Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 27. Penginapan Angrek Bulan



Ketika matahari menunjukkan cahayanya yang merah di pagi hari, Kota Awan mulai nampak dari kejauhan, sudah sehari semalam sejak keberangkatan mereka dari dunia kecil, Singa Emas terbang tanpa henti.


"Mendaratlah agak jauh dari pemukiman Paman, agar tidak diketahui kedatangan kita," Wira memberi perintah kepada Kratu.


"Baik Pangeran," jawab Kratu,


"Dinda bangunlah," Wira menggoyang tubuh kedua istrinya, mereka kelelahan ngobrol sambil menikmati pemandangan dari ketinggian, menjelang pagi baru mereka tidur.


"Sudah sampai Kanda," tanya Putri masih terlihat ngantuk," Wira mengangguk.


"Pemandangannya sangat indah Kakak Putri,"


Nilotama berucap sambil melihat sekelilingnya.


"Kita turun disini Pangeran?" tanya Kratu,


"Turunlah..."


Mereka turun sekitar sepuluh kilometer dari kota, dipinggiran hutan yang tak berpenghuni.


"Kembalilah Singa Emas," kata Wira melambaikan tangan, Wira memasukkan kembali Singa Emas ke dalam Dunia Dimensi Jiwanya.


Sarwadahana dan Kratu ternganga keheranan.


"Singa Emas bisa datang dan pergi secepat kilat Paman," Wira menjawab keheranan mereka.


"Tunggulah disini sebentar Paman," kata Wira sembari membuat aray tak kasat mata.


Kemudian Wira membawa kedua istrinya ke dalam Dunia Dimensi Jiwanya untuk mandi dan berganti pakaian.


Diluar aray.......


"Berapa banyak lagi keajaiban yang dimiliki Pangeran?, untung besar Putri bisa menikah dengannya," ucap Kratu,


"Kita semua beruntung dengan kehadiran Pangeran Mahkota ditengah-tengah kita, kita semakin yakin kerajaan dan rakyat yang tertindas akan segera bebas dari kekejaman Durgati," ucap Sarwadahana menyampaikan keyakinannya.


Tak berapa lama Wira dan istrinya sudah kelihatan rapi ketika Aray Pelindung dibuka


"Mari kita menuju kota Paman," Wira mengajak mereka berangkat.


Kratu memimpin jalan menuju kota.


Pintu Gerbang timur Kota Awan.....


Dua orang pria paruh baya dengan caping lebar menutupi kepala berjalan mendekati gerbang timur Kota Awan, dibelakangnya seorang pemuda yang berperawakan tinggi kekar juga menggunakan caping lebar diapit dua gadis remaja bercadar dan menutupi wajahnya dengan kain selendang.


"Kota ini sepertinya ramai pengunjung Paman?, orang yang mau masuk kota lumayan banyak?" Tanya Wira pada pria bercaping didepannya


"Ini salah satu kota yang aman, karna pasukan dan orangnya Pangeran Gantar tidak ada disini, disamping itu Tuan Mahardika sebagai Penguasa Kota Awan sangat tegas dan adil," Kratu menjelaskan


"Kenapa penguasa sekarang tidak mengirimkan Orangnya kesini Paman?" Wira penasaran.


"Mereka masih fokus menguasai Pusat Kerajaan dan daerah yang berdekatan dengan Pusat Pemerintahan, karna prajurit mereka juga terbatas, sebagian besar prajuritnya sudah ditarik kembali ke Kerajaan Samantha Pancaka," Kratu menjelaskan.


Karna asyik ngobrol tidak terasa, mereka sampai pada gerbang kota, mereka sengaja mengantri paling belakang, supaya tidak menimbulkan kegaduhan.


"Tunjukkan identitas kalian !" kata prajurit penjaga gerbang tegas.


"Buka caping dan cadar kalian!" prajurit yang lainnya memberi perintah,


Kratu maju kedepan memperlihatkan lencana Pengawal Bayangan.


Pengawal yang menerima lencana langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat,


"Ampuni kelancangan kami Tuan," kata prajurit jaga.


"Bangunlah...., Jangan terlalu mencolok, kami sedang melaksanakan tugas rahasia," kata Kratu, sambil mengajak rombongannya pergi.


Setelah cukup jauh prajurit yang lain menanyakan alasan kenapa temannya sangat ketakutan.


"Bodoh....,dia salah satu Pengawal Bayangan Raja Wreksasena yang terkenal berilmu tinggi," jawabnya berbisik takut kedengaran,


"mereka sedang melakukan misi rahasia," kata dia melanjutkan.


"Semoga kerajaan kita bisa bebas dari penjajahan ini," ucap prajurit penjaga gerbang berharap.


Sementara rombongan Wira sudah memasuki keramaian kota.


"Pangeran kemana sekarang kita," tanya Sarwadahana,


"Sebaiknya mencari penginapan dulu Paman dan ingat jangan memanggilku Pangeran, sebut saja namaku, demikian juga dengan istriku," Perintah Wira.


