
Wira istirahat dipunggung Singa Emas yang sangat besar dan empuk berkasur bulu tebal, sekitar satu jam Wira tertidur, suara pertempuran membangunkan wira.
Trang...
Trang...
"Lindungi Nona Muda," teriak pria paruh baya pada rekannya
Wira mengamati orang yang sedang bertarung
"Ini sepertinya orang-orang sekte Golok Neraka yang sedang berada diluar sekte, mereka tidak tau kalau sektenya sudah hancur," Wira memperhatikan baju yang mereka pakai.
"Siapa lawannya ?"
Wira masih mengamati jalannya pertempuran,
dua puluh gerobak barang, satu kereta penumpang dan lima puluh kuda yang masih tertambat.
"Rupanya mereka diserang saat sedang istirahat, mungkin mereka pedagang," pikir Wira
Orang-orang sekte Golok Neraka kelihatan diatas angin karna jumlah mereka yang lebih banyak.
"Serahkan barang-barang kalian dan perempuan yang ada di dalam kereta!" ucap pemimpin yang berpakaian sekte Golok Neraka.
"Berhenti"
Semua orang yang bertempur terdiam melihat seorang wanita cantik turun dari kereta mewah,
"Apa yang kalian inginkan?" tanya wanita yang kelihatan berusia sekitar dua puluh tahunan.
"Kami menginginkan semua barang-barang ini dan tentunya juga kamu!" jawab pria tinggi tegap, dengan wajah yang cukup tampan.
"Lancang.....," Pria paruh baya berteriak marah.
"Biarlah aku yang bicara paman Ranubaya!" kata wanita muda pada pria paruh baya yang disebut paman Ranubaya.
"Baik Nona," jawab Ranubaya.
"Tidak ada silang sengketa diantara kita Tuan, kenapa kita harus saling bertempur, mengadu jiwa?" tanya Wanita Muda.
"Baiklah Nona karna kita tidak ada permusuhan diantara kita, maka kami mengijinkan pengawal ini pergi, tapi Nona dan barang-barang ini tinggal disini." kata Pria itu sambil tersenyum licik.
"Kurang aja*!"
"Nona Kirani manusia ini tidak layak dikasi ampun !" Ranubaya berteriak marah melihat, nona mudanya dilecehkan.
Kirani mengangkat tangannya, sebagai isyarat agar Ranubaya diam.
"Kami rombongan dari Indra Pura, berilah kami muka, pertempuran ini akan berdampak buruk bagi kedua kerajaan jika terjadi perang," Kirani memberi ancaman halus.
Diatas sana Wira tersenyum riang seperti mendapatkan sesuatu.
"Itu tidak akan terjadi jika tidak ada satupun diantara kalian yang pulang ke kerajaan Indra Pura," jawab Pria Muda.
"Tuan Muda jangan gegabah, kita sudah dipesan agar jangan berkonflik dengan orang-orang kerajaan Indra Pura, karna posisi Pangeran Gantar saat ini belum stabil, jika kerajaan Indra Pura sampai menyerang, itu bisa menghancurkan posisi Pangeran Gantar, dan sekte kita pasti dihancurkan, jika Pangeran Gantar tahu," Salah satu tetua yunior berbisik mengingatkan tindakan Paksi Jaladara yang merupakan anak wakil ketua sekte Golok Neraka.
"Paman kita ada empat Pendekar Suci tingkat 3 dan aku Pendekar Raja tingkat puncak, anggota kita rata-rata Pendekar Raja tingkat menengah, disana hanya ada satu Pendekar Suci tingkat 4, sisanya Pendekar Raja tingkat menengah, jika kita bisa menghabisi mereka semua tidak akan ada masalah kecuali salah satu dari kalian berhianat," ujar Paksi Jaladara ngotot,
"Ini sangat beresiko Tuan Muda, kalaupun kita menang akan banyak anggota kita yang mati, dan yang paling berbahaya jika diketahui oleh orang-orangnya Pangeran Gantar kita membunuh masyarakat kerajaan Indra Pura sekte kita pasti dihancurkan." kata tetua yang lain memberi saran.
