Rumah Pelelangan Istana Salju, dan bukti pembayaran untuk 500 setel pakaian wanita.


"Majikan kami sudah berpesan pada kami jika utusan Tuan Muda Wira datang agar memberi pesanannya," jawab pelayan sambil mengambilkan pesanan yang sudah disiapkan.


Delima menyewa gerobak dan tiga orang buruh untuk membawa barang menuju penginapan tempat Wira menunggu.


Sementara di balai kota, Kepala Kota sedang sibuk dengan laporan beberapa orang murid sekte Golok Neraka mengenai musnahnya sekte Golok Neraka yang merupakan pendukung pemerintahan Pangeran Gantar.


Jenderal Muda yang diutus Pangeran Gantar untuk datang menemui Kepala sekte Golok Neraka sangat kaget dengan berita musnahnya sekte Golok Neraka. Kebetulan Jenderal Muda sedang ada di balai kota ingin bertemu dengan Kepala Kota untuk suatu urusan.


"Kepala kota, segera kirim prajurit untuk mengecek kebenaran berita itu, dan perketat keamanan kota," Perintah Jenderal Muda.


*****


Disebuah restoran sedang ramai bergujing tentang musnahnya sekte Golok Neraka, banyak yang gembira mendengar berita itu namun tidak berani berkomentar.


"Tadi aku dengar berita sebelum musnahnya sekte Golok Neraka, beberapa anggota sekte Golok Neraka berurusan dengan keluarga Panglima Kerajaan Indra Pura," ucap seorang pria tua.


Semua pengunjung restoran menoleh kearah pria tua itu,


"Pak Tua jangan sembarang bicara," kata pengunjung lain yang ada didekatnya,


"Salah omong bisa berakhir dipenjara, atau bahkan meninggal," katanya melanjutkan.


"Maaf..., maaf...., aku hanya mengatakan apa yang aku dengar tadi dijalan, bukan bermaksud apa-apa, seraya beranjak pergi dengan wajah ketakutan.


Pria tua bergegas membayar harga makanannya dan berlalu dari restoran menuju ke penginapan.


"Tok..tok..tok"


Delima membuka pintu, melihat seorang pria tua yang ada didepan kamarnya Delima bingung.


"Ada perlu apa Pak Tua ?" ucap Delima dengan mimik penasaran.


"Ish aku lupa," gumam pria tua kemudian berubah menjadi Wira.


"Pange...."


Wira menaruh jari telunjuk di bibirnya,


"Pesanannya sudah kamu ambil ?" tanya Wira, sambil menyuruh Delima masuk kedalam kamar agar tidak dilihat orang.


Wira ikut masuk kedalam kamar Delima, begitu dilihat kemasan besar dikamar Delima dia menduga itu pakaian yang dia pesan.


"Bagikan ini dengan seluruh pengikut lainnya sesuai warna !" kata Wira kemudian memasukkan Delima dan kemasan besar yang berisi pakaian mereka ke dalam Dunia Dimensi Jiwa.


Wuuuusss...


Delima begitu saja berada di Istana Giok, rekan-rekannya mengerumuni Delima, penasaran karna baru pertama kalinya dia mendapat tugas dari Pangeran Mahawira junjungan mereka, semenjak tinggal di Istana Giok.


"Apa tugas yang diberikan Pangeran kak ?" tanya Intan penasaran.


"Aku hanya disuruh mengambil pakaian ini di toko pakaian, setelah itu dimasukkan lagi kesini untuk membagikan pakaian ini sesuai kelompok." jawab Delima.


Kemudian Delima membagikan pakaian yang dibelikan oleh Wira sesuai warna kelompok mereka.


Mereka semua sangat gembira mendapat hadiah baju yang sangat mewah dan mahal, modelnya sangat sesuai dengan mereka yang biasa bertarung, masing-masing mendapat sepuluh setel pakaian.


"Pangeran Mahkota dan Istrinya memperlakukan kita dengan baik, maka sudah seharusnya kita membalasnya dengan melakukan tugas dan perintah beliau dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan Pangeran dan keluarganya," ucap Delima pada semua rekannya.


"Baik Kak," jawab Intan diikuti semua temannya.


