
Wira masih berdiri tenang ketika sebelas orang bergerak menyerangnya.
Trang....Trang....Trang....
Sepuluh golok yang digunakan menyerang Wira seketika putus saat bertemu dengan mata kapak Rajabala, hanya golok yang dipakai Ketua sekte yang tidak putus, tetapi ada retakan yang sangat tipis pada pangkal goloknya,
"Senjata Pusaka Dewa tingkat rendah," gumam Wira,
Sepuluh orang yang senjatanya terputus secara refleks meloncat mundur menyisakan Ketua sektenya didepan berjuang sendiri menghadapi Wira.
Trang....trang....trang....
Mau tidak mau Ketua sekte harus menangkis serangan Wira yang dilakukan dengan sangat cepat, sesungguhnya Ketua sekte ingin menghindari benturan secara langsung, disamping karna takut goloknya rusak tangannya juga kesemutan tiap kali dia menangkis serangan Wira, tetapi gerakan cepat Wira tidak memungkinkan bagi dia untuk menghindar, satu-satunya cara agar tidak terluka adalah dengan cara menangkis serangan Wira.
Melihat Ketua sekte mereka terdesak hebat sepuluh orang tetua yang tadinya mundur kembali bergerak maju untuk menolong Ketuanya, namun sayangnya Kapak Rajabala bergerak lebih cepat dari mereka.
Crash.....
Tubuh Ketua sekte terpotong menjadi dua di bagian pinggang, tanpa melihat lawannya yang tumbang Wira melanjutkan serangannya pada musuh yang paling dekat dengannya,
Crash.... crash..... crash......
Tiga kali ayunan kapak, lima orang musuhnya terjatuh tak bergerak, melihat lima temannya telah menjadi mayat, lima lainnya memejamkan mata memasrahkan diri menjadi sasaran Kapak Rajabala.
Wira sudah menetapkan hati untuk menghabisi seluruh sekte aliran hitam beserta semua anggotanya, karna jika kejahatan diberi peluang mereka akan menciptakan kerusuhan dimana-mana, dan kerajaan akan terkuras waktu, energi dan biaya untuk mengurusi masalah yang mereka ciptakan.
Sekte aliran hitam adalah duri dalam daging bagi kemajuan sebuah kerajaan itulah yang diyakini oleh Wira, atas dasar keyakinan itu Wira sebisa mungkin akan menghabisi sekte aliran hitam yang dia temui.
Melihat kelima orang tetua yang pasrah menerima kematiannya Wira memberi keringanan dengan kematian yang cepat.
Crash..... crash.....
Kepala lima tetua itu jatuh ketanah sementara badannya perlahan tumbang menyentuh bumi.
"Kumpulkan semua senjata rahasia yang mereka miliki," ujar Wira pada Bidadari Pelindung Langit.
Lima puluh wanita muda yang semuanya cantik bergerak cepat melaksanakan perintah Wira, sementara Wira sendiri bergerak mencari gudang penyimpanan untuk mengambil isinya.
Wira ingin Kerajaan Malawa Dewa kedepannya menjadi kerajaan yang kuat, sejahtera dan masyarakatnya bisa hidup dalam damai. Untuk mewujudkan itu semua tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, itulah yang menjadi alasan Wira menguras isi gudang penyimpanan setiap sekte yang dia musnahkan.
Wira menemukan gudang penyimpanan kekayaan sekte Golok Racun yang dilindungi aray tiga lapisan, Wira yang merupakan ahli aray tingkat Ilahi, tentu tidak butuh waktu lama untuk menembus Aray Pelindung yang dipasang di gudang penyimpanan itu.
Tumpukan emas, batu mulia, artefak, pusaka berbagai jenis dan sumberdaya lainnya ada dalam gudang.
Hampir semua sekte aliran hitam memiliki kekayaan yang melimpah, hal ini bisa terjadi karna mereka memperoleh dengan segala cara.
Wira mengambil 600 peti ukuran besar yang tiap-tiap peti berisi 25 juta koin emas, batu mulia sejumlah 200 peti, Wira tidak menyisakan apapun yang bisa dimanfaatkan.