"Aku tidak mau tahu paman, aku menginginkan wanita itu, aku ingin menjadikan dia sebagai istriku!" Paksi Jaladara berteriak marah.
"Malapetaka akan datang dari manusia ini," batin tetua sekte Golok Neraka, mengumpat Paksi Jaladara dalam hatinya.
"Manusia rendah sepertimu ingin menikahiku !?, Paman hukum manusia tidak berakhlak ini !" kata Kirani tersulut amarahnya.
"Hahaha......."
"Sekte Golok Neraka memang isinya binata** semua, dimana-mana bikin resah orang,"
Sebelum mereka mulai bertempur Wira melayang turun mendekati mereka, semua orang mendongak keatas memperhatikan pria remaja dan tunggangannya yang masih terbang diatas mereka.
"Nona, Paman pergilah !, bawa rombonganmu !, orang-orang ini biar aku yang urus,"
kata Wira pada Kirani dan Ranubaya.
"Anak muda jangan gegabah, bersama akan jauh lebih baik" Ranubaya mengingatkan, takut wira celaka.
Tanpa berkata Wira mengeluarkan Kapak Rajabala, aura menyeramkan terpancar dari kapak besar yang bermata dua dalam genggaman Wira.
"Manusia dari mana ikut campur uru....?"
Crash.....
belum selesai ucapannya kepala Paksi Jaladara menggelinding di tanah, terkena tebasan Kapak Rajabala,
Semua orang terkejut melihat kejadian yang begitu cepat.
Keempat golok tetua muda itu putus seketika saat berbenturan dengan Kapak Rajabala, mereka melongo melihat senjata Pusaka Bumi tingkat Tinggi yang mereka miliki putus.
"Pusaka Dewa tingkat Tinggi" teriak mereka,
"Bagaimana mungkin anak muda yang tidak memiliki aura kultivasi membabat putus keempat senjata mereka dalam sekali tebas" batin para tetua itu semakin heran.
"Aku tidak akan menyisakan satupun diantara kalian," ucap Wira pada anggota sekte Golok Neraka.
"Kalian lebih dulu,"
Wira langsung bergerak cepat menyerang tetua yang paling dekat, dua orang terbunuh dengan cepat, Wira tidak memberi kesempatan untuk mereka, karna Wira sudah bertekad untuk memusnahkan semua sekte aliran hitam di Kerajaan Malawa Dewa, dia tidak ingi menyisakan bibit masalah dikemudian hari.
Dua orang tetua lainnya menjadi waspada melihat kematian rekannya yang begitu cepat, kewaspadaan mereka tidak berpengaruh banyak, hanya dalam dua jurus dua orang tetua itu pulang menghadap Dewa Kematian, perbedaan level mereka terlalu jauh.
Kematian empat orang tetua itu tidak membuat Wira berhenti, dia melanjutkan serangannya pada anggota sekte Golok Neraka yang lain.
Keterkejutan mereka yang amat sangat membuat pikiran mereka tidak bekerja, tidak ada yang berpikir untuk lari, begitu Wira sudah ada dihadapan mereka baru mereka sadar dewa kematian ada didepannya.
Terlambat...
Wira sudah mengamuk, setiap ayunan kapaknya setidaknya menghabisi lima orang dari anggota sekte Golok Neraka.
Jurus Langkah Kilat dan jurus Belalang Bayangan yang Wira gunakan membuat Wira tidak terlihat saking cepat gerakannya, yang terlihat hanya bayangan kesana kemari, setiap bayangannya berkelebat ada bagian tubuh lawannya yang terpotong.
Dalam waktu kurang dari lima menit seratus orang anggota sekte Golok Neraka habis dibantai Wira.