Berita tentang hancurnya Sekte Golok Neraka dan sekte Lembah Kabut Racun, serta beberapa orang anggota sekte Kelabang Iblis, yang ikut menghancurkan sekte Selendang Mayang telah tersebar, informasi itu diketahui oleh anggota sekte yang sedang tugas keluar sekte, begitu mereka pulang mendapati sektenya sudah musnah.


Sekarang mereka sedang merahasiakan berita ini agar tidak terdengar oleh sekte-sekte aliran putih, tujuannya supaya sekte aliran putih tidak menghimpun kekuatan untuk menghancurkan sekte aliran hitam yang sedang terpuruk, akibat hancurnya dua sekte hitam terbesar di Kerajaan Malawa Dewa.


Mendengar informasi ini Wira sangat gembira, menghancurkan sekte Golok Neraka dan sekte Lembah Kabut Racun sebenarnya adalah sebuah kebetulan karna Wira melewatinya dalam perjalanan menuju Benteng Utara, namun melihat dampak yang timbul demikian positif Wira punya rencana baru dan secepatnya ke Benteng Utara agar rencananya cepat bisa dilakukan.


"Srigunting perak kirim pesan ini pada Kepala Kota Awan !" kata Wira,


Srigunting perak segera memerintahkan anggotanya yang kebetulan ada bersamanya untuk membawa pesan pada Kepala Kota Awan.


Wira secepatnya terbang menuju Benteng Utara begitu keluar dari gerbang Kota Mojo Agung.


"Singa Emas, kecepatan penuh," kata Wira semangat, sambil menyuruh Tikus Hitam untuk mengawasi Singa Emas agar tidak tersesat.


Sepuluh jam kemudian di kota awan.


Seekor burung sebesar burung pipit memasuki kediaman Kepala Kota Awan.


"Cuiit cit.., cuiit cit.., cit..cit..cit..cit..cit..cit..cit.."


Mahardika segera mendekati burung yang, beberapa hari lalu membawa pesan dan beberapa koin emas dari Wira,


"Pangeran memang luar biasa, burung pengantar pesannya saja memiliki kemampuan luar biasa bahkan kekuatannya setara Pendekar Suci tingkat 9," gumam Mahardika sambil mengambil pesan dari Pangeran Mahawira dan mulai membacanya.


Setelah membaca pesan dari Wira Mahardika membalas pesan itu dengan memberi laporan mengenai jumlah sekte aliran putih dan netral yang bergabung dengan mereka, dibawah pimpinan Sarwadahana dan Kratu.


Ada empat sekte aliran putih yang telah bergabung, sekte Pedang Kilat, sekte Tapak Suci, sekte Pedang Tunggal, dan sekte Pedang Bayangan, sekte Pedang Bayangan yang awalnya sekte Netral sekarang menjadi sekte aliran putih, ada dua sekte aliran Netral seperti, sekte Tapak Dewa, sekte Celurit sakti yang sudah ikut bergabung melawan penjajah, tapi saat ini mereka ingin dirahasiakan dulu supaya tidak mendapat gangguan dari penguasa dan sekte hitam yang selalu memusuhi mereka.


Para relawan yang bergabung berjumlah dua ratus ribu, prajurit yang telah dilatih tiga ratus ribu, demikian Mahardika menuliskan laporannya dalam kertas yang kemudian diserahkan kepada Srigunting Perak yang segera terbang membawa pesan Mahardika.


Selesai dengan Srigunting Perak, Mahardika mengumpulkan prajurit telik sandi yang disebut prajurit bayangan untuk menyebarkan informasi, bahwa sekte Golok Neraka dan sekte Lembah Kabut Racun sudah dimusnahkan oleh Wira, dan menyarankan pada seluruh sekte putih agar bergabung menyusun kekuatan melawan penguasa dan sekte hitam yang selalu menebar kekejaman dimana-mana.


Prajurit bayangan yang menerima perintah langsung bergerak melaksanakan tugas sesuai bagiannya masing-masing.


Setelah semua urusannya selesai Mahardika menemui Sarwadahana dan Kratu untuk mendiskusikan mengenai, tempat tinggal yang semakin kurang akibat bertambahnya jumlah relawan yang ikut bergabung, mereka harus memikirkan tentang tenaga untuk membuat makanan bagi prajurit dan relawan.


"Kurasa yang paling mendesak adalah masalah tempat tinggal, dengan banyaknya membangun tempat tinggal buat mereka akan sangat kelihatan dan tentunya akan semakin cepat respon penguasa pada keadaan yang terjadi di sini, kalau masalah konsumsi biarkan mereka bergilir untuk menyediakan tenaga untuk membuat makanan bagi mereka." Kratu memberi pandangan.


