Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 50. Bertemu Mahesa Jenar



Dengan kecepatan tinggi Singa Emas menuju Kerajaan Indra Pura untuk membawa Kirani ke wilayah yang aman.


Wira duduk dileher Singa Emas sambil melihat jauh kearah utara, enam jam berlalu dengan cepat.


Wira melihat Benteng di kejauhan,


"Hitam apa itu yang dimaksud Benteng Utara ?" tanya Wira pada Tikus Hitam,


"Aku juga tidak tau Raja, tapi dari informasi yang dikumpulkan oleh anggotaku hanya ada satu benteng di perbatasan utara Kerajaan Malawa Dewa, berdasarkan informasi itu hamba yakin itu adalah Benteng Utara," jawab Tikus Hitam.


"Lantas dimana posisi benteng pertahanan Kerajaan Indra Pura paling selatan ?" Wira bertanya kembali,


"Sekitar seratus kilo dari perbatasan kerajaan Malawa Dewa, kita akan melewati hutan sejauh limapuluh kilometer sebagai wilayah tak bertuan yang merupakan batas antara Kerajaan Malawa Dewa dan Kerajaan Indra Pura," Tikus Hitam menjelaskan.


Sementara Wira berdiskusi dengan peliharaannya, Kirani dan Bibinya berbincang tentang Wira yang menurut Kahita bibinya Kirani, Wira sosok anak muda yang sempurna.


"Dia sangat tampan, berkepribadian baik dan kemampuannya sangat tinggi, sangat cocok untuk menjadi kekasihmu," Kahita memberi pendapat.


"Bibi dia memang sempurna, justru karna dia sempurna sangat mungkin dia sudah punya kekasih, lagian usia dia dibawah usiaku, dia tidak mungkin mau denganku ," ucap Kirani malu, karna mengungkapkan perasaannya.


"Jangan berspekulasi sebelum tahu kebenarannya," Kahita menjelaskan.


Satu jam kemudian Wira melihat benteng, setelah melewati hutan hampir lima puluh kilo jauhnya.


"Hitam ada Benteng disana!" Wira menunjuk sesuatu di kejauhan, penglihatan Wira memang sangat tajam, mungkin hanya Srigunting Perak yang bisa mengimbangi penglihatan Wira, Singa Emas terbang sedikit serong kearah timur sesuai petunjuk Wira, sementara Tikus Hitam hanya diam belum berkomentar karna belum melihat apa-apa.


Setelah beberapa menit kemudian benteng pertahanan milik kerajaan Indra Pura mulai terlihat jelas, makin dekat kearah benteng makin jelas terlihat.


Wira menunjuk kearah benteng dan memberi isyarat tangan pada Kirani,


Kirani berdiri dan melihat kearah yang ditunjuk oleh Wira, Benteng Selatan terlihat jelas,


Kirani mengangguk dan mengangkat jempolnya, sebagai tanda bahwa itu Benteng Selatan wilayah Kerajaan Indra Pura.


"Singa Emas cari tempat mendarat yang agak sepi didekat benteng agar tidak bikin gaduh,"


Singa Emas segera turun ditempat yang sepi sekitar sepuluh kilometer dari benteng.


Wira menghilangkan Aray Pelindung, kemudian menyuruh Kirani dan Bibinya turun lebih dulu, Tikus Hitam dimasukkan ke kantong pakaiannya Bunglon Pelangi tidak terlihat karna penyamarannya yang sempurna sementara Srigunting Perak yang hanya sebesar burung pipit bertengger di bahu Wira.


"Singa Emas kamu boleh pergi," ucap Wira melambaikan tangan ke arah luar sebagai isyarat untuk pergi, Wira mengirim Singa Emas ke Dimensi Jiwanya.


"Ayo pimpin jalan," ucap Wira pada Kirani


Kirani berjalan didepan bersama bibinya, Kahita, Wira dibelakang mereka sambil memantau situasi.


Baru berjalan beberapa saat, mereka disambut oleh beberapa orang yang berpakaian seperti pemburu, ada beberapa berpakaian seperti petani. Mereka memperkenalkan dirinya pada Kirana sebagai prajurit pengintai


"Mari kami antar Nona ke Benteng," ucap prajurit pengintai sopan.


