
Orang-orang sekte Kelabang Biru keluar kalang kabut dari bangunan yang terbakar, mereka yang masih ditingkat murid, dan tingkat ahli banyak yang meninggal karna tidak sempat menyelamatkan diri dari kebakaran, sisanya luka-luka berat.
Pendekar Raja dan Pendekar Suci menahan reruntuhan bangunan untuk memberi peluang bagi anggota sekte yang lain agar bisa keluar menuju tempat yang lapang.
Setelah mereka bisa keluar dari reruntuhan bangunan, mereka menuju ruang kosong yang luas yang berada tengah-tengah diantara bangunan tempat biasa bagi mereka berkumpul jika ada pengumuman atau pengarahan.
Sesaat setelah mereka semua berkumpul Wira bersiul nyaring memberi isyarat agar penyerangan dimulai. Kelompok Biru dari Bidadari Pelindung Langit mulai melepaskan panah bertubi-tubi ke udara membuat langit terlihat gelap, kepanikan kembali terjadi mereka berlari tak tentu arah kesegala penjuru, namun bahaya lain sudah menanti.
Singa Emas, Naga Sesha dan Dewa Senyum membunuh mereka yang lari kearahnya, membuat mereka semakin panik.
Bidadari Pelindung Langit dan Wira terus menerus menembakkan panah kearah musuh-musuhnya, sekarang yang tersisa hanya tinggal para Tetua dan Ketua sekte, wira menyuruh Singa Emas dan Naga Sesha yang tampil dalam wujud aslinya untuk secepatnya menghabisi yang masih tersisa, dua puluh Tetua dan Ketua sekte dihabisi oleh Singa Emas dan Naga Sesha bagaikan binatang buas berburu mangsa, Dewa Senyum membunuh paling sedikit, karna sesungguhnya dia memiliki hati yang penuh welas asih, dia hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Wira karna apa yang Wira lakukan juga memiliki alasan yang masuk akal.
Hampir dua puluh ribu anggota sekte Kelabang Biru meninggal hanya dalam beberapa jam saja.
Selesai melakukan pembasmian Wira menuju ruang bawah tanah untuk mencari gudang penyimpanan kekayaan sekte dan menguras habis isinya.
Lima ratus ribu peti ukuran besar yang berisi koin emas dan ratusan senjata Pusaka serta sumberdaya lainnya berpindah ke Cincin Dimensi Samudera.
Selesai menguras seluruh kekayaan yang ada di gudang penyimpanan Wira keluar, dan memasukkan seluruh anggota Bidadari Pelindung Langit, Dewa Senyum dan Naga Sesha kembali kedalam Dunia Dimensi Jiwa.
Tidak ada seorang pun yang terluka dalam penyerangan ini.
Wira mengajak istrinya naik ke punggung Singa Emas untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi sekte Kalajengking Hitam yang menjadi target berikutnya.
Sekte Kalajengking Hitam termasuk sekte aliran hitam terbesar ketiga yang ada di Kerajaan Malawa Dewa, yang berkontribusi besar ikut menyengsarakan rakyat demi kesenangan maupun keuntungan pribadi dan sektenya
Sekte ini sudah ada beratus-ratus tahun dan sampai sekarang masih berjaya, letak sekte Kalajengking Hitam secara alami di kelilingi oleh pegunungan, ini menyebabkan sekte Kalajengking Hitam susah untuk digempur, di tiap-tiap puncak gunung mereka mendirikan bangunan untuk mendeteksi musuh.
Namun sehebat apapun pertahanan yang mereka miliki tetap saja sekte Kalajengking Hitam belum mampu menghalau musuh yang datang dari atas.
Ada banyak jebakan-jebakan yang dipasang disekitar gunung hingga sangat sulit untuk mengalahkan sekte Kalajengking Hitam, disamping itu mereka memiliki jalur-jalur pelarian yang melewati gunung melalui jalan rahasia dibawah tanah.
Wira terus mempelajari dan menganalisa informasi yang disampaikan oleh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi.
Saat ini hari sudah mulai gelap, Wira menyuruh Singa Emas beristirahat di hutan.
Wira mencari tempat yang agak lapang supaya bisa melihat bintang sebelum tidur, dia menggelar permadani setelah membersihkan tempat itu dari dedaunan dan ranting pohon, kemudian memasang Aray Pelindung Transparan.