Wira memasukkan Kapak Rajabala kembali kedalam cincin dimensinya.
"Tolong kuburkan mereka supaya tidak menjadi sumber penyakit nantinya," kata Wira sambil menoleh pada Ranubaya.
"Terimakasih Tuan Muda, sudah menolong kami, kalau boleh tahu siapa Tuan Muda ini ?" tanya Kirani sopan.
"Namaku Wira..., Mahawira," kata Wira menegaskan.
"Nona jangan terlalu sungkan, aku tidak berbuat apa-apa untuk Nona, karna aku pasti menghabisi mereka dimana pun aku bertemu mereka, sekte jahat seperti ini adalah musuh bagi setiap orang yang mendambakan kedamaian bagi banyak orang.
"Bagaimana pun ka..."
Syuut....
"Sampai jumpa Nona, semoga berjumpa lagi lain kali," ucap Wira sambil terbang keatas kearah Singa Emas.
Kirani bengong menyaksikan Wira terbang, Kirani tahu ada beberapa orang yang sudah mencapai level Pendekar Dewa Bumi bisa terbang seperti yang dia lihat saat ini, tapi remaja ini diluar nalar.
"Usianya bahkan lebih muda dariku, tapi kemampuannya jauh bahkan diatas ayahku," Kirani mengagumi Wira dalam hati.
Sementara Kirani bengong dalam hayalannya, Ranubaya memerintahkan kepada prajurit yang menyamar berpakaian seperti pelayan, untuk menguburkan mayat-mayat yang bergelimpangan sesuai permintaan wira.
"Nona kita sudah selesai menguburkan mayat-mayat ini sebaiknya kita cepat pergi dari sini," Ranubaya memberi saran.
"Baik Paman, ayo kita berangkat," Kirani menyetujui saran Ranubaya.
Rombongan Kirani bergerak lebih cepat dari biasanya setelah masalah yang menimpanya,
"Apa kita aman sekarang, tanya wanita yang duduk didepan Kirani.
"Bibi Kahita...kenapa wajahmu pucat begini ?, apa Bibi sakit ?" tanya Kirani memegang dahi bibinya.
"Bibi sangat ketakutan tadi, Bibi mendengar banyak senjata beradu, syukurlah kita selamat," ujar Kahita sambil memeluk erat Kirani.
"Ada yang membantu kita tadi, belum sempat aku memberi hadiah atas pertolongannya dia sudah pergi terlebih dulu," ucap Kirani dengan mimik menyesal.
"Kudengar dia menyebut namanya Wira dia kah yang menolong kita ?" tanya bibinya penasaran
"Iya Bibi, namanya Wira, kita lebih baik istirahat agar cukup energi jika terjadi sesuatu seperti tadi," jawab Kirani pendek, sambil merebahkan badannya ditempat duduk kereta yang lumayan besar.
"Jangan berkata begitu," ujar Bibinya menimpali, ikut merebahkan dirinya yang kelelahan menahan takut.
*****
Diatas langit wira duduk santai dipunggung Singa Emas ditemani Tikus Hitam, Bunglon Pelangi, dan Srigunting Perak.
"Hitam, selanjutnya sekte hitam yang mana yang akan kita lewati ?" Wira bertanya pada Tikus Hitam.
"Sekte Lembah Kabut Racun," Tikus Hitam menjawab
"Sambil menyelam minum air, sekte Lembah Kabut Racun kami datang," Wira berteriak riang.
"Raja, kenapa engkau kelihatan sangat bahagia ?" tanya Bunglon Pelangi, melalui telepati
"Sambil menuju utara kita bisa membasmi sekte aliran hitam yang kita lewati," Wira menjelaskan.
Empat Binatang Ilahi itu mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang dikatakan Wira.
"Aku ingin istirahat kalau sudah sampai, bangunkan," kata Wira sembari merebahkan dirinya di punggung Singa Emas.