
Sekte Kalajengking Hitam memiliki satu pendekar Dewa Bumi tingkat awal, yang saat ini menduduki posisi sebagai Ketua sekte, jumlah anggotanya sekitar tujuh puluh ribu orang, ada tiga puluhan tetua di sekte Kalajengking Hitam yang kekuatannya rata-rata pendekar Suci tingkat 8 sampai 9.
Bagi Wira kekuatan sekte ini tidak terlalu sulit dihancurkan, hanya perlu membunuh Dandang Gendis yang merupakan Ketua sekte yang lainnya bukan masalah.
Pendekar yang sudah ditingkat Dewa Bumi keatas sudah bisa melayang di udara dan bisa bergerak cepat, Wira tidak ingin kedua istrinya dan Bidadari Pelindung Langit terluka, di satu sisi Wira ingin istri dan pengikutnya ikut bertempur untuk menambah pengalaman bertarungnya.
Wira memutuskan untuk tidak menyertakan kedua istrinya ikut dalam pertempuran sebelum Ketua sekte Kalajengking Hitam terbunuh.
Wira memberi tahu pada pengikutnya akan menyerang sekte Kalajengking Hitam saat tengah malam nanti.
Tikus Hitam bertugas meruntuhkan terowongan bawah tanah satu jam sebelum penyerangan, seperti biasanya mereka rencananya bergerak berempat untuk mengurung lawan.
Saat ini Wira dan para pengikutnya sedang berada di hutan sekitar empat puluh kilometer dari sekte Kalajengking Hitam, mereka bercakap-cakap sambil menunggu datangnya malam.
Ditengah-tengah percakapan anggota Srigunting Perak datang membawa pesan dari Mahardika Kepala Kota Awan bahwa Raja Wreksasena sudah mulai mengirim prajuritnya secara berkala menuju Kota awan dengan menyamar sebagai masyarakat biasa.
Prajurit yang direkrut saat ini sudah berjumlah sekitar empat ratus ribu orang, relawan yang bergabung hampir mencapai enam ratus ribu orang yang semuanya di kumpulkan di sekte Pedang Kilat.
Ketua sekte Pedang Kilat yang merupakan ketua aliansi sekte aliran Putih sudah bergerak menghancurkan sekte-sekte aliran hitam yang berdekatan dengan sekte Pedang Kilat.
Selesai membaca pesan yang disampaikan oleh anggota Srigunting Perak Wira membalas pesan itu sambil memberikan seratus peti besar yang berisi dua setengah miliar koin emas untuk diberikan kepada Mahardika sebagai penanggung jawab perekrutan prajurit dan relawan.
Tidak berselang lama anggota Tikus Hitam datang menyampaikan beberapa informasi bahwa saat ini Kerajaan Malawa Dewa dalam situasi yang sangat panas, Pangeran Gantar mendengar musnahnya empat sekte besar aliran hitam dalam waktu yang berdekatan mulai mencurigai bahwa pelakunya pasti dari sekte aliran putih, untuk antisipasi agar sekte aliran hitam yang lain tidak mengalami nasib yang sama dia menyuruh semua sekte aliran hitam bersatu, dengan Ketua sekte Kalajengking Hitam sebagai pemimpinnya.
Situasi ini juga sudah sampai kepada Durgati Raja kerajaan Samantha Pancaka, dia berencana untuk mengirimkan sekitar lima ratus ribu prajurit untuk membantu mengamankan situasi di Malawa Dewa, jika jumlah itu belum cukup untuk menumpas aliansi sekte aliran putih dia berencana menarik setengah prajurit yang ada di Benteng Utara.
Mendengar berita ini Wira tersenyum senang karna rencana Wira untuk menghancurkan kekuatan Durgati menggunakan prajurit yang ada di Benteng Utara semakin cepat terwujud.
Kondisi saat ini sangat menguntungkan bagi rencana Wira, prajurit yang ada di Ibukota Malawa Dewa pasti bersiaga di Ibukota. Pangeran Gantar takut jika sewaktu-waktu ada serangan ke Ibukota.
Pasukan yang ada di Benteng Utara juga tidak mungkin ditarik jika tidak dalam keadaan gawat karna takut jika Kerajaan Indra Pura melakukan serangan, sebab beberapa kali pasukan Benteng Utara memprovokasi pasukan perbatasan dari Kerajaan Indra Pura, saat ini Pangeran Gantar belum mengetahui bahwa prajurit Benteng Utara sudah tidak lagi dalam kendalinya.
Keadaan ini membuat Wira leluasa untuk menjalankan rencananya merekrut prajurit secara besar-besaran tanpa perlu takut untuk diserang oleh prajurit Pangeran Gantar.
Setelah menghancurkan sekte Kalajengking Hitam Wira berencana untuk tinggal di sekte Pedang Kilat agar bisa membantu jika sewaktu-waktu pasukan Raja Durgati menyerang aliansi sekte aliran putih, disamping juga karna lokasi Kota Awan dekat dengan Benteng Barat Kerajaan Samantha Pancaka.
