Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 39. Hadiah dari Naga Kecil



Hampir satu jam Wira tertidur, Sampai rasa panas seperti terbakar membuat dia bangun.


Wira mendapati dia dan istrinya berada di tengah-tengah Naga kecil yang melingkari mereka bertiga.


Naga Kecil berbicara menggunakan telepati pada Wira bahwa dia memasukkan racunnya pada tubuh Wira dan kedua istrinya untuk membuat tubuh mereka kebal terhadap berbagai macam racun, kemudian Naga Kecil menyuruh Wira untuk memurnikan racun yang masuk ke tubuhnya.


Wira duduk bersila dan mulai memurnikan racun Naga Kecil yang ada di tubuhnya, dengan Inti Api Poeniks Biru dan Inti Api Dingin yang Wira miliki, Wira bisa memurnikan Racun Naga kecil dalam waktu satu jam.


Wira kemudian duduk diantara kedua istrinya, membuka baju istrinya sebatas dada lantas mengalirkan energi murni kedalam tubuh istrinya, hampir empat jam Wira mengalirkan energi ke tubuh istrinya kemudian dia berhenti untuk menelan pil pemulihan energi, setelah energinya pulih kembali Wira mengalirkan energi ke tubuh istrinya, begitu terus selama tiga hari sampai akhirnya kedua istrinya mulai sadar.


Wira tersenyum sendiri mengingat Nilotama dan Putri mengigau saat keduanya tidak sadar.


"Kakak Wira... jangan tinggalkan kami"


Kalimat itu diucapkan Nilotama berulang-ulang


Sementara Putri hanya bergumam lirih,


"Kanda.... Kanda.... Kanda"


"Apa yang mereka mimpikan ?" tanya Wira dalam hati, Wira senang merasakan kasih sayang kedua istrinya yang sangat besar kepadanya.


"Aku juga sangat mengasihi kalian," gumam Wira sambil mengelus pipi Putri dan Nilotama.


Setelah Nilotama dan Putri benar-benar sadar mereka bangun dan mendapati baju mereka terbuka sebatas dada, mereka kaget dan cepat-cepat membenarkan pakaiannya, lebih kaget lagi saat mereka menyadari ada Naga hijau besar melingkari mereka.


"Kiaaaak.... kiaaaak"


"Aish rupanya kamu Naga Kecil, bagaimana bisa tubuhmu sudah sebesar ini ?!" tanya Nilotama.


"Naga Kecil Kekuatannya sudah setara Pendekar Suci tingkat dasar," gumam Wira,


"Kiaaaak.... kiaaaak...."


Naga Kecil menjilati mereka bertiga bergantian.


Putri menanyakan apa sebenarnya yang sedang terjadi kenapa tubuhnya sangat lemas padahal baru bangun, seharusnya sehabis bangun tidur tubuh segar kembali.


Wira menjelaskan bahwa mereka pingsan selama tiga hari akibat racun yang dimasukkan Naga Kecil ke tubuh mereka.


"Kenapa Naga kecil meracuni kita Kanda, dan kenapa Kanda tidak pingsan seperti kami ?" tanya Putri,


Naga Kecil meracuni kita karna ingin membantu, racun Naga Kecil yang sudah di murnikan didalam tubuh kita akan menjadi penawar segala jenis racun, dan Kanda tidak pingsan seperti kalian karna kultivasi Kanda lebih tinggi dari dari kalian.


Naga Kecil menggigit kita saat tidur, karna hanya itu kesempatannya, jika kalian sadar tidak mungkin kalian mau digigit, dan yang pasti kalian akan panik, hingga makin susah memurnikan racunnya, saat Naga Kecil tumbuh besar, kekuatan racunnya makin hebat, mungkin susah bagi tubuh kalian untuk memurnikan racunnya.


Demikian Wira menjelaskan mengenai tindakan Naga Kecil yang menganggap mereka sebagai induknya, Naga Kecil tau kalian lebih lemah darinya hingga merasa perlu untuk melindungi dengan membuat kalian kebal racun.


"Kiaaaak..... kiaaaak..."


Naga Kecil senang saat Nilotama dan Putri mengelus-elus tubuhnya.


Naga kecil kembali menyelam kedalam Danau Emas setelah menjilati mereka bertiga.


Wira mengajak istrinya untuk ke Istana Giok untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Begitu mereka sampai di depan Istana Giok


"Bruukk...."


