
Melihat tidak ada lagi jalan keluar bagi prajuritnya, Jenderal Kala Menjing ingin melarikan diri dari pertempuran.
Wira melihat gelagat Jenderal Kala Menjing yang hendak melarikan diri segera terbang mendekatinya, Kala Menjing merasa lega karna yang mendekatinya tidak sekuat Singa Emas.
Wira mengambil Kapak Suci Sugosa dari cincin penyimpanannya.
Pertempuran segera berlangsung, Jenderal Kala Menjing menggunakan senjata Pusaka tombak yang mata tombaknya sangat besar.
Kala Menjing menyerang Wira dengan bernafsu, berharap bisa mengalahkan Wira dengan cepat, mumpung Singa Emas masih sibuk membunuhi para prajurit.
Kala Menjing menyerang makin lama makin cepat, namun belum bisa menyentuh bahkan ujung baju Wira, Kala Menjing penasaran dengan Wira yang terlihat lemah tapi tak bisa disentuh.
Trang.....
Trang....
Percikan api keluar dari benturan senjata mereka
Kala Menjing meloncat kebelakang untuk menjaga jarak, dia mengeluarkan jurus andalannya, sementara Wira tetap tenang menunggu, Kala Menjing meloncat menyerang Wira dengan ganas, mata tombaknya yang besar memancarkan cahaya terang, Wira mengalirkan energi ke Kapak Suci Sugosa.
Trang.........
Benturan yang sangat kuat terjadi antara senjata tombak milik Kala Menjing dengan Kapak Suci Sugosa.
Tombak Pusaka yang dipegang Kala Menjing putus setelah berbenturan dengan Kapak Suci Sugosa yang dimiliki Wira.
Wira masih terus melanjutkan serangannya,
Crash.....
Lengan kanan Kala Menjing yang memegang gagang tombak putus terbabat kapaknya Wira,
Krontang........
Tangan kanan Kala Menjing yang memegang tombak terjatuh dengan posisi masih memegang tombak yang sudah terputus.
Darah hitam yang sangat amis keluar dari lengan Kala Menjing yang terputus, perlahan lengan yang putus itu tumbuh kembali.
Ha ha ha........
"Kamu tidak akan bisa membunuhku," ujar kala Menjing jumawa.
"Jurus iblis," gumam Wira.
Wira mengalirkan api Poeniks Biru pada kapaknya dan bergerak cepat menebas lengan kiri Kala Menjing, raungan keras keluar dari mulut Kala Menjing berbarengan dengan putusnya lengan kiri yang terkena sabetan Kapak Wira.
Wira menunggu beberapa saat ingin melihat apakah lengan kiri Kala Menjing bisa tumbuh kembali, Api Poeniks Biru masih membakar lengan kirinya Kala Menjing yang menyebabkan raungan kesakitan Kala Menjing semakin keras, sementara lengannya yang jatuh kebawah telah habis terbakar oleh api Poeniks Biru, ditunggu lama lengan kiri Kala Menjing tidak tumbuh lagi, Wira menarik kembali api yang melapisi Kapaknya, kemudian menebas leher Kala Menjing.
Crash......
"Kelemahan jurus Iblis ini adalah api atau putuskan kepalanya," batin Wira
Sementara itu pertempuran Sesha dan Singa Emas melawan prajurit kerajaan Samantha Pancaka telah berakhir.
Wira membakar seluruh mayat prajurit dengan menggunakan Api Poeniks Biru sampai jadi abu untuk menghilangkan jejak, kemudian menyuruh Singa Emas menghilangkan abu itu dengan hembusan angin yang keluar dari dua pasang sayapnya.
"Ayo Singa Emas kita kembali ke Benteng Utara," ujar wira, setelah memasukan Sesha ke Istana Emas yang menjadi kediamannya.
Sementara itu anak buah Bunglon Pelangi dan Tikus Hitam yang tersebar di Kerajaan Malawa Dewa dan Samantha Pancaka masih terus mengirim informasi penting dari berbagai tempat.
Sambil terbang kearah Benteng Utara Wira mendengarkan informasi yang disampaikan oleh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi.
Dari laporan yang diberikan oleh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi seluruh prajurit yang dimiliki Raja Durgati sekitar dua juta. Lima ratus ribu ditempatkan di Benteng Pohasem wilayah perbatasan dengan kerajaan Ampel Wangi, lima ratus ribu sisanya untuk mengamankan Ibukota,
sisanya lagi satu juta dibawa ke Kerajaan Malawa Dewa, lima ratus ribu untuk mengamankan Ibukota, lima ratus ribu sisanya untuk menjaga Benteng Utara kerajaan Malawa Dewa, yang diperkuat dengan anggota sekte aliran hitam sehingga kekuatan Benteng Utara menjadi sembilan ratus ribu prajurit.
