
Menjelang pagi satu persatu sekte aliran kecil dan menengah datang memasuki areal sekte Kalajengking Hitam yang memang sangat luas, mereka semua diberikan wilayah untuk mendirikan tenda-tenda sebagai tempat istirahat sementara, masing-masing sekte sudah membawa perbekalan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Setelah semua sekte yang beraliansi datang, mereka diundang ke aula untuk diberikan penjelasan mengenai situasi yang sedang terjadi.
Setelah mendengar penjelasan bahwa yang menjadi Ketua aliansi adalah Lintang yang berasal dari sekte kelas menengah, dan wakilnya Dandang Gendis dari sekte Kalajengking Hitam yang merupakan sekte besar dengan anggota sekitar tujuh puluh ribu orang, beberapa Ketua sekte yang hadir mulai kasak-kusuk diantara mereka.
Bergola yang merupakan Ketua sekte Lembah Neraka berdiri untuk mengeluarkan pendapat,
"Aku tidak setuju jika Lintang yang menjadi Ketua aliansi, pertama dia berasal dari sekte menengah, kedua kemampuan seorang Ketua aliansi harus diatas para Ketua sekte yang lain, ketiga kami sudah mendapatkan perintah dari Pangeran Gantar untuk menjadikan Ketua sekte Kalajengking Hitam sebagai ketua aliansi." ujar Bergola.
"Ada lagi yang yang setuju dengan pendapat Bergola ?" tanya Lintang,
Koming Kepang sebagai Ketua Golok terbang, yang terkatagori sekte menengah ikut berdiri menyatakan setuju dengan pendapat Bergola, kemudian Sunanda Ketua sekte Pedang Setan ikut berdiri.
Semua orang yang ada di aula mengetahui bahwa Koming Kepang adalah adik ipar Bergola, sedangkan Sunanda Ketua sekte kecil yang selalu mendapat naungan dari Bergola.
"Jika ada lagi yang lain kuharap cepat berdiri agar tidak banyak membuang waktu," ujar Lintang tegas.
"Baiklah karna tidak ada lagi yang berdiri maka yang lain aku anggap setuju bahwa aku menjadi Ketua aliansi, untuk kalian bertiga aku akan menjawab alasan kedua yang menjadi alasan Bergola tidak setuju padaku, aku menantang kalian bertiga sekaligus bertarung di Arena Kematian," ujar Lintang.
Mendengar tantangan yang diajukan oleh Lintang, sebagian besar orang terkejut, sebab setahu mereka Lintang adalah Pendekar Suci tingkat 8 sama seperti Bergola dan Koming Kepang, sementara Sunanda Pendekar Suci tingkat 6, Lintang menantang mereka bertarung di arena Kematian berarti mereka bertarung sampai mati, harapan Lintang untuk menang nol persen, demikian kasak-kusuk diantara orang-orang yang ada di aula pertemuan.
"Baiklah karna itu adalah caramu untuk menjawab ketidak sepakatan diantara kita, maka kami penuhi tantanganmu," ujar Bergola mewakili rekan-rekannya.
"Sabar dulu saudara... ,"
Belum sempat Dandang Gendis menyelesaikan ucapannya Lintang mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Dandang Gendis diam.
"Tuan...,"
"Aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah," ujar Wira pelan.
"Mari kita menuju arena Kematian," kata Lintang sambil menoleh pada Bergola dan kedua rekannya.
Dari dulu hubungan Bergola dan Lintang memang kurang baik, mereka selalu saja bertengkar setiap kali mereka bertemu, tapi tidak sampai bertarung, hari ini rupanya batas kesabaran Lintang telah habis dan memilih bertarung sampai mati sebagai cara mereka mengakhiri perselisihan diantara mereka, setidaknya itulah yang ada dalam pemikiran sebagian orang yang ada di sana.
Arena Kematian adalah tempat bertarung yang ada di setiap sekte, apakah sekte putih maupun sekte hitam, di arena Kematian biasanya mereka menyelesaikan dendam mereka yang berseteru dan tidak lagi bisa didamaikan, tentunya atas persetujuan kedua pihak yang berseteru dan atas izin Ketua sekte.
Lintang berjalan santai menuju Arena Kematian, sedikitpun tidak ada ketakutan diwajahnya, sementara Bergola berjalan dengan angkuh dan tersenyum kecil seperti meremehkan Lintang yang berjalan di depannya.
Sampai di arena Kematian, Dandang Gendis menjelaskan bahwa tidak ada yang boleh mengganggu jalannya pertarungan diantara mereka apapun tekhnik yang mereka gunakan, karna ini pertarungan hidup mati di antara mereka, tidak boleh ada dendam diantara anggota sekte akibat kematian yang terjadi diatas Arena Kematian.
Para tetua sekte yang hadir menyatakan persetujuannya karna itu hal yang biasa terjadi di dunia persilatan.
