
"Kanda ayo kita pulang,"
Putri dan Wira mohon diri pada semua dan beranjak pergi menuju kediamannya.
"Kanda akan menghadap ayahanda untuk menyerahkan bahan pangan yang Kanda dapatkan, apa Dinda ikut ?" tanya Wira pada istrinya
Wira berjalan beriringan menuju kediaman raja, mereka mendapatkan penghormatan dari setiap orang yang dijumpai sepanjang. Para prajurit berbisik mengagumi keelokan paras mereka berdua, ada yang mengagumi pencapaian Wira yang sangat tinggi diusianya yang masih sangat muda.
Sesampai di kediaman raja, Putri langsung ke tempat permaisuri sementara Wira menemui raja.
"Ayahanda, Hamba hanya mampu mendapatkan bahan pangan cukup untuk setahun," sembari menunjuk cincin dimensinya.
"Itu sudah cukup, nanti kita pikirkan lagi, selanjutnya kita harus sudah bergerak secepatnya untuk melakukan strategi berikutnya," ucap Raja, sambil memerintahkan prajurit untuk memanggil penanggung jawab bidang pangan.
Prajurit bayangan memberi laporan bahwa ada beberapa pemimpin kota yang masih loyal pada kita, selebihnya banyak yang diganti, ada juga yang sudah berubah menjadi kacung mereka," ujar Raja menyampaikan hasil kerja prajurit bayangan.
"Kapan hamba mulai bergerak, untuk menyelidiki langsung keadaan di Malawa Dewa Ayahanda?"
"Secepatnya setelah selesai urusan menyangkut dirimu," jawab Raja.
Percakapan mereka berhenti sejenak karna kedatangan kakek Jyoti Ambaka.
"Salam kakek"
"Salam Ayahanda"
Jyoti Ambaka mengangguk menanggapi salam mereka.
"Ada yang ingin kakek berikan padamu Wira, setelah pembicaraanmu selesai datang ke tempat kakek," kata kKakek Jyoti Ambaka, sambil berlalu pergi.
Awanti, nama penanggung jawab bidang pangan datang seraya memberi hormat
"Salam Yang Mulia"
"Salam Pangeran"
"Hamba menunggu titah Yang Mulia," ucap Awanti hormat
"Bawa Pangeran, ke gudang pangan," sabda Raja,
"Baik Yang Mulia," jawab Awanti hormat,
"Hamba mohon diri Ayahanda," ucap Wira
"Mari Pangeran," Awanti membawa Wira kegudang pangan.
Setelah mengeluarkan bahan pangan dari cincin dimensinya Wira kemudian pamit pada Awanti menuju kediaman kakeknya.
"Kakek, aku datang," kata Wira didepan kediaman Kakek Jyoti Ambaka,
"Masuklah.."
Wira masuk menuju ruang tamu, dimana Kakek Jyoti sudah menunggunya dari tadi, si Kakek memberikan sebuah Kitab pada Wira,
"Kitab Malih Rupa, ilmu merubah wujud," gumam Wira,
"Pelajari kitab itu, jika ada yang tidak kamu mengerti tanyakan pada kakek, ingat Wira !, itu kitab rahasia, hanya kita berdua yang tau," kata Kakek Jyoti.
"Jurus ini hanya bisa dipelajari secara sempurna oleh orang yang punya kekuatan jiwa tingkat Ilahi, Kakek hanya bisa jurus pertama saja, Kakek yakin kamu mampu mempelajari sampai sempurna," Kata kakek Jyoti menambahkan
Wira memasukkan kitab itu ke cincin dimensinya,
"Terimakasih Kakek akan aku jamin kerahasiaannya," ujar Wira
"Sekarang ikut Kakek!" kemudian Kakek Jyoti membawa Wira kesebuah hutan kearah yang sama menuju pintu ke alam manusia, sampai di dekat aray yang dipasang Wira dulu si Kakek berbelok ke kiri, sekitar 30 menit mereka sampai didepan sebuah gua seukuran cukup untuk dua orang.
"Didalam sana ada kitab yang dijaga oleh hewan suci dan dipasangi aray pelindung tingkat tinggi,
ayo masuk," kata si Kakek
Wira membuntuti Kakek Jyoti, sekitar jarak 50 meter mereka menemukan ruangan yang luas dengan aray pelindung transparan, terlihat singa yang memiliki 4 sayap dipunggungnya sedang tertidur didekat sebuah batu besar, diatas batu ada dua buah kitab.
Wira mencoba mencari pusat aray agar bisa menerobos masuk kedalam, berjam-jam mempelajari aray namun tidak terpecahkan, Wira mencoba memukul aray itu, malah dia yang terpental, dorongan energinya dua kali lipat lebih kuat dari tenaga yang digunakan Wira.
"Mari kita gabungkan tenaga kita," kata Kakek Jyoti,
"Aku takut kita akan terpental lebih keras Kek,"
"Kalau tidak dicoba kita tidak akan tau," Kakek Jyoti bersikukuh.
Mereka memusatkan 50 persen energinya ditangan kemudian memukul aray bersamaan
Duaaaaaaarrrrrrrr
Uhuk.....uhuk
mereka memuntahkan darah segar, sejujur tubuh mereka seperti remuk, cepat -cepat Wira mengambil pil penyembuh berwarna hijau dari cincin dimensinya, satu untuk kakeknya, mereka menelan dan menyerap khasiat pil itu, sesaat kemudian mereka kembali segar.
"Kek, aku belum bisa memecahkan aray tingkat Ilahi ini, aku mesti belajar mendalami aray lagi, kapan-kapan kita coba lagi Kek," kata Wira.
Mereka kembali ke kediaman dengan wajah sedikit kecewa.
