Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 31. Pergerakan Kota Awan



Ketua Rumah lelang mengajak Pria Tua keruang kerjanya.


"Tuan ini jumlah koin emas yang tuan dapatkan setelah dipotong lima persen dan untuk peti mati kami gratiskan, silahkan dihitung," ucap Kepala Rumah Lelang, mengeluarkan 95 peti besi ukuran besar.


"Tiap peti berisi 25 juta koin emas," kata Kepala Rumah Lelang menambahkan


Pria tua langsung memasukkan 95 peti besi yang berisi milliaran koin emas kedalam Cincin Dimensi Samudra yang ada di jarinya.


"Kenapa tidak dihitung tuan?" tanya Kepala Rumah Lelang.


"Tidak mungkin tuan merusak reputasi Rumah Lelang Istana Salju dengan perbuatan tercela," Pria Tua memberi alasan.


"Tuan nama saya Gardika, jika tuan ingin melelang barang apapun datanglah kesini, Rumah Lelang ini terbuka untuk Tuan," kata Gardika sopan.


"Baiklah Tuan Gardika saya mohon diri, seminggu lagi saya datang untuk mengambil pesanan saya," kata Pria Tua ramah.


Pria Tua kemudian pergi mencari tempat penginapan untuk beristirahat, karna sudah sore menjelang malam.


"Sepertinya lebih baik kembali ke Kota Awan untuk memberi dana pada Tuan Mahardika," kemudian Pria Tua melesat menuju gerbang timur, setelah keluar dari gerbang timur pria tua mencari tempat sepi dan berubah menjadi Wira.


Wira mengeluarkan Singa Emas dari Dunia Dimensi Jiwanya, "Singa Emas kita ke Kota Awan dengan kecepatan penuh," perintah Wira, kemudian merebahkan dirinya dipunggung Singa Emas, setelah memasang Aray Pelindung.


Dengan kecepatan penuh singa emas hanya membutuhkan waktu dua belas jam untuk sampai di Kota Awan.


"Groaarrh......., groaarrh....... groaarrh....,"


Singa Emas membangunkan Wira, yang sedang tertidur di kasur bulu yang sangat empuk, selebar tujuh meter.


"Singa Emas cari tempat sepi," kata Wira melalui telepati.


"Baik tuan," jawab Singa Emas,


Singa emas berhenti diatas hutan dekat Kota Awan, Wira memasukkan Singa Emas kedalam Dunia Dimensi Jiwanya, kemudian melayang turun terus berjalan kearah gerbang kota.


Sampai di gerbang kota, prajurit penjaga gerbang memberi hormat dengan santun.


"Salam Pangeran"


Wira mengangguk sambil tersenyum ramah terus melangkah menuju kediaman Kepala Kota.


Didepan gerbang kediaman Kepala Kota, Wira melihat Mahardika menuju keluar gerbang,


"Salam Pangeran," Mahardika memberi salam.


Wira tersenyum ramah membalas salam Mahardika


"Ada hal penting apa yang membuat Kepala Kota keluar Kediaman sepagi ini?" tanya Wira.


"Menurut laporan pasukan telik sandi ada perselisihan antar pendekar yang ingin menjadi relawan, kejadiannya dirumah makan " hamba berencana menyelesaikan perselisihan tersebut.


"Aku ingin ikut bersamamu," Wira ingin mempelajari keadaan di lapangan.


Trang......Trang......Trang.


Percikan api dan suara logam beradu terdengar dari penginapan Bulan Purnama.


"Berhenti," Mahardika berkata pelan tapi dengan mengalirkan tenaga dalam.


Kedua orang yang bertarung menghentikan perkelahian mereka.


"Salam Kepala Kota," kata pemilik Penginapan menghampiri,


"Coba ceritakan kejadian mereka sampai bertempur disini," kata Kepala Kota pada pemilik penginapan,


"Awalnya hanya salah faham belaka Tuan, mereka ini ada dari aliran putih dan ada dari aliran netral, aliran putih mengkritik aliran netral karna tidak ikut bergabung ketika perang mempertahankan kerajaan terjadi, menurut mereka jika aliran netral ikut membantu dalam perang mungkin kita tidak dijajah," demikianlah kurang lebih kejadiannya.


"Lantas kenapa kalian tidak melerai?"


"Kami sudah berusaha untuk melerai, tapi mereka tidak mendengarkan, karna sudah sama-sama panas, kemudian kami minta seorang prajurit untuk melapor, malah Tuan yang datang lebih dulu," pemilik penginapan menjelaskan.


"Baiklah sekarang Tuan-tuan semua mari ke aula kota untuk menyelesaikan masalah ini,"


"Baiklah... , perlu kalian pahami bahwa saya sebagai Kepala Kota memiliki tanggungjawab untuk menjaga Kota kami tetap damai, tidak ingin ada gangguan keamanan baik fisik maupun psikologis, karna itu mengganggu aktivitas dan kedamaian warga, sekarang saya ingin tau apa tujuan kalian datang kemari ?" tanya Kepala Kota.


"Saya Respati, perwakilan dari Sekte Lembah Kabut aliran putih diutus oleh ketua sekte untuk menanyakan langsung mengenai perekrutan prajurit dan relawan untuk membantu melawan penjajah, dan kami dengar desas-desus bahwa Raja Wreksasena masih hidup dan akan memimpin peperangan melawan penjajah," jawab Respati.