"Mohon ampuni kami, sudah tiga hari Pangeran dan Nona Muda berdua tidak bangun, kami ingin kesana menengok tapi kami tidak berani," Kata Delima mewakili mereka semua


"Bangunlah !, kalian tidak bersalah, selama tiga hari ini apa yang kalian lakukan?" Tanya Wira,


"Kami belum melakukan apapun, kami hanya mondar-mandir disekitar istana karna khawatir, maafkan kami ," Delima menjawab pertanyaan Wira.


Wira kemudian masuk bersama istrinya kedalam Istana Giok.


Keesokan harinya Wira dipeluk erat oleh kedua istrinya saat berpamitan akan keluar dari Dunia Dimensi Jiwanya untuk melanjutkan perjalanan menuju Benteng Utara yang terletak di perbatasan utara Kerajaan Malawa Dewa.


Mereka masih trauma dengan mimpinya, saat ditinggal Wira didalam gua.


"Kakak.... boleh kami ikut?" tanya Nilotama dengan wajah imutnya.


Wira paling tidak bisa melihat wajah imut Nilotama jika sedang memohon,


"Baiklah, tapi jika ada sedikit saja gangguan, kalian Kanda kirim kembali ke sini!" kata Wira tegas.


Wuuuusss...


Wira membawa Nilotama dan Putri keluar dari Dunia Dimensi Jiwanya, Wira juga mengeluarkan Singa Emas, Tikus Hitam, Bunglon Pelangi, dan Srigunting Perak.


Wira mengajak istrinya naik ke punggung Singa Emas, sementara Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak duduk di leher Singa Emas.


"Kecilkan tubuh kalian, perintah Wira pada Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi.


Mereka mengecilkan tubuhnya sampai ukuran terkecil, sementara Srigunting Perak memang asli besar tubuhnya hanya sebesar burung pipit.


Singa Emas terbang ke arah utara menuju benteng perbatasan.


"Apa ada kota menuju arah utara ?" tanya Wira pada Tikus Hitam,


"Kita akan melewati tiga kota besar dan dua sekte aliran hitam, sesuai informasi yang dikirim oleh anggota kami ," jawab Tikus Hitam,


"Apa nama kota terdekat yang akan kita lewati ?"


"Kota yang akan kita lewati adalah kota Mojo Agung, sedangkan Sekte yang akan kita lewati adalah Sekte Golok Neraka dan Sekte Lembah Kabut Racun.


"Singa Emas kecepatan penuh," perintah Wira sambil memasang Aray Pelindung kecil untuk melindungi diri dan istrinya dari hempasan angin yang sangat kencang.


hanya dua jam mereka terbang dengan kecepatan penuh di kejauhan terlihat kota yang lumayan besar.


"Raja, Kota Mojo Agung sudah terlihat didepan," Tikus Hitam memberi tahu Wira,


"Cari tempat sepi didekat kota," kata Wira memberi perintah.


Singa Emas berhenti dan turun ditempat yang sepi, Wira memeluk kedua istrinya dan meloncat turun, Singa Emas dimasukkan kedalam Dimensi jiwa sedangkan Tikus Hitam, dimasukkan kedalam kantong pakaiannya Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak bertengger di bahu Wira.


Gerbang Kota Mojo Agung dijaga ketat oleh banyak prajurit, rupanya hancurnya Prajurit Elit Pangeran Gantar membuat semua kota yang ada di Kerajaan Malawa Dewa di jaga dengan ketat oleh banyak prajurit.


"Tunjukkan identitas kalian," seorang prajurit menahan mereka.


Wira menunjukkan Lencana Emas Rumah Pelelangan Istana Salju, pada prajurit yang menahan mereka, begitu mereka melihat Lencana Emas dari Istana Salju prajurit itu membungkuk hormat sembari mempersilahkan mereka masuk.


Wira berjalan menuju keramaian kota, hal pertama yang mereka cari adalah restoran, mereka terus berjalan di keramaian kota.


"Kanda didepan ada restoran," kata Putri menunjuk restoran yang lumayan besar.


Wira mengajak kedua istrinya untuk makan di restoran tersebut.


Pelayan dengan ramah mempersilahkan rombongan Wira memilih tempat.


"Dimana Tuan Muda ingin mencari tempat ?, lantai dua atau lantai tiga ?" tanya pelayan,


"Bawa kami keruangan terbaik, dan bawakan kami makanan terbaik yang ada di restoran ini" jawab Wira.


Pelayan membawa mereka kelantai empat yang merupakan tempat khusus bagi para bangsawan.