"Panglima sudah memberi tahu pada Kepala Benteng mengenai kepergian Nona menjemput Adik Panglima, dan kami sudah diberi tahu oleh Kepala Benteng agar mengawal Nona ketika Nona tiba disini agar tidak mendapat hambatan dalam perjalanan," ucap salah seorang prajurit pengintai menjelaskan.


Wira ingin kembali secepatnya menuju Benteng Utara kerajaan Malawa Dewa, setelah melihat prajurit pengintai mengawal Kirana dan bibinya, tapi niatnya diurungkan mengingat pengalamannya dengan prajurit Malawa Dewa, segala hal mungkin saja terjadi.


Wira memutuskan untuk mengantar Kirana sampai di Benteng Selatan Kerajaan Indra Pura.


Kahita yang tidak memiliki kemampuan sebagai pendekar menyebabkan perjalanan mereka agak lambat.


Tiga jam telah berlalu, akhirnya mereka tiba di Benteng Selatan Kerajaan Indra Pura, penjaga gerbang membuka pintu dan mempersilahkan Kirani dan rombongannya masuk, kemudian mereka diantar menuju kediaman Jenderal Mahesa Jenar yang merupakan Kepala Benteng Selatan.


Benteng Selatan hampir menyerupai sebuah Kota, sebagian besar penghuninya adalah prajurit, keseluruhan penghuni benteng sekitar lima ratus ribu orang, tiga ratus ribu diantaranya adalah prajurit, sisanya pedagang, pembuat senjata, pembuat obat, tabib, hampir semua penghuni benteng pekerjaannya berkaitan dengan keprajuritan.


Baru kali ini Wira menyaksikan kehidupan didalam benteng ternyata tidak jauh beda dengan kehidupan disebuah kota, hanya saja kehidupan didalam benteng sangat tertib dan berdisiplin karna sebagian besar dari mereka adalah prajurit yang terbiasa dengan disiplin tinggi.


Hirarki kehidupan di dalam benteng lebih dominan berpatokan pada jabatan dan kekuatan, mereka yang memiliki kedudukan dalam pasukan atau memiliki kemampuan bertarung yang tinggi mendapatkan penghormatan lebih tinggi dari yang lain, agak berbeda dengan di wilayah kota, mereka memandang tinggi pada orang yang berdarah bangsawan, memiliki jabatan atau memiliki banyak harta.


Sambil berjalan menuju kediaman Jenderal Mahesa Jenar pikiran Wira ngelantur kemana-mana.


Prajurit yang mengantar Kirani berhenti pada sebuah bangunan besar dan kokoh, dua orang prajurit penjaga gerbang menunduk hormat pada prajurit yang mengantar Kirani, dan mempersilahkan mereka masuk setelah menanyakan tujuannya.


Mereka diantar menuju ruangan yang lumayan besar untuk menerima tamu.


Beberapa saat kemudian datang seorang pria tinggi kekar dengan kumis dan janggut menghiasi wajahnya, masih terlihat tampan diusianya yang terlihat sekitar 45 tahun.


"Salam Paman," Kirani menyapa hormat pada Jenderal Mahesa Jenar, diikuti Kahita dan Wira


"Duduklah !, jangan terlalu sungkan," ucap Jenderal Mahesa Jenar ramah,


"Kirani, kamu benar-benar gadis pemberani, menjemput Bibimu ke wilayah yang sangat rawan, banyak hal buruk bisa terjadi di sana," ucap Jenderal Mahesa Jenar kagum.


"Kenapa Ranubaya tidak ikut kesini, dimana pengawalmu ?" tanya Jenderal Mahesa Jenar melanjutkan.


"Paman Ranubaya belum sampai disini, kami diantar oleh Tuan Muda Mahawira," jawab Kirani sambil memperkenalkan Wira.


"Ah maaf anak muda, aku tadi berpikir kamu adalah kerabat Kahita dari Malawa Dewa," ucap Jenderal Mahesa Jenar pada Wira.


Wira membalas dengan senyuman ramah.


"Bagaimana perjalananmu Kirani apa ada hambatan ?" Jenderal Mahesa Jenar penasaran dengan kondisi Malawa Dewa saat ini.


"Kalau tidak ditolong oleh Tuan Muda Mahawira mungkin kami tidak bisa pulang paman," jawab Kirani, kemudian menceritakan kisah perjalanannya pulang ke Kerajaan Indra Pura yang penuh bahaya.