Wira mengirim anggota Srigunting Perak ke Benteng Utara untuk memberi pesan agar mengirimkan lima ratus ribu prajuritnya yang berada dari sekte aliran hitam secara diam-diam ke perbatasan Malawa Dewa dengan Samantha Pancaka untuk melawan pasukan Durgati.
Kemudian Wira mengirim pesan juga pada Jenderal Mahesa Jenar sebagai Kepala Benteng Selatan Kerajaan Indra Pura bahwa Benteng Utara sudah ada dalam kendalinya dan akan menarik sebagian prajuritnya untuk dimanfaatkan ketempat lain.
Setelah selesai dengan semua urusannya Wira bernapas lega karna segala sesuatunya berjalan dengan lancar, Wira beristirahat sejenak merebahkan dirinya di rerumputan sambil memejamkan matanya.
"Mohon maaf Raja, ada informasi baru yang sangat penting untuk disampaikan," Ujar Tikus Hitam dengan ekspresi takut karna baru saja Wira istirahat.
"Ada lima sekte menengah dan sepuluh sekte kecil aliran hitam yang bergerak menuju ke sekte Kalajengking Hitam hitam untuk menyatukan kekuatan berencana menyerang sekte aliran putih," Uuar Tikus Hitam memberikan informasi.
"Berapa jauh jarak mereka dari sini,"
"Yang terdekat rombongan sekte Tapak Besi sekitar lima puluh kilometer, dengan jumlah sekitar sepuluh ribu orang, yang lainnya mungkin besok pagi baru sampai." jawab Tikus Hitam.
"Baiklah," jawab Wira tersenyum
Wira memasukkan kedua istrinya, Dewa Senyum dan Singa Emas kedalam Dimensi jiwa.
"Paman Sesha ayo kita bersenang-senang," ujar Wira sambil merubah aura Naga Sesha seperti Pendekar Langit, kemudian mereka terbang tinggi untuk melihat keberadaan rombongan sekte Tapak Besi.
Wira melihat rombongan besar di kejauhan yang sedang berhenti untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.
Wira dan Sesha mendarat tak jauh dari rombongan sekte Tapak Besi, kemudian Wira merubah penampilannya seperti anggota sekte Tapak Besi dan membaur dengan mereka.
Wira mencari tenda yang digunakan oleh Lintang Ketua sekte Tapak Besi untuk istirahat, agar tidak menimbulkan kecurigaan Wira memilih menyuruh Bunglon Pelangi untuk menemukan tenda Ketua sekte, hanya dalam lima menit Bunglon Pelangi yang merubah dirinya seukuran jangkrik sudah menemukan tenda Lintang, Bunglon Pelangi juga mengatakan bahwa disana ada dua pengawal dengan kemampuan Pendekar Suci tingkat 8, sementara kemampuan Lintang Pendekar Suci tingkat 9.
Setelah faham situasinya Wira menyuruh Bunglon Pelangi agar membawa Wira dan Sesha ke tenda Lintang sang Ketua sekte.
Mereka berdua berjalan santai menuju tenda Lintang tanpa keraguan, sampai di tendanya Lintang, Wira langsung masuk mendekati Ketua sekte dengan sikap hormat.
"Apa yang ingin kamu sampaikan datang kemari !" ucap salah satu pengawal Lintang sambil mendekati Wira, tanpa berkata Wira langsung menusuk tenggorokan pengawal yang menghalangi langkahnya sambil bergerak cepat menggunakan langkah kilat bergerak menotok Lintang dan pengawal yang berdiri disampingnya.
Kemudian Wira merubah penampilannya seperti Lintang, dan penampilan Lintang seperti Wira, begitu juga Wira menukar penampilan Sesha dengan pengawal Lintang.
"Gantung penyusup ini !, berani sekali dia masuk ke tendaku," ujar Lintang pada para tetua yang bergegas memasuki tenda ketika mendengar ada keributan kecil di tenda Ketua sekte.
Penyusup yang sesungguhnya Lintang asli dan pengawalnya diseret dan kemudian digantung disebuah pohon tanpa bisa berkata-kata karna dalam kondisi tertotok.
Kematian yang benar-benar tragis, sebagai Ketua sekte dia digantung oleh tetua sektenya sendiri.
"Kuburkan pengawalku dengan layak !, demi melindungiku dia kehilangan jiwanya," ujar Wira yang berganti wujud menjadi Lintang pada tetua yang lain.
Para tetua memerintahkan anggota sekte untuk menguburkan pengawal pribadi Lintang dan memberikan penghormatan selayaknya.
"Sebentar lagi hari mulai gelap mari kita lanjutkan perjalanan," ucap Lintang pada tetua sekte yang kemudian diteruskan perintahnya pada semua anggota.
Rombongan besar itu kembali bergerak menuju sekte Kalajengking Hitam.