Begitu selesai Dandang Gendis dengan penjelasanya, Bergola sudah meloncat keatas arena disusul Koming Kepang dan Sunanda, sementara Lintang berjalan dengan tenang memasuki arena.
Setelah mereka menyatakan siap, Dandang Gendis yang merupakan wakil Ketua aliansi yang menjadi wasit dalam pertarungan menyatakan pertarungan bisa dimulai.
Bergola langsung menyerang Lintang dengan bernafsu saat wasit menyatakan mulai, Koming Kepang dan Sunanda bergerak mengurung Lintang dari kiri dan kanan, sedikitpun Lintang tidak menampakkan wajah khawatir sat mereka mengurungnya.
Lintang menangkis pedang Bergola yang menusuk kearah jantungnya sambil melangkah kesamping menghindari golok Koming Kepang yang meluncur deras mengarah ke bahunya, sementara pedang Sunanda ditangkis dengan sentilanan jari.
"Kalian sama sekali tidak ada kemajuan selama bertahun-tahun, kecuali keangkuhanmu yang semakin besar," ucap Lintang memprovokasi.
Bergola merah padam mukanya mendengar ejekan Lintang, dia menyerang kalang kabut sampai melupakan pertahanan diri.
"Membosankan !"
Lintang melemparkan senjata rahasia yang ada digenggamnya,
Ceb...
Bergola tumbang dengan kepala tertancap senjata rahasia yang dari awal digunakan oleh Lintang, kemudian Lintang bergerak cepat kearah Sunanda dan memukul kepalanya dengan jurus Gelombang Memecah Karang.
Prak.....
Kepala Sunanda pecah dan tubuhnya terlempar keluar arena.
Melihat kematian kedua rekannya Koming Kepang hilang keberaniannya dan ingin menyerah dengan mengangkat tangannya, Lintang tahu kebiasaan aliran hitam, dengan pura-pura tidak melihat Lintang melemparkan kembali senjata rahasia yang ada dibalik bajunya.
Ceb.....
Tenggorokan Koming Kepang tertembus senjata rahasia yang berisi racun yang lumayan kuat.
Tubuh Koming Kepang dan Bergola menghitam terkena senjata rahasia Lintang.
Selesai pertarungan Lintang menyuruh tetua sekte untuk menguburkan Ketua sekte mereka dengan layak dan memberi penghormatan atas keberanian mereka.
Selanjutnya Lintang mengajak mereka kembali ke aula untuk melanjutkan materi yang harus dibahas,
"Sekarang aku akan menjelaskan jawaban yang ketiga, kalian mengatakan mendapat perintah dari Pangeran Gantar untuk memilih Tuan Dandang Gendis, sementara aku adalah perwakilan yang ditunjuk langsung oleh Raja Durgati untuk membasmi pemberontak.
Kemudian Lintang menjelaskan kembali bukti-bukti pemberontakan Pangeran Gantar, akhirnya mereka menyetujui kepemimpinan Lintang dan Dandang Gendis, selanjutnya mereka menyatakan sumpah setia pada Raja Durgati dan tunduk pada perintah Lintang dan Dandang Gendis.
Lintang memerintahkan kepada semua Ketua sekte dan anggota aliansi agar menahan siapapun yang berpihak kepada Pangeran Gantar atau mengeksekusi langsung jika melawan.
Lintang juga memerintahkan, para Tetua sekte masing-masing untuk mencari pengganti Bergola, Koming Kepang dan Sunanda sebagai Ketua sekte yang baru.
Setelah pengganti Bergola, Koming Kepang dan Sunanda terpilih oleh para Tetua sektenya masing-masing. Lintang menyerahkan sementara kepemimpinan aliansi kepada Dandang Gendis dihadapan Ketua sekte semua, sampai Lintang datang kembali setelah menghadap Raja Durgati untuk melaporkan situasi dan kondisi yang terjadi di Kerajaan Malawa Dewa, Lintang juga berpesan untuk mengeksekusi mati jika ada pembangkangan yang berani menentang perintah Dandang Gendis sebagai Pemimpin sementara.
"Jika ada pengikut dari Pangeran Gantar datang, langsung penjarakan, atau eksekusi mati jika melawan," ujar Lintang menambahkan.
Mereka semua mengangguk setuju untuk menjalankan semua perintah Lintang tanpa pertanyaan.
Selesai dengan semua hal yang dianggap perlu, Lintang dan pengawalnya melesat terbang menuju kearah Kota Awan.
"Apa yang direncanakan terkadang belum tentu itu yang terjadi, tapi yang terjadi saat ini jauh lebih baik dari yang direncanakan," batin wira dengan senyum riang terukir di wajah tampannya.
*****
Jangan lupa like, komen dan share supaya menambah semangat bagi author untuk menulis, kalau ingin ngasi vote author sangat berterima kasih.