
Beberapa saat kemudian Kirani dan pengawalnya dipersilahkan masuk keruang kerja pribadi Jenderal Tumbak Bayuh.
Melihat kecantikan Kirani, Jenderal Tumbak Bayuh memandang Kirani dengan tatapan yang agak berbeda.
"Rupanya rumor bahwa Jenderal Tumbak Bayuh senang bermain perempuan benar adanya," gumam Wira yang sedang menyamar.
"Apa yang menjadi alasan kedatangan Nona Muda datang menemuiku," ujar Jenderal Tumbak Bayuh sambil tersenyum.
"Pria ini sesungguhnya lumayan tampan, tapi kelemahannya yang akan menyengsarakannya," Wira membatin.
"Jenderal baru-baru ini saya dapat berkunjung ke kerajaan ini untuk menjemput keluarga kami yang kebetulan menikah di kerajaan ini, saat pulang menuju Indra Pura kami dicegat oleh gerombolan jahat yang mengaku Sekte Golok Neraka, kemudian atas bantuan seseorang kami berhasil selamat, kemudian mendekati perbatasan kembali kami dicegat oleh gerombolan yang berseragam prajurit yang ingin menahan kami tanpa alasan, terakhir pengawal kami Paman Ranubaya diserang pasukan elite dari Benteng Utara sampai jauh masuk kehutan perbatasan, bagaimana penjelasan Jenderal mengenai hal ini," ujar Kirani memaparkan kondisi yang dialaminya bersama Ranubaya pengawalnya.
"Baiklah Nona Kirani, kami mengerti dengan ketidak nyamanan yang Nona Kirani alami saat berkunjung ke kerajaan kami, mengingat ini sudah malam agak sulit bagi kami untuk memeriksa, orang-orang kami, biarkan kami menyediakan tempat bagi kalian untuk beristirahat, besok kita lanjutkan sambil mengkonfirmasi kebenaran dari cerita Nona" ucap Jenderal Tumbak Bayuh, sembari beranjak keluar memanggil pelayan untuk menyediakan ruangan bagi kedua tamunya.
"Maaf Nona Kirani, mengurus sembilan ratus ribu prajurit kadang memusingkan, kadang ada sebagian kecil prajurit yang berprilaku nakal akibat jiwa mudanya yang menggebu-gebu, tapi yakinlah jika benar seperti yang Nona tuduhkan kami pasti menghukum prajurit yang melanggar peraturan yang kami tetapkan."
"Pelanggaran yang mereka lakukan sebenarnya adalah pelanggaran berat yang bisa berakibat perang bagi kedua kerajaan," Kirani menambahkan.
"Kami setuju dengan perkataan Nona Kirani," ujar Jenderal Tumbak Bayuh menimpali.
Ditengah-tengah perbincangan mereka, seorang pelayan mengetuk pintu dan menyampaikan bahwa jamuan sudah siap.
Kirani dan pengawalnya kemudian diajak keruang perjamuan, ternyata hanya mereka bertiga yang ada dalam perjamuan itu,
Para pelayan melayani Kirani dengan ramah, senyuman selalu menghiasi wajahnya mereka tatkala melayani.
Kirani makan sedikit sesuai kebiasaan para perempuan untuk menjaga tubuhnya tetap langsing, sementara pengawal Kirani makan dengan lahap karna memang makanan yang disajikan sangat lezat, dan ini pertama kalinya Sesha makan seperti ini.
Walaupun Kirani dan Sesha tahu kalau makanannya mengandung racun pelumpuh syaraf tapi mereka makan seolah tidak tahu.
"Akal licikmu akan menjerat dirimu sendiri," batin Wira dalam hati sambil tersenyum senang,
"Kenapa Nona terlihat tersenyum sangat senang"
"Sial rupanya ekspresi gembiraku keluar tanpa sengaja," Wira mengumpat diri sendiri dalam hati
"Rumor diluar bahwa Jenderal Tumbak Bayuh kejam ternyata berbalik dengan kenyataan yang kami alami," ujar Kirani beralasan.
Jenderal Tumbak Bayuh tersenyum kecil menanggapi perkataan Kirani.
"Jenderal setelah makan demikian banyak, rupanya rasa kantuk mulai menyerangku, bisakah pelayanmu mengantar kami menuju ruang istirahat," Kirani berkata seolah dia sudah terkena racun pelumpuh syaraf yang menyebabkan korbannya tidak sadar berjam-jam.
"Pelayan tolong antar Nona Kirani dan pengawalnya beristirahat," ujar Jenderal Tumbak Bayuh pada pelayannya sambil tersenyum misterius.
Kirani dan pengawalnya berjalan mengikuti pelayan menuju ruangan yang disediakan untuknya, ruangan Kirani dan pengawalnya bersebelahan.