"Dinda ingin tidur disini atau di Istana Giok ?" tanya Wira pada Putri dan Nilotama.
"Disini saja ya kak, sambil melihat bintang," ucap Nilotama pada Putri.
Putri mengangguk, menyetujui permintaan Nilotama, tak jauh dari situ Singa Emas memejamkan mata tanpa menghilangkan kewaspadaannya.
Sambil mendengarkan laporan Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi secara telepati, Wira bersenda gurau dengan Putri dan Nilotama.
"Kakak lihat !!, ada bintang bergerak cepat," ujar Nilotama,
"Itu meteor Dinda, dari miliaran Tata Surya yang ada terkadang ada beberapa planet yang lepas dari garis edarnya dan bertabrakan dengan dengan planet yang lain, pecahannya kadang sampai di planet kita," ujar Wira menjelaskan.
"Mereka berkerumun terlalu dekat ya Kak, makanya tabrakan ?" Nilotama berpendapat sekaligus bertanya.
"Jarak mereka jauh Dinda, dari bintang yang satu ke bintang yang lain jaraknya bisa jutaan tahun cahaya, hanya saja karna jumlahnya sangat banyak dan letaknya berbaris maka terlihat dekat," Wira mencoba menjelaskan dengan cara yang sederhana.
Sementara Putri menyimak pembicaraan Nilotama dan Wira sambil menyimpan dalam memori ingatannya.
Percakapan mereka berlangsung hingga jauh lewat tengah malam sampai tak ada lagi yang bersuara kecuali dengkuran halus mereka bertiga yang tidur berpelukan dengan Wira sebagai objeknya.
Kicauan burung di pagi hari saling bersahutan satu dengan yang lain, seperti kontes beradu suara, berlomba menjadi yang paling merdu atau yang paling keras suaranya, namun suara mereka tidak cukup untuk membuat tiga remaja itu terbangun dari tidurnya.
Sesungguhnya Wira sudah bangun dari tadi, kemampuan Wira yang tinggi menyebabkan dia memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya, tapi dia tidak ingin mengganggu tidur lelap istrinya yang terlihat sangat imut saat terlelap.
Menurutnya Nilotama dan Putri adalah gadis paling cantik yang pernah dia lihat, tentu saja setelah Ibundanya, dia sangat bersyukur memiliki Putri dan Nilotama sebagai istrinya, mereka berdua sangat penurut dan tidak banyak menuntut, kedua istrinya juga saling mengasihi, sifat itu yang membuat Wira semakin menyayangi kedua istrinya.
Rasa kasih sayang Wira pada istrinya yang membuat tanda sadar dia terus menciumi kedua istrinya bergantian membuat mereka terbangun.
Nilotama dan Putri tidak segera beranjak bangun setelah terjaga dari tidurnya, mereka masih ingin menikmati aroma lembut wangi cendana yang keluar dari tubuh wira, kelakuan Nilotama dan Putri membuat Wira bangga pada diri merasa sebagai suami yang sangat dibutuhkan.
Tidak ingin terlihat terlalu manja dimata Wira, Putri lebih dulu bangun disusul Nilotama kemudian.
"Kanda kami ingin membersihkan diri," ujar Putri
Wira segera membawa mereka berdua masuk ke Istana Giok dalam Dunia Dimensi Jiwa.
Selesai mandi Wira membawa keluar Putri, Nilotama, Prabawangsa, Sesha dan Dewa Senyum untuk mengatur rencana penyerangan ke sekte Kalajengking Hitam.
Wira juga mengajak Singa Emas, Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi sebagai hewan Ilahi untuk berembug mengatur strategi.
"Jika diizinkan kami bisa menutup jalan dibawah tanah yang menjadi jalur pelarian mereka," ujar Tikus Hitam melalui telepati.
Wira melupakan bahwa binatang peliharaannya adalah hewan Ilahi yang memiliki kecerdasan tinggi, bahkan mereka sudah berkontribusi besar dalam setiap rencana Wira.
"Terimakasih Hitam, ide kamu sangat luar biasa, tugasmu menghancurkan terowongan bawah tanah untuk menutup jalur pelarian mereka," Wira menyetujui pendapat Tikus Hitam.
Sebagai pusat pengumpul informasi tentu Tikus Hitam dan anggota spesiesnya sangat tahu letak terowongan bawah tanah yang harus di hancurkan.