Sampai dikediaman Wira mendapati istrinya sedang duduk diruang tamu bersama pelayannya.
"Kanda....kemana saja, Dinda suruh pelayan ketempat kakek, kata prajurit penjaga, kakek pergi bersama Kanda,"
"Ada sedikit urusan bersama kakek," jawab Wira,
"Apakah Kanda mau makan sekarang," Putri menawarkan
"Kebetulan Kanda lapar ayo Dinda," kata Wira menggandeng lengan istrinya,
Seketika muka Putri memerah, dia malu dengan pelayannya yang senyum-senyum melihat kemesraan Wira pada Putri junjungannya.
Tiga hari kemudian, setelah selesai penobatannya sebagai Pangeran Mahkota dan upacara Pernikahannya dengan Nilotama,
Wira didampingi kedua istrinya bercakap-cakap
diruang tamu, mereka kelihatan sangat bahagia.
"Karna kita masih kecil-kecil, bagaimana kalau kita menikmati masa pacaran dulu, seperti kesepakatan Kanda dan Kakak Putri," kata Wira pada Nilotama,
"Dinda ikut kata Kakak Putri saja," kata Nilotama malu.
Putri Citra Sasmita memberikan kamar untuk Nilotama disamping kiri kamarnya, sementara kamar Wira terletak sebelah kanannya.
Mereka kadang tidur bertiga dikamar Wira, kadang Putri dan Nilotama tidur berdua dikamar Putri.
"Kanda mau latihan tertutup selama 12 hari dikamar, jangan izinkan siapapun mengganggu Kanda," kata Wira pada kedua istrinya,
"Baik Kanda," jawab mereka berdua.
Wira masuk ke kamarnya, kemudian menuju dimensi jiwanya, Wira mulai memperdalam tehnik aray, dua bulan kemudian Wira sudah mampu mempelajari berbagai macam aray tingkat ilahi.
Kemudian Wira mempelajari jurus Malih Rupa yang diberikan oleh Kakek Jyoti, kitab ini terdiri dari tiga jurus.
Tahap pertama ilmu berubah wujud, Wira mempelajari jurus ini hanya 10 hari, sudah bisa mempelajari dengan sempurna, ilmu ini bergantung pada kekutan jiwa, makin kuat jiwa seseorang makin mudah mempelajari jurus ini,
Wira memiliki kekuatan jiwa seseorang Dewa Penguasa Ilahi.
Wira sudah bisa merubah wujudnya menjadi Nilotama menjadi Putri, menjadi Panglima Ringkin, menjadi Raja Wreksasena menjadi siapapun sekehendak hatinya asalkan Wira pernah berjumpa untuk merekam wajah, suara dan aura tubuh mereka.
Tahap kedua merubah aura, Wira melatih jurus ini selama lima hari, Wira mampu meniru aura orang-orang yang dikenalnya
Tahap ketiga merubah wajah dan aura orang lain menjadi seperti yang diinginkan Wira
Selama lima belas hari Wira merasa yakin mampu menguasai tahap ketiga dari jurus ini, hanya belum mencoba pada obyek,
Setelah selesai mempelajari ilmu Malih Rupa, Wira ingin mempelajari ilmu ketabiban, ilmu membuat pil dan ilmu menempa, setelah berpikir beberapa saat Wira memilih mempelajari ilmu ketabiban, karna Ilmu pembuatan pil dan Ilmu penempaan membutuhkan elemen api yang kuat.
Hampir sebelas bulan Wira mempelajari ilmu ketabiban akhirnya Wira bisa tersenyum puas.
Semua ini bisa dikuasai dengan cepat karna ingatanku dan pengetahuanku dimasa lalu, mempermudah mempelajari pengetahuan apapun yang ingin ku pelajari.
"Sudah setahun aku disini tepat dua belas hari di dunia luar aku juga ingin mencoba jurus Malih Rupa tahap ketiga," batin Wira
Wira membersihkan diri di Istana Giok, demikian nama yang diberikan untuk istana yang Wira buat di Dimensi Jiwanya, nama ini dibuat karna sebagian besar ornamen terbuat dari Giok berkwalitas tinggi, ini berdasarkan ingatannya saat dia terlahir dialam Ilahi,
setelah berganti pakaian dia keluar dari dimensi jiwanya kemudian menuju keruang tamu tempat biasanya mereka berkumpul.
Diruang tamu sepi Wira menuju keruang dapur karna disana terdengar suara percakapan
"Seharusnya Kakak Wira sekarang selesai latihan tertutupnya, iya Kak?" tanya Nilotama pada Putri,
"Ais rupanya Adik kecilku sudah rindu sama pacarnya," kata Putri Citra Sasmita menggoda Nilotama.
Wajah Nilotama langsung merah mendengar godaan Putri, sementara para pelayan pada tersenyum kecil mendengar Putri Citra Sasmita menggoda Nilotama.
"Kalian semua disini rupanya," kata Wira tenang sambil berusaha menutupi gejolak rindu yang berkecamuk di dada, walau Wira memiliki banyak pengetahuan dan ingatan masa lalu yang mempengaruhi pemikirannya tapi tetaplah Wira adalah seorang remaja enam belas tahun, kadang sifat alaminya muncul juga.
"Wah Kanda sudah selesai rupanya, pasti sangat rindu sampai mencari kami kesini," kata Putri memandangi Wira dan Nilotama bergantian, Nilotama semakin malu, dan hanya bisa menunduk.
"Siapa yang bisa tahan tidak bertemu berhari-hari dengan kedua istriku yang sangat cantik ini," kata Wira menoel dagu Putri Citra Sasmita,
giliran Putri Citra Sasmita yang merah merona mukanya diperlakukan manis oleh Wira.