Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 53. Kekhawatiran Raja Wreksasena dan Permaisuri



Setelah Naga Kecil pergi Wira bersama kedua istrinya berjalan menuju ke Istana Giok untuk membersihkan diri, kemudian melihat pengikut istrinya latihan.


Putri sekarang sudah mencapai Pendekar Suci tingkat 1, Nilotama Pendekar Raja tingkat 7,


Delima Pendekar Raja tingkat 6, Intan Pendekar Raja tingkat 4, Mustika Pendekar Raja tingkat 5, Ratna Pendekar Raja tingkat 4, Manik, Pendekar Raja tingkat 5, Suhita Pendekar Raja tingkat 4, anggota yang lainnya hampir semua Pendekar Raja tingkat 3, hanya beberapa orang yang masih Pendekar Raja tingkat 2 puncak, Wira sangat gembira melihat pencapaian yang luar biasa dari kedua istrinya dan para pengikutnya.


"Kelompok Biru, beri laporan mengenai kemajuan latihannya," Wira memberi perintah


Delima adalah pemimpin bagi semua pengikut, namun dia juga merangkap pemimpin Kelompok Biru, maju kehadapan wira untuk memberi laporan.


"Kelompok Biru jumlah dua puluh orang !, Ketua Delima !, wakil Intan !, mahir dalam jurus Tangan Kosong, Ilmu Memanah dan alkemis !" para anggotanya kemudian memperagakan ilmu yang mereka kuasai.


"Kelompok Hijau jumlah lima belas orang !, Ketua Mustika !, wakil Ratna !, mahir dalam jurus Tangan Kosong, Jurus Pedang dan Ilmu Tabib !" Mustika melaporkan, para anggotanya memperagakan ilmu yang menjadi andalannya.


"Kelompok Putih jumlah lima belas orang !, Ketua Manik !, wakil Suhita !, mahir dengan urus Tangan kosong, Jurus Cemeti dan Ilmu Aray !" Manik memberikan laporan, semua anggotanya memperagakan keahlian yang mereka kuasai.


Wira sangat puas dengan hasil latihan keras mereka selama tujuh bulan di Dunia Dimensi Jiwanya.


"Suatu saat nanti, pengikut istriku akan menjadi pasukan elite yang susah dikalahkan, mereka bisa menghancurkan ribuan musuh dalam sekejap, aku akan mengajari jurus Sahasra Astra level menengah pada mereka," batin Wira.


Hampir lima belas hari Wira memberi bimbingan pada istri dan pengikutnya, sambil terus berendam di Danau Emas setiap ada kesempatan agar kultivasinya cepat meningkat.


*****


Dalam Dunia kecil, Panglima Ringkin berusaha keras untuk memaksimalkan pelatihan pada seluruh prajurit agar menjadi lebih kuat, buah-buahan ajaib yang diberikan oleh Wira sangat membantu peningkatan kultivasi mereka dengan signifikan.


Dalam aula kerajaan Raja Wreksasena dan Panglima Ringkin sedang berbincang serius.


"Berdasarkan laporan dari prajurit bayangan dan Sarwadahana, Pangeran Mahkota sudah menghancurkan dua sekte hitam terbesar dikerajaan kita, Putri dan Nilotama selalu bersama Wira, sementara Sarwadahana dan Kratu tidak diizinkan untuk mengikuti, mereka ditugaskan untuk memimpin relawan dan sekte yang bergabung bersama kita, aku khawatir dengan mereka bertiga !" Raja Wreksasena mengutarakan kecemasannya pada Panglima Ringkin.


"Setahu hamba Pangeran Mahkota, selalu teliti dan cermat serta berhati-hati dalam setiap tindakannya, apalagi dengan membawa Putri dan Nilotama bersamanya tentu Pangeran akan semakin berhati-hati," jawab Panglima Ringkin.


"Mahardika melaporkan bahwa Pangeran menghancurkan kedua sekte itu !, laporan dari prajurit bayangan juga sama !, itu membuktikan bahwa kemampuan Pangeran sangat tinggi !, hal itu juga yang membuat hamba yakin mereka aman bersama Pangeran," ujar Panglima Ringkin menenangkan Raja Wreksasena.


"Kamu juga harus memberi tahukan hal ini pada Permaisuri dan Istrimu, mereka selalu khawatir dengan kondisi Pangeran, Putri dan Nilotama, dalam anggapannya Pangeran, Putri dan Nilotama masih anak remaja, mereka harus mendapatkan pengawalan yang memadai, mereka tidak percaya bahwa Pangeran sanggup menghancurkan satu sekte sendirian, ditambah lagi keberadaan mereka saat ini tidak ada yang tahu,"


"Baiklah hamba akan menjelaskan hal ini bersama prajurit bayangan yang membawa laporan kemari," jawab Panglima Ringkin.


Panglima Ringkin pergi menemui Permaisuri diruang tamu tempat biasanya Raja Wreksasena menerima tamu pribadinya, disana juga ada Dewi Damayanti istrinya yang akhir-akhir ini sering dipanggil Permaisuri untuk membicarakan banyak hal, terutama mengenai Putri, Nilotama dan menantu mereka.


