Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 40. Pertarungan dipinggir hutan



Dari lantai empat restoran, terlihat jelas keadaan Kota Mojo Agung, banyak bangunan yang bertingkat terlihat, keramaian kota dan aktivitas pasar, ada beberapa prajurit berjaga ditempat-tempat tertentu, ini jelas menandakan Kota Mojo Agung sedang siaga.


Lamunan mereka terhenti oleh kedatangan pelayan yang membawa makanan untuk mereka.


"Silahkan dinikmati Tuan Muda, Nona Muda," ucap pelayan santun.


"Mari Dinda kita makan, setelah ini kita belanja, membelikan pengikut kita pakaian, dan kebutuhan lainnya," ucap Wira


Mereka langsung semangat begitu mendengar kata belanja.


Mereka makan sangat lahap, Putri dan Nilotama sudah lama tidak makan enak semenjak berada di Dunia Dimensi Jiwanya Wira, selesai makan mereka menikmati sari buah dan minuman lainnya yang tersaji di atas meja makan yang lumayan besar.


Baru saja Nilotama menuangkan minuman, dua orang prajurit datang bersama pemilik restoran.


"Mohon maaf Tuan Muda, kami disuruh mengosongkan tempat dilantai empat ini karna ada pembesar yang datang," kata seorang pria paruh baya dengan mimik wajah cemas.


"Bukankah kami juga bayar, kenapa kami harus pergi sebelum selesai makan !?" Nilotama menjawab.


"Tempat ini akan dipakai oleh Jenderal kami, kalian silahkan keluar !" kata salah satu prajurit.


Belum sempat Nilotama mengeluarkan perkataan, seorang pria gagah yang berpakaian seperti pembesar pasukan, didampingi oleh beberapa pembesar lainnya masuk kedalam ruangan dengan raut wajah gusar.


Pria gagah itu mengedarkan pandangannya, melihat dua orang gadis remaja dan seorang pria remaja didepannya seketika wajahnya menjadi ramah.


"Tempat ini cukup luas bagi kita semua, biarkan mereka bersama kita disini," kata Pria Gagah


"Baik Jenderal," jawab prajurit yang menjadi bawahannya,


Pemilik restoran terlihat lega, melihat mereka tidak ada konflik.


Wira melanjutkan aktivitas minumnya bersama kedua istrinya.


Disisi yang lain, jenderal dan beberapa komandan, serta beberapa orang yang berpakaian pendekar yang ikut bersamanya mulai menikmati hidangan yang disajikan oleh para pelayan.


Pria Gagah yang dipanggil Jenderal membisikkan sesuatu pada salah satu komandan prajuritnya.


Tak lama kemudian komandan yang berbisik dengan Jenderal tadi mendatangi meja Wira,


"Jenderal kami memberi kehormatan pada kalian untuk bergabung bersamanya," kata komandan prajurit pada Wira,"


"Maaf kami sudah selesai dan akan segera pergi, sampaikan rasa terimakasih kami pada Jenderal" balas Wira sopan.


"Lancang, kamu tidak tahu etika, berani menolak perintah Jenderal Muda kami," Komandan prajurit berteriak murka.


Nilotama berdiri dengan wajah terlihat jengkel, Wira menarik tangan Nilotama pelan memberi isyarat untuk kembali duduk.


"Biarkan mereka pergi, tidak baik mengganggu remaja yang sedang bersenang-senang," kata Jenderal pada komandannya.


Komandan itu kembali ketempat mereka, sementara Wira dan kedua istrinya menuju kasir dan membayar tagihan lantas berlalu pergi.


Setelah kepergian Wira bersama kedua istrinya Jenderal Muda memberi isyarat pada pria paruh baya yang berpakaian seperti pendekar.


Wira mengajak istrinya untuk melihat-lihat toko baju, "Kanda... , apa Kanda membawa cukup koin emas ?" tanya Putri.


