
Wuuuusss...
"Salam Tuan muda," ucap Prabawangsa sopan melihat kehadiran Wira tiba-tiba.
"Salam Tuan muda," Dewa Senyum menakupkan tangan memberi hormat pada Wira.
"Apa anak- anak rajin berlatih Paman ?" tanya Wira pada Prabawangsa dan Dewa Senyum,
"Sesuai petunjuk yang Tuan Muda berikan mereka berlatih tekun, baik dari segi moralitas maupun latihan beladiri, saudara Dewa Senyum fokus melatih beladiri sedang saya fokus pada kebajikan, kerajinan dan etika berperilaku," jawab Prabawangsa.
"Terimakasih paman, sudah mendidik mereka menjadi anak-anak harapan dimasa depan," ucap Wira pada mereka berdua.
"Wah tanaman ajaib yang aku berikan tempo hari sudah tumbuh"
"Anak-anak merawat tumbuhan itu dengan baik, mereka menggunakan waktu dengan efektif, untuk belajar, merawat tanaman dan fasilitas bangunan serta berlatih," jawab Prabawangsa.
"Tuan Muda, huruf sandi yang ada pada lembaran kulit itu sudah Paman salin dan Paman terjemahkan menjadi kitab, tunggu paman ambil dulu," ucap Prabawangsa sembari melangkah menuju ruangan pribadinya.
"Paman jika ada yang paman butuhkan untuk meningkatkan kultivasi, katakan saja padaku," kata Wira pada Dewa Senyum.
"Jika dibolehkan, paman juga ingin belajar ilmu totok jalan darah yang diterjemahkan oleh saudara Prabawangsa, karna jika dimungkinkan untuk mengalahkan musuh tanpa membunuh rasanya itu lebih baik," ucap Dewa Senyum
"Tentu saja boleh Paman, setelah aku selesai mempelajari isinya aku akan memberikan pada Paman, setiap ilmu bisa saja diselewengkan, termasuk ilmu ini, jadi aku tidak ingin Paman mengajarkan pada orang lain" kata Wira.
"Bagaimana mungkin"
"Bagaimana jika orang yang tidak bermoral menggunakan ilmu ini untuk melumpuhkan wanita, dan digunakan hanya untuk bersenang-senang, tidakkah itu berbahaya paman ?" Wira menjelaskan.
"Maka ilmu ini jangan diberikan pada sembarang orang itu lebih baik," ucap Wira melanjutkan.
Ditengah perbincangan mereka Prabawangsa datang menyerahkan kitab Ilmu akupresur tingkat tinggi, bagi mereka yang kwalitas kulit dan ototnya belum sempurna amat mudah terkena ilmu ini.
"Paman aku ingin berlatih ilmu ini di menara jiwa tolong jangan izinkan siapapun untuk masuk," ucap Wira pada mereka berdua.
Wira memasuki menara pelatihan jiwa untuk belajar Ilmu totok Jalan Darah, ilmu yang sangat langka membutuhkan akurasi yang tinggi serta kecepatan tinggi agar bisa berhasil sempurna.
Wira sudah menguasai tehnik akupresur sedikit dari ilmu ketabiban yang Wira kuasai secara sempurna, jika digabungkan dengan ilmu ini hasilnya tentu akan sangat luar biasa.
Ada ratusan ribu bahkan jutaan titik akupresur didalam tubuh manusia, ada titik vital yang berkaitan dengan organ tubuh penting dalam tubuh manusia, jika beberapa titik itu disentuh bisa berakibat organ atau bagian tubuh tertentu tidak bisa bergerak, demikian juga sebaliknya bagi mereka yang organ tubuh atau bagian tubuhnya tidak bisa digerakkan, dengan menotok titik-titik tertentu, tubuhnya kembali bisa bergerak.
Sementara itu dikamar Wira, Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi serta Srigunting Perak disuruh mengawasi kondisi sekitar oleh Wira.
Mereka asyik ngobrol bertukar informasi dari anak buah mereka yang dikirim keberbagai tempat untuk mengumpulkan informasi, banyak diantara anak buah mereka yang sudah membangun jaringan dengan tikus dan hewan biasa untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
"Sudah hampir dua hari Raja berada di Dunia Dimensi Jiwa, apa yang dilakukan disana ?" Tikus Hitam melempar pertanyaan.
"Mungkin bersenang-senang dengan Permaisuri," kata Bunglon Pelangi
"Bisa saja latihan jurus baru, Raja selalu penasaran jika ada ilmu maupun jurus yang menunjang kemampuannya menjadi lebih baik," Srigunting Perak ikut menebak.
"Bisa juga keduanya, setelah selesai latihan kemudian Raja bersenang-senang dengan Permaisuri, Raja sangat menyayangi kedua Permaisurinya.