"Saya Argadana dari Sekte Pedang Bayangan aliran netral, diutus untuk menelusuri kebenaran berita yang beredar mengenai perekrutan prajurit dan relawan serta tentang keberadaan raja," Argadana menjelaskan


"Kami datang untuk menjadi relawan, teriak beberapa orang yang juga hadir dalam pertemuan diaula.


"Perlu saya tegaskan mengenai berita yang beredar dimasyarakat. Bahwa memang benar kami merekrut prajurit dan relawan sebanyak-banyaknya atas perintah dari Raja Wreksasena yang keberadaan diwakili Pangeran Mahkota, bahwa Raja Wreksasena sedang berada di suatu tempat mempersiapkan prajurit untuk berperang membebaskan kerajaan dan rakyat dari kekejaman penjajah." Kepala Kota menjelaskan,


"Sebagai tambahan bagi yang berminat untuk menjadi relawan agar mengisi formulir pernyataan sikap, bagi yang bertujuan sebagai prajurit maka berlaku sesuai peraturan yang sudah ada, bagi sekte atau klan yang ingin berpartisipasi untuk ikut membebaskan rakyat dan kerajaan agar bergerak dibawah komando keprajuritan dan wajib menandatangani fakta integritas yang dilakukan oleh ketua sekte," demikian Kepala Kota Awan menambahkan penjelasannya.


"Bagaimana kami bisa percaya bahwa ini benar-benar perintah Yang Mulia Raja," kata Argadana.


"Begini....."


Baru Mahardika berniat menjawab Wira mengangkat tangannya untuk menghentikan.


"Apa yang kamu lakukan jika gerakan ini bukan perintah raja?" tanya Wira pada Argadana.


"Kami pasti tidak akan berpartisipasi dalam perang ini," kata Argadana tegas.


"Apa itu juga yang akan dikatakan Ketua sekte mu jika gerakan ini bukan perintah raja," tanya Wira.


"Ya....karna Ketua sudah berpesan demikian."


"Kepala Kota, pastikan sekte Pedang Bayangan tidak ikut dalam peperangan untuk membebaskan rakyat dan kerajaan, kalaupun mereka ingin ikut tolak !, Karna sekte ini tidak punya rasa memiliki terhadap kerajaan dan tidak punya empati pada rakyat yang menderita," kata Wira tegas.


"Bukankah makin banyak yang bergabung makin baik ?" tanya Mahardika penasaran.


"Ketika perang melawan musuh yang akan menjajah kerajaannya sekte ini diam tidak membantu, hingga kemudian kerajaan tempat mereka bernaung jatuh, sekarang ketika ada orang yang mau menggerakkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dan kerajaan tempat mereka bernaung mereka sibuk mencari alasan siapa pemimpinnya, artinya sekte ini tidak berempati pada rakyat yang menderita, mereka masih nanya ini dan itu, sekte yang tidak memiliki rasa cinta pada kerajaannya pada akhirnya hanyalah beban bagi kerajaan karna mereka hanya numpang enak dan tidak ingin ikut susah memperjuangkan kebebasan.


"Siapa kamu....?, apa hak mu menceramahi kami !" kata Argadana marah.


"Siapa aku tidak penting tapi apa yang dilakukan itu lebih penting," kata Wira tenang.


"Anak muda bau kencur, tidak memiliki kemampuan beraninya ngomong membebaskan rakyat dan kerajaan, tidak sadar diri !" Argadana menunjukkan kearah Wira dengan kemarahan yang meluap.


"Wira tersenyum... , kalian sekte yang merasa punya kemampuan...? lantas apa yang sudah kalian lakukan untuk rakyat yang tertindas dan kerajaan yang sedang terjajah ?" Wira menjawab hinaan Argadana dengan pertanyaan.


"Kurang aja*......," Argadana meloncat kearah Wira dengan pedang terhunus.


"Awas Pangeran..," teriak Mahardika panik, tidak sempat membantu karna duduk jauh dari mereka.


Craass...


Bluuuk...


Krontaaaang...


Tidak tau kapan terjadinya tau-tau lengan Argadana yang memegang pedang terputus begitu saja.


Rupanya Kapak Rajabala, Pusaka Dewa tingkat Tinggi sudah melakukan tugasnya dengan cepat ditangan Wira, dan mengembalikan ke cincin dimensinya dengan cepat.


"Argh........ Argadana sesaat tidak menyadari apa yang terjadi ketika melihat Wira bergeser kesamping tau-tau tangannya terputus diatas siku.


Wira melangkah mendekati Argadana,


"Aku tidak melakukan apapun ketika kamu, menunjuk-nunjuk diriku, bahkan ketika kamu menghinaku, tapi kesombongan kamu semakin menjadi-jadi sampai ingin melukai aku, maka kamu sedang memetik buah dari keangkuhanmu sendiri," kata Wira pada Argadana yang sedang merintih kesakitan.


"Kepala Kota !, berikan orang ini obat !, dan biarkan dia pergi," kata Wira sambil berlalu pergi


"Sampaikan pendirian ku pada Ketua Sekte mu," kata Wira menyampaikan pesannya pada Argadana yang tertunduk lesu.


Atas perintah Mahardika tabib kota segera memberi pil, untuk menghentikan pendarahan dan membalut lengannya yang putus.


Kehebohan segera terjadi begitu tau bahwa anak muda yang memutuskan lengan Argadana adalah Pangeran Mahkota, suami dari Citra Sasmita, putri tunggal Raja Wreksasena.