
Wira menyuruh Singa Emas terus mengikuti pria buntung yang lebih muda.
"Paman rupanya larimu kurang cepat, semangatlah sedikit, hidupmu bergantung seberapa cepat paman bisa berlari," teriak Wira dari atas.
Pria buntung menoleh keatas, dia melihat Wira berdiri dileher seekor singa yang terbang dengan dua pasang sayap, lebar badannya sekitar tujuh meter dengan panjang hampir tiga puluh meter, yang paling aneh adalah ekornya, memiliki ujung seperti mata panah berwarna hitam kebiruan dan panjangnya hampir tiga puluh lima meter.
Melihat Singa yang terbang seperti itu, pria tua berhenti berlari, dia memasrahkan hidupnya pada wira.
"Tuan muda, aku tidak ada muka lagi untuk memohon ampunanmu, berikan aku kematian yang cepat," ucap pria buntung memohon.
Ceb...
Ceb...
Wira melepaskan dua panah, satu menembus jantung yang satunya menembus leher.
"Tinggal satu lagi, ayo Singa Emas, lebih cepat !" Wira memberi semangat pada Singa Emas agar terbang lebih cepat.
Tidak sampai lima menit, Wira melihat di kejauhan salah satu tetua yang mengeroyoknya berlari sangat cepat.
"Singa Emas ikuti saja tetua itu dari jauh, biarkan dia membawa kita ke sektenya.
Singa Emas terbang lambat untuk membuntuti tetua itu dari kejauhan, sekitar tiga puluh menit tetua itu berlari, wira melihat bangunan di kejauhan di bagian dataran yang tinggi, dimana di lembahnya mengalir sungai kecil yang airnya jernih.
Melihat sektenya sudah didepan mata, Tetua itu merasa lega, karna merasa hidupnya pasti selamat.
Di pintu gerbang sekte Golok Neraka.
Wuuuusss...
Tetua itu melewati murid yang berjaga Tanpa basa-basi.
"Tutup gerbang!" kata tetua itu berteriak, sementara dia sendiri masuk ke dalam menemui Ketua sekte, ketika dia berpapasan dengan murid yang lain dia menyuruh membunyikan lonceng siaga.
Tang...teng.. tang...teng...tang...teng...
Lonceng tanda siaga terus dibunyikan, murid-murid sekte Golok Neraka berhamburan keluar dan berkumpul di aula.
"Singa Emas tetaplah disini," Wira melayang mendekati sekte Golok Neraka dan berdiri diatas gerbang sekte,"
"Kakak Putri lihat kakak Wira bisa terbang,"
Nilotama dan Putri kaget melihat Wira melayang
"Banyak hal luar biasa yang yang Kanda Wira bisa lakukan tapi dia tetap rendah hati, kita bersyukur bisa memilikinya," kata Putri.
"Iya Kak," Nilotama menyetujui pendapat Putri.
Sementara di aula sekte manusia yang berkumpul semakin banyak, para Tetua sekte sudah siaga berdiri dipuncak bangunan untuk memantau situasi.
Setelah beberapa lama mereka tidak melihat musuh, kecuali satu orang yang berdiri diatas gerbang sambil menenteng busur, beberapa tetua turun menghampiri Ketua sekte.
"Ini terlalu berlebihan, hanya satu orang yang datang dan kita sudah heboh seperti digempur ribuan prajurit," kata Alis Perak salah satu Tetua sekte Golok Neraka, pada Ketua sekte.
"Kita lebih baik berhati-hati dan jangan meremehkan, dari laporan Walung Singkal, anak muda ini mengalahkan 'Formasi Bintang Penghancur' dengan hanya satu gerakan, dan lihat tunggangannya diatas sana." kata Ketua sekte mengingatkan.
"Anak Muda, apa yang kamu inginkan datang kesini ?" tanya Alis Perak, salah satu tetua sekte Golok Neraka.
"Aku hanya ingin menghukum orang yang telah, mengganggu dan melecehkan martabat istriku," kata Wira.
"Dengan cara bagaimana kamu akan menghukumnya ?"
"Aku akan membunuhnya !, serahkan dia kepadaku, maka aku akan mengampuni sekte ini," kata Wira sengaja memprovokasi.
"Jangan besar kepala Anak Muda, sekte ini sudah malang melintang di dunia persilatan sejak ribuan tahun dan kami punya aturan sendiri untuk menghukum anggota sekte yang kami anggap bersalah." kata Ketua sekte
"Yang aku tahu sekte ini menjadi penjilat kaum penjajah, tidak bermoral, dan suka menindas rakyat yang lemah." Wira menimpali sarkasme.
"Memang demikianlah hukumnya rimba persilatan, yang lemah menyerah pada yang kuat," kata Alis Perak meremehkan.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu tunjukkan kekuatanmu, supaya aku tau seberapa kuat para tetua sekte disini," Wira menantang dengan halus.
"Sekte busuk ini akan aku musnahkan, hitung-hitung membantu menghilangkan hama yang selalu mengganggu kedamaian rakyat," batin wira.
Wira memasang panah Suci Sugosa pada busur Naga Writa, melapisinya dengan Api Poeniks Biru kemudian merapal mantra Sahasra Astra.
Siiiiiiiiiing...
Siiiiiiiiiing...
Siiiiiiiiiing...
Siiiiiiiiiing...
