
"Lantas apa pendapat Pangeran mengenai hal ini?" Jenderal Mahesa Jenar memandang Wira
"Paman tetap meminta tambahan pasukan pada Yang Mulia Raja untuk berjaga-jaga saja, masalah menghancurkan musuh kami, biarlah menjadi urusan kami sendiri," jawab Wira yakin.
"Kalau tambahan pasukan yang kita minta hanya untuk jaga-jaga saja apa bedanya jika kami tidak menambah pasukan," Jenderal Mahesa Jenar penasaran.
"Dengan bertambahnya pasukan dari kerajaan Indra Pura di benteng ini, maka mereka akan membawa pasukan mereka untuk mengimbangi jumlah kekuatan yang kalian tempatkan di benteng ini, hal itu antisipasi mereka jika sewaktu-waktu Kerajaan Indra Pura menyerang mereka, pasukan yang dialihkan ke benteng utara akan mengurangi jumlah prajurit yang mereka tempatkan di Ibukota Kerajaan, dengan begitu akan memudahkan kami menggempur pasukan di Ibukota dan menguasai kerajaan kami kembali, setelah selesai menguasai Ibukota kami akan menggempur pasukan Benteng Utara yang pasti akan kembali ke Ibukota atau kembali ke Samantha Pancaka, menghancurkan mereka diluar Benteng akan lebih mudah bagi kami," ujar Wira menjelaskan.
"Pangeran ini sangat cerdas serta memiliki kemampuan sangat tinggi serta ahli strategi, sesuai laporan Ranubaya, menjadi teman akan sangat menguntungkan ketimbang jadi lawannya," Jenderal Mahesa Jenar membatin.
"Baiklah, sesuai anjuran Pangeran, kita berangkat ke Ibukota Kerajaan besok pagi sambil menunggu prajurit pengawal Kirani yang terluka agar menjadi lebih baik." Jenderal Mahesa Jenar memutuskan.
Setelah pertemuan selesai Wira kembali ke paviliun tempatnya beristirahat.
"Pelangi aku mau masuk Dunia Dimensi Jiwa, kamu bersama Hitam dan Perak berjaga di sini, " Wira memasang Aray dan hilang, setelah memberi tugas pada Bunglon Pelangi
Wira menuju gasebo besar yang merupakan gasebo khusus untuk dia dan Istrinya, tetapi Wira tidak melihat kedua istrinya disana.
"Mungkin mereka sedang latihan, aku ingin menambah gasebo kecil disini, supaya cukup bagi pengikut istriku jika mereka ingin rekreasi disini," batin Wira.
Gedebuuug..., gedebuuug..., gedebuuug... .
Suara seperti benda berat jatuh beberapa kali terjadi disekitar Danau Emas membuat para penghuni Istana Giok keluar ingin melihat apa yang terjadi.
Ada tiga puluh gasebo kecil berdiri di Danau Emas, sepuluh berjejer di sisi sebelah utara dan sepuluh lagi di sisi sebelah selatan jaraknya dengan Gasebo Giok sekitar seratus meter, gasebo kecil yang lama dipindah ke sebelah barat, Wira menambahkan lagi delapan gasebo kecil sehingga genap ada sepuluh gasebo kecil di sisi sebelah barat.
Selesai dengan pekerjaannya Wira beristirahat di Gasebo Giok sambil menikmati buah ajaib yang dipetik dipinggir Danau Emas. Belum habis satu buah, Putri dan Nilotama datang menemui Wira bersama lima puluh orang pengikutnya.
Putri dan Nilotama bagaikan Ratu Apsari yang diiringi oleh para Bidadari, Putri dan Nilotama memakai pakaian yang indah yang mereka beli di kota Mojo Agung, sementara para pengikutnya memakai pakaian seragam Pendekar Wanita yang desain nya dipilih langsung oleh Wira, mereka semua terlihat sangat cantik, buah ajaib yang rutin mereka konsumsi membuat kulit mereka menjadi sangat halus dan kenyal.
"Salam hormat Pangeran Mahkota"
Serempak para pengikut istrinya bersimpuh didepan wira sambil membungkuk memberi hormat pada Wira.
"Kanda, mereka semua mohon untuk diberi Segel Jiwa, agar mereka tidak punya niat untuk menentang kita baik karna pengaruh orang lain maupun karna niat sendiri, bagaimanapun seiring berjalannya waktu setiap orang sangat mungkin berubah, pemikiran itu yang membuat mereka memohon agar mereka semua mendapatkan segel jiwa," Putri mengutarakan niat para pengikutnya mendatangi Wira
"Baiklah jika itu yang mereka inginkan," jawab Wira pendek.
Wira memberikan Segel Jiwa Panunggalan Sukma Sejati pada semua pengikut istrinya, setelah memasang segel Wira meneteskan darahnya ditengah-tengah Segel Jiwa, untuk mengaktifkan Segel Jiwa Panunggalan Sukma Sejati. Energi yang meledak-ledak mengalir ditubuh mereka, Wira menyuruh mereka untuk menyerap energi itu kedalam Chakra Pusar, beberapa jam kemudian mereka telah selesai menyerap seluruh energi yang diakibatkan oleh esensi darah Wira yang masuk kedalam tubuh mereka.
