
"Kakak yang terbaik!" seru Nilotama sambil mendekat dan memeluk Wira.
"Kanda kami sudah sepakat dengan adik Nilotama untuk melatih Mutiara Jelita, sesuai dengan kemampuan kami dan Kanda harus menurunkan Ilmu terbaik Kanda pada kami," ujar Putri.
"Iya Kak, kami sudah mengangkat Mutiara Jelita sebagai adik, dan mulai sekarang Kakak harus memanggil Mutiara Jelita dengan panggilan Tiara," kata Nilotama riang karna sekarang ada yang memanggilnya kakak.
"Sederhana sekali jalan pikiran istriku yang imut ini," gumam Wira dalam hati melihat kepolosan Nilotama.
"Baiklah Kanda setuju saja jika itu membuat kalian senang, dan sebagai guru kalian harus melatih muridmu dengan baik agar dia menjadi pendekar yang hebat dimasa depan," ujar Wira pada kedua istrinya.
Mendengar perkataan Wira, Tiara langsung sujud pada Putri dan Nilotama,
"Guru terimalah hormat murid, murid berjanji akan selalu mengikuti perintah guru asal tidak bertentangan dengan kebenaran, murid berjanji berlatih keras agar tidak mengecewakan guru," ujar Tiara sungguh-sungguh.
Nilotama tertawa terkekeh melihat kelakuan Tiara, bukan itu yang dia maksudkan, dia ingin belajar bersama tidak menganggap Tiara seperti pengikut seperti Bidadari Pelindung Langit.
"Panggil aku Kakak saja," Nilotama membangunkan Tiara dari sujudnya,
"Baik Guru, eh Kakak,"
Putri hanya senyum kecil melihat tingkah Nilotama dan Tiara yang dianggapnya lucu.
Wira mendekati Tiara kemudian memegang tangannya,
"Kamu punya struktur tulang yang bagus, dan bakat yang lumayan baik, dalam usia 14 tahun kamu sudah level Pendekar Raja walaupun tanpa sumberdaya tingkat tinggi,"
"Tuan Pangestu pasti mendidik dia dengan baik," batin Wira,
"Berikan Tiara buah-buahan ajaib dan suruh berendam di Danau Emas, kemudian latihan di menara jiwa supaya pondasi fisik dan jiwanya kuat untuk menerima jurus-jurus tingkat tinggi," ujar Wira pada Putri dan Nilotama.
"Baik Kanda"
"Baik Kakak"
"Terimakasih Guru," ucap Tiara pada Wira dengan sikap hormat.
Putri dan Nilotama melaksanakan perintah Wira dan segera berjalan kearah Danau Emas setelah mohon izin pada Wira.
"Mereka tidak menghiraukan aku setelah dapat adik," gumam Wira.
Wira keluar dari Dunia Dimensi Jiwa dengan perasaan kecewa karna tidak dihiraukan oleh kedua istrinya.
Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi tidak berani memberi laporan melihat wajah kusut Wira, mereka hanya diam sambil menunggu Wira bicara.
"Aku harus mencari kesibukan, sambil menunggu informasi dari Tikus Hitam sebaiknya keluar untuk melihat-lihat kondisi sekitar," batin Wira sambil beranjak keluar pintu.
"Ayo kita jalan-jalan..." Wira mengajak Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak untuk mengenal wilayah seputaran Kota Awan, agar lebih memahami kondisi.
Sepanjang perjalanan Wira selalu disapa dengan hormat sampai tiba di pintu gerbang sekte,
"Apa Pangeran ingin jalan-jalan ke luar sekte?" ujar penjaga gerbang ramah.
"Iya, katakan nanti pada Ketua atau yang lain, aku tidak sempat memberi tahu,"
"Baik Pangeran," jawab penjaga hormat.
Wira berjalan menuju ke luar sekte, setelah agak jauh Wira menggunakan ilmu lari cepat untuk mempersingkat waktu.
"Sudah Raja, sekitar tiga ratus kilo ke arah barat, lokasinya di dalam hutan," jawab Tikus Hitam,
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?"
"Hamba tidak berani mengganggu Raja, karna Raja terlihat kesal hari ini," jawab Tikus Hitam.
