Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 76. Rahasia sekte Melati Hitam



Semua tawanan termasuk Wira digiring masuk pada sebuah bangunan yang terdiri dari banyak kamar-kamar kecil, pintunya terbuat dari trali besi yang sangat kuat.


Ada banyak tawanan lelaki remaja dalam kamar yang Wira lalui.


Tawanan baru dimasukkan ke kamar di lorong paling ujung, tiap orang ditempatkan dalam kamar yang berbeda hingga tidak ada kemungkinan untuk komunikasi antar sesama tawanan.


Wira dibawa oleh Malaikat Biru dikamar paling ujung, "Masuk ..." Malaikat Biru membuka pintu kamar, Wira berjalan masuk kemudian duduk pada tempat tidur yang lumayan bersih dan rapi.


Malaikat Biru kemudian keluar dari kamar, berbalik badan dan memandangi Wira cukup lama ... Entah apa yang ada dalam benaknya dia masuk lagi dan duduk disamping Wira.


Malaikat Biru menggenggam tangan Wira, "Ngheeeehhh ... " Dia mengeluarkan napas berat, "Kamu tampan sekali dan sangat polos, aku tidak rela membiarkan kamu menjadi korban ilmu hitam Ketua, tapi aku tidak berdaya ... ."


Malaikat Biru beranjak pergi setelah sebelumnya mencium bibir Wira beberapa saat, dia menutup pintu terali dan menguncinya, dia memandang Wira agak lama kemudian bergegas pergi takut prilakunya yang agak aneh diketahui rekannya.


Wira merasakan ada benda kecil yang masuk ke mulutnya saat Malaikat Biru menciumnya.


"penawar racun," Wira tau dari efek yang dirasakan.


Kejadian tadi mengingatkan Wira pada saat dia tanpa sengaja mencium seorang gadis di hutan saat menyelamatkan dari serangan serigala, ingatan ini membuat Wira tersenyum masam.


"Kalau kejadian tadi dilihat oleh istriku !? ish..…apa yang akan terjadi?" Wira merinding membayangkan entah apa yang mungkin dilakukan istrinya. Wira sangat terkejut ketika dicium oleh Malaikat Biru, itu diluar dugaannya sama sekali.


Wira menggelengkan kepalanya berkali-kali, "Wanita kadang sulit dipahami ... Ahh sudahlah, sudah berlalu." batin Wira, sambil merogoh kantong bagian dalam pakaiannya mengeluarkan Tikus Hitam.


Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi masuk ke pakaian Wira sesaat setelah mereka diperintahkan berangkat oleh Malaikat Biru menuju markas Sekte Melati Hitam.


"Raja ..., tidak biasanya engkau menggunakan cara sembunyi seperti ini!, kenapa tidak mengajak Pemimpin kami Singa Emas, Tuan Shesa dan Tuan Dewa Senyum untuk menghabisi sekte ini ?" Tikus Hitam mengutarakan keheranannya.


"Aku merasakan para pengawal Serundeng Wangi tidak jahat, aku ingin lebih memahami keadaan sekte ini agar tidak salah bunuh, bisa jadi mereka terpaksa karna takut pada Ketua sektenya," Wira memberi Tikus Hitam pemahaman.


"Sekarang perintahkan anggotamu dan anggota Bunglon Pelangi untuk mencari informasi mengenai anggota sekte ini," Wira memberi instruksi sambil memasang Aray Pelindung.


"Aku mau masuk ke dalam, beri tau jika ada yang mendekat kesini ... ."


Tikus Hitam menganggukkan kepalanya, tanda mengerti yang di maksud Wira.


Tikus Hitam heran melihat Wira malah merebahkan dirinya, tidak jadi masuk ke Dunia Dimensi Jiwa.


"Kelihatannya Raja berubah pikiran."


"Aku tidak akan menengok mereka, sampai mereka yang meminta," gumam Wira pelan, kemudian memejamkan matanya.


Menjelang pagi Wira bangun, dan melihat Tikus Hitam meringkuk didekat terali dalam ukuran normal. "Informasi apa yang kamu dapatkan?"


Sambil mengecilkan tubuhnya Tikus Hitam menjawab, "Hampir semua anggota sekte tidak diizinkan keluar, kecuali mereka yang sudah level Pendekar Suci. Mereka biasanya keluar untuk mencari kebutuhan pangan atau mencari pemuda remaja untuk Ketua sekte."


