
Sampai dikediamannya, Wira duduk diruang tamu ditemani istrinya, kemudian seorang pelayan datang menyampaikan pesan dari raja agar besok Wira menghadap di aula kerajaan.
"Hal penting apa yang akan dibahas Kanda," tanya Putri pada suaminya,
"Dengan kondisi kita yang seperti ini pasti banyak hal penting yang mesti dibahas Dinda, rencana merebut kembali kerajaan kita yang saat ini dikuasai Raja Durgati, kekejaman yang dialami oleh rakyat Malawa Dewa, kekurangan bahan makanan jika kita terlalu lama beranda di dunia kecil ini, semua itu membutuhkan pemikiran dan strategi yang tepat," kata Wira menjelaskan
"Kamu mengerti banyak hal diusiamu yang masih sangat muda Kanda," kata Putri bangga,
"Tapi sesibuk apapun kanda tetaplah luangkan waktu untuk mengunjungi Nilotama, Dinda tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padanya," Putri Citra Sasmita memohon,
"Itu pasti Dinda, aku tak akan melupakan kebaikan yang pernah diberikan padaku Dinda, Paman Panglima, Bibi Damayanti dan Nilotama sangat baik padaku, aku pasti membalas kebaikannya," ucap Wira yakin.
Putri Citra Sasmita sesungguhnya tau bahwa Nilotama mencintai Wira, itu bisa dia ketahui dari cara Nilotama memandang Wira, saat berada diarena kesatria, kemudian saat memeluk Wira secara spontan, terlihat sangat bahagia.
"Aku tahu itu hanya pelukan spontanitas karna melihat orang yang disukai ada didekatnya, setelahnya dengan cepat Nilotama melepaskan pelukannya begitu sadar Wira sudah milik orang lain, dia selalu menjaga perasaan orang lain." batin Putri dalam hati
Melihat istrinya melamun Wira menyentuh lengan istrinya, "Dinda sepertinya pelayan sudah menyiapkan makanan, baunya sampai kesini !, mari kita makan dulu, sudah lapar !," ucap Wira
Mereka melangkah bersama keruang makan,
"Silahkan Putri, silahkan Pangeran, mumpung baru selesai dan masih hangat," ucap pelayan mempersilahkan.
"Terimakasih," ucap Wira dan Putri
Mereka makan dengan lahap setelah itu mandi kemudian istirahat.
Ditempat tidur mereka masih tidur berjauhan masih seperti sebelumnya, mereka sepakat untuk pacaran dulu, sebab sebelumnya mereka langsung menikah karna "Kecelakaan" dan belum sempat menikmati masa indahnya pacaran.
Keesokan harinya, Wira berangkat ke aula kerajaan setelah sarapan bersama istrinya.
Di aula penuh dengan para Pembesar dan Pejabat Kerajaan, Panglima Ringkin dan semua Jenderal Utama ada di sana.
Wira disediakan tempat duduk disamping kiri raja dengan posisi yang lebih rendah, sementara disebelah kanan raja duduk pelindung agung yang merupakan raja sebelumnya.
Raja Wreksasena menyampaikan tujuan pertemuan ini untuk membahas strategi untuk membebaskan negeri dan rakyat dari penjajahan, dan yang paling mendesak adalah kekurangan bahan pangan yang harus segera diatasi.
Melalui banyak usulan, saran dan pendapat, tentu dengan sedikit perdebatan kecil akhirnya Raja Wreksasena mengambil keputusan :
* Pangeran Mahawira keluar dunia kecil untuk mencari bahan pangan demi kebutuhan di dunia kecil.
* Panglima Ringkin bertugas melatih prajurit dibantu jenderal utama, untuk meningkatkan kultivasi, sumber dayanya diberikan oleh Pangeran Mahawira
* Untuk meminimalisir kerugian, dari segi biaya dan pasukan digunakan strategi perang gerilya yang dipimpin Pangeran Mahawira
Siang hari pertemuan selesai, Wira mendatangi kediaman Kakek Jyoti Ambaka untuk memberi saran mengenai kenaikan kultivasinya yang terhambat dan memberi beberapa Sumberdaya agar kultivasinya cepat meningkat.
Setelah itu Wira pergi ke kediaman raja menyerahkan 100 peti ukuran besar yang berisi buah-buahan ajaib, untuk peningkatan kultivasi para pembesar dan prajurit.
Sementara untuk raja dia memberikan satu peti kecil buah dan sayuran ajaib yang sangat berkualitas, setelah menerima pemberian Wira Raja Wreksasena memasukkan peti kecil ke cincin dimensinya.
Untuk 100 peti yang lain dia akan menyerahkan pada Panglima Ringkin untuk mengaturnya.