"Informasi apa saja yang kamu dapat"
"Ketua sekte Melati Hitam adalah Serundeng Wangi, seorang Pendekar Suci tingkat 8, dia memiliki pengawal yang selalu ada didekatnya sejumlah 50 orang, rata-rata kemampuannya Pendekar Suci tingkat 3, Serundeng Wangi dan pengawalnya memiliki kemampuan menyamar yang sangat baik walau masih jauh dibawah kemampuan Raja, dia menggunakan ilmu sesat agar selalu terlihat cantik dan muda, secara rutin setiap sebulan sekali dia berhubungan intim dengan perjaka dan menyerap esensi energinya hingga tinggal tengkorak saja, dia banyak menculik pemuda-pemuda yang masih perjaka apalagi jika memiliki tenaga dalam tinggi pasti diincar oleh Serundeng Wangi untuk dijadikan mangsanya." ujar Tikus Hitam menjelaskan informasi yang disampaikan oleh anggotanya.
"Sebagian besar anggota sektenya adalah perempuan yang sudah tidak memiliki keluarga, karna di rampok oleh penguasa atau oleh sekte aliran hitam." ujar Tikus Hitam menambahkan.
"Bagaimana kamu bisa mengenali Serundeng Wangi dan pengawalnya yang pandai menyamar?" tanya Wira,
"Walaupun dia berubah seperti apa, anggota hamba bisa mengenali melalui aura dan aroma tubuhnya," jawab Tikus Hitam.
Jawaban Tikus Hitam membuat Wira lega, sebab dia tidak ingin salah membunuh orang.
Mendengar informasi yang disampaikan Tikus Hitam, Wira memikirkan sebuah rencana.
Wira mengeluarkan busur dan panah biasa agar terlihat seperti pemburu, dan mengubah auranya seperti Pendekar Raja tingkat 9, agar terkesan seperti pemburu binatang siluman.
Tikus Hitam memberi tahu bahwa 20 kilometer di arah barat ada beberapa orang anggota sekte Melati Hitam sedang istirahat. Dengan memancarkan kesadarannya Wira mengetahui keberadaan rombongan itu, kemudian bergerak mendekat sambil berpura-pura berburu.
Setelah dekat dengan rombongan itu Wira menyelinap ke pohon yang rimbun dan mulai mengamati situasi.
Sepuluh perempuan cantik dengan kisaran usia sekitar 23 sampai 27 tahun terlihat sedang istirahat, di dekat mereka ada 20 pemuda remaja dengan tatapan kosong duduk bersama mereka.
"Pendekar Suci tingkat 3," gumam Wira mendeteksi kemampuan para wanita di kejauhan sana,
"Rupanya para pemuda itu sedang terkena ilmu ilusi, hingga mereka ikut apa yang dikatakan para wanita itu tanpa perlawanan," batin Wira.
"Siapa disana !!!" ujar salah satu wanita yang mulai menyadari keberadaan Wira,
Wira meloncat pergi begitu keberadaannya diketahui,
"Kejar dan tangkap dia hidup-hidup !" perintah Wanita Cantik yang menjadi pemimpinnya.
Lima orang rekannya segera meloncat mengejar Wira, tak butuh waktu lama kelima wanita cantik itu berhasil menangkap Wira dan mengikat tangan Wira dengan tali khusus yang memang mereka selalu bawa.
Sementara itu, di Dunia Dimensi Jiwa, Nilotama dan Putri mencari keberadaan Wira setelah mereka bertiga selesai berendam di Danau Emas dan makan buah ajaib, mereka tidak menemukan Wira di manapun.
"Apa Kanda sudah keluar ?, tapi kenapa tidak memberi tahu seperti biasanya ?" tanya Putri,
"Mungkin Kakak Wira sudah keluar dan tidak ingin mengganggu kita yang asik berendam di Danau Emas Kak," ujar Nilotama.
"Iya, mungkin Guru sudah keluar Kak," Tiara mendukung pendapat Nilotama.
"Sudahlah ayo kita berlatih di Menara Jiwa," kata Putri sambil melangkah menuju belakang Istana Giok diikuti Nilotama dan Tiara.
*****
Melihat seorang remaja sangat tampan ada didepannya pemimpin para wanita tersenyum sangat puas.
"Ketua pasti sangat senang dengan hasil kerja kita sekarang, kulihat pemuda ini memiliki kemampuan tinggi, tulangnya sempurna dan wibawanya sangat besar," ujar Pemimpin para wanita itu sambil meneliti wajah dan tubuh Wira.