Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 26. Menuju Kota Awan



Wira mengajak mereka keluar setelah selesai menggunakan busana.


"Kenapa keluar sekarang Kanda," tanya Putri dengan wajah sedikit merah masih malu dengan kejadian tadi.


"Kanda akan pergi lama menuju Malawa Dewa, untuk melihat keadaan secara langsung, agar bisa menyusun strategi dengan tepat," kata Wira menjelaskan.


"Berapa lama Kakak pergi," tanya Nilotama,


"Sekitar tiga bulan, mungkin lebih tergantung situasi disana," jawab Wira


Seketika mereka berdua tampak bersedih, dan hilang semangat, memikirkan kekasih mereka pergi dalam waktu yang lama.


Wira menggenggam tangan mereka berdua,


Wuuuuuss...


Mereka keluar dari Dunia Dimensi Jiwa dan muncul dikamar Wira, karna hari sudah malam mereka langsung tidur bertiga dikamar Wira.


Mereka berdua memeluk tubuh Wira dan menikmati keharuman aroma lembut bau wangi cendana yang keluar dari tubuh Wira,


"Berhati-hatilah Kanda sampai disana, Kanda belum tau kondisi disana, hanya tau dari laporan prajurit bayangan," kata Putri mengingatkan,


"Baiklah Dinda, Kand pasti akan berhati-hati," jawab Wira tersenyum jahil


"Kakak Wira jangan cari pacar lagi...," ujar Nilotama khas anak kecil, sambil terisak


"Kalau ada yang secantik kalian...?"


Bag..., bug..., bag..., bug..., bag..., bug... .


"Wadow..., wadow..., wadow... ."


"Ampun..., ampun... ."


"Nyerah..., nyerah."


Teriak Wira kehabisan nafas dipukuli dua iblis cantik


"Kakak Putri, kita mesti ikut !, berbahaya membiarkan pria mesum ini keluar sendiri !"


"Kami harus ikut Kanda...!, besok Dinda mohon izin sama Ayahanda Raja," kata Putri Citra Sasmita kesal.


"Baiklah..., baiklah... ."


"Lagian Kanda sudah minta izin sama Ayahanda Raja dan Ibunda Permaisuri dan mereka mengizinkan, tinggal mohon izin besok sama Ayahanda Panglima dan Ibunda Dewi," kata Wira melanjutkan.


"Kanda memang berencana membawa kalian berdua ikut, agar kalian bisa terus berlatih di Dunia Dimensi Jiwa, Kanda ingin kalian menjadi pendekar yang tangguh tapi tetap lembut dan feminim, bukan asal main pukul," kata Wira menyindir.


"Maafkan kami Kanda...,"


"Iya kami salah Kakak...,"


"Yaahh... sudahlah ayo Kita tidur," kata Wira sambil memeluk mereka berdua.


"Adik kecil mohon jangan bergerak..., jangan bikin malu...," Wira terpejam sambil menenangkan diri.


Akhirnya mereka terlelap bersama.


Esok harinya, agi-pagi sekali mereka sampai dikediaman Panglima.


"Salam Pangeran Mahkota, salam Putri, salam Nona Muda," kata pelayan menyapa hormat.


"Apa Ayahanda dan Ibunda belum bangun?" tanya Nilotama pada pelayan.


"Biar hamba sampaikan kedatangan Pangeran Mahkota, Putri dan Nona Muda," kata pelayan kemudian berlalu pergi.


Beberapa menit kemudian, Dewi Damayanti dan Panglima Ringkin memasuki ruang tamu,


Panglima Ringkin terlihat lelah dan kurang tidur, sementara Dewi Damayanti, terlihat bahagia dan nampak lebih muda, kulitnya semakin halus dan bercahaya.


"Salam Ayahanda Panglima, salam Ibunda," Wira menyapa mertuanya dengan santun, diikuti oleh Putri Citra Sasmita dan Nilotama,


Putri dan Nilotama kelihatan heran melihat perubahan Ibundanya.


"Ayahanda kami mohon izin mau berangkat ke Malawa Dewa pagi ini," Wira menyampaikan niatnya pada mertuanya


"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri sudah menyampaikan pada kami, ketika beliau memanggil kami untuk menghadap," kata Panglima Ringkin.


"Pergilah, ingat selalu untuk waspada dan berhati-hati," Panglima menambahkan


Dewi Damayanti memeluk Nilotama dan Putri,


"Jaga sikap kalian dan jangan merepotkan Pangeran, dia mengemban tugas kerajaan," Dewi Damayanti memberi pesan pada kedua istri Wira.


Dewi Damayanti sangat mengasihi Putri seperti anak sendiri, mungkin disebabkan keakraban Nilotama dan Putri Citra Sasmita terlebih lagi karna sifat baik yang dimiliki Putri.