"Hamba tidak berani Pangeran, Bagaimana jika kami sebut Tuan Muda dan Nona Muda saja.


"Itu juga boleh," jawab Wira pendek


"Di kota ini ada penginapan yang lumayan bagus, bagaimana jika kita kesana Tuan Muda," Kratu memberi saran.


"Kita kesana Paman," jawab Wira setuju


Mereka semua berjalan mengikuti Kratu


"Nama penginapannya bagus Kakak Putri," kata Nilotama menggoyang tangan Putri,


"Adik kita sedang menyamar... , nanti biasakan panggil Kakak Citra saja, jangan pakai Putri... ," kata Putri Citra Sasmita berbisik mengingatkan Nilotama,


"Baik Kakak Citra," jawab Nilotama menurut.


Mereka memasuki penginapan menuju meja kasir,


"Apa Tuan Muda ingin menginap," tanya pelayan penerima tamu sopan.


"Kami ingin menginap sehari, sediakan yang terbaik tiga kamar" jawab Wira.


"Bayar di depan 60 koin perak Tuan, jawab penerima tamu sambil menunjuk kasir disampingnya.


Wira mengeluarkan 1 koin emas


"Maaf kami tidak menerima koin seperti ini," kata pelayan menatap heran koin emas diatas meja,


Putri Citra Sasmita segera mengeluarkan 1 koin emas, dan memberikan pada kasir.


"Sisanya untuk kalian," kata Putri


Seorang pelayan membawa mereka ke lantai tiga penginapan


"Ini kamarnya Tuan Muda," kata pelayan seraya menyerahkan kunci kamar.


"Dilantai empat ada tempat bersantai sambil makan dan menikmati pemandangan," pelayan menawarkan.


"Bawakan kami makanan terbaik dan minuman ringan, untuk lima orang," Wira menjawab tawaran pelayan


"Paman silahkan pesan apa yang Paman inginkan," kata Wira menoleh Sarwadahana dan Kratu


"Bawakan kami arak terbaik," Sarwadahana menambahkan.


Kemudian mereka melangkah menuju lantai atas, mereka ngobrol sambil menunggu makanan datang.


"Dinda apa saja alat bayar yang digunakan disini?" Tanya Wira pada Putri.


Putri kemudian menjelaskan nilai dan bahan koin yang dipakai alat bayar di Kerajaan Malawa Dewa.


Alat bayar disini ada tiga, koin emas, koin Perak dan koin Alloy,


100 koin Alloy \= 1 koin Perak


100 koin Perak \= 1 koin Emas


Setiap koin beratnya 10 gram


Kalau mata uang di kerajaan tetangga, seperti ini perbandingannya dengan koin disini


Satu koin Alloy \= 1.000


Satu koin Perak \= 100.000


Satu koin Emas \= 10.000.000


Putri menjelaskan dengan jelas mengenai alat pembayaran sampai kemudian lima pelayanan datang membawa makanan yang mereka pesan


5 porsi sop Kaki Keruang,


5 porsi sop Rebung Merah Pegunungan Salju,


5 porsi sop Jagung Hitam dicampur Jamur Ungu Lembah Iblis,


satu baki besar berisi nasi Beras Merah Umejero


4 botol arak Akar Ilalang dari Kubu Darah


"Semuanya 10 koin emas," pelayan menyebutkan harga makanannya


Putri memberikan 11 koin emas pada pelayan,


"Sisanya boleh kalian bagi," kata Putri


"Terimakasih Nona, jika ada yang dibutuhkan panggil kami," jawab pelayan senang


Pelayan sangat senang karna mendapat 1 koin emas, bahkan gaji mereka seorang perbulan 50 koin perak.


"Pantas Makanan ini mahal karna dibuat dari bahan-bahan yang langka, bahkan Arak ini terbuat dari akar Ilalang yang didapatkan dari Kubu Darah, aku sendiri tidak tahu daerah mana itu," Sarwadahana berbisik pada Kratu


Kratu mulai mencoba menuangkan Arak ke cangkir kecil yang tersedia dan mulai meminumnya,


"luar biasa.....harumnya lembut, rasanya sedikit asam, ada manisnya sedikit, dan lumayan keras,"


Sarwadahana memuji rasa arak yang diminumnya.


Wira mengambil Sop Rebung, Sop Jagung dan sedikit nasi, karna Wira Vegetarian tidak menyukai daging dan ikan, sementara Putri dan Nilotama mengambil Sop kaki beruang dan Sop Rebung, Sarwadahana dan Kratu mencobai semua makanan yang tersedia.


"Paman selesai makan kita istirahat, nanti malam kita berkunjung ke Kediaman Kepala Kota," Kata Wira, mengingatkan


Sarwadahana dan Kratu mengangguk hormat,


selesai makan Wira mengajak istrinya ke dalam kamar, sedang Sarwadahana dan Kratu menikmati Arak sambil ngobrol ringan.