
"Tasya,,. Heh,!" Sentak Nathan karena tak mendapat jawaban dari adiknya.
Terkejut? Oh tentu! Tasya dibuat jengkel oleh tingkah kakak konyolnya ini.
"Apaan sih bang. Untung aja aku gak punya riwayat penyakit jantung" Kesal Tasya dengan tatapan jengkelnya itu.
"Dih kamu aja yang gak sadar. Dipanggilin baik-baik malah ngelamun, ntar kesambet baru tau rasa" Kelakar Nathan karena tak terima dengan kata-kata adiknya.
Keduanya malah adu tatap-tatapan dan diakhiri dengan saling membuang muka ke arah lain. Tingkah keduanya mendapat gelengan kepala Mikhael dan Diana, sedangkan Kevin hanya terkekeh kecil.
"Udah gede masih suka berantem. Kayak kucing sama tikus aja. Gak malu emang diliatin sama Kevin?" Tegur Diana kepada kedua anaknya.
Nathan dan Tasya sontak menatap ke arah Diana dengan tatapan cengo keduanya.
"Bang Nathan yang duluan Mah" Adu Tasya pada Diana tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Nathan.
"Dih malah nuduh. Moon maap aja ye, kamu yang duluan mulai" Balas Nathan tak terima dengan tuduhan adiknya.
"Apasih bang. Auah males ladenin bang Nathan" Rajuk Tasya sambil membuang mukanya ke arah lain.
"Kan gak bisa ngelak. Udah kalah gak usah sok-sokan pake merajuk segala" Ujar Nathan dengan bangga karena kali ini dia yang menang.
Tasya yang tak terima pun hendak melayangkan protesnya, tetapi sebelum itu terjadi suara Mikhael membuat Tasya melengkungkan senyum manisnya.
"Terusin aja berantemnya. Setelah itu papa potong uang jajan kamu" Ucap Mikhael sambil menatap putranya.
"Lah kog gitu sih Pah?! Kan yang mulai duluan adek" Balas Nathan dengan wajah kesalnya.
Tak mengubris perkataan anaknya, Mikhael langsung berdiri dari duduknya dan segera menuju ke ruang kerja untuk membereskan sisa pekerjaan.
Keempat manusia yang masih berada di ruang tamu bernafas lega karena sepertinya perbincangan hari ini telah selesai.
"Sebelum nak Kevin pulang, kita makan dulu ya?" Ucap Diana penuh harap.
Kevin yang pada dasarnya memang belum makan, spontan mengiyakan ajakan Diana.
"Yaudah kalo gitu Tasya beres-beres bentar ya Mah" Ucap Tasya dan segera berlalu dari situ tanpa menunggu persetujuan dari Diana.
Selepas kepergiaan Tasya, Diana langsung menuntun Kevin menuju meja makan dan menyuruh Nathan untuk memanggil Mikhael diruang kerjanya.
"Iya tante. Sekali lagi Kevin minta maaf karena udah buat anak tante merasakan sakit saat itu" Ungkap Kevin dengan perasaan bersalahnya.
Diana yang mendengarnya hanya tersenyum sambil mengelus pelan punggung Kevin. Dia sudah tidak marah ataupun dendam pada Kevin, setidaknya sekarang Kevin sudah bersedia datang dan menjelaskan semuanya tanpa menutupi kesalahan keluarganya dulu.
"Gapapa. Udah tante maafin. Gak usah terlalu larut dalam rasa penyesalan, kedatangan nak Kevin saja sudah membuat tante dan om merasa lega dan senang secara bersamaan" Jujur Diana.
Perkataan Diana sukses membuat Kevin menampakkan wajah bingungnya. Senang? Apakah orangtua Tasya senang karena Kevin menyakiti hati putri kesayangan mereka?
"Tante dan om merasa senang? Kenapa gitu?" Beo Kevin.
Diana terkekeh pelan sebelum menjawab kebingungan Kevin.
"Iya tante dan om merasa lega dan juga senang karena kedatangan nak Kevin. Dulu om sempat takut kakek kamu bukan cuma menyakiti Tasya, tetapi kamu juga ikut di seret ke dalam kemarahan kakek kamu. Om sempat mengunjungi rumah kalian, tetapi kata tetangga kalian sudah pindah beberapa hari sebelumnya" Jelas Diana dengan wajah muramnya. Tapi tak lama Diana mengembalikan wajah senyum karena disaat ini suami dan anaknya sedang berjalan menuju meja makan yang sudah di isi olehnya dan Kevin.
Kevin dibuat kaget sekaligus merasa terharu. Ternyata keluarga Tasya benar-benar menyayanginya dan sudah menganggapnya sebagai anak waktu dulu. Jika boleh jujur, Kevin sangat ingin menjadi bagian dari keluarga tersebut meski sudah dengan cerita yang berbeda.
"Tasya belum ada? Anak itu suka sekali buat orang menunggu" Kesal Nathan karena tidak melihat keberadaan adiknya.
"Bang Nathan kenapa sih? Suka banget ngomongin aku. Perlu di ruqiyah ni bang Nathan, Mah" Timpal Tasya yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Nathan.
Nathan refleks mengelus dadanya dengan pelan. Selain menyebalkan, adiknya juga suka membuat jantung olahraga tiba-tiba.
"Udah ntar abis makan baru kita ruqiyah bareng-bareng abang kamu" Tambah Mikhael dengan tampang mengejek ke arah Nathan.
"Gak anak, gak papa,, sama aja. Sama-sama sengklek" Tukas Nathan yang menarik kursinya dan langsung duduk dengan anteng.
Perkataan Nathan disambut suara tawa dari penghuni meja makan tersebut terkecuali Kevin. Dia masih merasa sebagai orang asing dalam keluarga itu. Jadi Kevin hanya tersenyum simpul sebagai tanggapan akan perkataan Nathan barusan.
.....
**Update lagi:)
Emang rada-rada sengklek sih keluarga yang satu ini😆
Sehat selalu kalian semua😇
See you next part guys**