Siiiiiiiiiing...
Duuaaaaaaaaaaaaarrr...
Panah Suci Sugosa menjadi ribuan jumlahnya, langit tampak gelap.
Creb... creb... creb...
Boom... boom... boom...
Seluruh murid sekte yang ada di aula roboh seketika, bangunan-bangunan hancur dan terbakar, beberapa tetua level Pendekar Suci tingkat rendah terluka parah, Wira memang tidak berniat untuk menyisakan satu orangpun anggota sekte Golok Neraka, kecuali anak-anak.
Mereka yang masih tersisa sekitar enam orang, Ketua sekte, dan lima tetua senior yang tingkatannya agak tinggi.
Wira melayang mendekati Ketua sekte yang pucat pasi melihat kondisi sektenya hancur tanpa sisa, untung Kepala sekte sudah menyuruh salah satu tetua untuk mengungsikan anak-anak keruang bawah tanah.
"Pernahkah kamu berpikir, akan ada masa dimana kamu merasakan kesedihan seperti yang orang lain rasakan, ketika orang-orang yang mereka cintai dimusnahkan ?, berapa banyak sekte putih yang kamu musnahkan bersama para prajurit penjajah ?" ucap Wira menusuk hatinya.
Kepala sekte diam tidak menjawab, Wira mengeluarkan Kapak Rajabala dari cincin dimensinya.
Para Tetua sekte yang tinggal lima orang mendekati Kepala sekte bersiap memberi bantuan.
"Lima orang Tetua sektemu yang hanya Pendekar Suci tingkat 7 ini tidak akan banyak membantu, hancurkan kultivasimu atau menjadi mangsa Kapakku," kata Wira memberi pilihan.
Ketua ayo kita lawan bersama-sama, hidup tanpa kultivasi, sama artinya kita menjadi bahan olok-olok orang lain.
Kata-kata yang diucapkan Wira barusan membekas kuat dalam ingatan Ketua sekte, dia teringat akan kekejaman sektenya pada sekte yang lain atau pada orang lemah lainnya, dia menyadari bahwa kekejaman yang pernah dia lakukan tidak cukup jika ditebus hanya dengan kematian.
Bom....
Ketua sekte menghancurkan kultivasinya..., sekarang dia hanyalah manusia biasa.
"Aku sudah terlalu banyak berbuat dosa baik secara langsung maupun atas perintahku, untuk itu sangat pantas jika nantinya aku ditindas oleh orang lain, aku akan terima dengan ikhlas sebagai pelajaran dalam hidupku," demikian Ketua sekte Golok Neraka memberi nasehat samar pada para tetua sektenya melalui keputusan yang diambilnya.
"Lebih baik mati dalam pertempuran ketimbang menyerah, menjadi bahan tertawaan seumur hidup," kata salah seorang tetua senior mengajak yang lain untuk bertempur sampai akhir.
Wira kemudian bergerak cepat menyerang dua orang yang berada paling dekat dengan dirinya.
Suara mendengung seperti baling-baling
Keluar saat Wira memutar kapaknya dengan cepat,
Crash...crash...
Satu orang putus kepala, satu orang lagi putus bahunya, Wira melanjutkan dengan memberi pukulan dengan jurus Samudra Memecah Karang pada bagian kepala.
Prak.....
Kepala tetua itu pecah terkena pukulan wira, melihat dua rekannya jatuh, ketiga tetua melarikan diri dengan berbeda arah dengan harapan salah satu bisa selamat.
Melihat ketiga tetua menggunakan jurus lari cepat, Wira melempar kapaknya dengan cepat,
Crash...
Satu orang lagi terbunuh...
"Kamu bilang lebih baik mati daripada jadi bahan tertawaan..., sekarang lari, teriak Wira.
"Singa Emas buru dia!" kata Wira menunjuk tetua yang lari kearah Singa Emas.
Sementara Wira mengambil kembali kapaknya dan mengeluarkan Busur Naga Writa, panah Suci Sugosa terpasang ditengah-tengah busur, Api Poeniks Biru menyala-nyala pada panah Suci Sugosa, Wira mengalirkan tiga puluh persen tenaga dalamnya pada panahnya, kemudian fokus menandai target dengan kesadaran jiwanya.
Siuuuuutt.....
Panah Suci Sugosa melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti, hanya nyala biru yang terlihat seperti naga panjang bercahaya biru membekas diwilayah yang dilaluinya.
Bruuk....
Tetua itu ambruk dengan bolong besar dibagian dada dengan bekas seperti terpanggang.
Kemudian Wira bergerak kearah Singa Emas berada.
Dibawah kaki Singa Emas seseorang terlihat sedang sekarat, di kaki kanannya tampak ekor Singa Emas yang berbentuk mata tombak masih menancap, seluruh kakinya menghitam karna racun yang terkandung di ekor Singa Emas sudah mulai menyebar, lengan kanannya remuk bekas cakaran Singa Emas.
"Tolong bunuh aku Tuan Muda," kata tetua itu memohon, rasa sakit yang tiada tara dari kakinya yang seperti terbakar api neraka Avici.
Tetua itu melolong menahan sakit,
"Singa Emas bunuh dia, tidak baik menyiksa orang terlalu kejam," kata Wira.
Singa Emas mencabut ujung ekornya dan melecutkannya sekali lagi menembus jantung tetua itu.