Setelah mengambil semua kekayaan sekte Golok Racun Wira kembali mendatangi bawahannya.
"Pangeran, kami mendapatkan satu juta buah senjata rahasia," ucap Delima hormat.
Wira memasukkan senjata rahasia yang sudah dikemas dalam 100 peti kedalam Cincin Dimensi Samudera.
Wira dan para pengikutnya mengumpulkan mayat-mayat dan kemudian membakarnya dengan Api Poeniks Biru sampai menjadi abu.
Setelah selesai dengan semua hal yang harus dia lakukan, Wira membuka Dunia Dimensi Jiwa dan menyuruh Dewa Senyum, Paman Sesha, Singa Emas serta seluruh anggota Bidadari Pelindung Langit untuk masuk kedalam cahaya terang yang berbentuk bulat, begitu semua masuk cahaya terang langsung menghilang.
Sekarang tinggal Wira dan kedua istrinya, Wira ingin berjalan bersama istrinya menuju Ibukota Kerajaan Malawa Dewa.
Jarak seratus kilometer bagi seorang Pendekar Suci paling lama ditempuh sekitar dua jam saja, Wira ingin melatih kedua istrinya untuk terbiasa bergerak dalam jarak yang jauh agar ilmu lari cepat dan ilmu peringan tubuhnya terasah dengan baik.
Sambil berloncatan dari pucuk pohon yang satu ke pohon yang lain Wira ngobrol dengan Putri dan Nilotama, jika ketemu pemukiman mereka berjalan biasa.
Wira sudah mengajarkan pada kedua istrinya untuk menyamarkan aura kekuatan yang dimiliki, mereka belum bisa seperti Wira yang mampu menghilangkan total aura energi yang dimiliki hingga terlihat seperti orang biasa, sementara Putri dan Nilotama baru bisa menyamarkan aura energinya sampai dua level, Putri dan Nilotama terdeteksi hanya sebagai Pendekar Langit, dan itupun sudah terkatagori Jenius mengingat usia mereka yang masih sangat muda.
Wira bercakap-cakap dengan kedua istrinya mengenai tingkatan energi setelah alam fana
Level tenaga dalam alam fana
Murid : 1sampai 9 lingkar tenaga dalam
Aura energi merah
Ahli : 10 sampai 90 lingkar tenaga dalam
Aura energi jingga
Master : 100 sampai 280 lingkar tenaga dalam
Aura energi kuning
Bumi : 300 sampai 570 lingkar tenaga dalam
Aura energi hijau
Langit : 600 sampai 960 lingkar tenaga dalam
Aura energi biru
Aura energi nila
Suci : 1500 sampai 7000 lingkar tenaga dalam
Aura energi ungu
Masing-masing level terdiri dari sembilan tingkat
Level qi alam Surga
Dewa Bumi : 1000 sampai 3000 utas Qi
Dewa Air : 3001 sampai 6000 utas Qi
Dewa Angin : 6001 sampai 9000 utas Qi
Dewa Cahaya : 9001 sampai 1200 utas Qi
Dewa kekosongan : 1201 sampai 1500 utas Qi
Dewa Kehampaan : 1501 sampai 5000 utas Qi
Masing-masing terdiri dari sembilan tingkat
Diatas level Sorga masih ada, hanya saja Wira tidak menjelaskan karna itu terlalu jauh bagi ukuran mereka.
"Kanda mungkinkah kami bisa naik level surga?" tanya Nilotama.
"Pasti jawab Wira, sekarang saja kalian sudah Pendekar Suci tingkat 5 dan 7 dalam usia yang sangat muda, tetapi kalian harus menyempurnakan fondasi tubuh, dan melatih jiwa kalian supaya kuat, karna nanti ketika kalian naik ke level Pendekar Surga kalian akan mendapatkan kesengsaraan petir." ujar Wira menjelaskan,
"Jika fondasi tubuhmu lemah kalian bisa meninggal terkena Sambaran petir." ujar Wira melanjutkan.