"Salam Permaisuri," ujar Panglima Ringkin sopan


"Kebetulan sekali !, duduklah !" ujar Permaisuri senang sambil menyuruh Panglima Ringkin untuk duduk di depannya, berbatas meja selebar dua meter dengan panjang mencapai delapan meter, sementara Dewi Damayanti duduk disebelah Permaisuri.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu Panglima," ujar Permaisuri.


"Apakah Panglima tau keberadaan Pangeran Mahkota, bersama Putri Citra Sasmita dan Nilotama ?"


Panglima Ringkin seketika gelagapan, karna pertanyaan itulah yang menjadi topik pembicaraannya tadi dengan Raja Wreksasena dan belum mampu dia jawab karna belum ada laporan dari prajurit bayangan.


"Mohon maafkan hamba Yang Mulia Permaisuri, mengenai posisi Pangeran saat ini kami belum menerima laporan, tapi dari laporan prajurit bayangan serta pesan Mahardika dan Sarwadahana saat ini, Pangeran sedang menuju Benteng Utara untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan upaya merebut kembali Kerajaan kita, dalam perjalanannya menuju Benteng Utara, Pangeran memusnahkan sekte-sekte aliran hitam yang dijumpai," jawab Panglima Ringkin.


"Menurutmu apakah laporan itu akurat"


"Sarwadahana dan Kratu menyampaikan juga bahwa tunggangan Pangeran seekor singa yang sangat besar dan bisa terbang, dan lagi kemampuan Pangeran Jauh diatas Sarwadahana dan Kratu, laporan ini juga sudah dikonfirmasi oleh prajurit bayangan yang memeriksa keadaan sekte yang dihancurkan oleh Pangeran," jawab Panglima Ringkin hati-hati.


"Dengan kemampuan Pangeran yang sangat tinggi, hamba yakin Pangeran mampu menyelamatkan Putri dan Nilotama jika situasinya mendesak," Panglima Ringkin menambahkan.


"Baiklah Panglima, pantau terus kondisi dan keberadaan mereka bertiga," ujar Permaisuri sedikit lega.


"Perintah Permaisuri pasti kami laksanakan," ucap Panglima Ringkin sembari mohon diri.


Sementara itu di Benteng Selatan Kerajaan Indra Pura, Wira bersama Kirani, Ranubaya dan Jenderal Sentanu yang mewakili Jenderal Mahesa Jenar, bersiap untuk berangkat ke Ibukota Kerajaan Indra Pura.


"Kenapa Jenderal Mahesa Jenar tidak jadi ikut?" tanya Wira,


"Beliau batal ikut karna tanggung jawab disini sangat besar, dan beliau tidak berani meninggalkan Benteng mengingat kejadian dimana pengawal Nona Kirani diserang sampai di hutan perbatasan, beliau tidak ingin saat kepergiannya, Jenderal Tumbak Bayuh memanfaatkan situasi," jawab Jenderal Sentanu.


"Benar apa yang disampaikan Jenderal Sentanu Pangeran," ujar Jenderal Mahesa Jenar tiba-tiba muncul.


"Semakin bertambahnya pasukan di Benteng Utara yang dipimpin oleh Jenderal Tumbak Bayuh, dan keberanian pasukannya mengejar pengawal Nona Kirani sampai jauh masuk ke hutan perbatasan, membuat saya khawatir untuk meninggalkan Benteng ini, dan maaf Pangeran kami tidak memberi tahu Pangeran lebih awal karna takut mengganggu istirahat Pangeran," ujar Jenderal Mahesa Jenar menjelaskan situasinya.


"Tidak masalah Paman, yang penting sudah ada yang akan menjelaskan kondisi disini, aku hanya membantu menjelaskan apa yang sudah terjadi sesuai dengan yang kami alami," jawab Wira.


Mengingat perjalanan menuju Ibukota Kerajaan Indra Pura sangat jauh, Wira menawarkan Singa Emas untuk menjadi tunggangan mereka semua, agar perjalanan bisa lebih cepat.


Kirani dan Bibinya yang sudah pernah naik dipunggung Singa Emas menyetujui saran dari Wira.


"Apakah tunggangan Pangeran bisa mengangkut kita semua?" yanya Jenderal Sentanu tidak yakin.


"Suiiiit....," Wira bersiul nyaring,


wuuuusss...


Singa Emas berdiri di dekat mereka, Jenderal Sentanu terkejut menyaksikan Singa Emas yang sebesar itu, dengan aura yang sangat mengintimidasi dan tubuhnya yang unik.


"Ayo kita berangkat," ucap Wira sambil meloncat ke punggung Singa Emas di ikuti yang lainnya, Wira memasang Aray Pelindung buat Kirani dan Bibinya, kemudian Wira menyuruh Singa Emas berangkat dipandu Ranubaya yang duduk bersama Jenderal Sentanu dan Wira.