Love Hurts

Love Hurts
Emosi Yang Tak Pernah Padam



Hening. Tak ada yang bersuara lagi. Bahkan Tasya dan Rissa yang notabenenya cerewet dibuat tak bersuara lagi. Suasana macam apa ini? Kenapa pada diam-diaman semua?.


"Long time no see Vino" Suara Agam yang ditujukan kepada Vino.


Vino sendiri dibuat emosi dengan kata-kata Agam. Sebisa mungkin dia menahan gejolak emosinya agar tidak melayangkan bogemannya ke arah Agam.


"Lo berdua udah saling kenal ya?" Tanya Kevin setenang mungkin, tidak ingin membuat emosi yang terdapat dalam diri Vino pecah.


"Hm. Dia,, orang yang gue ceritain ke kalian berdua" Ungkap Vino dengan suara datar karena menahan emosinya.


Mendengar ungkapan sang sahabat membuat Kevin dan Alan mengetatkan rahang masing-masing. Masih tidak menyangka bahwa orang yang membuat adik dari sahabat mereka menderita gangguan psikologis, berada tepat didepan mereka.


Melihat suasana yang kian dingin itu, membuat Gabriel segera membuka suara dan mencoba untuk mencairkan suasana.


"Bukannya kalian mau latihan juga ya? Kebetulan kita-kita udah pada selesai, jadi silakan digunakan lapangannya. Keburu anak-anak lain pada dateng"


Mendengar suara Gabriel, baik Kevin dan juga Alan langsung tersadar dari rasa emosi yang tadi tiba-tiba naik. Sementara Vino masih menahan diri agar tidak kelepasan saat ini, dia tidak ingin tindakannya nanti akan menyakiti orang-orang disekitarnya.


Tasya dan Rissa hanya jadi penonton dari tadi, mereka bahkan tak bersuara sedikitpun. Melihat kedua pacar mereka diam tak berkutik membuat Kevin dan Gabriel sama-sama mengelus pelan kepala mereka.


"Ini kenapa pada canggung gini sih? Mau pulang aja deh kalo gini" Cicit Tasya yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada disitu.


Mendengar cicitan itu, membuat mereka tersadarkan. Mereka lupa jika saat ini mereka sedang bersama dengan dua orang spesial dari sahabat mereka.


"Sorry banget Sya, Rissa. Lo berdua gak usah takut, kita cuma nostalgia aja kog" Jelas Agam yang diselingi dengan sedikit kebohongan.


"Yee nostalgia apaan coba?! Suasananya aja canggung begini" Ceplos Rissa yang sukses membuat Kevin melongo.


"Gak usah ngawur ihh. Yang cantik duduknya, aku mau latihan dulu" Cecar Kevin dengan mencubit pelan pipi Rissa.


Mendengar itu, baik Alan maupun Vino lantas menaruh tas olahraga mereka dilantai lapangan tanpa menghiraukan tatapan Agam yang sepertinya masih ingin membuat Vino emosi.


Gabriel dan kedua sahabatnya lantas menatap penuh tanya ke arah Agam. Mereka benar-benar ingin mengetahui alasan dibalik emosi Vino yang sempat mereka lihat tadi.


....


Nathan hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam rumah Naura. Setelah dipersilahkan duduk, segera saja Nathan mendaratkan bokongnya di sofa yang bisa menampung beberapa orang itu.


Tak lama setelah Nathan duduk, suara seseorang berhasil membuat Nathan kembali berdiri guna memberi salam serta mencium pelan punggung tangan tersebut.


"Baru datang apa sudah dari tadi nak?" Tanya Fiera bundanya Naura.


"Baru aja tante" Jawab Nathan dengan sopan.


"Sudah sarapan belum?" Tanya Fiera lagi.


"Sudah tante. Tadi sebelum kesini udah sarapan, niatnya mau ikut sarapan disini tapi gak dibolehin sama mama" Jelas Nathan dengan sedikit candaannya itu.


Suara tawa Fiera membuat Nathan juga ikut tertawa pelan.


"Kamu ini ada-ada aja. Kalo mau sarapan double juga boleh kog" Balas Fiera yang berhasil membuat Nathan menyengir lebar.


"Gas kalo udah dikasih lampu hijau" Ceplos Nathan.


Keduanya asik bersenda gurau tiba-tiba terdiam karena mendengar suara seseorang yang sementara berjalan ke arah mereka.


"Jadi anak menantu om sama tante aja deh Than"


Ucapan tersebut membuat Nathan terbatuk. Om Erwin orangnya terlampau jujur sama apa yang ada dalam otaknya.


"Kalo jodoh pasti bakal jadi juga Pah" Tambah Fiera yang membuat Nathan kembali terbatuk untuk kedua kalinya.


Nathan membisu, tidak tahu harus membalas apa. Tetapi yang pasti, dia hanya ingin hidupnya mengalir sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang pencipta.


.....


See you next part guys 🤗