Kemudian Wira pulang menuju kediamannya,
Wira mohon izin pada istrinya akan keluar ke dunia manusia untuk mencari bahan pangan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di dunia kecil, yang sebagian besar prajurit.
"Berapa lama Kanda pergi," tanya Putri Citra Sasmita pada suaminya,
"Paling lama tujuh hari, persediaan pangan sudah hampir habis kanda secepatnya harus kembali," Jawab Wira.
Sesungguhnya Putri Citra Sasmita tidak ingin berpisah dengan Wira saat pernikahannya baru berlangsung beberapa hari, tapi dia tidak mau egois apalagi demi kepentingan orang banyak.
"Berhati-hatilah selalu, dan waspada setiap saat Kanda," Putri mengingatkan.
"Pasti Dinda, aku akan selalu ingat pesanmu," kata Wira sambil mengecup kening istrinya, kemudian melesat cepat menuju pintu ke alam manusia, dia tidak ingin melihat kesedihan istrinya lebih lama.
Di kediaman Panglima Ringkin....
Nilotama sering pergi pagi sampai malam baru pulang itu berlangsung hampir setiap hari untuk menghindari berjumpa dengan Wira dan Putri.
Sampai kemudian dia tidak pulang hingga jauh malam, Dewi Damayanti mengutus prajurit yang berjaga dikediamannya untuk mencari Putrinya, prajurit menemukan Nilotama pingsan didalam hutan dekat kayu besar yang merupakan pintu masuk ke alam manusia.
Rupanya Nilotama berkali-kali mencoba untuk memecahkan aray pelindung yang dipasang Wira agar bisa pergi dari dunia kecil, dia tidak ingin melihat Putri Citra Sasmita bersedih, disisi yang lain cintanya pada Wira juga sangat besar, satu-satunya cara adalah dengan mati atau pergi dari kehidupan mereka, tapi kenyataan berkata lain. Nilotama pingsan karena terus mencoba menghancurkan aray sementara tubuhnya lemah karna tidak makan berhari-hari
Mendengar Nilotama kembali jatuh sakit dan pingsan dikediamannya, bergegas Putri menuju kesana.
Seringkali Putri berkunjung dikediaman panglima, tapi Nilotama setiap saat tidak pernah ada disana,
Putri tahu bahwa Nilotama menghindar untuk berjumpa dengan dia dan Wira,
Seminggu telah berlalu, setiap hari Putri berkunjung di kediaman Panglima Ringkin untuk menengok Nilotama yang masih sangat lemah.
"Ini sudah tujuh hari kenapa Kanda Wira tidak kunjung kembali, hanya dia yang mampu mengobati Nilotama," kata Putri dalam hatinya.
Menjelang malam Wira kembali dan mendapati istrinya sedang menangis sedih,
"Apa yang terjadi Dinda ?, Kenapa Dinda sangat bersedih," tanya Wira hati-hati.
Kemudian Putri Citra Sasmita menceritakan kondisi Nilotama yang sangat memprihatikan.
Demi kasih sayangnya pada Nilotama Putri memaksa Wira menikahi Nilotama, tapi Wira menolak karna yakin Nilotama tidak akan mau, Wira tau Nilotama sangat menyayangi Putri Citra Sasmita lebih dari saudara
"Kanda, jika Nilotama sampai meninggal aku akan bersedih disepanjang hidupku, karna aku sangat mengasihi Nilotama, dia selalu ada untukku," kata Putri memelas
"Bukannya Kanda tidak mau, Nilotama yang pasti menolak, karna tidak ingin menyakitimu," jawab Wira hati-hati
"Besok pagi kita berkunjung kesana, Kanda akan menyembuhkan Nilotama dengan pil yang pernah Kanda kasi," ucap Wira menambahkan dengan sabar.
"Pelayan antarkan aku ke kediaman Ibunda Permaisuri," perintah Putri pada pelayannya
"Baik Putri," jawab pelayan.
Wira mendesah pelan, dia membiarkan Putri pergi ke kediaman Permaisuri, sampai amarah istrinya mereda.
Sampai dikediaman permaisuri Putri bergegas menemui raja dan memohon kepada raja agar mengeluarkan titah menikahkan Nilotama dengan Pangeran Mahawira.
"Putri apa yang kamu katakan, apakah akalmu sehat," tanya Raja pada putrinya
"Ayahanda Putrimu ini dalam keadaan sangat sehat, ada beberapa alasan kenapa hamba memohon ayahanda mengeluarkan titah ini, pertama, jika Nilotama terus sakit dan makin parah apalagi meninggal, itu akan membuat panglima sedih dan akhirnya mengganggu kinerja panglima dimana kerajaan sedang sangat membutuhkannya.
Kedua hamba tidak ingin kehilangan sahabat yang paling hamba kasihi.