Di menara jiwa....
Wira berlatih Ilmu Totok Jalan Darah, dengan serius.
Hatchi...
Hatchi...
Hatchi...
"Siapa yang bergujing tentang diriku ?" batin Wira
Wira keluar dari menara pelatihan jiwa dan menuju tempat biasa mereka bertemu dibangunan dekat kebun, Wira mendapati Prabawangsa ada disana tapi tidak dengan Dewa Senyum.
Wira mendekati Prabawangsa dengan senyum misterius,
Tuk....tuk....tuk...
Prabawangsa menjadi patung tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya kecuali bagian kepala.
"Tuan Muda berhasil mempelajari ilmu ini, tapi jika paman adalah mata-mata musuh, paman masih bisa menggigit lidah untuk bunuh di..."
Tuk...tuk.
Prabawangsa tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karna pangkal lehernya sudah di totok oleh Wira
Hahahaha....
Wira tertawa puas melihat keberhasilannya mempelajari ilmu totok, Wira menotok kembali bagian-bagian tertentu pada tubuh Prabawangsa untuk membuatnya kembali normal.
"Wah Tuan Muda luar biasa, hanya lima puluh hari sudah menguasai ilmu yang serumit ini," ucap Prabawangsa bangga.
"Paman terlalu memuji"
"Dia tidak tahu aku membawa banyak pengetahuan warisan dari banyak kelahiranku dimasa lalu, itu yang membuat aku lebih mudah mempelajari ilmu apapun," Wira ketawa kecil dalam hatinya.
"Paman aku harus kembali ke dunia luar ada banyak hal yang harus aku lakukan, salam untuk paman Dewa Senyum dan anak-anak," ucap Wira
Wuuuusss....
Wira lenyap dari pandangan.
"Rupanya kalian yang ngerasani aku, pantesan aku bersin terus," ujar Wira pada ketiga mahluk ajaib yang seketika terdiam melihat kemunculan Wira.
Baru saja Wira ingin berbincang dengan bawahannya seseorang mereka rasakan menuju ke kamar Wira.
Tok...tok...tok...
"Maaf Pangeran Jenderal telah menunggu diruang tamu bersama yang lain," ujar pelayan dari luar kamar,
"Baik, tunggu sebentar," jawab Wira, sembari menghilangkan Aray Pelindung yang dia pasang, memasukkan Tikus Hitam ke kantong pakaian dalam seperti biasanya.
"Ayo tunjukkan jalan," ujar Wira setelah semuanya beres.
Wira mengikuti pelayan keruangan tempat jenderal dan yang lainnya menunggu,
"Maaf membuat kalian menunggu," ujar Wira dengan tersenyum cerah.
Dalam pertemuan terlihat Ranubaya, Kirani, Jenderal Mahesa Jenar, prajurit pengintai dan dua orang yang tidak Wira kenal.
"Kami baru juga datang," sahut Kirani dan Ranubaya.
"Baiklah Pangeran, berdasarkan laporan dari prajurit telik sandi, memang benar bahwa empat hari yang lalu Benteng Utara yang dipimpin Jenderal Tumbak Bayuh telah bergabung sekitar dua ratus ribu orang dari berbagai sekte aliran hitam, yang bertujuan untuk memperkuat pertahanan benteng, dan akan datang lagi yang lainnya dengan jumlah yang belum bisa di prediksi, Ranubaya datang tadi malam dengan beberapa pengawal yang terluka karna digempur oleh pasukan musuh di hutan perbatasan, beruntung mereka ditolong pasukan pengintai yang sangat hapal medan didalam hutan, hingga bisa selamat sampai disini tanpa ada yang meninggal." kata Jenderal Mahesa Jenar
"Dari kondisi itu bisa kita tangkap bahwa mereka telah siap untuk berperang," Jenderal Mahesa Jenar memaparkan situasi dan memberi kesimpulan.
"Boleh saya bicara Paman ?" tanya Wira pada jenderal Mahesa Jenar,
Jenderal Mahesa Jenar memberi isyarat tangan pada Wira sebagai ungkapan persetujuannya.
"Paman, apa prajurit yang menyerang paman mirip gerak geriknya dengan prajurit yang menghadang kalian tempo lalu ?" tanya Wira pada Ranubaya.
"Mereka tidak sama dengan prajurit yang menghadang kita pertama, menurut prajurit pengintai yang menyelamatkan kami, yang menghadang kemaren prajurit elite yang sudah terlatih dalam pertempuran di segala medan, kita bisa selamat karna prajurit pengintai kita mengenal hutan itu seperti rumah mereka sendiri." jawab Ranubaya.