Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 54. Keberhasilan Wira membangun kerjasama



Perjalanan menuju Ibukota Kerajaan Indra Pura, melalui angkasa benar-benar hal yang baru bagi mereka semua.


Bagi Wira ini pertama kalinya dia melihat Kerajaan Indra Pura, bagi yang lain baru pertama kali melihat Kerajaan Indra Pura dari angkasa, mereka benar-benar takjub dengan pemandangan yang luar biasa.


Ketika pemandangannya terhalang oleh awan Wira menyuruh Singa Emas agar terbang lebih rendah.


Gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan sungai dibawahnya bagaikan ular besar yang tertidur di lembah pegunungan, pemandangan luar biasa seperti ini hanya bisa dinikmati dari atas, bagi Wira melihat pemandangan dari atas bukan sesuatu yang baru, tapi buat yang lain mungkin hanya sekali ini mereka bisa menikmatinya, itu yang menyebabkan mereka tidak mau berisitirahat memejamkan mata barang sejenak, walaupun perjalanan sudah hampir sehari.


"Paman apakah perjalanan dilanjutkan ?, atau istirahat saat malam tiba ?" tanya Wira pada Jenderal Sentanu.


"Apakah Singa Emas tidak kelelahan jika terbang tanpa henti ?" Jenderal Sentanu menjawab dengan pertanyaan.


"Jangan khawatir Paman, Singa Emas mampu terbang tanpa henti selama sebulan, dia bisa terbang sambil makan jika dia lapar," ujar Wira.


"Kami ingin sampai di Ibukota Kerajaan dengan cepat karna informasi yang akan kita sampaikan sangat penting dan mendesak," Jenderal Sentanu memberi alasan.


"Singa Emas kurangi kecepatan saat malam tiba, supaya kita bisa melihat pemandangan malam dengan lebih baik," ujar Wira melalui telepati.


"Baik Raja," jawab Singa Emas


Ketika malam tiba, alam penuh taburan cahaya bintang, melihat bintang dari ketinggian serasa benar-benar kita merasa ada diantara bintang.


Ketika melihat kebawah, cahaya lampu mengelompok, seperti kunang-kunang berebut makanan, saat cahaya dibawah mengelompok lebih besar pertanda pemukiman padat penduduk, atau kota sedang berada dibawah.


"Paman Gunung apa yang didepan sana puncaknya seperti menyentuh langit, puncaknya tampak seperti bercahaya," tanya Wira penasaran,


"Itu Gunung Giridara, gunung terbesar di kerajaan Indra Pura, tidak ada seorang pun yang bisa naik ke puncak Gunung Giridara, disamping karna sangat dingin dan oksigennya tipis, disana konon ada banyak mahluk gaib, hingga mereka yang nekat naik kesana tak pernah kembali," demikian Ranubaya menjelaskan.


"Hitam !, Perak !, tandai lokasi Gunung itu, aku ingin kesana nanti," perintah Wira pada Tikus Hitam dan Srigunting Perak melalui telepati.


"Baik Raja," jawab mereka


Sambil menikmati pemandangan malam dan berbincang santai, tanpa terasa malam hampir usai ditandai semburat merah dibagian timur cakrawala.


"Sepertinya sebentar lagi pagi Bibi," Kirani berbicara pada Kahita yang sudah terjaga dari tidurnya, Kahita buru-buru bangun saat diberi tahu hari menjelang pagi, dari kemaren mereka penasaran ingin melihat matahari terbit dari angkasa.


Warna merah di langit sebelah timur memenuhi angkasa, awan tipis dan kabut yang berada di langit sebelah timur semua berwarna merah.


Sayang sekali Kirani dan Kahita tidak bisa menikmati hembusan udara pagi yang segar karna terhalang oleh Aray Pelindung.


"Berapa lama lagi kita sampai di Kota Indra Pura Paman ?" tanya Wira,


"Jika kecepatan Singa Emas sama seperti kemaren siang, paman rasa tengah hari kita sudah tiba," Jenderal Sentanu menjawab pertanyaan Wira.


Setelah terbang hampir enam jam Ibukota Kerajaan Indra Pura terlihat di kejauhan,


"Kita nanti mendarat di tempat yang sepi, didekat kota, supaya tidak menimbulkan kegaduhan," ujar Wira.


