Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 73. Hukuman Pangestu



Pangestu kembali ketempat duduknya setelah melihat anaknya dalam keadaan baik secara fisik maupun mental.


"Pangeran hamba siap untuk dihukum, mohon lindungilah putriku satu-satunya yang tidak mengerti atas semua kejadian ini, bahkan semua Tetua di sekteku tidak tahu bahwa aku seorang penghianat," ucap Pangestu.


"Maaf Paman, aku tahu bahwa sesungguhnya kamu orang baik, kamu berhianat karna putrimu disekap, tapi aku tetap menghukum Paman," ucap Wira.


"Hamba siap menerima hukuman apapun yang Pangeran berikan," jawab Pangestu pasrah.


"Yang Mulia mohon diringankan hukuman ayah hamba, dia orang tua hamba satu-satunya," ujar Mutiara Jelita dengan isak tangis sambil bersujud, ketika mengetahui hukuman berat bagi seorang penghianat.


"Mohon ringankan hukumannya.....," ujar para Ketua sekte dan para pemimpin yang hadir, ikut bersujud memohonkan keringanan hukuman bagi Pangestu.


"Baiklah, karna kulihat kalian sangat mengasihi Paman Pangestu, maka aku menghukum paman Pangestu tidak boleh menemui Mutiara Jelita selama lima tahun, dan mulai sekarang Mutiara Jelita menjadi pengikut istriku, ujar Pangeran Mahkota Mahawira.


Kemudian cahaya menyilaukan terlihat menghisap tubuh Mutiara Jelita, begitu cahaya terang lenyap Mutiara Jelita juga lenyap dari pandangan.


Wira memberi tahu pada kedua istrinya melalui telepati untuk menerima Mutiara Jelita sebagai pengikutnya.


Semua orang yang hadir takjub dengan kejadian itu, mereka berbisik-bisik satu dengan yang lain mengenai hilangnya Mutiara Jelita tanpa bekas, mereka mulai menyadari bahwa Pangeran Mahkota Mahawira memang sangat sakti seperti rumor yang mereka dengar selama ini.


"Paman Pangestu, paman tetap menjadi Ketua sekte Puncak Sinunggal dan bekerja seperti biasa, mengenai Mutiara Jelita dia aman bersama Istriku," ujar Wira.


"Kalian semua kembali duduk dan mari kita lanjutkan pertemuan ini membahas rencana dan strategi untuk mengambil kembali kerajaan kita," ucap Wira.


Semua orang yang hadir kembali ketempat duduknya masing-masing.


Mereka semua terlihat sangat hormat dan segan melihat kemampuan Pangeran Mahkota Mahawira, yang dengan cepat mengetahui penyusup yang bahkan mereka sendiri tidak tahu sektenya di susupi musuh, kesaktiannya yang jauh melampaui mereka semua dan kebijaksanaan dalam memimpin, tahu mana yang layak diampuni maupun dihukum.


Wira menjelaskan mengenai kondisi yang sedang terjadi di Kerajaan Malawa Dewa saat ini, bahwa Benteng Utara sudah dibawah kendalinya, tiga sekte besar aliran hitam sudah musnah, dan aliansi sekte aliran hitam sudah dibawah kendalinya.


Banyak dari yang hadir meragukan penghancuran sekte Besar aliran hitam dilakukan oleh Wira seorang diri.


Supaya tidak semakin gaduh dan membuang banyak waktu, Wira mengeluarkan aura Pendekar Dewa Bumi tingkat 3, Sesha yang selalu berada dibelakangnya diperintahkan untuk mengeluarkan aura Pendekar Dewa Bumi tingkat 5.


Mereka semua menjadi sesak dan susah bernafas, bahkan ada yang terjatuh mendapat tekanan dari Sesha yang mengeluarkan aura puncaknya.


Hanya dua puluh detik Wira dan Naga Sesha mengeluarkan auranya yang sangat mengintimidasi, mereka semua sudah hampir pingsan.


Mereka semua menjadi diam setelah merasakan terapi jantung yang diberikan oleh Wira.


"Boleh aku lanjutkan pembicaraan ini ?" tanya Wira pada semua yang hadir, mereka hanya mengangguk tanda berkata.


"Selanjutnya aku tidak ingin mendengar pembicaraan yang tidak perlu, kita fokus membahas rencana dan strategi perang," ujar Wira.


