Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 49. Menuju Indra Pura



Wira mengamati perjalanan mereka menuju Benteng Utara dari ketinggian, dia yakin rombongan Kirani dan Ranubaya masih di wilayah Malawa Dewa, mengingat mereka membawa Kereta yang pasti memperlambat kecepatan mereka.


"Aku ingin membangun persahabatan dengan Pembesar Kerajaan Indra Pura, untuk melancarkan strategi mengalahkan Pangeran Gantar dan Raja Durgati," demikian Wira membatin.


Dari kejauhan Wira melihat titik-titik kecil yang bergerak kearah utara, Wira menajamkan pengelihatannya.


"Sepertinya itu rombongan Paman Ranubaya, mudah-mudahan perjalanannya lancar," gumam Wira.


Belum selesai Wira menggumam, dia melihat rombongan prajurit mendekat kearah rombongan Ranubaya.


"Singa Emas lebih cepat!" ucap Wira lewat telepati, kurasa rombongan prajurit itu memang sengaja menghadang rombongan Paman Ranubaya dan Kirani.


"Berhenti......!"


Seorang Pemimpin dari kelompok Prajurit itu berteriak menghentikan rombongan Ranubaya.


Ranubaya mengangkat tangan sebagai isyarat agar rombongannya berhenti,


Setelah rombongan Ranubaya berhenti prajurit yang berjumlah sekitar tiga ratus orang bergerak mengurung rombongan Ranubaya.


"Apa maksud kalian ?" Ranubaya bertanya, dengan tenang walaupun dihatinya ada perasaan dongkol.


"Kalian ikut kami menuju ke Benteng Utara, untuk diperiksa !, karna baru-baru ini ada pembunuhan terhadap anggota Sekte Golok Neraka, jadi setiap orang yang keluar dari Kerajaan Malawa Dewa akan diperiksa."


"Apakah kalian mencurigai kami ?" tanya Kirani yang tiba-tiba keluar dari keretanya mendengar rombongannya hendak dibawa ke benteng untuk diperiksa.


"Kami hanya menjalankan perintah dari atasan," kata Pemimpin prajurit,


"Kalau ingin periksa kenapa harus ke benteng ?, bukankah disini juga bisa ?" tanya Kirani merasa ganjil.


"Aku curiga kalian memiliki maksud lain," kata Kirani penuh selidik.


Kirani curiga bahwa prajurit ini bukan dari Benteng Utara, dari gerak gerik mereka mungkin jadi mereka dari anggota sekte yang membantu memperkuat Benteng Utara, takutnya jika ikut bersama mereka, Kirani dan rombongannya disergap dengan cara licik.


"Kalau kalian tidak bersedia ikut dengan cara baik-baik jangan salahkan jika kami menggunakan kekerasan," pemimpin prajurit mengancam.


"Kalian sedang mengancam Putri Panglima Kerajaan Indra Pura, sadarkah kalian akan resikonya ?" Ranubaya menjelaskan.


"Tugasku bukan menghitung resiko Pak Tua !, Menjalankan perintah atasan adalah kewajiban bagiku," Pemimpin prajurit memberi alasan.


"Lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan kami melakukan apa yang kami yakini benar," kata Kirani sambil memberi isyarat untuk melawan pada Ranubaya.


Bentrokan tidak bisa dihindari lagi, lima puluh orang pengawal Kirani yang dipimpin Ranubaya dikurung tiga ratus prajurit. Pertarungan berlangsung seru, walaupun jumlah pengawal Kirani kalah jumlah namun karna kemampuannya sedikit lebih tinggi dari para prajurit yang menjadi lawannya, dan sudah terbiasa bertempur dengan formasi perang sehingga mereka mampu bertahan dari gempuran lawannya.


Di angkasa Wira masih memperhatikan pertempuran yang sedang berlangsung sengit, Wira melayang lebih dekat menuju lokasi pertempuran, sementara Singa Emas sudah berada di Hutan Kristal, bagian barat dari Dunia Dimensi Jiwanya Wira.


Wira mengambil Busur Naga Writa dan wadah panah Manipuspaka yang kemudian disandang dipunggungnya.


