
"Ayo kita periksa sekte ini, siapa tau ada yang berguna," kata Wira pada Singa Emas.
"Kakak aku ikut," ucap Nilotama,
"Kakak yakin kamu tidak akan kuat melihat kondisi disana," Wira menjelaskan,
"Dinda ikut ?" tanya Wira pada Putri,
Putri mengangguk setuju, mereka berjalan kearah puing-puing bangunan sekte Golok Neraka.
Ueek..., ueek... .
Putri dan Nilotama mengeluarkan isi perutnya ketika tiba dan melihat mayat-mayat yang jumlahnya ribuan, bergelimpangan dengan kondisi tubuh berantakan.
Wira membiarkan mereka melihat pemandangan seperti itu, karna pada waktunya nanti, mereka akan terlibat langsung dalam kejadian yang sama ketika perang untuk melawan penjajah tiba.
"Singa Emas jaga istriku disini," perintah Wira.
Kemudian Wira melanjutkan mencari ruang bawah tanah yang biasanya digunakan untuk menyimpan pusaka atau kekayaan.
"Haiss bodoh...."
Wira mengumpat dirinya sendiri, kemudian mengeluarkan Tikus Hitam dari balik bajunya.
"Cari ruang penyimpanan kekayaan sekte ini," perintah Wira pada Tikus Hitam,
Tikus Hitam kembali pada ukuran normal dan mulai bergerak cepat, sementara Wira duduk sambil menunggu.
Diruang bawah tanah Ketua sekte mencoba menenangkan anak-anak yang menangis panik mendengar teriakan kesakitan dan dentuman berkali-kali saat bangunan itu terbakar hancur.
Wira menuju ruang bawah tanah setelah Tikus Hitam memberi tahu lewat telepati,
Wira mengambil semua kekayaan yang ada disana seperti koin emas yang jumlahnya hampir membentuk bukit dari gudang yang luasnya hektaran, banyak sumberdaya berharga lainnya juga ada disana, senjata pusaka dan beberapa artefak, Wira memasukkan semuanya kedalam Cincin Dimensi Samudranya.
Wira melangkah menuju ruang yang lain, disana dia menemukan ketua sekte bersama lima puluh anak-anak, Ketua sekte mendekati Wira seraya berkata.
"Anak-anak inilah Tuan Penolong kita, ayo beri hormat !" Ketua sekte menyuruh mereka untuk memberi hormat pada Wira.
mereka semua menjatuhkan diri dilantai sambil mengucapkan terimakasih.
"Cukup... cukup.. bangunlah"
Setelah anak-anak itu bangun, Wira mengajak Ketua sekte menjauh, begitu jaraknya cukup jauh Wira mengajak Ketua sekte berbicara mengenai masa depan anak-anak itu.
"Ketua apa rencanamu mengenai kehidupan anak-anak itu dimasa depan ?" tanya Wira,
"Aku sendiri masih bingung bagaimana cara menyelamatkan mereka, dengan kondisiku yang seperti ini jika aku membawa mereka, pasti mereka akan ikut menderita, karna aku memiliki banyak musuh yang pasti akan balas dendam ketika ada kesempatan, membiarkan mereka disini hanya menunggu nasib tak jelas," ucap Ketua sekte memandang sedih pada anak-anak yang hancur nasibnya karna ulahnya.
"Aku punya tempat tinggal yang aman untuk mereka, tapi aku butuh orang untuk memperhatikan mereka, jika ketua mau memperhatikan mereka aku bersedia membawa mereka kesana," Wira memberi solusi
"Aku sudah tidak layak untuk berbahagia, aku memilih menghancurkan kultivasiku karna ingin menebus dosaku, dengan membiarkan mereka yang ingin balas dendam untuk melampiaskan kemarahannya padaku," itulah caraku untuk menebus dosa-dosaku dimasa lalu.
"Paman...menurutku membuat banyak kebajikan pada anak-anak ini, dengan membimbingnya kearah yang baik adalah cara penebusan dosa yang lebih masuk akal, ketimbang tidak berbuat apapun sambil hanya menunggu orang untuk balas dendam kepadamu, bukankah itu konyol ?"
Wira mengeluarkan pandangannya.
"Anak ini sangat cerdas dan berpikiran luas, dia mampu memikirkan suatu hal yang benar dan mengungkapkan dengan cara yang logis,"
"Baiklah aku setuju dengan pemikiranmu anak muda,"
"Panggil aku Wira paman,"
Wira menyuruh Prabawangsa untuk menunggu sejenak.
Wira keluar untuk mencari tempat sepi kemudian memasuki Dunia Dimensi Jiwanya.
