
"Silahkan anak muda," Jenderal Kitchaka mempersilahkan Wira untuk menyerang lebih dulu, melihat Jenderal Kitchaka tidak membawa senjata Wira memasukkan kembali pedangnya ke dalam cincin dimensinya.
Wira mulai memberikan serangan cepat, jendral Kitchaka menangkis sambil melancarkan serangan balik dengan sama cepatnya, demikian terus saling serang makin lama makin cepat.
Saking cepatnya hanya bayangan saja yang terlihat berkelebat, sampai sejauh ini belum ada yang dapat menyarangkan pukulan atau tendangan pada lawan, setelah berlangsung sekitar 30 menit mereka berhenti, nafas Wira memburu tanda kelelahan, sementara Jenderal Kitchaka terlihat masih bugar.
"Aku menyerah," kata Wira sembari mengangkat tangannya,
"Kamu terlalu mengalah Anak Muda," jawab Jenderal Kitchaka tidak puas,
"Kalau dilanjutkan hasilnya sudah jelas Paman Jenderal," kata Wira sembari menakupkan tangan di dada memberi hormat pada Jenderal Kitchaka dan wasit, kemudian turun dari arena menuju tempatnya semula.
"Wira tidak ingin mempermalukan Jenderal Kitchaka dihadapan Raja dan para prajurit, anak ini sangat berbudi dan berfikir cermat," batin Panglima Ringkin,
Semua Jendral utama tahu kalau Wira sengaja mengalah, demikian juga dengan Panglima dan Raja.
"Besok ajak Wira ke kediamanku," kata Raja Wreksasena berbisik pada panglimanya.
"Baik yang mulia," jawab Panglima hormat.
Kemudian Raja dan Putri meninggalkan Podium arena ksatria.
Panglima Ringkin mengumumkan latih tanding di arena ksatria selesai, "Kedepannya kalian agar lebih giat berlatih agar kemampuan kalian semakin berkembang," ucap Panglima menambahkan.
Wira mengajak Sarwadahana dan Nilotama untuk berjalan-jalan disekitar pemukiman.
"Paman kenapa pemukiman ini terlihat seperti kamp pengungsi semua bangunannya terlihat bangunan darurat," tanya Wira pada Sarwadahana,
Sarwadahana menarik nafas panjang,
"Panglima lebih tepat untuk menjelaskan hal ini Wira," jawab Sarwadahana pendek.
"Seperti ada rahasia yang tidak berani Paman Sarwadahana jelaskan," pikir Wira,
"Baiklah Paman, sepertinya hari udah sore lebih baik kita pulang." ucap Wira.
Wira merasakan ada beberapa orang yang diam-diam membayangi keberadaan mereka.
"Bagaiman kalau kita mengunjungi kediaman Kakak Putri," kata Nilotama,
"Bagaimana menurutmu Paman," kata Wira menoleh Sarwadahana, meminta pertimbangan.
"Putri sangat menyukai beladiri, dan dia termasuk jenius langka, baru umur 17 sudah mencapai Pendekar Raja tingkat 5, kurasa dia akan sangat suka berbincang denganmu sesama jenius sepertimu,"
"Tidak....tidak...kamu lebih pantas dibilang monster jenius, kamu bisa mengalahkan Jenderal Kitchaka jika kamu mau," Sarwadahana menjawab pertanyaan Wira panjang lebar.
"Benarkah Kakak Wira bisa mengalahkan Jenderal Kitchaka Paman," tanya Nilotama keheranan memandangi Wira.
"Kamu tanyakan saja pada Wira," jawab Sarwadahana,
"Paman terlalu memandang tinggi diriku," Wira menjawab sebelum Nilotama menanyakan.
"Ayo Paman, kita ke kediaman Kakak Putri sebelum gelap," kata Nilotama semangat.
Belum sempat mereka berjalan seorang prajurit mendekati mereka,
"Panglima menyuruh Nona Muda untuk pulang," kata prajurit,
"Baiklah," Nilotama menjawab dengan muka cemberut, prajurit yang menyampaikan pesan pergi meninggalkan mereka setelah mohon pamit
"Besok kita masih bisa berkunjung," Wira menoleh Nilotama, faham akan kekecewaan yang dirasakan Nilotama
"Janji ya....," kata Nilotama memandangi Wira menunggu jawaban
"Pasti......jika Paman Panglima mengizinkan,"
jawab Wira meyakinkan Nilotama.
Kemudian mereka bergegas menuju kediaman Panglima.
Di suatu tempat....
"Ayahanda aku datang, mohon izinkan masuk....," Seseorang berdiri di depan bangunan kecil yang terlindung aray
"Masuklah...," jawab seseorang dari dalam, kemudian aray terbuka,
"Hal penting apa yang membuatmu datang kesini, Wreksasena ?" tanya seorang Lelaki Sepuh, sambil berjalan kembali menuju ruang tamu.