"Kalian boleh berbelanja sekehendak hati kalian," jawab Wira tersenyum,


"Sekehendak hati...?" Nilotama melongo,


"Ya... , sekendak hati," Wira menegaskan


"Kakak Putri, tunggu apa lagi...?" Nilotama memegang tangan Putri dan bergegas memasuki toko besar yang menjual berbagai jenis pakaian dan perhiasan.


Wira menyuruh Bunglon Pelangi mengikuti istrinya, sementara dia menuju pelayan toko,


"Boleh aku bertemu dengan pemilik toko?" tanya Wira pada salah satu pelayan toko.


"Ada keperluan apa Tuan Muda ingin bertemu dengan majikan kami ?" tanya pelayan,


"Ada yang ingin aku pesan," jawab Wira,


Pelayan toko membawa Wira menuju keruang kerja majikannya,


"Nona Besar, Tuan Muda ini ingin bertemu dengan Nona Besar," pelayan toko menjelaskan kedatangannya, kemudian meninggalkan mereka berdua untuk kembali bekerja.


"Apa yang dapat saya bantu Tuan Muda ?" Pemilik toko bertanya sambil meneliti Wira, yang membawa burung kecil dipundaknya.


"Remaja ini penampilannya biasa saja, tetapi sangat tampan dan memancarkan wangi lembut cendana, wibawanya sangat besar," batin pemilik toko.


"Aku ingin memesan pakaian dengan kwalitas terbaik, modelnya seperti pakaian pendekar wanita dan buat semewah mungkin," Wira menjelaskan.


"Pengikut istriku harus terlihat keren dan mewah," batin wira


Pemilik toko mengeluarkan berbagai model pakaian untuk pendekar wanita, Wira memilih sepuluh model yang menurutnya paling baik.


Wira berkomunikasi dengan Delima melalui telepati, untuk memberi ukuran pakaian tiap orang dan menandai kelompoknya.


Wira memberikan ukuran untuk pakaian yang dipesannya, pada pemilik toko.


Wira memilih sepuluh jenis model pakaian pendekar wanita, untuk pakaian biru dua ratus lembar sesuai ukurannya, untuk pakaian hijau seratus lima puluh lembar sesuai ukuran dan warna putih seratus lima puluh lembar sesuai ukuran.


"Sepuluh hari Tuan Muda"


"Apa tidak bisa lebih cepat ?" ucap Wira


"Kami hanya memiliki lima puluh penjahit ahli," jawab pemilik toko


"Aku tidak punya waktu selama itu, bagaimana kalau tiga hari ?, Nona Besar silahkan pikirkan caranya, aku akan membayar harganya" kata Wira memberi penawaran.


"Harga tiap lembar baju seratus koin emas, kami minta tambahan seribu koin emas untuk menyewa tambahan tenaga ahli." Nona pemilik toko memberi harga.


Wira mengeluarkan lima puluh satu ribu koin emas dari balik bajunya, kemudian memperlihatkan Lencana Emas Istana Salju,


"Owh, tuan muda pelanggan Istimewa Rumah Pelelangan Istana Salju !" seru pemilik toko, sambil membungkuk hormat.


Rumah Lelang Istana Salju dikenal hampir di seluruh Kerajaan Malawa Dewa, bahkan diluar kerajaan karna reputasinya yang baik.


"Aku menunjukkan lencana ini supaya ketika anak buahku datang kesini mengambil pakaian yang aku pesan, Nona Besar bisa mengenali," Wira menjelaskan.


"Owh, baiklah kami mengerti," jawab pemilik toko.


Selesai Wira dengan urusannya kemudian keluar ruangan untuk menunggu istrinya belanja.


Hampir dua jam Wira menunggu kedua istrinya belanja, akhirnya Putri dan Nilotama datang bersama beberapa pelayan yang membawakan belanjaan mereka.


Pelayan menyerahkan belanjaan Nilotama dan Putri pada kasir agar dihitung harganya,


Total belanjaan mereka seratus ribu koin emas, Wira membayar sejumlah harga tersebut dan memberikan tips buat pelayan yang membawakan barang masing-masing dua koin emas.


