Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 55. Asal-usul Naga Kecil



Setelah selesai Wira dengan tugasnya, Wira mohon diri dengan Raja Bismanta dan Panglima Bayu Murti, dengan alasan ada hal penting yang harus dia lakukan, akhirnya Wira berangkat lebih dulu sendiri.


Setelah keluar dari gerbang selatan Ibukota Kerajaan Indra Pura Wira mengeluarkan Singa Emas ditempat yang sepi, Wira langsung memerintahkan Singa Emas terbang menuju puncak Gunung Giridara.


Wira penasaran dengan Gunung Giridara yang puncaknya seperti bercahaya, hal itu yang membuat Wira ingin melihat dari dekat.


Pemandangan yang indah dari atas membuat Wira berpikir untuk membawa kedua istrinya keluar dari Dunia Dimensi Jiwa agar sama-sama bisa menikmati keindahan alam yang tersaji di depannya.


Wuuuusss.....


Putri dan Nilotama sangat gembira begitu mereka keluar dari Dunia Dimensi Jiwa langsung melihat pemandangan unik.


Gunung Giridara tidak terlihat puncaknya diselimuti kabut tebal, Wira menyuruh Singa Emas agar terbang lebih tinggi menembus kabut.


Setelah kabut ditembus mereka melihat Gunung Giridara seperti berdiri kokoh diatas awan.


"Kak, kita dimana sekarang ?" tanya Nilotama,


"Kita sekarang berada di wilayah Kerajaan Indra Pura," Wira menjawab pertanyaan Nilotama,


"Kenapa Kanda sampai kesini ?" tanya Putri penasaran,


Wira menjelaskan segala hal yang menyebabkan dia mendatangi Panglima Bayu Murti bahkan bertemu dengan Yang Mulia Raja Bismanta, untuk sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.


Putri sangat yakin perjuangan mereka akan berhasil, dengan adanya Wira yang sangat cerdas mengatur siasat dan memiliki kemampuan yang serba bisa dalam banyak hal.


"Sekarang kemana tujuan kita kanda ?"


"Kanda penasaran dengan Gunung Giridara itu, yang terlihat bercahaya di puncaknya, konon katanya tidak ada yang bisa pulang dengan selamat saat orang mendaki puncak Gunung itu," Jawab Wira sambil menunjuk kearah Gunung Giridara.


"Berhati-hatilah kak, kalau nanti terbukti berbahaya kita pergi saja, masih banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekedar sesuatu yang karna alasan penasaran kita mendatanginya," ujar Nilotama.


"Apa yang diucapkan Adik benar Kanda," ucap Putri membenarkan pendapat Nilotama.


"Baiklah nanti jika ada bahaya kita kembali," Wira menenangkan kedua istrinya.


Sementara didalam Dunia Dimensi Jiwa, Naga Kecil terlihat gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganggu perasaannya, Naga Kecil keluar dari dasar Danau Emas, dia mencari keberadaan Putri dan Nilotama,


Naga Kecil masuk ke dalam Istana Giok, untuk mencari Putri dan Nilotama, selama ini Naga Kecil tidak pernah memasuki Istana Giok, dia selalu berada didalam Danau Emas, hari ini jiwanya gelisah, dia tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi, saat Naga Kecil gelisah secara naluriah dia ingin melihat orang-orang yang dekat dengan dirinya untuk memastikan tidak terjadi apa-apa dengan orang yang dia sayangi.


Mengetahui Nilotama dan Putri tidak ada ditempat, Naga Kecil meraung menunjukkan kegelisahannya.


Mendengar Raungan Naga Kecil, para pengikut yang sedang berlatih keluar mendatangi Naga Kecil, mereka tidak bisa melakukan apa-apa karna tidak bisa berbicara dengan Naga Kecil.


Mendengar raungan Naga Kecil yang terus-menerus, Wira berbicara melalui telepati menenangkan Naga Kecil dan memberi tahu bahwa Nilotama dan Putri ada bersamanya.


Sementara diluar Singa Emas semakin dekat dengan Gunung Giridara, oksigen mulai menipis karna berada ditempat yang sangat tinggi, Singa Emas mendarat ditempat yang lapang dipuncak Gunung Giridara.


Selain oksigennya tipis rupanya udara disekitar puncak Gunung mengandung racun, inilah yang menyebabkan mereka yang tidak memiliki kekebalan terhadap racun tidak bisa kembali,


Wira melihat banyak tulang tengkorak manusia yang berserakan disekitar puncak, dari Kwalitas tulang yang Wira perhatian mestinya mereka orang-orang yang berkemampuan tinggi, kalaupun keracunan mereka masih bisa berlari kebawah, Wira lebih memperhatikan jenis racun yang menyatu dengan udara dipuncak Gunung Giridara.


