
"Kakak Wira, Jendral Muda Lalang Linggar memandangimu dari tadi, ku harap dia tidak menantangmu," ucap Nilotama sambil memegangi tangan wira
Nilotama sebenarnya ingin melihat kemampuan Wira, tapi tidak bertarung dengan Pendekar Suci,
Dengan usia yang baru 16 tahun mustahil bagi Wira memenangkan pertarungan jika berhadapan dengan Pendekar Suci.
"Seharusnya tadi kakak Wira naik ke arena ketika prajurit level Pendekar Raja, sedang diatas arena," bisik Nilotama pada Wira,
"Tenanglah, andai Jenderal Muda Lalang Linggar menantangku, ini hanya pertandingan, bukan pertarungan hidup mati," jawab Wira pelan.
Rupanya kekhawatiran Nilotama benar terjadi, Jenderal Muda Lalang Linggar menantang Wira,
"Aku yakin kamu tidak akan menolak untuk ikut memeriahkan pertandingan ini, izinkan kami melihat kemampuanmu teman," ucap Lalang Linggar sopan pada Wira.
Wira meloncat naik ke arena,
"Mohon pelajaran dari Jenderal Muda Lalang Linggar," kata Wira santun.
Kemudian Wira memberi hormat kearah Raja dan para Pembesar, "Aku tau kehadiranku disini membuat banyak diantara kalian tidak nyaman,"
Kuharap setelah pertandingan ini Raja bermurah hati mengizinkan hamba pergi dari sini."
"Kita bicarakan itu nanti anak muda, sekarang mari kita lanjutkan dulu pertandingannya," ucap Raja.
Mendengar sabda Raja wasit segera menyuruh pertandingan supaya dimulai,
"Tuan Muda silahkan menyerang duluan," kata Lalang Linggar memberi kesempatan pada Wira untuk mulai duluan.
Karna tidak ingin melukai perasaan Lalang Linggar dan seluruh penghuni dunia gaib, Wira tidak mau menyelesaikan pertandingan dengan cepat walau dia yakin mampu memusnahkan seluruh penghuni dunia kecil ini sekalipun.
Orang-orang di dunia kecil ini sangat beretika dan ramah hal itu membuat Wira menaruh hormat pada penghuni dunia kecil ini.
Wira memberi serangan ringan pada lawannya dan ditanggapi santai oleh Lalang Linggar, selanjutnya Lalang Linggar melakukan serangan ringan demi tidak terlihat menindas yang lebih muda.
Wira selalu dapat menangkis serangan yang tertuju kepadanya dengan gerakan yang efisien tanpa terlalu banyak bergerak, hal ini membuat Lalang Linggar penasaran.
Lalang Linggar mulai menaikkan kecepatannya, tapi masih belum juga mampu menyentuh tubuh lawannya, akhirnya Lalang Linggar mengeluarkan seluruh kemampuannya dengan maksimal.
Nilotama tak henti-hentinya merasa khawatir setiap kali Lalang Linggar menyerang, entah kenapa dia merasa tidak ingin melihat orang baik seperti Wira terluka.
Diatas arena pertarungan semakin seru, Lalang Linggar sudah mulai menggunakan senjata tombak andalannya Pusaka Bumi tingkat menengah. Demi untuk menghargai lawannya Wira mengeluarkan pedang dari cincin dimensinya, senjata Pusaka Bumi tingkat menengah.
"Terlalu berlebihan jika mengeluarkan Senjata Kapak, karna jurus-jurusnya sangat merusak, bisa hancur arena ini, aku tidak ingin dibenci oleh penghuni dunia kecil ini," Wira membatin
Berbagai jurus sudah dikeluarkan oleh Lalang Linggar namun selalu bisa dimentahkan oleh Wira,
Boom.....boom....
Lalang Linggar menggunakan jurus pamungkas yang dimilikinya, Wira bertahan dengan mengeluarkan tenaga dalam secukupnya
Bruug.....
Lalang Linggar terpental keluar arena karna benturan energi Yang dihasilkan oleh serangannya sendiri.
"Wira menang," wasit mengumumkan
"Kakak Wira menang," reflek Nilotama berteriak kegirangan, tanpa disadari membuat banyak orang melihat kepadanya.
Nilotama menyadari kekeliruannya, tidak seharusnya dia memperlihatkan kegembiraan atas kemenangan Wira yang notabene berasal dari luar dunianya.
"Maaf......maaf...."
Nilotama memohon maaf pada orang-orang yang melihatnya.
Semua orang terkejut menyaksikan kekalahan Lalang Linggar, tidak menyangka anak yang begitu muda mampu mengalahkan Lalang Linggar.
Penonton terdengar ramai berbisik-bisik,
"Untung aku tidak menantangnya," ucap salah satu prajurit yang iri melihat kedekatan Nilotama dengan wira.
Putri Citra Sasmita ikut terkejut menyaksikan orang yang dia anggap lemah mampu memenangkan pertarungan melawan Pendekar Suci.