"Durgati memang ambisius, Malawa Dewa dikuasai karna ingin mengeruk kekayaannya, tidak mustahil suatu saat nanti dia akan menjajah Kerajaan kita ketika dia sudah cukup kuat, kondisi Malawa Dewa yang kacau begitu akibat dampak dari peperangan dan kekejaman penguasa baru bersama pendukungnya" ucap Jenderal Mahesa Jenar menimpali cerita Kirani.


"Menurut informasi yang kami kumpulkan Benteng Utara sekarang menambahkan jumlah prajuritnya menjadi empat ratus ribu ditambah para pendekar dari aliran hitam yang dikirim kesana untuk membantu memperkuat Benteng Utara, jumlah kekuatan mereka sekarang sekitar enam ratus ribu orang, dan mungkin akan terus bertambah mengingat masih ada beberapa sekte hitam yang belum mengirimkan orang-orangnya," Wira menjelaskan sambil memanaskan kondisi.


"Kapan informasi itu kamu terima ?" Jenderal Mahesa Jenar penasaran dengan informasi yang diterima Wira, karna dia belum menerima laporan dari telik sandi yang dia tempatkan disana.


"Sekitar dua hari yang lalu," jawab Wira.


"Apa alasan Pangeran Gantar menempatkan prajurit sebanyak itu di Benteng Utara, mestinya dia menaruh lebih banyak pasukan di ibukota Kerajaan karena kondisinya belum begitu aman, potensi perang di ibukota lebih besar, apa mereka ingin menyerang Indra Pura juga, secepatnya harus aku laporkan pada atasan begitu ada konfirmasi dari telik sandi, mereka berani menyerang Putri Panglima Bayu Murti artinya Jenderal Tumbak Bayuh tidak memandang kita," Jenderal Mahesa Jenar berpikir dalam hati.


"Maaf Tuan Jenderal, lebih baik Tuan Jenderal menambah prajurit di benteng ini untuk antisipasi jika Raja Durgati dan Pangeran Gantar benar-benar menyerang Indra Pura, seperti Malawa Dewa jatuh dengan mudah, karna tidak menyangka akan diserang oleh Raja Durgati, mengingat hubungan baik antara dua kerajaan, mereka memanfaatkan kelengahan kita," ucap Wira memberi saran.


"Aku setuju dengan saran yang kamu sampaikan, tetapi kami juga harus menunggu telik sandi dan Ranubaya, kami juga tidak boleh bertindak terburu-buru dan gegabah," ucap Jenderal Mahesa Jenar.


"Paman benar, setiap informasi harus dikaji dulu dengan matang, aku hanya terbawa perasaan mengingat salah satu sebab jatuhnya Malawa Dewa karna kurang persiapan," ucap Wira sopan.


"Anak Muda dengan usia yang masih sangat muda kamu bisa menganalisa suatu hal dengan cermat dan teliti, kurasa kamu bukan orang biasa, boleh aku tahu siapa sesungguhnya kamu ?" Jenderal Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan penasarannya.


"Aku keluarga Kerajaan Malawa Dewa yang dijatuhkan oleh Durgati Paman, kami sedang bersiap untuk menyerang Pangeran Gantar dan sekte penghianat kerajaan, tidak lama lagi kami akan bergerak," kawab Wira sambil memperlihatkan Lencana Pangeran Mahkota.


"Mohon maafkan kami Pangeran Mahkota, karna tidak memperlakukan Pangeran dengan semestinya," ucap Jenderal Mahesa Jenar.


"Kenapa Pangeran tidak memberi tahu kami dari awal ?" tanya Kirani.


"Situasi yang menyebabkan kami harus menyembunyikan identitas kami sementara waktu," jawab Wira.


"Bersediakah Pangeran menunggu satu atau dua hari ?, kami berharap bisa bersama Pangeran datang ke Ibukota Kerajaan untuk membantu kami menjelaskan situasinya kepada Raja dan Panglima kami ?" tanya Jenderal Mahesa Jenar penuh harap.


"Baiklah Paman," ucap Wira


Setelah itu mereka berbincang ringan untuk beberapa saat, kemudian Jenderal Mahesa Jenar menyuruh pelayan untuk menyediakan paviliun bagi Pangeran Mahkota untuk istirahat.


Wira memanfaatkan waktu istirahatnya selama dua hari ini untuk berlatih. Wira memasuki Dunia Dimensi Jiwa setelah memasang Aray Pelindung di kamarnya, dia juga sudah pesan pada pelayan agar tidak menggangu jika tidak sangat penting.