"Bagaimana dengan karakter mereka," Wira memandang Tikus Hitam serius.


"Rata-rata mereka tidak punya keluarga, mungkin mereka mau dibawa kesini karna tidak ada pilihan lain, sulit mengatakan apakah mereka baik atau jahat. Kecuali mereka yang ikut berperan dalam penculikan para pemuda remaja, sudah jelas melakukan kejahatan kalaupun jika mereka melakukan dengan terpaksa."


"Heeeehng..." Wira menghembuskan nafas berat ... . "Kita lihat dan perhatikan dulu apa yang ingin mereka lakukan."


Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi buru-buru masuk ke kantong baju dalam Wira begitu mendengar ada orang mendekat keruangan Wira.


"Ketua ingin bertemu denganmu ... Ayo ikut denganku ... ." Gemitir menggenggam tangan Wira agak lama kemudian membawa Wira keluar ruangan.


"Aku berharap tidak terjadi sesuatu denganmu, walau aku tau itu mustahil," Gemitir berkata lirih sambil menoleh Wira yang berada selangkah dibelakangnya.


Wira tidak memberi tanggapan apapun, sambil terus melangkah mengikuti Gemitir yang berjalan dengan langkah lebar didepannya.


Setelah keluar dari bangunan yang khusus untuk ditempati para tawanan, Wira dibawa ke sebuah bangunan yang besar dan mewah yang berada di sisi lainnya.


Wira dibawa melewati sebuah ruang pertemuan yang besar yang dipenuhi dengan hiasan mewah, di sebelah kiri dan kanan ada banyak kursi yang dihiasi gading gajah yang berukir indah, ditempat yang lebih tinggi ada Singgasana yang terbuat dari emas berhiaskan gading gajah yang dipenuhi dengan berbagai permata mulia.


Wira tidak sempat memperhatikan lebih detail keindahan ukiran yang ada di ruangan itu karna terus mengikuti Gemitir menuju kebagian dalam bangunan.


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Gemitir berhenti dan mengetok pintu dengan pelan.


"Masuklah ... "


Gemitir membuka pintu dan menggerakkan kepala pelan memberi isyarat pada Wira untuk masuk.


Wira berjalan masuk ke kamar disusul Gemitir dibelakangnya.


"Salam Ketua ... " Gemitir membungkukkan badan dengan sikap sangat hormat


Seorang gadis cantik yang duduk disebuah kursi berwarna kuning emas menganggukkan kepala sambil menunjuk sebuah kursi.


"Duduklah ... "


Wira duduk di kursi kuning emas berhadapan dengan wanita cantik dibatasi meja kecil yang terbuat dari giok dengan rangka dan kaki-kakinya terbuat dari gading gajah berukir.


"Aku berpikir yang bernama Serundeng Wangi seorang wanita usia 30-an tahun, ternyata seorang gadis muda," Wira mengamati sekilas gadis yang duduk didepannya, sementara itu Gemitir melangkah keluar ruangan setelah mendapat isyarat.


Wira merasakan suasana agak canggung, dari pengamatan Wira, gadis didepannya memiliki beban berat yang mengganjal didalam hatinya.


Wira menyebarkan kesadaran batinnya berusaha menemukan niat membunuh dari gadis ini yang dirumorkan kejam dan pengguna Ilmu sesat. Wira tidak merasakan aura membunuh malah yang terpancar adalah aura kasih yang dibalut kegelisahan. Tapi Wira tidak menurunkan kewaspadaannya karna segala kemungkinan bisa terjadi.


"Aku tau pengaruh racun pelumpuh syaraf tidak bekerja padamu,"


Wira tersenyum tidak mengatakan apapun, isyarat halus bahwa dia tidak ingin bertele-tele dan langsung pada pembahasan pentingnya.


"Bolehkah aku sedikit berbagi cerita denganmu?" gadis didepannya berkata dengan hati-hati sadar bahwa Wira tidak terlihat memberi respon baik.


"Bicaralah"


Gadis cantik didepan Wira menarik nafas berat, seolah ingin menghempaskan beban berat dalam pikirannya. Dia diam beberapa saat sambil memikirkan dia harus memulai dari mana .


Gadis muda menatap Wira seakan mencari tau bahwa Wira benar bersedia mendengar kisah yang akan dia ceritakan.


"Ceritalah, aku bersedia mendengarkan."


Gadis muda menarik nafas lega mendengar kesediaan Wira.