"Tiap-tiap unit yang sudah kita bentuk berisi lima puluh anggota, kasi mereka peralatan memasak, bahan pangan dan buat bangunan darurat untuk memasak, kemudian suruh kepala unitnya untuk bertanggung jawab mengurus kepentingan mereka mengenai konsumsi, jika ada kebutuhan lainnya biar mereka melaporkan pada atasannya," itulah yang kami lakukan di dunia kecil rahasia bersama Panglima kata Sarwadahana.


Relawan yang bergabung dalam perjuangan melawan penjajah diorganisir menjadi unit-unit,


satu unit terdiri dari lima puluh orang, pemimpinnya disebut Komandan Unit, tiap sepuluh unit dipimpin oleh Komandan Divisi, tiap sepuluh divisi dipimpin oleh Komandan Teritorial, tiap sepuluh teritorial dipimpin oleh Komandan Wilayah, seluruh komandan wilayah ada enam orang saat ini, mereka membawahi lima puluh ribu orang relawan. Komandan wilayah bertanggung jawab langsung pada Sarwadahana dengan Kratu sebagai wakilnya.


"Coba kita undang Ketua sekte yang sudah setuju bergabung dengan kita, jika mereka setuju untuk menyediakan tempat bagi prajurit dan relawan itu akan lebih baik, karna kerahasiaannya lebih terjamin dan mereka tidak dirugikan karna jumlah orang yang melindungi sekte mereka menjadi semakin banyak, masalah biaya kita yang akan menanggung tanpa membebani sekte mereka," Demikian saran dari Sarwadahana.


"Aku setuju saran senior Sarwadahana," ucap Kratu,


"Kalau begitu secepatnya kita kirim undangan pada Enam Ketua sekte," Mahardika menyambut antusias.


"Tidak perlu !, jika kalian setuju, sekte kami bersedia memberi tempat," sela Bismaka Ketua sekte Pedang Kilat yang kebetulan datang saat diskusi mereka akan berakhir.


"Satu problem besar sudah terpecahkan, tinggal memberi laporan pada Pangeran Mahawira yang sedang menuju Benteng Utara," kata Mahardika penuh syukur.


Mereka sekarang bisa bernafas lega karna masalah tempat sudah tersedia.


"Perekrutan tetap diadakan di sini, setelah itu baru pindahkan ke sekte Pedang Kilat secara berkala agar tidak terlalu mencolok," Bismaka memberi saran.


Saran dari Bismaka diterima baik, karna memang seperti itu yang mereka pikirkan dari awal agar tidak membebani sekte yang sudah bersedia memberi tempat bagi mereka.


Kemudian Bismaka menjelaskan kedatangannya untuk menanyakan musnahnya dua sekte besar aliran hitam hanya dalam waktu tiga hari,


"Pasti ada kekuatan besar di balik musnahnya dua sekte ini," ucap Bismaka berspekulasi


"Prabawangsa Ketua sekte Golok Neraka Pendekar Suci tingkat akhir yang sewaktu-waktu bisa naik menjadi Pendekar Dewa Bumi, disana ada banyak tetua senior yang tingkatannya satu level dibawah Prabawangsa, kemudian di sekte Lembah Kabut Racun, Ketua sektenya Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, bahkan ada tetua yang dirahasiakan katanya sudah mencapai Pendekar Dewa Bumi tingkat 2, jika kedua sekte terbesar ini musnah dalam waktu tiga hari, kita tidak bisa bayangkan kekuatan kelompok ini, Bismaka menjelaskan kekhawatirannya.


"Aku bisa memahami kekhawatiran Ketua, tapi percayalah sekte yang akan terus dihancurkan adalah sekte aliran hitam," jawab Mahardika


"Apa alasan dibalik keyakinan anda Tuan Kepala Kota ?" tanya Bismaka penasaran,


"Aku baru menerima pesannya, tapi tidak berani menjelaskan identitasnya tanpa izin darinya, tak lama lagi beliau akan datang setelah urusannya selesai." jawab Mahardika, dibenarkan oleh Sarwadahana dan Kratu.


Selesai mereka membahas beberapa hal kemudian mereka bubar kembali pada kegiatan mereka masing-masing.