Sampai dikediaman raja, Wira menemukan Paman Sarwadahana dan Temannya,


"Salam Paman," Wira menyapa mereka berdua, diikuti Putri dan Nilotama.


"Ini Teman Paman yang ditunjuk oleh Baginda untuk menyertai Pangeran, namanya Kratu."


"Salam Pangeran, salam Putri salam Nona Muda," Kratu memberi hormat.


Sambil menunggu kehadiran raja dan permaisuri, mereka berbincang mengenai kondisi Kerajaan Malawa Dewa.


"Paman tolong ceritakan pemimpin kota dan klan keluarga yang masih setia pada kita dan minat mereka untuk bebas dari penindasan musuh," kata Wira pada Kratu.


Kratu salah satu pengawal bayangan raja yang sering dikirim untuk misi-misi penting.


"Sebagian besar pemimpin kota sudah diganti dengan orang-orangnya Durgati, Pangeran!, banyak juga yang sudah tunduk karna tekanan, kecuali Mahardika Pemimpin Kota Awan, itu disebabkan karna letaknya terlalu jauh dengan pusat kerajaan," jawab Kratu


Baiklah Paman lokasi tujuan kita adalah Kota Awan.


"Mohon maaf Pangeran Mahkota, apakah pangeran yakin ingin membawa Putri dan Nona Muda," tanya Kratu


"Kratu..., Pangeran Mahkota seorang pendekar Dewa Bumi tingkat 3, dan Master Aray tingkat Ilahi, mudah baginya untuk melindungi Putri dan Nona Muda," ucap Sarwadahana meyakinkan.


"Paman Sarwadahana terlalu meninggikan diriku," kata wira


"Berapa lama perjalanan dari sini menuju Kota Awan Paman?" tanya Wira pada Kratu melanjutkan.


"Jika kita lari cepat sekitar seminggu, karna bersama Putri dan Nona Muda mungkin sekitar dua minggu," jawab Kratu realistis


Karna asiknya ngobrol mereka tidak menyadari Kedatangan permaisuri dan raja.


"Salam Yang Mulia...,"


"Salam Ayahanda... ,"


Mereka semua berdiri menyambut kedatangan Raja Wreksasena dan Permaisuri.


"Duduklah....," sabda Raja


Raja dan Permaisuri duduk bersama mereka


Raja Wreksasena kelihatan sangat kuyu, Permaisuri nampak semakin muda.


"Kondisinya mirip seperti Paman Panglima dan Bunda Dewi, ah sudahlah mungkin kebetulan saja mereka lelah karna banyak pikiran," batin Putri.


"Apa kalian berangkat sekarang ?" tanya Raja


"Kami akan berangkat sekarang Ayahanda Raja," jawab Wira.


"Berhati-hatilah" pesan Raja dan Permaisuri,


Mereka berangkat setelah mohon restu Raja dan Permaisuri.


Wira membuka aray pelindung ketika sampai di pintu keluar menuju alam apsara tempat Kerajaan Malawa Dewa.


Wira mengeluarkan Singa Emas dari Dimensi Jiwanya,


Wuuuusss......


Tiba-tiba seekor singa sangat besar ada dihadapan mereka, Sarwadahana dan Kratu terkesima menyaksikan singa sebesar itu dan seketika mempersiapkan diri.


"Tenanglah Paman ini temanku Singa Emas, aku memanggilnya dengan telepati," kata Wira pada Sarwadahana dan Kratu, Wira tidak ingin Dunia Dimensi Jiwanya diketahui orang lain.


"Kamu semakin besar Singa Emas," Wira membelai kepalanya peliharaannya lembut.


Dengan panjang sekitar tiga puluh meter dan besarnya hampir tujuh meter ditambah aura yang mengintimidasi Singa Emas benar-benar hewan yang menakutkan.


Sarwadahana dan Kratu tidak bisa mengukur kekuatan singa besar yang ada didepannya


Kratu semakin hormat pada Wira dengan banyak rahasia hebat yang dimilikinya, dan bertambah yakin Kerajaan Malawa Dewa bisa kembali ke tangan mereka.


Wira meloncat naik diikuti kedua istrinya,


"Paman berdua duduk didepan tunjukkan arah pada Singa Emas," Wira menyarankan.


Sarwadahana dan Kratu meloncat duduk dibagian leher Singa Emas, Wira dan istrinya dipunggungnya.


"Ayo terbang Singa Emas," Wira memberi perintah


"Paman Kratu...,tolong kasi arah pada Singa Emas," Kata Wira


Singa Emas terbang tinggi dengan kecepatan penuh sesuai arah yang ditunjukkan Kratu.


Wira memasang aray kecil untuk mereka bertiga agar tidak diterpa angin yang sangat kencang, sementara Sarwadahana dan Kratu melindungi dirinya dengan lapisan energi.