"Kemungkinan racun ini menyebabkan mereka berhalusinasi sehingga tidak menemukan jalan keluar, racunnya tidak terlalu kuat, tapi karena mereka terjebak dalam halusinasi mereka hanya bergerak berputar-putar disini saja, akhirnya meninggal karna terus menerus menghisap udara yang beracun ini," Wira menganalisa keadaan disekitarnya.


Beruntung mereka telah mendapat hadiah dari Naga Kecil, hingga racun yang ada tidak berpengaruh pada tubuh dan kesadaran mereka.


Wira berkeliling dipuncak Gunung yang penuh kabut tebal itu dan menemukan gua yang lumayan besar, wira mengajak istrinya memasuki gua itu, sekitar dua ratus meter Wira berjalan akhirnya Wira sampai pada tempat yang agak luas didalam gua, racun disini lebih pekat dari pada diluar.


Groaarrh.....


Nilotama dan Putri terkejut mendengar suara raungan didekat mereka, rupanya tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada seekor Naga yang berukuran sebesar tiga pelukan orang dewasa dengan panjang sekitar dua ratus meter sedang sekarat.


Didalam Dunia Dimensi Jiwa, Naga Kecil kembali meraung gelisah meminta untuk keluar, Wira mengeluarkan Naga Kecil dari Dunia Dimensi Jiwa.


Begitu Naga Kecil keluar dia langsung menuju pada Naga Besar yang sedang sekarat itu, melihat Naga Kecil didekatnya Naga besar itu menjilati Naga Kecil, rupanya Naga Kecil mengenali aura naga yang sedang sekarat itu.


Naga Kecil memohon kepada Wira agar menyelamatkan Naga yang sedang sekarat.


Untuk berjaga-jaga sebelum Wira menyelamatkan Naga besar itu Wira memberi Segel Jiwa pada sang Naga kemudian meneteskan inti darahnya, setelah segel aktif Wira membuka mulut Naga dan memberikan tiga Pil Sambung Raga, mengingat lemahnya energi sang Naga, Wira membantu dengan mengalirkan energinya supaya manfaat pil itu cepat terserap.


Hampir tiga jam Wira mengalirkan energi sampai akhirnya Naga besar itu kembali sehat.


Wuuuusss.....


"Terimakasih Tuan Penolong, anda sudah berbaik hati menyelamatkan nyawa hamba, sekarang hidup hamba adalah milik Tuan," ucap pria tua yang berdiri didekat Wira dengan sikap hormat.


"Tidak perlu seperti itu Paman," kata Wira yang tau bahwa orang tua yang ada di dekatnya adalah perubahan wujud dari Naga besar yang diselamatkannya.


"Naga Kecil yang memintaku untuk menyelamatkan Paman, ucap Wira menambahkan.


"Tuan Naga Kecil itu adalah putra dari junjungan hamba, junjungan hamba melempar hamba dengan Naga Kecil saat dia masih dalam telur, hamba terlempar sampai kesini dengan menggunakan artefak Ilahi sesaat sebelum junjungan hamba meninggal karna perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh adiknya, hamba diperintahkan untuk menjaga putra beliau dan memberikan mustika ini saat dia lahir," ujar Pria Tua sambil memperlihatkan mustika sebesar buah kelapa.


Wira mengambil mustika itu dan memberikan pada Naga Kecil, mustika itu ditelan oleh Naga Kecil dan ditempatkan di jantungnya


"Baiklah Paman, kita akan berbincang lebih lama lagi nanti, sekarang kita harus kembali ke Benteng Selatan karna ada hal penting yang harus aku lakukan," ucap Wira menjelaskan.


Pria tua itu mohon izin untuk menyerap racun yang ada di udara kembali kedalam tubuhnya, sebelumnya dia mengeluarkan racun itu untuk melindungi Mustika yang dia jaga, saat jatuh dialam ini rupanya Naga Kecil terlempar jatuh kebawah, sekian lama dicari tidak ditemukan akhirnya Naga itu kembali ke puncak Gunung Giridara untuk menjaga Mustika yang menjadi Pusaka Penguasa naga.


Setelah pria tua selesai menyerap racun yang ada di udara, Wira menyuruh Naga Kecil untuk tinggal di dekat pohon Cendana Biru, nanti Wira akan membuat tempat tinggal untuk mereka berdua, kemudian Wira mengirim Naga Kecil dan pengasuhnya kembali ke Dunia Dimensi Jiwa.