
Sementara tak jauh dari mereka, telur kristal terus menyerap energi yang terpancar dari Danau Emas yang sangat melimpah.
Wira terbangun setelah tidur hampir empat jam, dia merasa lengannya berat, ketika dia membuka mata dia melihat kedua istrinya sedang tidur Manis memeluk tubuhnya.
Wira menciumi wajah istrinya bergantian sampai akhirnya mereka berdua terbangun.
"Aku mau berlatih, kalian lanjutkan latihan
menempa tulang seperti yang aku ajarkan supaya kwalitas tulang kalian cepat meningkat," kata Wira sembari memeluk mereka dan mencium keningnya.
Kemudian Wira bergerak menuju Istana Giok untuk latihan.
Putri dan Nilotama memetik Pisang Dewa, Anggur Perak, Apel Emas, dan Boni Kristal untuk mereka makan sesuai saran Wira agar kwalitas tulang mereka semakin kuat.
Diruang kultivasi Wira menyerap Kristal berwarna hitam yang berisi Inti Api Dingin Dewa Safir, menyerap Inti Api Dingin dan memurnikannya lebih susah, karena Inti Api Poeniks Biru bereaksi saat pemurnian berlangsung, Wira berusaha keras menyelaraskan keduanya.
Dua hari kemudian Wira berhasil menyerap seluruh kekuatan Inti Api Dingin Dewa Safir, selanjutnya Wira berlatih menyalurkan api dingin ini melalui tangan kaki atau bagian tubuh yang lain, hanya butuh lima hari bagi Wira untuk menguasai Inti Api Dingin Dewa Safir dengan sempurna.
Wira memutuskan untuk berlatih jurus Langkah Kilat dan jurus meringankan tubuh Belalang Bayangan, Wira pindah ke ruang beladiri dan mengeluarkan kitab Langkah Kilat dari Cincin Dimensi Samudra, Wira membuka kitab itu tapi tidak ada tulisan apapun, dibuka lagi lembar kedua kosong, dibuka lagi lembar ketiga, sama tidak ada tulisan apapun, Wira mengeluarkan lagi kitab ilmu meringankan tubuh Belalang Bayangan ternyata kosong juga.
"Bagaimana caranya menguasai jurus ini kalau satu huruf saja tidak ada?!" Wira membatin.
"Apa Singa Emas tau cara mempelajari jurus ini ?" tanya Wira dalam hati,
Wira mencoba menggunakan kesadaran dewa untuk melihat lembaran yang ada didalam Kitab Langkah Kilat, tiba-tiba cahaya kecil-kecil berwarna kuning keluar dari kitab itu terus memasuki kepala Wira, setelah cahaya itu berhenti memasuki kepala Wira, seketika Wira memiliki ingatan serta pemahaman mengenai Jurus Langkah Kilat.
Wira mengambil lagi kitab Belalang Bayangan, melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menggunakan kesadaran dewa, kembali cahaya kecil-kecil memasuki kepala Wira.
Setelah pengetahuan mengenai ilmu Langkah Kilat dan ilmu meringankan tubuh Belalang Bayangan dipahami, Wira keluar dari Istana Giok menuju tempat yang luas di dekat Gunung Kuning, agar leluasa berlatih tanpa takut merusak benda-benda yang ada di Istana Giok.
Selama dua bulan Wira melatih kedua jurus ini sampai akhirnya bisa dikuasai dengan sempurna, diselingi dengan membantu kedua istrinya berlatih atau kadang bercengkrama untuk menyenangkan istrinya.
Saat ini Wira sedang berada bersama Singa Emas didalam 'Hutan Kristal', itu nama yang Wira berikan untuk hutan yang dipenuhi pohon-pohon berbuah seperti kristal dan binatang dari dari alam dewa.
"Singa Emas dari sekian banyak binatang ajaib yang ada disini adakah yang memiliki kemampuan untuk dilatih menjadi mata-mata dan pembawa pesan," tanya Wira
"Kita kumpulkan saja mereka, kemudian kita tanya langsung pada mereka," jawab Singa Emas sederhana.
