Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 33. Berlatih didalam Dunia Dimensi Jiwa



Argadana langsung menuju kediaman Ketua sekte diikuti murid-murid yang penasaran dengan kondisinya, ketua sekte keluar untuk menerima Argadana sambil menguji kebenaran kejadian di Kota Awan.


"Yang lain bubar.... biarkan Argadana bercerita dengan tenang," ucap Ketua sekte pada murid-murid yang mengikuti Argadana.


"Setelah murid-murid yang lain bubar, Ketua sekte menyuruh Argadana bercerita.


"Murid mohon maaf karna tidak mampu mengemban tugas dengan baik, murid celaka karna tidak mampu menjaga sikap dan mengendalikan emosi, sehingga murid pulang dengan cacat," kemudian Argadana menceritakan kejadian yang dialaminya.


"Guru suka dengan kejujuranmu, jadikan ini pelajaran yang tak terlupakan agar kamu selalu hati-hati dalam bersikap dan berusaha agar mampu mengendalikan emosi," mari masuk kata Ketua sekte mengajak Argadana keruang tamu.


Betapa terkejutnya Argadana ketika melihat Pangeran Mahawira ada diruang tamu pribadi Ketua sekte, Argadana menjatuhkan diri berlutut.


"Ampuni hamba Pangeran Mahkota," kata Argadana penuh penyesalan.


Ketua sekte terkejut melihat Argadana berlutut memohon ampun dan menyebut Wira sebagai Pangeran Mahkota, tanpa sadar Ketua sekte ikut membungkuk pada Wira


"Bangunlah.... Paman," kata Wira pada pria paruh baya yang berlutut didepannya.


"Jangan terlalu sungkan Ketua," kata Wira menoleh Ketua sekte.


"Paman Argadana mari duduk di sebelahku," ucap Wira lembut.


"Hamba tidak berani....," jawab Argadana masih berlutut dengan kepala tertunduk.


"Aku sudah mendengar percakapan Paman dengan Ketua sekte diluar, dan aku sudah memaafkan tindakan Paman kepadaku," Wira menegaskan sambil menepuk punggung Argadana dan menyuruh duduk disampingnya.


"Telanlah....., ini buah dari kejujuran Paman" Wira menyodorkan pil pada Argadana,


"Pil Sambung Raga.....!?" Gumam Kepala sekte takjub.


Argadana menelan pil yang diberi Wira dan menyerap khasiatnya, Wira membuka pembalut yang menutupi luka di pangkal lengan Argadana, perlahan lengan Argadana kembali terbentuk, satu jam kemudian tangan Argadana kembali utuh.


Sesungguhnya pil Sambung Raga bisa bekerja lebih cepat jika kwalitas tulang, otot, sumsum dan darah serta kulit yang dimiliki berkualitas lebih tinggi.


Argadana berulang-ulang menyampaikan rasa terimakasihnya pada Wira.


"Ketua jika berkenan jadilah aliran putih, bergerak ketika ada rakyat yang tertindas, selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, basmi kejahatan apapun caranya," Wira menyarankan.


"Baiklah Pangeran Mahkota, hamba akan menjalankan saran Pangeran," jawab Ketua sekte berjanji.


Selanjutnya Wira mohon diri untuk menjalankan tugas penting lainnya.


Ibukota Kerajaan Malawa Dewa...


Wira menginap di penginapan terbaik di Kota Kerajaan supaya kenyamanan dan keamanan terjamin, karna rata-rata pemilik usaha yang besar pasti memiliki akses pada penguasa.


Sambil menunggu barang pesanannya Wira ingin berlatih dalam Dunia Dimensi Jiwanya, melihat kedua istrinya sedang berlatih di Danau Emas, Wira langsung menuju ruang latihan di Istana Giok. Wira mengeluarkan Peti Mati Kuno, dari Cincin Dimensi Samudra, kemudian membuka segelnya yang berupa aray segel.


Wira mengambil kristal berbentuk bola besar berdiameter satu meter berwarna biru, menaruh didepannya kemudian mulai menyerap dengan tehnik khusus yang dipelajari dari kitab Dipangkara Raja Langit yang seluruh isinya sudah menyatu dengan pikiran Wira.


Hampir sehari Wira baru selesai menyerap dan memurnikan Inti Api Poeniks Biru yang ada dalam kristal, setelah Wira selesai menyerap Inti Apinya, kristal biru hancur jadi serpihan kecil.


"Sekarang aku sudah memiliki inti api terpanas dari api apapun yang ada di jagat raya," batin Wira.


Mata Wira terlihat bersinar lebih tajam dan kulit menjadi lebih mengkilap, rambutnya yang hitam legam menjadi sedikit bernuansa biru.


Wira mulai berlatih mengendalikan Api Poeniks Biru agar bisa dikendalikan sesuai keinginan.


Wira terbang menuju gunung yang berada seratus kilometer disebelah barat Istana Giok, Wira mengeluarkan kapak dan mulai berlatih melapisi Kapak Rajabala dengan Api Poeniks Biru, dampak yang dihasilkan dua kali lipat lebih dahsyat, Wira mengeluarkan Busur Naga Writa, dan panah kemudian melapisi panah dengan Api Poeniks Biru kemudian diarahkan kepuncak Gunung Kuning.


Duaaaaaaarrrrrrrr........


Puncak Gunung Kuning hancur terkena Panah Wira.


"Luar biasa hasilnya setelah dilapisi dengan Api Poeniks Biru," gumam Wira.


Setelah puas dengan hasil latihannya Wira terbang kembali menuju Istana Giok.