Raja Wreksasena terlihat biasa saja demikian juga Panglima Ringkin dan Sarwadahana, mereka seolah tau bahwa Wira mampu memenangkan pertarungan itu.
Keributan penonton menjadi reda begitu melihat seorang Jenderal Muda lainnya sudah berada diatas arena,
"Aku menantangmu anak muda, maaf aku tidak bisa berkata-kata manis seperti Lalang Linggar, aku orang yang kasar," kata Kusuma Giri terus terang.
Berlawanan dengan nama Kusuma Giri yang berarti kembang gunung, mestinya dia bertata Krama halus, malah sebaliknya sifat Kusuma Giri agak kasar dan terus terang, meski terus terang kadang menyakitkan.
Wira menerima tantangan Kusuma Giri, sebelum bertarung Kusuma Giri Memberi hormat pada Raja dan para pembesar yang ada di podium, terakhir pada wasit.
Kusuma Giri menghunus golok besar dari sarungnya, "Golok Pembunuh Naga, Pusaka Bumi tingkat Tinggi," penonton mulai riuh melihat Kusuma Giri mengeluarkan Senjata Pusaka Bumi tingkat Tinggi.
"Akhirnya mulai keluar berbagai Senjata Pusaka," penonton mengomentari,
"Hati-hati kakak Wira," jerit Nilotama dari tempat duduknya.
Putri Citra Sasmita memperhatikan tindak tanduk Nilotama yang terkesan akrab dengan Pemuda pengembara yang melihatnya saat mandi di danau
Melihat kedua petarung sudah siap wasit menyuruh mereka mulai, Kusuma Giri mengalirkan tenaga dalamnya pada Golok Pusakanya, warna merah mulai terpancar bilah golok yang besar.
Melihat hal itu Wira juga ikut mengalirkan tenaga dalam cukup besar ke pedangnya supaya tidak rusak disaat berbenturan.
Kusuma Giri mulai melakukan serangan menebas secara vertikal kearah kepala, Wira menangkis dengan pedangnya, demikian serangan silih berganti dilancarkan oleh keduanya.
Kusuma Giri merasa menggunakan Senjata Pusaka dengan tingkat yang lebih tinggi terus menyerang dengan harapan dapat mematahkan senjata yang dipakai wira.
Percikan api akibat benturan senjata terus terjadi
Trang....Trang.....Trang
Trang....Trang.....Trang
Klang.......
Berbarengan dengan putusnya golok Kusuma Giri, tendangan keras Wira mendarat di dada Kusuma Giri dengan telak
Hoek.......
Darah keluar dari mulut Kusuma Giri menandakan dia terluka dalam, Wira mendekati Kusuma Giri dan memberi pil penyembuh, Kusuma Giri memandang pil yang disodorkan oleh Wira.
"Makanlah !, ini pil yang bagus untuk menyembuhkan luka dalam," ucap Wira,
Kusuma Giri segera menelan pil yang berwarna hijau muda dan mulai menyerap khasiatnya.
Dada Kusuma Giri yang tadinya terasa sakit sekarang mulai terasa lebih baik.
"Terimakasih," ucap Kusuma Giri, Wira menganggukkan kepalanya.
"Wira memenangkan pertandingan ini," wasit mengumumkan.
Tidak ada respon dari penonton, semua diam
Menyaksikan Golok Pembunuh Naga, Pusaka Bumi tingkat Tinggi ditebas putus dengan Pedang Pusaka Bumi tingkat menengah.
Para prajurit heran luar biasa, namun tidak demikian dengan Raja Wreksasena,
"Anak muda ini memiliki tenaga dalam yang sangat besar dan mampu mengendalikan dengan sangat baik, kemungkinan dia sudah berlatih menyerap Energi Qi," batin Raja Wreksasena.
"Kusuma Giri level Pendekar Suci tingkat 3 dikalahkan dengan mudah, bahkan mampu memotong Pusaka Bumi tingkat Tinggi, memakai Senjata Pusaka Bumi tingkat menengah, aku sendiri tidak mampu melakukannya," Panglima Ringkin menggumam.
"Dia bukan orang biasa Yang Mulia," kata Panglima Ringkin berbisik pada Raja Wreksasena yang duduk bersebelahan dengannya,
"Suruh Jenderal Utama untuk mengujinya," ucap Raja berbisik, Panglima Ringkin menyuruh Jenderal Utama Kitchaka Pendekar Suci tingkat 7 untuk naik ke arena.
Sebelum naik ke arena Kitchaka mohon izin dengan Raja dan Panglima,
"Anak muda kemampuanmu luar biasa, izinkan aku untuk menjajal pengalamanmu," kata Jenderal Kitchaka sambil tersenyum
"Mohon bimbinganmu Jenderal," kata Wira pada pria kekar didepannya,
Hahaha.....
"Masih belum jelas siapa yang akan membimbing siapa anak muda," ucap Jenderal Kitchaka sambil tertawa.
"Silahkan kalian mulai jika kalian sudah siap," kata wasit mengingatkan.