Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 63. Perampok yang dirampok



Sampai di Ibukota Kerajaan Malawa Dewa, Wira langsung menuju Rumah Pelelangan Istana Salju, sementara Paman Sesha dan Dewa Senyum sudah dia kembalikan ke Dunia Dimensi Jiwa.


Seorang pria tua memasuki sebuah bangunan besar yang pagar temboknya berwarna hitam dengan tinggi tidak kurang dari empat meter, didalamnya terdapat lima bangunan besar yang terbuat dari bahan-bahan yang langka, ini menunjukkan bahwa pemiliknya bukan orang sembarangan.


begitu melewati pintu gerbang yang berukir naga dengan warna emas yang dominan, pria tua diantar oleh salah seorang penjaga yang terlihat ramah dengannya.


Penjaga mengantar pria tua memasuki bangunan yang berbentuk menara dengan tinggi hampir dua puluh meter, mereka naik sampai kelantai empat dan berhenti pada sebuah ruangan yang lumayan besar.


Melihat pintu ruangan terbuka, penjaga langsung membawa pria tua masuk menemui Kepala Rumah Pelelangan Istana Salju yang sedang duduk sambil memeriksa kertas yang menumpuk di depannya.


"Maaf Tuan, ada tamu yang hendak bertemu dengan tuan, ujar penjaga dengan sikap hormat.


Pengawal itu pergi melanjutkan tugasnya setelah pria tua diterima oleh Kepala Rumah Pelelangan.


"Selamat bertemu kembali Tuan," ucap Kepala Rumah Pelelangan pada pria tua yang ingin mengambil pesanannya.


"Salam Tuan Kepala," Balas Pria Tua


"Pesanan yang Tuan minta sudah kami sediakan, apa Tuan mau ambil sekarang ?" tanya Kepala Rumah Pelelangan.


"Maaf Tuan, kita sudah kenal lama tapi belum saling mengenal nama," Kepala Rumah Pelelangan berkata ramah melanjutkan perkataannya.


"Wira, namaku Prawira," ujar Pria Tua.


"Aku lokantara," ujar Kepala Rumah Pelelangan Istana Salju.


Setelah saling memperkenalkan nama, Lokantara mengajak Prawira menuju gudang penyimpanan untuk mengambil pesanannya.


Prawira melihat banyak sekali barang yang sudah dikemas dan diberi nama sesuai isinya.


Lokantara menyuruh pelayan untuk mengumpulkan barang-barang yang menjadi pesanan Prawira, yang memang sudah diberi tanda.


Setelah terkumpul semua Prawira menanyakan harganya.


Lokantara mengeluarkan kertas yang berisi catatan pembelanjaan dan menyerahkan pada Prawira


Batu Hitam Meteorit, jumlah 2.500 ton, harga 500 koin emas/kg. Total 250.000.000 koin emas.


Serat Cacing Merah Lembah Neraka, jumlah 50 ton, harga 1000 koin emas/kg. Total 50.000.000 koin emas.


Rumput Emas Gurun Kasapa, jumlah 500.000 batang. Harga per batang 1.000 koin emas.


Total harga 500.000.000 koin emas.


Berlian Hijau 50 ton, harga 10.000 koin emas/kg


Total harga 500.000.000 koin emas.


Total keseluruhan 1.3 miliar koin emas.


"Tuan Lokantara, jika masih ada sejumlah yang sama dengan pesananku tadi aku bersedia untuk membelinya.


Lokantara menyuruh pelayan untuk mengumpulkan lagi sejumlah yang sama dengan pesanan Tuan Prawira.


Wira membayar sejumlah 2.6 miliar koin emas untuk seluruh pesanannya.


Kemudian Prawira memasukkan barang-barang itu ke Cincin Dimensi Samudra miliknya, hanya dengan mengarahkan cincin itu ke benda yang ingin dimasukkan.


Setelah semua selesai Prawira mohon diri pada Lokantara,


"Tunggu sebentar Tuan Prawira," ujar Lokantara bergegas mendatangi Prawira sambil menyerahkan Lencana Giok bergambar rumah.


"Apa ini Tuan Lokantara ?"


"Ini adalah lencana Spesial Khusus, pemilik lencana ini mendapat diskon 20 persen jika berbelanja di Rumah Pelelangan Istana Salju, di cabang manapun, termasuk yang diluar kerajaan Malawa Dewa, pemilik lencana ini berhak mendapatkan perlindungan dari Rumah Pelelangan Istana Salju yang tersebar di banyak kerajaan," ujar Lokantara tersenyum.