Putri dan Nilotama sedang memasak di dapur Istana Giok ketika Wira sampai,


"Dari mana Kanda?" tanya Putri


"Kanda sedang berlatih di Gunung Kuning, seratus kilometer disebelah barat tempat ini," kata Wira.


Nilotama dan Putri heran mendengar jawaban Wira, mereka mengira hanya ada Istana Giok, Danau Emas dan pohon Cendana Biru didalam Dunia Dimensi Jiwanya Wira.


"Kakak Wira ayo kita makan, masakan Kakak Putri sangat enak," ucap Nilotama memuji masakan Kakak Putrinya.


"Sudah hampir tiga bulan kalian berlatih disini, kemajuan kultivasi kalian lumayan banyak," Wira memuji ketekunan istrinya berlatih.


Wira memeluk kedua istrinya dan mencium keningnya, "Kakak mau berlatih dulu nanti selesai berlatih kakak temani kalian," ucap Wira.


Nilotama cemberut begitu mendengar Wira mau berlatih lagi, padahal sudah tiga bulan istrinya tidak bertemu Wira.


"Aku lupa tiga hari di dunia luar sama dengan tiga bulan di Dunia Dimensi Jiwa, pantesan Nilotama cemberut," batin Wira sambil tersenyum senang.


"Kanda bisa berlatih nanti setelah menemani kami ngobrol dipinggir Danau Emas," Putri Citra Sasmita memberi saran melihat Nilotama cemberut.


"Baiklah..... baiklah, ayo kita ke Danau Emas, sambil memetik buah ajaib," Jawab Wira sambil memeluk kedua istrinya.


Sampai dipinggir Danau Emas, Wira mengeluarkan kristal berwarna hijau kehitaman berukuran lumayan besar, diameternya mencapai satu meter setengah, Wira memasukkan kristal itu kedalam danau yang agak dangkal. Telur ini menyerap energi yang ada didalam Danau Emas dengan rakus.


"Energi kehidupan yang ada didalam telur ini mulai terpancar makin kuat," gumam Wira,


"Kakak kristal apa ini besar sekali," tanya Nilotama,


"Ini telur, hanya saja Kakak belum tau mahluk apa yang ada didalamnya," Wira kemudian mengangkat telur itu dan menempatkan di pinggir danau supaya ketika menetas nanti bisa terlihat oleh istrinya.


"Kalian coba sini, alirkan energimu pada telur ini supaya ketika dia lahir nanti dia bisa mengenalimu," Wira memanggil kedua istrinya.


Wira mengalirkan energi pada telur dengan meletakkan telapak tangannya, telur itu menyerap energi yang dialirkan dengan rakus, hanya beberapa menit saja energi Wira tersedot habis, Wira mengangkat telapak tangannya, kemudian mengambil pil pemulihan energi dari cincin dimensinya.


Putri mengalirkan energi, seperti yang dilakukan oleh Wira, dengan cepat energinya tersedot habis, sebelum benar-benar habis Putri melepaskan telapak tangannya.


"Ckckck.......Rakus sekali mahluk ini," kata Putri lemas.


Wira segera memberi pil pemulihan energi pada Putri.


Giliran Nilotama menempelkan telapak tangannya pada telur kristal, sama seperti sebelumnya energinya juga tersedot oleh telur itu dengan cepat, segera Nilotama melepaskan tangannya agar energinya tidak benar-benar habis.


Wira pura-pura tidak melihat kondisi Nilotama yang kehabisan energi,


"Kakak...." Nilotama menadahkan tangan sebagai isyarat meminta, Wira masih pura-pura tidak melihat,


"Kakak Putri....," Nilotama memandang Putri,


"Kanda tolong......"


"Baiklah... baiklah..." Wira memasukkan pil kemulut Nilotama yang memang dari tadi sudah ada di tangannya.


"Pil yang aku berikan tadi sangat mahal, kalian harus bayar," kata Wira pada istrinya


"Dasar pelit....," sahut Nilotama,


"Kalian harus menciumku sebagai bayarannya," kata Wira menggoda istrinya.


"Ish...." mereka serempak memelototi Wira,


"Kalau tidak mau ya.....tidak apa," kata Wira kalem, sambil merebahkan tubuhnya dilantai gasebo yang ada di pinggir Danau Emas.


Karna sudah tiga hari Wira tidak dapat istirahat yang cukup, begitu kepalanya menyentuh lantai dia segera tertidur.


Sementara Putri dan Nilotama berbincang riang sambil berendam di air Danau Emas, mereka sudah mampu menyerap energi yang masuk kedalam tubuhnya dengan baik.


"Kakak Wira sini berendam Kak,"


"Ayo Kanda kita berendam bersama,"


Melihat Wira diam tak bergerak, Putri dan Nilotama mendekati gasebo tempat Wira telentang.


"Haish..........," Kakak Wira tidur


"Biarkan jangan diganggu, ayo kita keringkan tubuh," kata Putri.


Setelah mengganti pakaian mereka mendekati Wira yang masih tidur nyenyak.


Nilotama dan Putri memandangi Wira yang sedang tidur,


"Kakak Wira makin tampan ya Kak ?"


"Iya..., Wajahnya makin halus dan bercahaya," jawab Putri,


"Rambutnya juga ada nuansa biru," Nilotama menambahkan.


Mereka ikut merebahkan dirinya di samping Wira sambil menikmati wangi lembut aroma cendana, aroma ini yang membuat mereka selalu ingin berada didekat Wira, beberapa saat kemudian akhirnya Nilotama dan Putri tertidur juga sambil memeluk tubuh Wira.