Wuuuusss...
Wira tiba dibagian utara dari Dunia Dimensi Jiwanya, sekitar dua ratus kilometer dari Istana Giok, setelah itu kemudian Wira mengambil beberapa artefak dari cincin dimensinya.
Wira membuat bangunan tempat tinggal yang mirip dengan bangunan di sekte Golok Neraka, ditambah lagi membuat tempat latihan dan menara kultivasi serta menara pelatihan jiwa walaupun tidak sebaik yang ada di Istana Giok, tapi untuk level fana itu sangat baik, kemudian mengisi gudang dengan kebutuhan pangan dan menaruh kitab-kitab jurus level bumi di ruang perpustakaan.
Wira mengambil banyak pohon-pohon disekitar sekte untuk ditanam kembali di bagian utara Dunia Dimensi Jiwa agar anak-anak itu betah, setelah semua itu selesai Wira kembali untuk menemui Prabawangsa.
Wira membuka gerbang Dunia Dimensi Jiwa dan menyuruh Prabawangsa beserta anak-anak untuk masuk.
Prabawangsa dan anak-anak itu memasuki cahaya bulat berdiameter sekitar dua meter, begitu mereka masuk, cahaya itu menghisap mereka dan tiba pada bangunan yang mirip sekte Golok Neraka.
Wira menjelaskan semua yang ada disana beserta fungsinya.
"Paman ajarkan kebajikan pada mereka, agar nantinya mereka berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain, aku sudah menyediakan fasilitas lengkap untuk menjadikan mereka anak muda yang kuat dimasa depan, agar bisa mengabdi pada kebenaran dan bermanfaat buat masyarakat.
Sesekali aku akan berkunjung kemari untuk melihat perkembangan mereka," ujar Wira kemudian pergi.
"Berbahaya jika Naga Kecil sampai bermain kesini," Wira memasang Aray Pelindung yang cukup besar untuk pemukiman baru itu kemudian melesat pergi.
Wira mampir di Istana Giok untuk memastikan pengikut istrinya berlatih sesuai harapannya.
"Tiga bulan lagi kalian harus sudah level Pendekar Suci, supaya kalian bisa ikut berperang mendampingi istriku," kata Wira pada pengikut istrinya.
"Tuan......?"
"Tiga bulan di dunia luar sana sama dengan tujuh tahun enam bulan disini, jika kalian tekun berlatih, dengan fasilitas tingkat dewa yang aku berikan pada kalian, ternyata kalian tidak mampu menjadi Pendekar Suci tingkat menengah itu artinya kalian malas !" Wira berkata tegas.
"Baik Tuan Muda, kami akan berusaha agar tidak mengecewakan harapan Tuan Muda," jawab Delima mewakili rekan-rekannya, sambil membungkuk diikuti yang lain.
Begitu selesai memberi arahan pada para wanita itu Wira keluar dari Dunia Dimensi Jiwa dan mencari istrinya.
"Apa Dinda dan adik mau berlatih di dalam Dunia Dimensi Jiwa atau masih ingin ikut menikmati perjalanan ke utara ?" tanya Wira pada kedua istrinya.
"Dinda ingin melanjutkan latihan saja, kemampuan Dinda masih belum cukup untuk melindungi diri sendiri," jawab Putri,
"Aku ikut Kakak Putri saja," ujar Nilotama sebelum ditanya.
Putri dan Nilotama sadar bahwa jika dia ikut dengan Wira di dunia luar mereka akan menghambat ruang gerak Wira dan menjadi beban.
Mereka juga ingin berlatih keras setelah tahu bahwa lawan yang akan mereka hadapi saat perang tidaklah lemah.
Pemikiran itu yang menyebabkan Putri dan Nilotama memilih untuk masuk Kedalam Dunia Dimensi Jiwa dan bertekad akan berlatih keras sesuai harapan suaminya.
Setelah kedua istrinya yakin memilih untuk latihan Wira mengirim Putri dan Nilotama ke Istana Giok, kemudian mengajak Singa Emas, Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak untuk melanjutkan perjalanan menuju Benteng Utara.
"Aku melupakan sesuatu"
Wira mengumpulkan mayat-mayat itu kesatu tempat dengan menggunakan jurus Samudra Memecah Karang untuk membuat lubang besar kemudian memasukkan mayat-mayat itu dan menguburnya.
Selesai dengan urusan mayat, Wira meloncat ke punggung Singa Emas.
"Sekte Lembah Kabut Racun itulah tujuan kita berikutnya !, Tikus Hitam arahkan Singa Emas menuju tempat itu !" Wira memberi perintah kepada Tikus Hitam.