"Lakukanlah....."
Singa Emas mengumpulkan semua pemimpin binatang tanpa terkecuali.
"Kalian aku kumpulkan atas perintah Raja kita baru, pemilik Dunia Dimensi Jiwa, tempat kita saat ini tinggal, beliau ingin mengetahui siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan menyusup untuk dilatih menjadi mata-mata?" tanya Singa Emas pada seluruh binatang yang hadir.
"Ck..ck..ck.., binatang ini semuanya memiliki kekuatan setara Pendekar Suci," Wira heran didalam hatinya
"Salam pemimpin... , salam Yang Mulia Raja," Seekor tikus sebesar harimau berbulu hitam berdiri mendekat.
Singa Emas dan Wira mengangguk menerima salam si tikus,
"Apa kemampuanmu, Pemimpin tikus?" tanya Singa Emas
"Spesies kami bisa mengumpulkan informasi dengan cepat bahkan ditempat paling rahasia sekalipun dengan cara menerima informasi dari tikus-tikus dan binatang yang lain, hanya saja kami tidak bisa menyamarkan diri terlalu lama.
Singa Emas menyampaikan kepada semua binatang agar bicara melalui telepati supaya bisa berbicara langsung dengan Raja Mahawira.
Tikus menyampaikan pada Wira mengenai keahliannya.
"Kamu bertugas untuk mengumpulkan informasi yang aku butuhkan, kamu menjadi Ketua Team Pengumpul Informasi."
Pemimpin tikus sangat senang menerima tugas dari Wira karna bisa melayani rajanya.
"Tapi dengan tubuhmu yang sebesar ini bagaimana kamu bisa menjalankan tugasmu dengan baik ?" tanya Wira.
Tikus merubah dirinya menjadi sebesar kecoak.
"Luar biasa......" teriak Wira puas,
"Aku beri nama kamu 'Tikus Hitam' !" Wira berkata senang.
Semua penghuni Hutan Kristal bergembira dengan kedatangan raja mereka yang ramah.
"Aku menginginkan salah satu dari kalian yang punya kemampuan menyamar agar maju kedepan," ucap Wira.
Seekor bunglon sebesar jangkrik meloncat ke tangan wira kemudian hilang.
"Jangan kurang ajar dihadapan Raja !" bentak Singa Emas marah,
"Biarkan..., Dia tidak menggangguku," Kata Wira sambil memberi isyarat diam pada Singa Emas.
Bunglon itu sangat senang menerima tugas dari raja mereka.
"Itu bukan ukuran aslinya," ucap Singa Emas,
"Perlihatkan ukuran aslimu !" perintah Wira pada si bunglon.
Si Bunglon meloncat dari tangan Wira dan berubah menjadi sebesar komodo dengan kulit berwarna pelangi. Wira memberikan nama Bunglon Pelangi.
Si Bunglon sangat senang mendapat anugrah nama dari rajanya.
"Yang terakhir aku ingin hewan yang bisa bergerak cepat dan mampu menjangkau tempat yang jauh," Wira menjelaskan.
Wuuuusss...
"Namaku Srigunting Perak," seekor burung berwarna putih perak terbang dan hinggap dipundak Wira.
"Apa kemampuanmu?" tanya Wira,
"Hamba bisa bergerak cepat dan terbang berbulan-bulan, kemampuan hamba yang lain mampu merubah ukuran benda, mengecilkan atau membesarkan benda sampai batas waktu sebulan, setelah itu benda akan kembali pada ukuran normal.
"Kamu menjadi Ketua Team Pengantar Pesan, karna kamu sudah punya nama aku tidak memberi nama untukmu,"
Wira geleng-geleng kepala melihat keajaiban yang dimiliki oleh binatang-binatang yang ada di Hutan Kristal.
Binatang yang terpilih menjadi team pembantu, semuanya diberi Segel Jiwa Panunggalan Sukma Sejati oleh Wira untuk antisipasi ketika mereka keluar dari Dunia Dimensi Jiwa.
