
Setelah makanan tersaji diruang makan Wira dan kedua istrinya makan bersama, selesai makan mereka ngobrol ringan sambil makan buah,
"Dinda Citra dan Dinda Nilotama kedepannya kalian harus tetap meningkatkan kultivasi kalian, supaya kalian bisa menjaga diri saat keadaan darurat, Kanda punya cara yang khusus untuk latihan kalian, apa kalian bersedia ?"
"Tentu saja kami bersedia Kanda," jawab Putri Citra Sasmita
"Bagaimana dengan kamu Dinda Nilotama?" tanya Wira pada Nilotama.
"Aku setuju dengan Kakak Putri," jawab Nilotama,
"Baiklah mulai besok kalian mulai latihan, ingat tidak boleh cengeng," kata Wira tegas
"Baik Kanda," jawab mereka serempak.
"Sekarang kanda mau keluar ada sedikit urusan," kata Wira, setelah mencium kening kedua istrinya Wira keluar menuju gua rahasia.
Wira berjalan dengan waspada agar tidak ada yang mengetahui tujuannya
Sampai di gua Wira mulai memeriksa aray pelindung yang membuatnya terpental dulu, sepuluh menit kemudian Wira menemukan pusat aray dan mampu menembus masuk, sesaat setelah Wira masuk aray pelindung kembali seperti semula.
Singa bersayap ganda ini ternyata sangat besar ketika dilihat dari dekat dan bulunya seperti emas dengan ekornya yang runcing seperti mata tombak, Wira mengedarkan kesadarannya untuk melihat kultivasi binatang ini,
"Setara Pendekar Dewa Bumi tingkat 4, untuk mengalahkan binatang ini tanpa membunuhnya akan sedikit sulit, aku ingin menjadikan dia hewan peliharaan" batin Wira.
Menyadari ada seseorang yang mendekat kearahnya Singa bulu emas, bangun dari tempatnya dan mengaum memperlihatkan giginya yang tajam.
Rooaarr......groaah... groaah
Wira mencari kelemahan singa emas ini sambil terus mendekat.
Merasa terancam singa mulai menyerang dengan cakarnya, Wira berkelit kesamping sambil berusaha memukul pangkal kaki depan singa untuk melumpuhkan satu kakinya, tapi singa menyadari dan menyabetkan ekornya yang runcing,
Wira meloncat jauh kesamping, sambil terus mencari titik lemahnya, dan menganalisa kekuatan singa emas dihadapannya
"Rupanya ekornya yang runcing seperti mata tombak ini adalah tulang ekornya yang pipih dan terlihat berwarna seperti besi hitam mengkilap, ini lebih bahaya ketimbang cakarnya," batin wira,
"Sepertinya ujung ekor singa ini mengandung racun yang kuat, aku harus berhati-hati, kadang racun yang tidak berbau jauh lebih kuat ketimbang racun yang berbau," Wira menggumam sendiri.
Ilmu tabib yang Wira pelajari bermanfaat saat melawan musuh yang mengandalkan racun,
"Pangkal lehernya mungkin kelemahan binatang ini !" Wira meloncat tinggi untuk memukul kepalanya dari samping.
Kembali singa emas menyabetkan ekornya yang panjang dan berujung pipih saat Wira menukik akan memukul kepala singa emas, Wira masih sempat salto dan membatalkan serangannya.
"Ekornya sangat panjang sampai melewati kepala, menyerang dari depan lebih sulit, cakar dan taring tajamnya menjadi ancaman, aku harus tetap menjaga jarak." Wira terus memikirkan cara untuk mengalahkan singa emas tanpa melukai sampai parah
"Menjaga jarak, hahaha hahaha, bodoh ! kenapa baru terpikirkan, dimasa lalu aku belum pernah bertarung dengan bintang seperti ini," Wira tertawa dalam hatinya.
Wira mengambil Busur Naga Writa, yang merupakan Pusaka Dewa tingkat tinggi dan Panah Suci Sugosa yang juga Pusaka Dewa tingkat tinggi dari cincin dimensinya.
Wira bergerak kesamping sambil selalu menjaga jarak sejauh mungkin, tempat yang kurang leluasa sedikit menyulitkan Wira untuk menembak sasaran dengan tepat agar tidak melukai terlalu parah,
Siiing......
Praaak....
Panah Wira ditangkis dengan ekornya,
"Luar biasa..., Pusaka Dewa tingkat tinggi ditangkis dengan ekornya, rupanya ekor itu adalah senjata andalan singa emas ini." pikir Wira.
Wira terus bergerak lincah menjaga jarak sambil mencari ruang tembak,
Rooaarr......
Wuuuss....
Dari mulutnya keluar cahaya biru, Wira menghindar dengan cepat,
Braakk....
Sinar biru membentur dinding aray dan menghasilkan guncangan keras,
"Aray level Ilahi tingkat rendah tidak akan hancur oleh serangan bahkan Level Pendekar Dewa kekosongan tingkat puncak sekalipun" batin Wira yakin.