Singa Emas turun sekitar 15 kilometer dari Ibukota Kerajaan Indra Pura, berselang satu jam mereka sampai di pintu gerbang selatan Ibukota, prajurit yang menjaga gerbang langsung mempersilahkan rombongan masuk, begitu dilihat yang datang pejabat penting kerajaan.


Mereka langsung menuju kediaman Panglima Bayu Murti ayahnya Kirani.


Sampai dikediaman Panglima Bayu Murti, mereka di sambut oleh Dewi Sekar Arum Ibundanya Kirani.


"Oh kesayangan Ibunda," Dewi Sekar Arum memeluk Kirani, dan Kahita bergantian.


"Silahkan duduk dulu," Dewi Sekar Arum mempersilahkan tamunya duduk,


"Aish dimana sopan santunku ?! Maaf, melihat Putriku pulang dengan selamat, kami sangat gembira sampai lupa mempersilahkan Jenderal Sentanu dan yang lainnya untuk duduk," ucap Dewi Sekar Arum tersenyum malu.


Perempuan muda yang masih sangat cantik pada usianya yang sudah tiga puluh delapan tahun itu menyuruh pelayanan untuk mempersiapkan jamuan bagi para tamunya yang baru saja tiba.


Sudah sehari penuh mereka belum dapat mengisi perut demi secepatnya sampai di Ibukota. Sambil menunggu persiapan jamuan makan siang mereka saling memperkenalkan diri dan berbincang ringan.


"Ini Pangeran Mahkota Mahawira, yang lainnya prajurit telik sandi dan prajurit pengintai dari Benteng Selatan," ujar Jenderal Sentanu menjelaskan.


Wira menakupkan tangan sebagai tanda hormat sambil tersenyum ramah, sedang kedua prajurit itu membungkukkan sedikit badannya sebagai rasa hormat mereka pada istri Panglima.


Setelah berbincang beberapa lama, seorang pelayan datang melaporkan bahwa jamuan sudah siap, mereka dipersilahkan untuk keruang jamuan.


Saat mereka berdiri hendak melangkah, Panglima Bayu Murti datang, mereka kembali duduk dan bertukar sapa dengan Panglima Bayu Murti.


Dewi Sekar Arum membisikkan sesuatu pada Panglima Bayu Murti khawatir percakapan semakin panjang dan serius hingga mereka lupa untuk makan.


"Mari kita keruang perjamuan, disana kita bisa ngobrol usai makan," ujar Panglima tersenyum gembira.


Selesai makan, pelayan membawakan buah-buahan dan minuman ringan sebagai cemilan sambil berbincang.


"Aku yakin Jenderal membawa berita penting hingga datang secara pribadi ke Ibukota," tebak Panglima.


Biasanya mereka hanya mengirimkan utusan saja jika membutuhkan sesuatu terkait kebutuhan pasukan atau jika mengirim laporan rutin.


"Benar Panglima, awalnya bahkan kepala Benteng yang akan berangkat kesini, namun batal karna pertimbangan yang dianggap penting oleh beliau." Jenderal Sentanu menanggapi dengan sikap hormat.


"Katakanlah"


"Benteng Utara Kerajaan Malawa Dewa yang di pimpin oleh Jenderal Tumbak Bayuh terus menambah jumlah pasukan, berdasarkan laporan terakhir sudah mencapai enam ratus ribu prajurit, dan akan didatangkan lagi sekitar dua ratus sampai tiga ratus ribu lagi,"


"Apa alasan mereka menambah pasukan ?" tanya Panglima,


"Maaf Panglima, kami belum berani menyimpulkan, sebagai bahan pertimbangan, kami ingin menyampaikan beberapa hal," Jenderal Sentanu memberi isyarat pada prajurit telik sandi dan prajurit pengintai untuk bicara.


"Izinkan kami menyampaikan apa yang terjadi di lapangan,"


"Lanjutkan" perintah Panglima.