Sudah hampir tiga bulan Wira berada di Dunia jiwa, dan sudah menguasai, Api Poeniks Biru, Api Dingin Dewa Safir, jurus Langkah Kilat, jurus Belalang Bayangan.
"Aku ingin berlatih membuat Eliksir, itu sangat membantu mengobati prajurit yang terluka saat perang, walaupun dalam Cincin Dimensi Samudra ada banyak sekali pil jika terus digunakan akan habis juga," pikir Wira
Wira mulai membaca kitab tehnik pembuatan Eliksir di gasebo dipinggir Danau Emas, sambil menunggui dan sesekali memberi petunjuk pada istrinya yang sedang berlatih penempaan tulang.
Kraaaaaak..., kraaaaaak... .
Wira mendengar bunyi benda keras yang retak, dia memasang telinganya baik-baik,
Kraaaaaak..., kraaaaaak... .
Wira mendekati telur yang berbentuk Kristal yang dia taruh dipinggir Danau Emas.
"Wah rupanya telur ini akan menetas !" ucap Wira gembira, Wira menunggu telur itu beberapa saat.
Kraaaaaak... , kraaaaaak... , praaak... .
Seekor Naga kecil berkepala sepuluh keluar dari telur kristal, kemudian dia mulai memakan cangkang telurnya yang berupa kristal, setelah habis memakan cangkang telurnya, naga kecil mendekati Wira dan menjilatinya.
Kiaaaak... , kiaaaak... .
"Suaranya lebih mirip anak elang ketimbang naga," batin Wira.
"Sudah... , sudah... , hentikan," teriak Wira menahan geli.
Mendengar suara ribut-ribut Nilotama dan Putri menghentikan latihannya dan mendekati Wira yang ternyata sedang bermain dengan seekor naga berkepala sepuluh.
"Telurnya sudah menetas Kanda ?" Putri bertanya sembari mendekati Wira, diikuti Nilotama.
"Ternyata naga yang sangat unik yang menetas dari telur kristal hijau," Wira menjawab sambil mengacungkan naga kecil keatas.
Ukuran Naga kecil itu sebesar lengan orang dewasa dengan panjang mencapai sepuluh meter, mirip seperti ular hanya ekornya pipih, berkaki dua pasang, memiliki sayap dua pasang dipunggungnya, serta kepala bertanduk dan mirip singa dengan moncong yang lebih panjang.
Ketika mereka asyik bermain dengan naga kecil, Singa Emas datang kemudian berbicara dengan Wira,
"Raja dari mana datangnya Naga Sahasra Prabu ini?" tanya Singa Emas.
"Aku mendapatkan di pelelangan, katanya didapatkan dari kuburan kuno, tersegel pada peti mati bersama dua kristal yang lain," Wira menjelaskan.
"Dia adalah trah naga suci biasa disebut Naga Sahasra Prabu, dia adalah keturunan naga terkuat di jagat raya, sangat beruntung Raja memilikinya, ketika kekuatannya cukup dia bisa mengeluarkan seribu kepalanya," Singa Emas menjelaskan.
"Mumpung masih kecil untuk berjaga-jaga, sebaiknya Raja memberi segel jiwa pada naga ini, dia bisa tumbuh dengan cepat ketika ada cukup energi yang diserapnya," Singa Emas menambahkan.
Wira kemudian menyentuh kepala naga kecil dan memberikan Segel Panunggalan Sukma Sejati pada naga kecil kemudian meneteskan darahnya ditengah-tengah segel.
Begitu segel dan darah Wira terserap, naga kecil menjadi semakin kuat dia memancarkan aura setara Pendekar Raja tingkat puncak.
"Baru lahir sudah selevel Pendekar Raja tingkat puncak bagaimana besarnya nanti," gumam Wira menggelengkan kepala.
Naga kecil menganggap Wira, Putri dan Nilotama sebagai induknya, karna aura ketiganya sudah dikenali sejak masih dalam telur.