Wira memasang dua anak dari tempat busurnya yang bernama Manipuspaka, Manipuspaka adalah Pusaka Ilahi tingkat tinggi, Wadah Panah ini tidak pernah kehabisan panah.
Sing.....sing.....
Wira menembakkan dua anak panah secara bergantian,
Singa bulu emas kembali menangkis dengan ekornya kedua panah menancap ketanah, Wira mulai khawatir tidak bisa mengalahkan singa emas tanpa cedera berat.
Wira mengambil lima panah, sasarannya tetap pangkal kaki depan singa emas,
Sing....sing....sing....sing....sing.....
Praaak... praaak.... praaak,
Crep...crep...
Tiga panah tertangkis oleh ekornya, panah keempat dan kelima menancap pada bagian yang tidak keras, sekitar sejengkal dari ekornya yang berujung seperti mata tombak dan tembus sampai ke pangkal kakinya, Wira tidak membuang kesempatan, dia memasang lima anak panah lagi dan bergerak lincah memanah kaki belakangnya,
Sing....sing....
Crep......crep....
Wira berhasil menancapkan dua panah mengenai ekor bagian pangkal dan menembus ke pangkal kaki belakangnya.
Sekarang Singa bulu emas tidak bisa menggunakan ekornya dan tidak bisa bergerak lincah karna kedua kakinya lumpuh, Wira bergerak cepat meloncat ke sisi sebelah dan kembali memanah,
Sing....sing....crep....crep.
Sing....sing....crep....crep.
Panah menancap tepat pada pangkal kaki Singa bulu emas bagian depan dan belakang disisi yang lainnya
Keempat kaki singa bulu emas lumpuh, Wira memasukkan busur, panah dan wadah panah ke cincin dimensinya kemudian meloncat ke arah kepala singa emas,
Buuuum... .
Singa bulu emas terkena pukulan Wira dibagian belakang kepalanya dan mulai limbung,
tidak mau ambil resiko Wira memukul sekali lagi,
Buuuum... .
Dengan kekuatan terukur Wira memukul untuk kedua kalinya.
Singa bulu emas pingsan dan tidak bergerak lagi.
Wira segera menaruh telapak tangannya dibagian kening singa bulu emas untuk memasang segel jiwa "Panunggalan Sukma Sejati" kemudian Wira melukai ujung jarinya, meneteskan darah pada pusat segel yang dipasang.
Dengan segel Panunggalan Sukma Sejati, mahluk yang terkena segel akan patuh pada pemilik segel karna sudah ditandai dengan darah, tidak akan ada yang bisa membuka segel, kecuali Wira, karna segelnya menyatu dengan darah Wira.
Setelah memasang segel, Wira mencabut semua panah yang tertancap, di ekor dan kaki singa bulu emas, kemudian memasukkan pil warna hijau kemulut singa bulu emas sambil menotok beberapa bagian tubuh singa bulu emas, Wira menunggu beberapa saat.
Roaaar......
Begitu sadar singa mengaum hendak menyerang, segel jiwa bekerja secara spontan membuat kepalanya sakit luar biasa, kemudian ada aliran energi dikepalainya mempengaruhi jiwa dan pikirannya, dan membuat singa bulu emas melihat Wira dengan perasaan cinta kasih yang takzim.
"Salam tuan, terimalah hormat bakti dari abdimu ini," kata singa bulu emas melalui telepati.
"Siapa namamu"
"Hamba sudah lupa," kata singa bulu emas
"Baiklah karna bulumu kuning seperti emas, aku beri nama Singa Emas," ujar Wira
"Terimakasih," jawab Singa Emas senang
"Sekarang seraplah energi dari pil yang kuberi dan darah yang menyatu dalam tubuhmu."
Singa Emas melakukan seperti perintah tuannya, sementara Wira melangkah mendekati batu besar untuk mengambil dua kitab yang ada disana.
"Kitab Jurus Langkah Kilat dan Kitab Jurus meringankan tubuh Belalang Bayangan," semuanya level Ilahi sesuai yang tertulis di sampulnya, batin Wira sambil memasukkan kitab ke cincin dimensinya.
"Siapa yang meninggalkan kitab sehebat ini disini ?, aku akan tanyakan pada Singa Emas ketika sudah selesai menyerap energi." batin Wira
Roaaar..... roaaar....
Singa Emas sangat gembira karna bisa naik tingkat setelah menyerap energi yang meledak-ledak didalam tubuhnya.
"Bagus Singa Emas, kamu setara tingkat 5, Pendekar Dewa Bumi sekarang," kata Wira senang
"Bisakah kamu mengecilkan tubuhmu?" tanya Wira melanjutkan,
Singa Emas mengangguk sembari mengecilkan tubuhnya ke ukuran singa biasa.