
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Begitupula dengan aktivitas belajar mengajar di sekolah menengah itu. Bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu, tetapi kelas Tasya masih belum dibubarkan karena guru matematika sedang menulis tugas pribadi dipapan tulis untuk dibawa pulang dan dikerjakan.
Alira sedari tadi hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Bahkan Alira tidak memedulikan tugas yang sedang ditulis oleh gurunya itu.
"Ini kenapa lama banget sih pulangnya?" Gerutu Alira dengan pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Tasya.
Tasya segera mengalihkan tatapannya ke arah Alira dan disambut oleh wajah kesal sahabatnya itu.
"Hustt, gak sabaran banget sih jadi orang. Ntar jadi guru matematika baru tau rasa kamu" Ujar Tasya pelan, dan dibalas oleh pelototan mata Alira.
"Dih moon maap yee, gue gak tertarik buat jadi guru matematika" Balas Alira dengan ketus.
Belum sempat membalas ucapan sahabatnya, kedua anak hawa tersebut dibuat bungkam oleh suara interogasi Pak Adijaya selaku guru matematika.
"Tugasnya dicatat, jangan banyak ngomong kalian berdua. Mau bapak tukar tempat duduk kalian?!" Tukas Adijaya dengan penuh penekanan.
Baik Tasya maupun Alira langsung ketar ketir di tempat duduknya. Jujur saja, pak Adijaya kalau sudah seperti itu maka tak satu pun siswa yang berani bersuara.
....
"Pak Adi beneran guru killer. Terakhir gue kaya gitu, tobat tobat" Ujar Alira yang bergidik ngeri.
"Udah tau gurunya killer, malah ngajak ngobrol" Cibir Tasya tanpa memedulikan raut wajah Alira yang tidak terima oleh perkataannya.
"Lama-lama gue kletekin juga lo, pandai banget nyalahin orang. Untung sayang" Timpal Alira tak mau kalah.
Helaan napas terdengar dari Tasya, jujur saja Tasya kalau berdebat dengan Alira maka sudah pasti pemenangnya adalah Alira. Sedetik kemudian Tasya tersenyum ke arah Alira.
Keduanya saat ini sudah berada di depan gerbang sekolah. Alira sedang menunggu jemputan dan ditemani oleh Tasya.
"Lo pulangnya bareng gue aja, siapa tau Kevin udah balik duluan" Ajak Alira pada Tasya.
"Rumah aku gak terlalu jauh juga kali Ra. Jalan kaki juga bakalan nyampe. Lagian kak Kevin belum balik, tadi katanya mau ke ruang kepala sekolah dulu" Tolak Tasya dengan halus.
Alira tidak bisa berbuat banyak. Memang benar kalau rumah Tasya tidak jauh dari sekolah mereka, berjalan kaki pun tetap sampai.
Sedang asik berbincang-bincang, jemputan Alira sudah datang bersamaan dengan Kevin yang berjalan mendekat ke arah Tasya dan Alira.
"Pangeran lo udah datang. Gue duluan ya, sampai ketemu besok di sekolah. Jangan pacaran mulu lo" Pamit Alira diikuti dengan ledekannya.
"Iya-iya Lira jomblo" Balas Tasya tanpa beban.
Sedang Alira dibuat bungkam dengan rasa kesalnya terhadap ucapan Tasya yang sialnya memang benar. Tanpa membalas ucapan Tasya, Alira segera berjalan mendekat ke arah mobilnya dan segera berlalu dari sana.
"Nunggu lama ya? Maaf tadi ke ruang kepala sekolah dulu" Ujar Kevin yang merasa tak enak hati.
....
Sebelum pulang ke rumah, kedua makhluk itu sepakat untuk ke taman dekat rumah Tasya. Bukan apa, mereka hanya ingin menghabiskan hari ini tanpa ada gangguan sedikitpun.
"Cantik" Jujur Kevin tanpa membuang pandangannya dari Tasya.
Semburat merah tercetak jelas di kedua pipi Tasya. Meskipun sudah berulang kali Kevin mengatakan bahwa dirinya cantik, tetap saja Tasya masih malu dan senang bersamaan.
"Udah tau Kak. Suka banget sih buat aku deg-degan" Balas Tasya dengan jujur.
Kevin dibuat tertawa oleh perkataan Tasya. Ingin sekali mencubit pipi chubby yang sedang merona itu.
"Sayang banget sama kamu Sya. Makasih karena udah jadi warna dalam hidup aku yang penuh dengan gelap. Makasih juga karena bisa nerima aku yang kata orang bermasalah sama hidup aku sendiri. Makasih karena udah jad_" Ungkapan Kevin terhenti karena bibirnya sudah di tutup oleh jari-jari lentik Tasya.
Kevin dibuat kaget dengan raut wajah Tasya yang saat ini sudah dijatuhi oleh air mata. Tangan Kevin dengan refleks menyeka air mata itu. Tatapan mata keduanya terkunci serta mulut yang tak bisa berkata-kata. Seolah melalui tatapan itu mereka berbicara.
"Kak Kevin kenapa sih? Kenapa ngomong kayak gitu? Aku ada salah ya sama kak Kevin?" Cecar Tasya dengan sesegukan.
"Hei,, si cantik kenapa nangis hm? Kamu gak punya salah. Aku cuma pengen ungkapin rasa sayang dan juga terimakasih aku ke kamu. Jadi jangan nangis gini, nanti orang-orang pada ngira aku jahatin princess"
"Lagian kak Kevin kenapa sih? Kayak mau pergi aja sampe ngomong gitu. Apa jangan-jangan kak Kevin emang beneran mau pergi ninggalin aku?" Timpal Tasya dengan memicingkan matanya menatap Kevin.
Tak langsung menjawab, Kevin malah menoyor pelan kepala Tasya. Tetapi tak dipungkiri bahwa perasaan Kevin juga mendadak gelisah usai mendengar perkataan Tasya.
"Perasaan dari pagi gue gelisah terus. Semoga gak terjadi apa-apa" Batin Kevin berpikir positif.
"Kalo ngomong itu yang bener. Orang aku cuma pengen ngungkapin perasaan aku. Kamu aja yang terlalu negatif pikirannya" Jawab Kevin diselingi senyum manisnya.
Tasya tak mengubris perkataan Kevin yang barusan, malahan dia semakin merasa tidak nyaman dihatinya tetapi sebisa mungkin dia menghilangkan rasa tidak nyaman itu.
"Emm mungkin aku aja yang terlalu jauh pikirannya" Ucap Tasya membalas senyum Kevin.
Setelahnya tidak ada obrolan lagi diantara keduanya. Keduanya sedang larut dalam pikiran masing-masing. Perasaan pasangan tersebut benar-benar dilanda kegelisahan sehari ini, tetapi tak satupun dari keduanya mengatakan perihal tersebut.
Seandainya mereka mengungkapkan perasaan gelisah tersebut, mungkin kisah mereka tak berakhir di hari itu.
.....
**Yeay update:)
Sehat selalu kalian semua😇
See you next part guys, tetap tenang ya. Kita bakal ikuti kisah Kevin dan Tasya untuk sementara ini🌻**