"Berapa lama kami bisa menyempurnakan fondasi tubuh Kakak ?" tanya Nilotama,
"Bisa delapan tahun, bisa sepuluh tahun, bahkan bisa lebih, itu bergantung ketekunan dan sumberdaya pendukung, bagi mereka yang tidak memiliki cukup sumberdaya mereka butuh waktu beratus-ratus tahun untuk bisa sampai level Pendekar Dewa Bumi, itupun dengan ketekunan yang luar biasa," jawab Wira.
"Kita sangat beruntung karna Kanda menyediakan sumberdaya yang melimpah dan fasilitas latihan tingkat Ilahi," ujar Putri memandang Wira dengan mimik wajah bangga memiliki Wira sebagai suami.
"Itu adalah nasib baik kita Dinda, mari kita manfaatkan dengan maksimal," Wira menimpali.
Sedang asyik mereka ngobrol di kejauhan terlihat asap membumbung tinggi.
"Lihatlah disana, seperti sedang terjadi kebakaran," ujar Wira sembari menunjuk arah dimana asap membumbung tinggi.
"Ayo kita kesana Kak, siapa tahu kita bisa membantu," ujar Nilotama.
Wira dan Putri mengangguk setuju, mereka bergerak menggunakan ilmu lari cepat dan ilmu meringankan tubuh dengan kecepatan maksimal, hanya lima menit mereka sudah sampai di lokasi kebakaran.
Banyak tangisan anak-anak dan wanita muda yang dikerangkeng secara terpisah, gadis-gadis remaja dikerangkeng ditempat berbeda, para pemuda yang terlihat berotot juga ada dikerangkeng yang lain, banyak mayat bergelimpangan disekitar rumah-rumah yang terbakar.
Desa ini sedang dirampok oleh sekte aliran hitam, di baju para perampok terlihat ada gambar kalajengking berwarna hitam.
Ada beberapa gadis muda berteriak-teriak diseret oleh para perampok,
"Berhenti... ."
Wira mengalirkan tenaga dalam tinggi saat berkata sehingga ucapannya bergema.
Menyadari ada orang yang berilmu tinggi datang para perampok menghentikan aktivitas mereka.
Wira bersama Nilotama dan Putri bergerak mendekati mereka.
"Hentikan kejahatan kalian," ujar Wira memandang marah pada seorang yang tinggi kurus yang dari tadi terlihat memerintah perampok yang ada di sana.
"Sebaiknya jangan ikut campur dengan urusan kami Anak Muda," ujar Pria tinggi kurus,
Tadi dia sempat terkejut merasakan pameran tenaga dalam dari suara Wira yang menggema, tapi setelah Wira ada didekatnya rasa takutnya hilang karna tidak ada tenaga dalam yang terpancar dari Wira, sementara Nilotama dan Putri hanya terdeteksi di level Pendekar Langit.
"Kamu yang hanya bisa berlindung dibalik wanita sebaiknya diam dan jangan berlagak, jika kamu mau menyerahkan wanita cantik yang ikut bersamamu maka aku akan mengampuni nyawa kecilmu dengan menjadikan kamu sebagai budak," ujar Pria tinggi kurus dengan jumawa.
"Bagaimana jika aku menolak," kata Wira,
"Seret kecoak ini dan gantung dialun-alun desa !, dua gadis ini bawa ke tendaku !, Aku ingin bersenang-senang dengan mereka berdua !" ucap Pria tinggi kurus.
"Kamu pikir dengan levelmu yang hanya Pendekar Suci tingkat 4 mampu menyentuh istriku ?, Kamu terlalu memandang tinggi dirimu sendiri," ujar Wira tersenyum.
Anak buah perampok yang sudah bersiap untuk bergerak mengurungkan niatnya ketika mendengar Wira mampu menebak dengan tepat level kekuatan yang dimiliki oleh pemimpinnya.
"Jangan hiraukan dia, cepat seret jangan termakan gertakannya," teriak Pria tinggi kurus marah.
Baru bergeser sedikit dari tempatnya berdiri tiga anak buah perampok tumbang dengan leher tertancap senjata rahasia.
"Jika ada diantara kalian yang bergerak sedikit saja, maka nyawamu pergi lebih cepat," ujar Wira mengancam.