Love Hurts

Love Hurts
Flashback 1



"Sarapannya pelan-pelan aja sayang, gak ada yang bakal ambil makanan kamu" Tegur Diana pada anak gadisnya.


"Paling juga udah gak sabar ketemu sama pangerannya" Tuduh Nathan kepada adiknya, dan sialnya lagi tuduhan itu memang benar adanya.


Diana serta Mikhael hanya terkekeh pelan, berbeda sekali dengan Tasya yang saat ini menunjukkan wajah kesalnya pada Nathan dan hanya dianggap angin lalu oleh Nathan.


"Orang jones mah gitu kebiasaannya, SYIRIK" Ucap Tasya dengan sedikit menekan kalimat akhirnya.


Mendengar ucapan Tasya barusan membuat wajah Nathan memerah karena kesal dan sialnya ucapan tersebut terbukti benar.


Tasya sendiri acuh tau terhadap ucapannya barusan, dia tetap melanjutkan aktivitas sarapannya tanpa mempedulikan kakaknya yang sedang menahan kesal terhadapnya.


"Heh mulutnya udah terlalu jujur, hati abang sedih dan terluka mendengarnya" Balas Nathan dengan mendramatisnya.


Seketika suasana hening yang terjadi selama beberapa menit itu kembali berisik karena suara tawa dari penghuni meja makan tersebut.


"Sudah jatuh ketimpa tangga pula" Lanjut Nathan dengan menunjukkan wajah sedihnya yang sialnya malah membuat ketiga orang tersebut semakin tertawa lepas.


"Udah bang jangan dilanjut lagi, perut aku sakit gara-gara abang" Tutur Tasya setelah meredakan sedikit tawanya.


"Iya-iya princessnya abang. Lanjut sarapan gih, jangan kelamaan nanti pangerannya pergi" Balas Nathan dan hanya di angguki oleh Tasya.


Mereka melanjutkan sarapan dengan diselingi nasihat dan wejangan dari Mikhael dan sesekali ditambahi oleh Diana.


Setelah selesai sarapan, Tasya segera berpamitan kepada orangtuanya.


"Tasya berangkat sekolah dulu ya Pah, Mah"


"Iya sayang, belajar yang rajin di sekolah" Nasihat Mikhael kepada putrinya dan hanya di angguki oleh Tasya.


....


"Selamat pagi kak. Maaf ya aku kelamaan" Sapa Tasya kepada seseorang yang saat ini sedang berdiri di samping pagar rumahnya.


"Pagi juga princess. Gapapa princess, aku juga datangnya baru tiga menitan" Balas Kevin dengan senyum manisnya.


Tenang. Satu kata yang mendeskripsikan perasaan Tasya terhadap tatapan teduh dari mata pangerannya ini.


"Nanti dilanjut lagi kagumnya, sekarang kita berangkat ya. Gak boleh sampe telat" Ujar Kevin yang seketika membuat Tasya memerah dan salah tingkah karena ulahnya kembali tertangkap basah.


Tak dipungkiri hati Kevin berdetak sedikit lebih cepat karena tingkah Tasya yang menggemaskan itu. Tak membuang waktu, Kevin meraih jemari tangan Tasya dan mengaitkan dengan jemari tangannya setelah itu keduanya mulai berjalan menuju sekolah yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah Tasya.


Hening. Tak ada jawaban ataupun balasan dari Tasya. Untuk sesaat biarkan dulu seperti ini, baik Tasya maupun Kevin tidak ada lagi yang bersuara. Hingga tiba-tiba,,,


"Sekolah yang bener, jangan pacaran mulu" Teriak Nathan yang baru saja melewati kedua sejoli tersebut dengan mengayun cepat sepedanya usai berteriak.


Kaget? Tentu saja! Siapapun pasti akan terkejut, suasana yang tadi sempat hening berubah menjadi canggung hanya karena kakak sengklek Tasya.


Mengganggu suasana aja sih babang Nathan, untung sayang🗿


"Hiih abang jones. Bikin kesel aja" Semprot Tasya pada sang kakak tapi hanya bisa di dengar angin dan juga Kevin karena pelaku utamanya sudah melaju pergi dengan sepedanya.


"Kkkk. Kakak kamu ganggu suasana aja, tapi bener juga sih yang diucapin sama dia" Imbuh Kevin dengan sedikit kekehannya.


"Emang rada sengklek sih tuh orang, bawaannya pengen tabok terus" Ujar Tasya tanpa memedulikan ucapan kakaknya.


"Gak boleh ngomong gitu, gimanapun juga dia tetap kakak kamu" Nasihat Kevin sambil mengelus pelan pipi chubby Tasya.


Lagi. Rona kemerahan itu kembali mencuat dipermukaan kedua pipi chubbynya di tambah dengan detak jantungnya yang mulai terpompa dengan cepat.


"Kak Kevin niat banget sih buat jantung aku olahraga pagi. Tahan Sya, gak boleh teriak. Ini masih pagi" Batin Tasya bergejolak riang karena perlakuan manis Kevin.


"U-udah mau telat Kak, cepetan nanti bisa kena hukum" Alibi Tasya tanpa memandang ke arah Kevin, mana mampu dia menatap Kevin. Yang ada nanti Tasya bisa pingsan.


Kevin tak membalas ucapan pacarnya, dia tahu saat ini Tasya sedang berusaha menahan rasa malu dan rasa tersipunya sehingga dia hanya bisa mengikuti langkah gadis kesayangannya.


Jangan kira hanya Tasya yang sedang menahan gejolak perasaannya, Kevin sendiri juga sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang terpompa cepat seperti detak jantung Tasya.


Keduanya benar-benar saling menyayangi dan takut untuk melepaskan genggaman tangan itu, Kevin sudah menganggap Tasya sebagai kebahagiaan terindah yang pernah dia alami. Tasya begitu berharga dalam dunia Kevin yang hitam putih saja, karena kedatangan Tasya itulah yang membuat dunia Kevin seketika memiliki banyak warna.


.....


Holaaa, aku comeback😅


Aku nggak ngilang yaa jadi kalian tenang aja, meskipun ceritanya slow up☺


***Sehat selalu kalian semua😇


Salam sayang dari Love Hurts💗


See you next part guys🥺***