
Raut wajah yang tegang dan sorot mata yang sarat akan takut. Itulah yang saat ini Kevin rasakan, dia benar-benar takut saat ini. Seketika nyalinya ciut ketika berhadapan langsung dengan kedua orangtua Tasya dan Nathan.
Atmosfer di dalam ruang tamu tersebut semakin canggung karena tidak seorangpun dari mereka yang bersuara. Bukan karena tidak ada topik pembicaraan, melainkan mereka sibuk dengan isi pikiran mereka sendiri. Terkecuali Tasya. Iya Tasya, saat ini dalam pikirannya adalah kapan dia bisa ke kamarnya dan segera beberes mandi karena jujur saja Tasya saat ini merasa tidak nyaman karena tubuhnya terasa lengket karena baru pulang dari sekolahnya.
"Ekhem. Jangan pada main lomba diem-dieman dong. Ngomong sesuatu gitu atau apalah asal jangan diem mulu" Ceplos Tasya karena gregetan dengan orang-orang dalam ruangan tersebut.
"Nih anak emang rada ogeb, gak liat situasi dulu kalo mau ngerocos" Tukas Nathan sambil menoyor pelan jidat adiknya.
"Apaan sih bang orang situasinya saat ini lagi pada lomba diem-dieman kan?" Tanya Tasya dengan raut wajah kesalnya karena habis di toyor oleh Nathan.
Belum sempat Nathan membalas ucapan adiknya, suara papa Mikhael membuat aksi kedua kakak beradik itu langsung terhenti.
"Lagi ada tamu kok malah ribut sih kalian berdua?!. Gak malu apa berantem di depan tamunya?" Walaupun raut wajah papa Mikhael tidak menunjukkan wajah galak, tetapi kata-kata papa Mikhael yang penuh tekanan itu mampu membuat kedua bersaudara itu bungkam seketika.
"Udah Pah. Nak Kevin sekarang udah tambah ganteng aja" Usai menenangkan suaminya, mama Diana mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bercanda pada Kevin.
Kevin yang mendengar ucapan mama Diana sontak salah tingkah. Bukan apa, Kevin hanya merasa bahwa candaan barusan memiliki maksud lain.
"Ini kode supaya gue mulai aja ya pembicaraannya?" Ringis Kevin dengan nada pelannya.
"Gimana kabar kakek kamu?" Tanya Mikhael dengan sedikit nada ketusnya.
Mendengar suara papa Mikhael barusan membuat adrenalin Kevin berpacu dua kali lipat. Pertanyaan biasa tapi sarat akan makna tersembunyi di dalamnya.
"K-kakek baik-baik aja om." Jawab Kevin kaku.
Mama Diana tahu, jika saat ini suaminya sedang mencoba meredakan emosinya yang sempat tersulut setelah bertemu kembali dengan orang dari masalalu putrinya.
"Baik juga tante" Sambung Kevin dengan cepat.
"Saya minta maaf jika kedatangan saya membuat om dan juga tante merasa tidak nyaman. Tetapi saya lebih merasa tidak nyaman lagi ketika saya belum bertemu dengan om dan tante. Sebelumnya saya meminta maaf atas apa yang terjadi pada masa lalu, saat itu saya masih terlalu kecil untuk sekadar melawan kakek saya" Tanpa babibu lagi, Kevin langsung mengutarakan apa yang sudah dia tahan selama beberapa tahun belakang bahkan detak jantungnya juga ikut berpacu lebih cepat.
Tasya dibuat melongo oleh perkataan Kevin barusan. Satu pertanyaan besar muncul dalam otaknya. "Kakek?"
Helaan napas gusar Mikhael membuat Kevin menjadi sedikit was-was. Dia siap menerima segala kata kasar yang akan dilayangkan kepadanya. Tetapi dugaan Kevin salah, karena selanjutnya Kevin dibuat terkejut atas jawaban Mikhael.
"Sebenarnya om sudah menerka bahwa hilangnya kamu yang tiba-tiba pasti karena kakek kamu. Bukan tanpa sebab om menyimpulkan seperti itu, disaat itu om sadar bahwa garis perbedaan di antara keluarga kamu dan keluarga om terlampau besar. Jadi ketika kakek kamu tau kamu berpacaran dengan Tasya, kakek kamu pasti merasa tidak suka karena cucunya yang berasal dari keluarga kalangan atas sedang menjalin hubungan dengan gadis seperti Tasya"
Balasan panjang dari papa Mikhael membuat otak Tasya berpikir kembali pada masalalunya dengan Kevin.
.....
Hei,,, hei,,, heiiiii. Maaf yaa baru bisa nongol sekarang🙏🙏
Udah sering banget yaa aku minta maafnya😅
See you next part ygy🤭
Sehat selalu ya kalian semua, jangan lupa like dan komennya🥺😇🥰