"Paman tidurlah supaya besok bisa melanjutkan perbincangan dengan Jenderal, tidak baik jika sampai Jenderal menunggu kita," ujar Kirani,
Sesha memasuki ruangan dengan berpura-pura sempoyongan, demikian juga dengan Kirani berjalan keruang istirahat hampir jatuh saking ngantuknya, setelah masuk Kirani mengunci pintu dan segera tertidur.
Satu jam kemudian pelayan memberi laporan pada Jenderal Tumbak Bayuh bahwa kelinci sudah tidur, Jenderal Tumbak Bayuh sangat senang dengan laporan pelayan, dia memberi masing-masing sekantong koin emas atas pengabdian kedua pelayannya.
"Jaga rahasia ini jangan sampai ada orang yang mengetahui, kalau sampai ada yang tahu maka kepalamu tidak lagi berada di tempatnya," ucap Jenderal Tumbak Bayuh mengancam pelayannya.
"Kami bersumpah tidak akan melanggar titah Jenderal," ucap pelayan gemetar.
Pelayan segera pergi menuju kediaman mereka masing-masing.
Setelah pelayan pergi Jenderal Tumbak Bayuh membuka kamar Kirani dengan kunci duplikat yang sudah dipersiapkan.
Melihat Jenderal Tumbak Bayuh telah masuk ke kamarnya diam-diam Kirani memasang Aray Pelindung tak kasat mata,
"Ada perlu apa Jenderal malam-malam masuk ke kamarku, bukankah besok penyelidikan baru bisa dilakukan, sesuai perkataan Jenderal ?" Kirani bertanya sambil tersenyum manis.
"Engg....anu....anu...," Jenderal Tumbak Bayuh gelagapan melihat Kirani ternyata segar bugar tidak seperti yang dia perkirakan.
Namun kemudian akalnya mulai bekerja bagaimanapun Kirani hanya wanita dengan kekuatan pendekar Raja tingkat 3, mudah baginya untuk menaklukkan Kirani dengan kekuatan.
"Sudah terlanjur seperti ini baiknya aku katakan saja dengan jujur, bahwa sesungguhnya aku suka pada Nona dari pertama bertemu, aku ingin menjadikan Nona Kirani sebagai istri," ucap Jenderal Tumbak Bayuh tenang.
"Bagaimana jika aku menolak ?"
"Seharusnya Nona Kirani paham situasi nona saat ini,"
"Maksudnya ?"
"Nona sedang berada di markas kami, disini ada sepuluh Jenderal Muda sebagai bawahanku, ada sembilan ratus ribu prajurit yang menjaga Benteng ini, dan Nona Kirani hanya pendekar Raja, bahkan pengawal Nona tidak bisa berbuat banyak," ujar Jenderal Tumbak Bayuh.
"Jadi Jenderal ingin menggunakan kekerasan, karna kami lemah ?"
"Itu hal terakhir yang akan aku lakukan, karna aku tidak ingin melihat calon istriku terluka walau hanya sekedar lecet,"
"Tampaknya Jenderal tidak punya pilihan lain, karna aku pasti mempertahankan martabatku," kata Kirani tersenyum.
Melihat ketenangan yang diperlihatkan oleh Kirani, Jenderal Tumbak Bayuh sesaat merasa ragu, tapi aura Kirani yang hanya pendekar Raja membuat dia merasa yakin bisa mengalahkan Kirani bahkan tanpa melukai.
Jendral Tumbak Bayuh mendekati Kirani untuk menangkap tangannya.
Tuk....tuk....tuk....
Jenderal Tumbak Bayuh kaku seperti patung, hanya matanya yang bisa digerakkan, wanita cantik didepannya perlahan berubah menjadi remaja tampan, tatapan matanya yang sangat tajam membuat Jenderal Tumbak Bayuh menunduk tidak berani beradu pandang.
"Jika saja kamu tidak bermanfaat untuk rencanaku selanjutnya, tubuhmu sudah tidak utuh saat ini," ujar Wira, kemudian memegang kepala Jenderal Tumbak Bayuh memasang segel jiwa dan meneteskan darah ditengah-tengah segel.
Jenderal Tumbak Bayuh, merasakan energi yang meledak-ledak didalam tubuhnya, melihat esensi darahnya mulai bekerja, Wira melepaskan totokannya.
Jenderal Tumbak Bayuh, mengucapkan terimakasih dengan penuh hormat pada wira.
"Duduk dan seraplah energi yang masuk di tubuhmu," perintah Wira.
Jenderal Tumbak Bayuh mulai menyerap energi yang meledak-ledak didalam tubuhnya.
Boom...
Jenderal Tumbak Bayuh mengalami kenaikan tingkat, awalnya dia Pendekar Suci tingkat 8 puncak, sekarang menjadi tingkat 9.
Setelah selesai menyetabilkan energinya Jenderal Tumbak Bayuh memberi hormat pada Wira dengan sujud sampai kepala menyentuh lantai.