"Duduklah dan ceritakan alasan kedatanganmu," kata Pria Sepuh, dengan raut wajah terlihat tidak suka karna terpaksa menghentikan kultivasi dalam usahanya untuk naik tingkat.
"Ayahanda....ada satu anak muda yang masuk ke dunia kita, bukankah ayahanda sudah menyegel tempat ini ?" tanya Raja Wreksasena pada Ayahnya yang merupakan raja sebelumnya.
"Hanya untuk hal remeh begini kamu datang untuk mengganggu kultivasiku," kata Pria Sepuh memandang tajam pada Raja Wreksasena.
"Tidak Ayahanda..., Citra Sasmita menemukan tempat rahasia yang terhubung dengan dunia kita, dari sanalah anak muda ini masuk ke dunia kita, aku berharap ayahanda menyegel pintu masuk itu, yang kedua...anak muda ini tingkat kultivasinya tidak terdeteksi, saat pertandingan diarena kesatria dia mampu mengalahkan seorang Jenderal Muda dan imbang melawan Kitchaka," Raja Wreksasena memberi jawaban.
"Kitchaka... Jenderal Utamamu ?, bukankah dia pendekar Suci tingkat 7," tanya Pria Sepuh,
"Benar Ayahanda, aku merasa dia mampu mengalahkan Kitchaka jika dia mau,"
"Berapa usia anak ini," Pria Sepuh makin penasaran.
"16 tahun, Sarwadahana sudah memeriksa tulangnya, besok hamba menyuruhnya datang di kediamanku, kuharap Ayahanda bersedia datang untuk melihat kultivasinya," jawab Raja Wreksasena.
"Mungkinkah dia Putra Langit," Pria Sepuh menggumam,
"Apa itu Putra Langit Ayahanda," Raja Wreksasena bertanya penasaran,
"Tapi Putra Langit belum pernah ada selama ini, kecuali saat kelahiran Penguasa Ilahi jutaan kalpa yang lalu, sesuai cerita legenda yang kudengar," Pria Sepuh menambahkan
"Bagaimana Ayahanda ?, Bisakah Ayahanda datang besok," ucap Raja Wreksasena dengan penuh pengharapan,
"Aku akan datang besok," jawab Pria Sepuh pendek,
"Kalau begitu hamba mohon diri," Raja Wreksasena tersenyum puas, kemudian keluar ruangan.
Jyoti Ambaka, demikian nama pria sepuh Ayah Raja Wreksasena, dia memiliki keahlian istimewa, mampu melihat kultivasi orang yang jauh diatasnya walaupun disamarkan, dan mampu melihat hal-hal yang orang lain tidak mampu melihatnya.
"Aku dibuat penasaran oleh Wreksasena mengenai anak muda yang diceritakannya."
Sampai beberapa saat Jyoti Ambakam merenung, hayalannya membawa dia pada kondisi kerajaannya yang terpuruk sampai mengungsi ke dunia kecil, yang awalnya tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya, karna dikalahkan dalam peperangan akhirnya dia membawa keluarganya yang masih bisa diselamatkan serta beberapa pembesar dan sisa prajurit yang selamat.
Wreksasena Putra bungsunya yang berhasil selamat dibawa mengungsi ke dunia kecil bersamanya, sementara Putra Mahkota dan dua pangeran yang lain gugur dalam peperangan,
Karna ingin fokus meningkatkan kultivasi, dia mengangkat Wreksasena menjadi Raja menggantikannya sambil mempersiapkan prajurit untuk merebut kembali kerajaannya.
Diruang tamu kediaman Panglima Ringkin....
"Ayahanda kenapa menyuruh pulang ?, Padahal kita mau mengunjungi Kakak Putri ?" tanya Nilotama dengan muka masam,
"Tidak baik mengunjungi Putri saat menjelang malam, besok Ayahanda akan menghadap bersama Wira kekediaman Raja, kamu boleh ikut," kata Panglima.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, jika Paman mengizinkan," Wira menyampaikan niatnya,
"Jika berkaitan dengan kondisi yang terjadi di dunia kecil ini, kurasa besok dihadapan raja kita membicarakannya akan lebih baik dan kamu bisa menanyakan apapun," jawab Panglima Ringkin diplomatis.
Tidak banyak hal yang mereka bicarakan sampai akhirnya mereka beristirahat ketempat tidur masing-masing.
Sampai dikamar Wira masuk ke Dimensi Jiwanya untuk kembali mendalami aray, ada jutaan gambar aray yang ada pada kitab araynya, Wira hanya mempelajari yang menurutnya penting dan hanya level Dewa dan level Ilahi yang dia pelajari setelah beberapa hari di Dimensi Jiwa Wira keluar, di dunia luar baru menjelang pagi, Wira duduk bersamadi sambil menunggu pagi.