Setelah agak lama mengamati jalannya pertempuran, Wira yakin bahwa prajurit yang menyerang rombongan Kirani bukan prajurit yang terlatih, mereka tidak mampu bekerjasama dengan baik, cenderung menyerang secara individu, kemungkinan ini kelompok tertentu yang menyamar sebagai prajurit dengan tujuan menguntungkan dirinya sendiri.


Berhenti !


Wira berkata dengan pelan namun dialiri tenaga dalam yang cukup besar sehingga menggema kemana mana dan membuat dada mereka sesak.


Pertempuran segera berhenti, pameran pengendalian tenaga dalam yang dilakukan Wira cukup membuat nyali mereka semua menciut.


"Salam Tuan Muda, ucap Kirani hormat begitu mengenali Wira yang datang menghentikan pertempuran,


"Tuan Muda terimalah salam hormat dari orang tua ini," Ranubaya menjura sopan.


"Rupanya Paman dan Nona mendapat halangan lagi dinegeri yang dikuasai penjajah ini," kata Wira sambil memandang sinis pada prajurit yang berdiri di belakang pemimpinnya tidak lagi mengurung rombongan Kirani.


"Jaga bicaramu Anak Muda !, Kerajaan ini terjajah karna lemah," kata pemimpin prajurit.


"Kamu benar, dan salah satu yang menjadikan kerajaan ini lemah adalah manusia sejenis kalian, yang menjadi parasit dinegeri sendiri!" kata Wira, sambil berkelebat cepat menggunakan langkah kilat dan ilmu peringan tubuh Belalang Bayangan.


Hek......


Anak panah yang dipegang Wira sudah menancap dileher pemimpin prajurit.


Wira berdiri ditempat semula, Ranubaya seorang Pendekar Suci tingkat 5 tidak mampu mengikuti dengan mata kecepatan gerakan yang dilakukan Wira, dia hanya melihat bayangan Wira berkelebat dan Wira masih berdiri di tempat semula sedang pemimpin prajurit sudah memegang panah yang tertancap di tenggorokan.


Melihat pemimpin mereka perlahan meregang nyawa, prajurit bawahannya mulai panik, berbisik diantara mereka.


"Aku hanya butuh satu orang yang bersedia menjawab pertanyaanku," kata Wira pelan, sambil mencabut panah dari leher pemimpin prajurit yang sudah menjadi mayat.


Mereka berebut untuk maju kedepan ingin menjawab pertanyaan Wira,


"Sudah aku katakan, aku hanya butuh satu orang saja," Wira mengulangi ucapannya.


Diam.....!


Mereka mulai dilema, menyerang Wira sama dengan mencari kematian, menyerang teman toh pada akhirnya hanya satu yang bisa hidup, akhirnya mereka diam tanpa melakukan apapun.


"Karna kalian sulit untuk bertindak biarlah aku menolong kalian untuk mempermudah," kata Wira sambil melepaskan kan sepuluh panah kearah kerumunan prajurit.


Ceb..., ceb..., ceb... .


Lebih dari dua puluhan prajurit yang tumbang terkena panah yang dilepaskan oleh Wira, kejadian itu membuat sesaat mereka diam, kemudian mereka sadar dan bergerak menyerang Wira.


Kembali sepuluh panah berdesing meluncur cepat dari busur Naga Writa, setiap panah ada yang menembus beberapa orang yang kebetulan berada lurus dengan arah panah, lebih dari sepuluh orang tumbang ditembus panah Wira.


Mereka mulai mengambil jarak antara satu dengan yang lain untuk mengurangi jatuh korban yang lebih banyak setiap kali wira melepaskan panahnya.


"Jangan diam menunggu mati, ayo serang bersama-sama," teriak salah satu diantara mereka, mereka mulai sadar dan bergerak menyerang wira,


Begitu melihat Wira diserang Ranubaya memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyerang prajurit yang mengeroyok Wira.