Sementara kekuatan yang dimiliki Raja Wreksasena, di dunia kecil dua ratus ribu pasukan elite, prajurit yang direkrut Mahardika saat ini tiga ratus ribu prajurit, relawan berjumlah tiga ratus ribu ditambah sekte aliran putih yang bergabung, total kekuatan yang dimiliki Raja Wreksasena saat ini lima ratus ribu prajurit dan tiga ratus ribu relawan. Jika ditambah kekuatan yang ada di Benteng Utara, sudah cukup untuk mengalahkan Pangeran Gantar.
Wira ingin memenangkan perang dengan seminimal mungkin korban di pihaknya, itu salah satu alasan Wira menunggu dua bulan lagi, agar para pengikut istrinya sudah benar-benar hebat, supaya bisa membantu dalam perang.
Setelah Benteng Utara bisa Wira kuasai dengan mutlak, Wira ingin pergi ke kerajaan Ampel Wangi untuk membangun kerjasama, agar lebih mudah menghancurkan Raja Durgati.
Wira sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa terasa Benteng Utara sudah dekat, dia memasukkan Singa Emas ke dalam Dunia Dimensi Jiwa di Hutan Kristal.
Jarak Benteng Utara dari tempat dimana dia turun sekitar dua puluh kilometer, Wira ingin melihat-lihat situasi dan kondisi diluar Benteng, jalan menuju benteng yang dilalui Wira lumayan besar, cukup untuk dua kereta barang berjalan berdampingan, jalan ini adalah jalan utama untuk jalur perdagangan antar Kerajaan Malawa Dewa dan Kerajaan Indra Pura, hanya saja dibatasi hutan yang lumayan panjang.
Ini wilayah yang rawan, strategis untuk melakukan penyergapan, untungnya dekat dengan benteng sehingga sering dilalui prajurit yang berpatroli.
Semenjak Wira berada di Benteng Utara, dia sudah melarang prajurit yang berasal dari sekte aliran hitam untuk berpatroli, watak mereka yang memang rusak malah dapat kesempatan melakukan banyak kejahatan dengan berkedok pemeriksaan, perampok berbaju prajurit malah jauh lebih berbahaya dari perampok sesungguhnya.
Sampai di benteng Wira minta peta pada Jenderal Tumbak Bayuh dan mulai menandai tempat-tempat penyergapan yang bagus untuk menghabisi musuh tanpa banyak jatuh korban di pihak sendiri, Wira juga menandai tempat-tempat yang cocok untuk memasang jebakan.
Wira mengumpulkan Jenderal Tumbak Bayuh dan sepuluh Jenderal Muda lainnya di ruang kerja Kepala Benteng.
"Aku ingin kalian memastikan prajurit yang berasal dari sekte aliran hitam tidak ikut patroli diluar Benteng, kemudian jangan kumpulkan mereka di satu divisi, sebar mereka di semua divisi dan batasi ruang gerak mereka," ujar Wira.
Wira ingin membersihkan seluruh sekte aliran hitam dan orang-orangnya dari kerajaan Malawa Dewa, karna sesungguhnya sekte aliran hitam adalah duri dalam daging bagi kemajuan kerajaan.
Sebelum berangkat menuju Ibukota Malawa Dewa Wira harus memastikan segala sesuatunya berada dalam kendalinya.
Setelah semua berjalan sesuai rencananya, Wira berangkat menuju Ibukota Malawa Dewa, untuk mengambil pesanannya di Rumah Pelelangan Istana Salju dan berencana menghancurkan beberapa sekte hitam yang memiliki kekuatan besar untuk mengurangi kekuatan musuh, sekaligus meringankan penderitaan masyarakat.
Wira mengeluarkan Paman Sesha dan Dewa Senyum untuk menemani perjalanannya menuju Ibukota Kerajaan, sekaligus memberi tahu mereka mengenai rencana Wira menghancurkan sekte aliran hitam yang ada di Kerajaan Malawa Dewa.
Dewa Senyum sebagai bekas petinggi sekte aliran hitam tentu sangat tahu letak sekte-sekte itu berada sekaligus sangat faham mengenai kekuatan mereka.
Dewa Senyum memberitahu semua hal yang dia ketahui dan dengan hati ikhlas akan melakukan apapun yang menjadi perintah Wira.