"Terimakasih atas kebaikan Tuan Lokantara, semoga dimasa depan aku bisa membalas kebaikan tuan," ujar Prawira sembari memasukkan Lencana yang terbuat dari Giok bergambar rumah ke Cincin Dimensi Samudera.


"Apakah tuan Prawira menginginkan pengawalan ?, sesuai fungsi dari Lencana Giok yang Tuan miliki ?" Lokantara menawarkan,


"Tidak, terimakasih," jawab Prawira sambil melanjutkan perjalanan


Setelah jauh dari Rumah Pelelangan, Prawira berjalan ke lorong sempit yang sepi pejalan kaki.


"Keluarlah," ucap Prawira sambil mendongak keatas.


Lima orang dengan perawakan sedang meloncat turun dengan ringan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, dua orang di depan dan tiga dibelakang Wira.


"Pendekar Raja tingkat 5, kalian sungguh memiliki nyali yang besar berani menghadang aku di sini," ujar Prawira tersenyum.


"Serahkan cincin yang kamu pakai itu, maka kami akan membiarkan kamu pergi dengan selamat," ujar salah satu perampok yang ada di depan Prawira.


"Kalian berani melakukan perampokan di Ibukota Kerajaan, kalian pasti peliharaan Pangeran Gantar"


"Tutup mulutmu !, cepat serahkan cincin yang kamu pakai," seorang yang berada di belakang Prawira membentak.


"Bagaimana jika aku menolak," ujar Prawira,


Dua orang yang berada didepan Prawira langsung menyerang dengan goloknya, begitu mendengar jawaban Prawira.


Krontang...tang...tang....tang....


Kedua golok yang digunakan perampok untuk menyerang Prawira terjatuh kena sampokan tangan Prawira, sementara kedua orang penyerangnya berdiri kaku tak bergerak, Prawira mengambil senjata rahasia yang terselip di sabuk besar yang di pakai oleh para perampok yang menghadangnya.


"Rupanya disamping pengguna senjata golok mereka mahir menggunakan senjata rahasia," batin Prawira sambil mengambil semua senjata rahasia dari dua perampok yang telah dilumpuhkan.


Melihat kedua rekannya dikalahkan tanpa diketahui kapan lawannya bergerak, ketiga perampok yang lain merasa bahwa mereka bukanlah lawannya,


"Kabur adalah rencana terbaik untuk saat ini," bisik ketiga orang yang telah menguap keberaniannya entah kemana.


Pendengaran Prawira yang memang sangat terlatih, mampu mendengar sesuatu yang jauh, Wira geli mendengar rencana mereka, sangat terbalik dengan gaya mereka diawal.


Prawira mengambil tiga senjata rahasia yang tadi dimasukkan ke dalam cincin dimensinya, begitu melihat Prawira mengeluarkan tiga senjata rahasia yang berupa mata panah seukuran 12 centimeter dan berisi lobang pada ekornya, ketiga perampok berbalik badan hendak melarikan diri.


Ceb..., ceb..., ceb... .


Ketiga perampok jatuh, belum sempat menggerakkan kakinya untuk lari, lehernya ditembus senjata rahasia milik rekannya sendiri.


Dua perampok lainnya keluar keringat dingin menyaksikan ketiga rekannya menjadi mayat tanpa perlawanan sama sekali, Prawira mendapatkan seratus senjata rahasia dari kelima perampok yang dirampoknya.


Tuk...


Wira menyentuh leher salah satu perampok dengan ujung telunjuknya kemudian berkata,


"Dari sekte mana kalian berasal," tanya Wira


"Silahkan bunuh, aku tidak akan menjawab,"


Ceb... .


Senjata rahasia yang baru saja diambil dari tiga perampok lainnya menancap dilehernya.


Tuk...,tuk...,tuk... .


Prawira menggerakkan ujung telunjuknya, seketika orang terakhir dari perampok itu bisa menggerakkan tubuhnya dan berbicara


"Kami dari sekte Golok Racun Tuan, mohon ampuni nyawaku yang tidak berharga ini, aku memiliki anak dan istri yang harus dihidupi," ratap perampok yang bertubuh gemuk pendek dihadapan Prawira.


"Aku berjanji demi ibuku tidak akan mengulangi perbuatan ini, berikan aku kesempatan untuk bertobat dan merubah diri kejalan yang benar," ujarnya menghiba.


"Kembalilah ke sektemu dan jangan ulangi lagi perbuatan seperti ini," ujar Prawira.