Ketiga kanda Wira mau menikah hanya saja dia yakin Nilotama pasti menolak karna tidak ingin melukai perasaanku,
Ayahanda pernikahan ini akan sangat baik bagi kerajaan dan kita semua," demikian Putri Citra Sasmita menjelaskan alasannya.
Esok harinya pagi-pagi sekali Putri sudah di kediaman Panglima Ringkin, dia menyampaikan pesan pada prajurit agar Wira menyusulnya ke kediaman Panglima
"Salam Putri," kata pelayan menyambut kedatangan Putri, Putri langsung ke kamar Nilotama setelah membalas salam pelayan,
Pelayan menyampaikan kedatangan Putri pada panglima dan istrinya, mereka pergi menyambut Putri Citra Sasmita di kamar Nilotama.
Beberapa saat kemudian Wira datang setelah menerima pesan dari prajurit, Wira langsung menuju kamar Nilotama, disana sudah ada Putri Citra Sasmita yang sedang mengelus kepala Nilotama, Panglima Ringkin dan istrinya serta seorang pelayan yang selalu menjaga Nilotama.
Wira mohon izin pada Panglima untuk memberikan pil buat Nilotama,
"Tapi Nilotama masih belum sadar Pangeran," ucap Panglima pada Wira,
"Aku punya cara sendiri Paman," balas Wira
Putri bergeser dari tempatnya memberi ruang bagi Wira untuk memberi pil pada Nilotama, Wira membuka mulut Nilotama sembari memasukkan pil berwarna hijau ke mulutnya, kemudian menotok dibagian leher dan tenggorokan beberapa kali setelah itu menempelkan telapak tangannya ke perut Nilotama untuk membantu mencerna dan mengedarkan khasiat pilnya
Selang lima menit Nilotama merasakan ada aliran hawa panas menjalar ke sekujur tubuhnya, kemudian ada ledakan energi yang besar bergejolak dalam dirinya, dia bangun dan bersila tanpa membuka matanya, dia tahu pasti Wira yang memberikan pil seperti dulu, melihat Nilotama tidak mau membuka matanya Wira dan Putri keluar ruangan diikuti panglima dan istrinya, tiga puluh menit kemudian Nilotama membuka matanya dia naik ketingkat 6 level langit.
"Utusan Raja Malawa Dewa telah tiba," teriak seorang prajurit mengumumkan kedatangan seorang Utusan Raja
Semua orang yang ada dikediaman Panglima Ringkin langsung berlutut, Panglima Ringkin, Dewi Damayanti, Putri Citra Sasmita, Pangeran Mahawira, seluruh pelayan dan prajurit, Nilotama dan pelayannya segera bergegas keruang tamu dan langsung berlutut melihat kedatangan Utusan Raja.
Utusan Raja kemudian berteriak lantang mengancungkan Lencana Raja keatas dan membacakan tulisan yang ada pada sebuah gulungan beludru berwarna merah dan bersulam benang emas pada pinggirannya
"Titah Paduka Yang Mulia Raja Malawa Dewa," teriak Utusan Raja Wreksasena membacakan titah raja yang tertulis dalam lembaran beludru.
Begitu mereka mendengar Titah Raja, kepala mereka menyentuh lantai dengan sikap Hidmat.
"Pertama, Mengangkat Pangeran Mahawira menjadi Pangeran Mahkota Kerajaan Malawa Dewa, mengingat jasanya yang luar biasa pada kerajaan, penobatannya sebagai Pangeran Mahkota dilakukan besok pagi,
Kedua, Memerintahkan kepada Panglima kerajaan Malawa Dewa agar menikahkan Putrinya Nilotama dengan Pangeran Mahkota Mahawira demi kebesaran Kerajaan Malawa Dewa dimasa depan, upacara pernikahan dilaksanakan lagi dua hari,"
Setelah Titah Raja dibacakan, Panglima Ringkin dan Pangeran Mahawira berteriak," titah diterima dan dilaksanakan,"
Utusan Raja kembali di kawal oleh prajurit, setelah mereka semua pergi Panglima Ringkin dan yang lainnya bangun untuk melakukan persiapan pengangkatan Pangeran Mahkota dan persiapan pernikahan.
"Kakak Putri ini pasti ulahmu," ucap Nilotama sambil memeluk Putri Citra Sasmita, mereka berdua menangis bahagia.
"Aku akan berusaha sekuat daya dan upaya yang kumiliki agar orang yang aku kasihi tidak menderita," kata Putri Citra Sasmita.
Sementara Wira tidak berani mengatakan apapun agar tidak membuat amarah Putri kembali tersulut.
"Adik persiapkan dirimu, dua hari lagi kamu akan dinikahi Pangeran Mahkota," kata Putri,
Nilotama hanya menunduk malu.