
"Sarapan dulu baru berangkat ke sekolahnya Vin" Peringat Hana atau lebih tepatnya mama Kevin.
Mendengar suara Hana, sontak membuat Kevin membalikkan badannya menghadap ke arah mamanya yang saat ini juga sedang menatap Kevin atau lebih tepatnya menunggu kehadiran Kevin agar mau ikut sarapan bersama dengan mereka.
Melihat tatapan mata mamanya, dengan sedikit memaksakan senyum Kevin berjalan mendekat dan langsung menarik kursi di samping Hana dan duduk dalam diam.
Tanpa menunggu di perintah, semua orang yang sedang duduk di meja makan tersebut langsung memulai sarapan dalam keadaan yang menurut Kevin sedikit menegangkan.
"Sebentar lagi kamu akan menyelesaikan masa sekolahmu, jadi kakek mau kamu melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan bisnis agar kelak bisa meneruskan bisnis keluarga kita" Ujar Wilardi di sela-sela sarapan.
"Tapi Kek, Kevin gak mau ambil jurusan itu. Kevin ingin kuliah dengan pilihan Kevin sendiri" Balas Kevin dengan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya itu.
Bukan tanpa sebab Kevin berlaku seperti itu, dia sudah memutuskan untuk hidupnya kedepan, dia sendiri yang akan menentukannya. Cukup sudah hidupnya di tekan oleh sang kakek dari SMP sampai SMA, tidak untuk lanjut kuliahnya.
Mendengar ucapan Kevin yang barusan membuat raut wajah Wilardi menjadi tidak bersahabat seperti sebelumnya. Dengan pelan dia meletakkan sendok makannya dan membawa tatapan tajamnya ke arah cucu satu-satunya itu.
"Mau gak mau kamu harus mengambil jurusan itu. Kakek tidak menerima keluhan atau apapun itu dari mulut kamu" Tegas Wilardi dengan mata tajam yang saat ini di hunuskan pada Kevin.
Bukannya takut, Kevin malah membalas tatapan kakeknya dengan tatapan acuh taunya. Terserah nanti dia akan di perlakukan seperti apa oleh kakeknya, untuk kali ini dia akan melawan dengan kekuatannya sendiri.
"Dan perlu kakek tahu, apapun kemauan kakek untuk kali ini Kevin tidak akan menurutinya. Apa selama ini kakek belum merasa cukup atas semua yang sudah kakek dapatkan? Bahkan kehidupan Kevin selama ini pun di tentukan oleh kakek! Mau sampai kapan Kevin harus berkorban lagi?" Jelas Kevin dengan rasa putus asa bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Udah Vin, gak usah di terusin. Ambil tas kamu biar mama anter kamu ke depan" Sela Hana dengan cepat, karena kalau tidak bertindak saat ini maka bisa di pastikan Kevin tidak akan berangkat ke sekolah.
Dengan hati yang di selimuti rasa sedihnya, Kevin segera beranjak dari ruang makan tersebut di ikuti oleh mamanya.
"Papa terlalu keras dengan Kevin. Untuk kali ini biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, papa gak mau kan cucu papa satu-satunya membenci papa karena sikap papa yang terlalu keras itu" Ujar Hardian dengan penuh wibawa.
Wilardi yang tadi sempat tertegun karena perkataan Kevin, dibuat sadar oleh suara Hardian yang mengingatkannya untuk tidak terlalu keras pada Kevin.
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk Kevin. Papa ingin dia yang kelak meneruskan usaha keluarga kita" Kekeh Wilardi tanpa mau dibantah.
"Sifat Kevin sama seperti papa. Sama-sama tidak mau dibantah, tapi apa selama dari SMP Kevin pernah membantah ucapan papa? Bahkan ketika dia beranjak SMA pun tidak pernah. Baru tadi dia meminta untuk tidak mencampuri pilihannya, tapi kenapa papa tetap kekeh seperti itu? Biarkan dia hidup dengan pilihannya sendiri, papa tidak perlu memaksakan kehendak papa pada dia" Terang Hardian diikuti dengan tarikan napasnya karena tidak habis pikir dengan sikap papanya.
Hening.
Tidak ada lagi suara dari lawan bicaranya saat ini, Hardian tidak mempedulikannya. Setidaknya dengan begini, dia ingin mengurangi rasa bersalahnya pada kevin karena sifatnya dulu yang tidak mempedulikannya.
.....
Hey apa kabar kalian? Semoga baik-baik aja yaa😇
Maaf aku baru bisa up sekarang🤧
Tapi tenang aja, meskipun aku upnya lama, aku tetap usahain buat terus up. Aku suka hilang inspirasi gitu makanya kadang bingung harus buat gimana episode selanjutnya😌
Yaudah deh gak usah banyak keluhannya, semoga suka di episode kali ini😁