Prajurit telik sandi dan prajurit pengintai menceritakan kejadian itu dengan jelas, kemudian Wira juga diminta menjelaskan mengenai pencegetan yang dilakukan oleh sekte Golok Neraka yang merupakan pendukung penguasa baru, kemudian serangan yang dilakukan prajurit Benteng Utara.


"Padahal kami sudah menjelaskan pada mereka bahwa kami sedang mengawal Putri Panglima yang sedang menjemput kerabatnya," Ranubaya ikut menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Arogansi Pangeran Gantar tentu karna mereka merasa bahwa Kerajaan Samantha Pancaka yang dipimpin Raja Durgati memiliki kekuatan lebih dari Kerajaan Indra Pura," ujar Panglima,


"Kekuatan yang terkonsentrasi di Benteng Utara sudah pasti mereka ingin memprovokasi kita, agar mereka punya alasan menyerang andai kita menyerang balik saat Ranubaya diserang, dasar bodoh !, mata-mata kita melaporkan bahwa Raja Wreksasena akan melakukan serangan balik untuk merebut kembali kerajaan mereka," Panglima Bayu Murti menjelaskan sambil menoleh Wira.


"Benar Panglima, kami sudah mempersiapkan diri untuk merebut kembali kerajaan kami, begitu Pangeran Gantar mengirimkan lagi prajuritnya ke Benteng Utara kami langsung menyerbu Ibukota, karna itu adalah momen terbaik yang kita tunggu," ucap Wira membenarkan informasi dari mata-mata Panglima Bayu Murti.


"Jika Panglima setuju, kami mohon bantuan agar Panglima mengirimkan pasukan bantuan ke Benteng Selatan supaya Pangeran Gantar tetap membiarkan pasukannya bersiaga di sana, masalah biaya yang dikeluarkan karna menambah pasukan ke Benteng Selatan kami akan memberikan kompensasi," Wira memberi usulan.


"Baiklah, walaupun tanpa kompensasi kami tetap membantu untuk menambah pasukan ke Benteng Selatan, itu untuk kepentingan kami juga, Arogansi Raja Durgati juga membuat kami gerah, jika hanya dengan menambahkan pasukan di Benteng Selatan itu bisa menghancurkan Pangeran Gantar tentu akan kami lakukan dengan senang hati," jawab Panglima Bayu Murti.


"Besok kita menghadap Raja Bismanta," ujar Panglima Bayu Murti.


Mendengar keputusan Panglima Bayu Murti, Jenderal Sentanu menunjukkan jempolnya pada wira, karna titah Raja hanya formalitas belaka.


Ahli Strategi yang sesungguhnya adalah Panglima Bayu Murti, Raja Bismanta selalu menyetujui usulan dan saran dari Panglima Bayu Murti karna sudah terbukti berkali-kali strategi yang diterapkan oleh Panglima Bayu Murti selalu berhasil setiap kali ada pemberontakan di awal-awal pemerintahan Raja Bismanta, pemusnahan terhadap sekte aliran hitam juga merupakan usulan dari Panglima Bayu Murti, alasannya jika sekte hitam dibiarkan berkembang itu akan menguras banyak biaya kedepan dan berkurangnya kepercayaan rakyat pada Raja, keberadaan sekte hitam sudah pasti akan menggangu ketertiban, keamanan dan kenyamanan masyarakat, untuk itu harus secepatnya dimusnahkan sebelum benar-benar menjadi gangguan besar dikemudian hari.


Keesokan harinya Panglima Bayu Murti, Wira dan Jenderal Sentanu dan Ranubaya menghadap Raja dan mengutarakan kejadian serta usulan Wira, akhirnya Raja Bismanta menyepakati permohonan Wira setelah meminta pendapat Panglima Bayu Murti.


Wira mengeluarkan dua puluh peti besar yang berisi lima ratus juta koin emas sebagai kompensasi biaya.


"Pangeran tidak perlu seperti itu," ujar Raja Bismanta.


"Mohon maaf Yang Mulia Raja, tidak ada niat kami untuk menyogok, ini tulus karna niat kami agar dimasa depan hubungan kedua kerajaan semakin terjalin baik," Wira menyampaikan alasannya.


Akhirnya Raja Bismanta mau menerima dan pertemuan selesai karna tidak ada lagi yang perlu dibahas.