Mereka semua naik satu tingkat begitu selesai menyerap energi dari esensi darah Wira,
Selesai memberikan segel jiwa pada pengikut istrinya Wira memberi mereka sedikit pengarahan.
"Tugas kalian yang paling utama adalah menjaga keselamatan Istriku, menghormati istriku seperti menghormati diriku, walaupun kalian adalah pengikut istriku tapi kami menganggap kalian seperti saudara, seperti itulah juga kalian memperlakukan kami," ucap Wira pada mereka semua.
"Kalian boleh menggunakan semua fasilitas yang ada di Istana Giok, berendam di Danau Emas, menikmati semua yang ada di Dunia Dimensi Jiwa, tentu dengan batas-batas etika yang pasti sudah sangat kalian fahami," demikian Wira menambahkan.
Selesai Wira memberi arahan, mereka kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
"Sekarang saatnya berkencan," ujar Wira sambil memeluk kedua istrinya, hal yang paling Putri dan Nilotama sukai saat mereka 'bertigaan' adalah memeluk tubuh wira sambil menikmati aroma terapi dari wangi lembut aroma cendana yang terpancar dari tubuh Wira.
"Terimakasih Mustika Cendana," ucap Wira dalam hati, melihat kedua istrinya sangat suka dengan aroma yang keluar dari tubuhnya,
Tak ada lagi kesenangan di dunia ini selain dikasihi dengan tulus oleh kedua istri, mereka adalah dua sahabat yang saling mengasihi sejak awalnya, sifat mereka saling melengkapi, Putri memiliki sifat tenang, suka memberi dan mengayomi, Nilotama memiliki sifat ceria, terbuka dan suka mengalah.
"Tuhan demikian baik kepadaku memberi istri yang sangat mencintaiku, tidak banyak menuntut dan sangat pengertian," ucap Wira penuh syukur dalam hatinya.
Wira merebahkan diri di lantai gasebo, kedua tangannya di rentangkan agar menjadi bantal bagi kedua istrinya, Putri dan Nilotama ikut merebahkan diri, sambil memeluk tubuh Wira dengan kasih sayang yang besar, mendapat perlakuan demikian dari istrinya Wira mencium pipi Putri dan Nilotama bergantian.
Wira terkadang sedih memikirkan dirinya dan kedua istrinya yang berbeda alam, tidak mungkin Wira terus berada di alam apsara, suatu saat nanti dia pasti akan pulang ke alam tempat Ayah dan Ibundanya berada, Wira sangat ingin membawa serta kedua istrinya, hanya saja Wira khawatir tidak diizinkan karna Putri dan Nilotama sama-sama anak tunggal.
Wira memandang sedih kedua istrinya yang sudah tertidur lelap di pelukannya.
"Jangan merusak kebahagiaan dengan hal-hal yang belum terjadi, nikmati kebahagiaan yang diberikan Tuhan hari ini, dan jangan merusaknya dengan hayalan-hayalan yang belum terjadi," begitulah Wira mensugesti dirinya.
Akhirnya mereka bertiga tidur dilantai Gasebo Giok.
Gasebo Giok, demikian Wira memberi nama untuk gasebo khusus, yang terbuat dari giok putih berlapis emas, yang Wira buat untuk kedua istrinya tatkala mereka ingin menikmati keindahan Danau Emas dan lingkungan sekitarnya, yang berisi tumbuh-tumbuhan ajaib dan pohon Cendana Biru di bagian barat Danau Emas.
Saat mereka bertiga terlelap, Naga Kecil muncul dari dalam Danau Emas, Naga Kecil mengibaskan kepala dan tubuhnya agar tidak basah, kemudian Naga Kecil melingkarkan tubuhnya melindungi ketiga orang yang dia anggap Induknya.
Naga Kecil tumbuh dengan pesat karna energi yang melimpah dari Danau Emas dan buah-buahan ajaib yang selalu dimakannya, tubuh Naga Kecil sudah mencapai tiga puluh meter, tanduk kecil sudah mulai tumbuh di kepalanya, Surai yang tadinya hanya berupa bulu-bulu halus sekarang sudah tumbuh agak panjang, membuat tampilan Naga Kecil semakin gagah, tapi semakin menakutkan untuk ukuran manusia, kekuatan Naga Kecil sekarang setara Pendekar Suci tingkat dua.
Naga Kecil menjilati Wira, Putri dan Nilotama, sebagai ungkapan kasih sayangnya pada mereka bertiga, merasa ada sentuhan-sentuhan pada kulitnya Wira bangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sedang ada dalam lingkaran tubuh Naga Kecil, Putri dan Nilotama ikut bangun merasakan gerakan yang dilakukan Wira.
"Naga Kecil kamu semakin besar saja setiap kali ketemu," Nilotama memuji Naga Kecil sambil memeluknya, Wira dan Putri mengelus kepala Naga Kecil yang ada di pelukan Nilotama.
Setelah puas mereka bermain Naga Kecil kembali menyelam ke dasar Danau Emas untuk menyerap energi.