" Tok...tok...tok....., Selamat pagi Tuan Muda," seorang pelayan mengetok pintu kamarnya, Wira bergegas membuka pintu,
"Tuan Muda, ditunggu oleh Panglima dan yang lainnya untuk diajak menghadap raja, tuan muda silahkan sarapan dulu," kata pelayan.
"Tunggu sebentar," Wira menjawab sembari menutup pintu kembali, Wira mandi dengan cepat dan berganti pakaian
"Aku tidak lapar !, mari bawa aku bertemu Paman Panglima," kata Wira, Wira merasa tidak enak hati membuat Panglima Ringkin menunggunya lebih lama,
"Keasyikan Samadi sampai tak merasa sudah pagi," rutuk Wira menyalahkan diri sendiri,sambil berjalan membuntuti pelayan tadi.
Bagi Wira yang sudah mencapai kultivasi tingkat surga, tidak makan dan tidak tidur bukan masalah, bahkan mereka yang Pendekar Suci saja sudah biasa tidak tidur dan tidak makan berbulan-bulan.
"Maaf Paman...., membuat paman menunggu lama, keasyikan samadi sampai tak sadar sudah pagi," Wira memberi alasan atas keterlambatannya.
"Sebaiknya sarapan dulu, kami semua sudah sarapan," Panglima menyarankan,
"Tidak usah Paman !, Mari kita berangkat agar tidak ditunggu lama oleh baginda raja."
Mereka berempat segera berangkat menuju kediaman raja,
"Nilotama !, Ayah ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan baginda raja, sampai disana kamu langsung saja menemui putri dikediamannya," Panglima berkata pada putrinya,
"Baik Ayahanda," Nilotama menuruti tanpa bantahan.
Sampai dikediaman raja, seorang prajurit mendekat,
"Panglima sudah ditunggu diruang tamu pribadi Yang Mulia," kata prajurit menyampaikan pesan,
"Baiklah..."
"Tolong antar putriku kekediaman Yang Mulia Putri," kata Panglima pada prajurit lainnya.
Prajurit jaga mengantar Panglima Ringkin dan Wira menuju ruang tamu pribadi Raja Wreksasena.
"Selamat pagi Yang Mulia Raja, selamat pagi Yang Mulia Pelindung Agung," Panglima Ringkin memberi hormat pada raja dan pelindung kerajaan.
Wira mengikuti apa yang dilakukan oleh Panglima Ringkin.
"Duduklah kalian," Raja mempersilahkan Panglima dan Wira untuk memilih posisi duduknya.
Ruang tamu pribadi Raja Wreksasena lumayan luas, disana ada meja yang sangat besar berbentuk persegi panjang, ukuran sekitar 3 meter lawan 10 meter, disisi pendek masing-masing ada dua kursi, disisi panjang masing-masing ada 8 kursi. Keseluruhan ada 20 kursi.
Raja Wreksasena duduk di kursi sisi pendek sebelah selatan didampingi oleh pria sepuh yang disebut pelindung agung yang duduk disebelah kanannya.
Panglima Ringkin mengambil posisi di sisi panjang bagian timur kursi keempat dari selatan,
"Panglima duduklah dekat Ayahandaku," sambil menunjuk kursi didekat ayahnya, di kursi sisi panjang sebelah timur dan kamu Wira duduk di sini, di sebelahku, Wira berjalan memutar menuju kursi yang ditunjuk oleh Baginda Raja dibagian sebelah barat.
Diatas meja sudah tersedia buah-buahan dan makanan ringan serta beberapa jenis minuman.
Baginda Raja memberi isyarat kepada para pelayan untuk meninggalkan ruang tamu.
"Wira aku tau kamu penasaran dengan kondisi yang terjadi disini, banyak prajurit berkumpul disini dan pemukiman yang hampir sebagian besar darurat, dan mungkin banyak hal lagi yang ingin kamu ketahui" kata Raja Wreksasena.
"Ayahandaku yang akan bercerita padamu, karna beliau yang paling paham situasinya dari awal," Raja Wreksasena menambahkan.
"Silahkan diminum," Pria Sepuh menawarkan minuman yang ada dihadapan Wira,
Wira menyesap sari anggur ungu yang tersedia didepannya.
"Anak Muda !, bolehkah aku bertanya asal-usulmu, aku tahu kamu bukan orang biasa, kultavasimu sangat tinggi sudah mencapai Level Dewa Bumi tingkat 3, tulang otot dan kulitmu juga sempurna, jika aku tidak salah tebak kamu adalah 'Putra Langit' yang disebutkan dalam legenda kuno," kata pria sepuh.
"Baiklah hamba akan menceritakan asal-usul hamba dengan jelas, sampai hamba masuk dunia kecil ini," jawab Wira