Wira membisikkan sesuatu pada kedua istrinya kemudian mereka segera meninggalkan toko pakaian dan mencari keperluan rumah tangga, setelah memasukan semua belanjaan kedalam cincin dimensi.


Wira dan kedua istrinya berjalan keluar gerbang Kota Mojo Agung setelah selesai berbelanja semua kebutuhannya.


Setelah keluar Kota Mojo Agung sekitar satu jam perjalanan, Wira berhenti.


"Keluarlah kalian !" aku tahu kalian membuntuti kami semenjak keluar dari restoran,


Swuuusss... swuuusss...


Dua orang berpakaian pendekar, yang terlihat ikut bersama Jenderal Muda saat di restoran, keluar dengan senyum meremehkan.


"Diminta baik-baik oleh Jenderal, malah memilih kekerasan, tinggalkan gadis muda ini untuk kami bawa pada Jenderal, kamu bisa pergi dengan selamat !" teriak pria tua yang membawa golok besar dipunggungnya.


"Bagaimana jika kami menolak," tanya Wira kalem.


"Semut masih banyak omong, kami sekte Golok Neraka tidak biasa membiarkan buruan kami pergi hidup-hidup," teriak pria yang lebih muda sambil melangkah maju.


"Hanya cecunguk Pendekar Raja tingkat delapan dan Pendekar Suci tingkat dua berani omong besar," kata Wira dalam hati.


"Adik beri pelajaran manusia yang tidak sopan ini, berhati-hatilah dia Pendekar Raja tingkat delapan" kata Wira sambil mengeluarkan Pedang Pusaka dari cincin dimensinya lalu memberikan pada Nilotama dan Putri


"Cincin Dimensi," gumam Pria Tua yang membawa golok besar, dengan pandangan nanar dan senyum senang di wajahnya, merasa akan mendapatkan ikan besar.


Agak jauh dari Pria Tua yang membawa Golok besar, Nilotama dan Pria Tua yang satunya mulai bertarung.


Trang...Trang...


Trang...Trang...


Dalam dua kali benturan senjata Nilotama menyadari bahwa selisih empat tingkat memiliki perbedaan kekuatan yang lumayan besar, Nilotama menghindari benturan senjata secara langsung, dia lebih banyak menghindar kemudian menyerang balik, dengan memanfaatkan tenaga lawan Nilotama mampu memberikan perlawanan seimbang hampir seratus jurus.


Setelah lewat seratus jurus, Pria Tua mulai menguasai pertempuran, sementara Nilotama hanya menangkis dan tidak bisa memberikan serangan balik.


"Nilotama yang hanya Pendekar Raja tingkat empat sudah mampu memberikan perlawanan yang sengit dengan Pendekar Raja tingkat delapan, walaupun pengalaman bertarungnya sangat minim," batin Wira senang.


Wira sengaja memberikan Nilotama kesempatan untuk bertarung, agar dia tahu bahwa di dunia luar ada banyak pendekar yang kejam tanpa belas kasih, tanpa kekuatan yang tinggi kita akan ditindas dan hanya menjadi mainan bagi yang kuat.


Lewat dua ratus jurus Nilotama benar-benar terdesak hebat golok lawan membabat kearah pundaknya tanpa bisa dielakkan karna posisinya yang tidak memungkinkan.


Criing....


Puk...


Golok lawannya melenceng dari pundak kiri Nilotama, pergelangan tangan Pria Tua yang memegang golok tidak bisa digerakkan, Nilotama memanfaatkan kesempatan itu untuk membabat lengan kiri lawan, pria tua mundur tapi lututnya tidak bisa digerakkan.


Crash...


Lengan kiri lawan Nilotama terbabat putus, Nilotama melanjutkan dengan kaki kiri menendang dada, musuhnya terlempar kebelakang hampir dua puluh meter.


"Huek......"


Darah segar keluar dari mulut lawannya Nilotama, melihat rekannya terluka pria dengan golok besar langsung menyerang Nilotama, Putri meloncat menangkis serangan golok yang tertuju pada Nilotama.


"Adik mundurlah..."


Nilotama segera mundur mendengar perintah Wira.