Kirani tidak tinggal diam melihat pertempuran kembali berkecamuk, dia ikut ambil bagian membunuhi prajurit yang ada didekatnya dengan pedang yang ada di tangannya, hanya saja pertempuran kali ini lebih tepat dikatakan pembantaian sepihak bukan pertempuran, karna prajurit yang sudah kehilangan semangat tempur melihat keganasan Wira, bagaikan sapi masuk ke rumah jagal, tidak ada perlawanan yang berarti.


Berhenti....!


Wira menghentikan pertempuran ketika lawan hanya tinggal sepuluh orang dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.


Wira mendekati prajurit yang hanya tinggal sepuluh orang didepannya.


"Siapa yang menyuruh kalian menghadang rombongan Nona Kirani," tanya Wira pada salah satu prajurit.


"Kami tidak tau yang memerintahkan, kami hanya mengikuti pemimpin kami," kata prajurit sambil menunjuk pemimpinnya yang sudah jadi mayat.


Ceb..


Leher prajurit itu tertancap panah yang tadinya digenggam Wira


"Tidak berguna ,"


Wira memanggil satu orang lagi prajurit yang lain, prajurit itu berjalan kearah Wira dengan lutut bergetar keras.


"Jawab pertanyaanku tadi," perintah Wira,


"Kami anggota sekte Golok Neraka dan anggota sekte Kelabang Iblis, yang diperintahkan oleh Ketua sekte untuk memperkuat Benteng Utara, kami dendam mendengar desas desus sekte kami dimusnahkan oleh rombongan dari Indra Pura," jawab prajurit itu dengan badan yang tidak berhenti gemetar.


"Kalian boleh kembali," kata Wira,


Mereka masih bengong mendengar perkataan Wira, mereka masih ragu-ragu untuk bergerak takut salah.


"Apa yang kalian tunggu !, jangan sampai aku berubah pikiran !" ucap Wira agak keras.


Mendengar Wira bersungguh-sungguh melepaskan mereka, bagaikan terbang mereka berlomba saling mendahului menyelamatkan nyawa yang hanya tertinggal setengah.


"Maaf Tuan Muda, bukankah dengan melepaskan mereka sama artinya tuan sudah membunuh Nona Kirani ?" Ranubaya mencela keputusan Wira membiarkan prajurit itu hidup dan tentu akan melaporkan kejadian tadi, dan berakibat akan datang prajurit yang lebih banyak untuk menangkap mereka.


"Aku tahu kekhawatiran Paman, aku akan membawa Nona Kirani, terbang bersamaku ke wilayah Kerajaan Indra Pura sampai di tempat yang aman, sementara paman dan yang lain bisa bergerak cepat dengan kuda, karna tidak lagi terhambat oleh kereta penumpang ini," Wira menjelaskan.


Ranubaya bernafas lega setelah mendengar penjelasan Wira


Kemudian Wira bersiul nyaring seolah memanggil Singa Emas,


Wuuuusss..


Singa Emas seketika berada diantara mereka, bersama Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak, dalam ukurannya yang kecil berada di leher Singa Emas.


"Mari Nona Kirani," ucap Wira menyuruh Kirani naik ke punggung Singa Emas,


Kirani masih diam...


"Aku tidak akan melakukan hal yang buruk pada Nona percayalah," Wira meyakinkan.


"Bukan itu maksudku, masih ada Bibiku di kereta itu, bolehkah Bibiku ikut bersamaku ?, alasanku datang ke Kerajaan Malawa Dewa menempuh bahaya adalah untuk membawanya ke Indra Pura," Kirani menjelaskan.


"Tentu, cepatlah !, kita tidak punya banyak waktu," jawab Wira pendek.


Kirani mengajak bibinya meloncat naik ke punggung Singa Emas, sementara Wira duduk dilehernya.


"Singa Emas ayo kita ke Indra Pura," perintah Wira, setelah memasang Aray Pelindung buat Kirani dan Bibinya, sementara Ranubaya bergerak cepat mengikuti dengan kuda.


"Aku antar Nona Kirani sampai di Benteng terdekat Kerajaan Indra Pura !" teriak Wira pada Ranubaya.


Ranubaya memberi isyarat tangan tanda mengerti.