"Saat penyerbuan ke Istana nanti, aliansi sekte aliran hitam menyerang dari arah gerbang belakang Istana, setelah mereka bertempur, prajurit rekrutan dipimpin oleh paman Mahardika menggempur dari gerbang kiri kemudian para relawan dipimpin oleh paman Sarwadahana menggempur dari gerbang kanan sedangkan prajurit elite dari Ayahanda Raja akan dipimpin oleh ayahanda Panglima menyerang dari arah depan, sedangkan anggota aliansi dibagi empat untuk membantu penyerbuan, prajurit Benteng Utara sudah dialihkan untuk menyerang Benteng Barat perbatasan Kerajaan Samantha Pancaka agar tidak bisa membantu Pangeran Gantar mengatasi penyerbuan kita, itulah rencana yang akan kita jalankan saat penyerbuan nanti," ujar Wira.


"Ada yang ingin bertanya ?" ujar Wira memberi ruang diskusi,


"Maaf Pangeran, berapa jumlah prajurit yang menjaga Pangeran Gantar dan seberapa kuat mereka," ujar Bismaka yang merupakan ketua sekte Pedang Kilat.


"Prajurit mereka saat ini berjumlah 500.000 orang, Pangeran Gantar Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, Panglima Jayeng Rana Pendekar Suci tingkat 9, Jendral utama ada 2 orang, Warak Cendil, Pendekar Suci tingkat 7, Jipang, Pendekar Suci tingkat 7,


Jenderal Muda ada 8 orang rata-rata Pendekar Suci tingkat 4, Komandan prajurit 50 orang rata-rata Pendekar Raja tingkat 4 dan 5, itulah kekuatan mereka." kata Wira menjawab pertanyaan Bismaka.


"Kekuatan kita sekitar 1.200.000 orang belum terhitung anggota aliansi." ucap Wira menambahkan penjelasannya


Mereka sangat kagum dengan kemampuan team informasi yang dimiliki oleh Pangeran Mahkota Mahawira, keyakinan mereka untuk memenangkan perang semakin besar mengingat jumlah pasukan dan kekuatan yang dimiliki lebih unggul dari lawan.


Wira juga menjelaskan kemampuan Pelindung Agung Jyoti Ambaka, Pendekar Dewa Bumi tingkat 3 puncak yang mungkin sudah tingkat 4 sekarang, Raja Wreksasena, Pendekar Dewa Bumi tingkat 2, Panglima Ringkin, Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, Shesa pengawal Mahawira, Pendekar Dewa Bumi tingkat 5 dan Wira sendiri Pendekar Dewa Bumi tingkat 3, Wira menjelaskan ini semua untuk menambah keyakinan bahwa peluang menang sangat besar ditangan mereka, dan berharap mereka bertempur dengan ikhlas tanpa berharap imbalan, karna kebebasan dan kedamaian yang akan didapat adalah imbalan yang setimpal dengan perjuangan mereka.


Setelah selesai diskusi mengenai rencana dan strategi perang Wira menutup pertemuan untuk hari itu dan meminta semua berlatih lebih giat untuk meningkatkan kemampuan tempur.


Wira kembali ke kediamannya sambil menunggu laporan dari Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi.


Saat ini ada beberapa rencana mendesak yang ingin Wira lakukan, mengunjungi Kerajaan Ampel Wangi untuk membangun kerjasama dengan Raja dan para pembesar disana, kemudian mengunjungi sekte Melati Hitam yang banyak memberikan gangguan terhadap rakyat, dan mengunjungi Dunia Kecil untuk membawa Raja Wreksasena dan Pelindung Agung serta para pembesar lainnya ke Kota Awan dengan selamat.


Tapi itu semua menunggu informasi dari Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi supaya bisa bergerak efektif tanpa kesalahan yang berarti.


Sambil menunggu laporan dari Tikus Hitam Wira masuk ke dalam Dunia Dimensi Jiwa.


Wuuuusss...


Wira menuju Istana Giok untuk mencari kedua istrinya, Wira menemukan Putri dan Nilotama sedang menenangkan Mutiara Jelita yang sedih karena belum mengetahui nasib yang menimpa ayahnya.


"Itu Kakak Wira datang," ujar Nilotama yang mengetahui lebih dulu kedatangan Wira.


"Kakak mohon ampuni ayahnya Mutiara Jelita, kasihan Mutiara Jelita bersedih," ujar Nilotama,


"Iya Kanda, mungkin ayahnya Mutiara Jelita melakukan perbuatan tidak baik karna diancam dengan menyekap anaknya," Putri menambahkan.


"Ayahmu aku hukum tidak boleh menemui kamu selama 5 tahun, itupun karna kamu harus berlatih keras disini agar menjadi Pendekar yang kuat kedepannya, selebihnya dia kembali pada tugas yang biasa dia lakukan," ujar Wira menjelaskan.


"Terimakasih Pangeran," ucap Mutiara Jelita sambil bersujud di kaki Wira,


"Bangunlah tidak perlu seperti itu, tanpa diminta olehmu aku pasti mengampuni ayahmu, karna aku tahu ayahmu orang baik yang kebetulan tertimpa nasib sial." kata Wira menjelaskan.