Love Hurts

Love Hurts
Rasa Lapar Tasya



Tiba di area parkiran, Gabriel segera mengambil helmnya untuk segera dipakai olehnya. Tasya sendiri hanya menunggu karena saat ini Gabriel sedang memakai helm.


Setelah berhasil memakai helm, Gabriel segera membuka bagasi motornya agar bisa mengambil helm lain yang dia simpan di dalam bagasi motornya itu.


"Sini deketan" Ucap Gabriel setelah kembali menutup bagasi motornya dengan helm yang saat ini sudah ada dalam tangannya.


Tasya yang mendengar perkataan Gabriel hanya bisa menurut tanpa banyak bertanya lagi.


"Pake dulu helmnya biar aman sampe rumah. Cantiknya aku gak boleh sampe kenapa-napa" Ujar Gabriel sambil memasang helm tersebut pada Tasya.


Blush. Rasa panas menjalar di kedua pipinya saat ini. Tasya bahkan tidak berani menatap ke arah Gabriel. Rona merah itu berhasil mencuri atensi Gabriel yang sudah selesai dengan aktivitasnya itu.


"Gemes banget sih. Pengen aku umpetin aja" Ucap Gabriel tanpa membuang tatapan matanya dari Tasya.


"Dihh emang aku barang apa,! Sampe harus pake umpetin segala" Kesal Tasya sambil mengerucutkan bibirnya.


Deg,,deg


Semakin berpacu dengan cepat jantung Gabriel. Pasalnya Tasya yang saat ini semakin membuat pikirannya kalang kabut. Pikirannya juga bisa menjadi liar jika tidak segera di sadarkan oleh suara Tasya.


"Sampe rumah kapan nih kalo kak Biel malah asik bengong gitu" Tukas Tasya karena saat ini perutnya sudah berbunyi tanda meminta untuk segera di isi.


"Astaga. Maaf cantik, aku terlalu takjub sama keindahan Tuhan yang satu ini" Jujur Gabriel dengan senyum manisnya itu.


Bukannya senang, Tasya malah semakin dibuat cemberut oleh jawaban Gabriel. Dia sudah menahan lapar sejak jam pelajaran terakhir tadi. Karena tidak tahan lagi, Tasya akhirnya berkata jujur juga dengan perasaannya itu.


"Makasih atas pujiannya kak Biel. Tapi bisa gak kita cepet balik, aku udah laper banget dari tadi"


"Kkkk. Iya-iya kita balik sekarang. Maaf ya udah lupa sama perut kamu" Kata Gabriel sambil menaiki motornya.


"Yaudah naik. Kita pulang sekarang, biar perut kamu segera di isi. Takutnya nanti malah jadi sakit karena terlalu lama nahan laparnya" Tambah Gabriel sambil menyuruh Tasya agar segera naik di atas motornya.


Tasya hanya mengikuti apa kata Gabriel tanpa menjawabnya, karena saat ini dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan. Dia hanya ingin cepat sampai rumah dan segera mengisi perutnya itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Tasya, Gabriel tak hentinya menatap wajah Tasya melalui kaca spion motornya. Dia tidak pernah merasa bosan akan ciptaan Tuhan yang satu ini. Beruntung Tasya sepertinya juga memiliki rasa yang sama sepertinya. Hanya saja kali ini rasa itu belum sebesar rasa yang dia miliki.


"Suka banget ya curi-curi pandang kayak gitu" Seloroh Tasya sambil membalas tatapan Gabriel yang saat ini menatapnya dari kaca spion.


"Dihh apaan sih. Siapa juga yang curi-curi pandang" Kilah Gabriel yang kembali fokus ke arah jalan.


"Yee gak mau jujur lagi. Bohong itu dosa tau" Balas Tasya yang menakut-nakuti Gabriel dengan embel-embel dosa.


Gabriel yang mendengar perkataan Tasya barusan, hanya terkekeh pelan. Bisa-bisanya Tasya menakutinya seperti itu. Tak ingin semakin di goda Tasya, Gabriel malah mengalihkan pembahasan lain.


"Nanti sampe rumah, boleh dong aku ikut makan. Tiba-tiba udah rasa laper nih" Ujar Gabriel sambil melirik kaca spionnya agar bisa melihat Tasya.


"Eumm boleh Kak. Bakal rame nanti dirumah. Soalnya papa juga lagi di rumah" Jawab Tasya sejujurnya.


"Ohh boleh dong sekalian kenalan juga sama papa kamu. Pasalnya waktu ke rumah kamu, gak sempet bertemu juga sama beliau" Imbuh Gabriel sambil mengerem motornya karena saat ini lampu lalulintas sedang berada di warna merah.


"Iya juga yah. Yang kemarin-kemarin itu papa lagi sibuk banget sama kerjaan kantor" Tukas Tasya yang kembali menatap kaca spion agar bisa melihat Gabriel.


Gabriel hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan kesibukan papanya Tasya. Dia juga sudah merasakan kesibukan ayahnya jika sudah fokus dengan pekerjaannya.


Kendaraan roda dua milik Gabriel kembali melaju ketika lampu lalulintas sudah berada tepat di warna hijau. Sisa perjalanan keduanya hanya di isi dengan keheningan. Gabriel yang fokus dengan jalan di depan sementara Tasya yang menikmati pemandangan jalan saat ini.


.....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya❤️


See you next part


Sehat selalu kalian semua😇