If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 9. Hanya ingin mengenalnya



“Aku siap menghadapi risiko apa pun!” Galuh berkata pada dirinya sendiri, tak dipedulikannya teriakan pak Susilo di belakang yang memanggil namanya. Ditutupnya kedua telinganya, Galuh berlari menuju konter Meldy yang letaknya tepat berada di depan tangga eskalator lantai 2.


“Aku seperti mendengar suara gemuruh di belakangku,” ucap Meldy tanpa memalingkan wajahnya, sesaat setelah Galuh berada di dekatnya. Ia dapat merasakan kehadiran sahabatnya itu hanya dengan mendengar suara tarikan napasnya saja.


“Ya Tuhan, Aku lelah sekali hari ini. Dan perutku lapar setelah bekerja keras dari tadi.” Galuh menarik kursi bulat kecil yang ada di samping Meldy, lalu menjatuhkan bokongnya di sana.


Ia memejamkan matanya sejenak sembari menempelkan punggungnya yang berkeringat ke dinding tembok yang dingin dengan kaki menjulur lurus ke depan dan kedua tangan terkulai di kedua sisi tubuhnya. Galuh merasakan kedua kakinya pegal, terutama di bagian betisnya.


“Kalau capek istirahat, kalau lapar makan!” sahut Meldy.


“Pengen makan ayam goreng pedas, lebih pedas daripada ucapan pak Silo. Capek kalau kerja diawasi sama itu orang, berasa dengung kuping kalau dengar dia bicara.”


Meldy tertawa mendengarnya, “Sabar, namanya juga lagi kerja. Biasa aja kali. Lagi pula bukan hari ini aja dia keliling ngawasin kerja anak buahnya.”


“Kalau keliling terus mampir doang sih gapapa, Mel. Ini pakai diawasi segala!” dengus Galuh dengan nada tak suka.


“Yaelah, si Galuh. Kalem dikit napa, cuman diawasi bentar doang? Kalau konter yang Kamu jaga rame, mana berasa diawasi dia. Yang penting fokus sama kerjaan kita! Ramah, baik-baik sama pelanggan yang datang. Pasang senyum manis, gak usah peduliin dianya. Bentar juga pergi sendiri kalau dicuekin.”


“Apalagi kalau banyak pengunjung yang datang, terus barang banyak keluar, otomatis penjualan meningkat. Senangnya, bonus udah kebayang lagi di depan mata. Rasa lelah langsung hilang dengan sendirinya!” imbuh Meldy lagi.


“Mending rame sekalian, capeknya kerasa. Tapi ini yang datang cuman dua orang, Mel. Dua orang! Rusuhnya itu loh sudah kayak di pasar pagi!” keluh Galuh masih dengan mata terpejam.


“Seru kan, dua orang aja sudah bikin konter rame! Dari pada yang datang berenam, tapi yang beli cuman satu orang doang.”


Galuh mengerjapkan matanya, dilihatnya sahabatnya itu berdiri membelakanginya sedang menulis lembar laporan kerja di atas sebuah nakas yang dipenuhi dengan banyak lembar kertas nota.


“Iya, rame bikin hati kesel!” rutuk Galuh teringat tingkah menyebalkan Reza tadi, sudah dua kali ia merasa dipermainkan dengan gaya bossy laki-laki itu.


“Mel, bicaranya ngadep sini napa. Jangan liat nota mulu, lagian sudah jam istirahat juga. Nanti kan bisa dikerjain lagi,” rajuk Galuh, melihat Meldy masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Lah, Kamunya dari tadi ngajak bicara sambil merem gitu?” sahut Meldy, sambil membereskan nota di tangannya. Ia menarik laci kecil yang berada atas nakas lalu memasukkan barang-barangnya di dalam sana.


“Ish!”


Meldy mengulum senyum melihat bibir Galuh yang mencebik, ia mendatangi teman kerjanya yang sedang melayani pengunjung yang baru saja datang ke konter mereka lalu kemudian berpamitan untuk beristirahat terlebih dahulu.


“Ash ish ash ish! Kalau lagi kesel sama pelanggan mesti gitu, teman jadi kena imbasnya. Tunggu Luna bentar, lagi anter barang customer ke kasa 3. Abis itu kita istirahat bareng, terus Kamu bisa cerita semuanya di sana nanti!” kata Meldy setelah kembali berhadapan dengan Galuh.


Ia lalu menarik tangan Galuh untuk bangkit dari kursi yang didudukinya, kemudian menghela bahu sahabatnya itu agar berjalan mengikutinya keluar dari konter dan menunggu kedatangan Luna di depan.


Galuh meringis mendengarnya, “Abisnya pelanggan yang satu ini bener-bener rese, Mel. Heran, saban ketemu adaaa aja masalah. Mana pak Silo ikut-ikutan belain dia lagi,” ungkap Galuh membuat Meldy melepaskan rangkulan tangannya di lengan Galuh.


“Pak Silo kenal sama itu pelanggan?” tanyanya dengan kening berkerut.


“Ho oh!” Galuh menganggukkan kepala, “Dia bilang mau ketemu atasan kita biar tahu cara kerja anak buahnya gimana. Ya Aku bilang aja, silah kan! Eh, gak lama dia nelpon terus nyuruh orang itu datang buat nemuin dia di konter. Tau siapa yang dateng? Pak Silo!”


Tawa Meldy pecah seketika, membuat Luna yang baru saja tiba bingung melihat wajah kedua sahabatnya itu. Meldy tertawa lepas bahkan sampai memegangi perutnya, sementara Galuh menatapnya dengan wajah masam. “Dih, malah ngakak!”


“Ada apa ini, kalian kenapa gak nunggu Aku sih ceritanya. Aku kan jadi penasaran,” ucap Luna menatap Meldy dan Galuh bergantian.


“Tanya aja sama Meldy,” sahut Galuh pada Luna, sembari melipat kedua tangan di dada, “Baru nyebut nama pak Silo aja, dia langsung ketawa ngakak!”


“Aku bisa bayangin pak Silo pasti ngeluarin banyak kata-kata mutiara untukmu,” ucap Meldy, lalu kembali tertawa saat mengingat wajah atasannya itu. “Aduh, kram perutku!”


Luna senyum-senyum sendiri, ia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Galuh setelah mendengar nama atasan mereka disebut. “Dah lama gak liat pak Silo nyanyi, hahaha.”


“Galuh tunggu!” seru Luna memanggil namanya, keduanya bergegas mengejar langkah kaki Galuh yang berjalan ke arah Selera Kita, kafetaria tempat para karyawan mal makan dan menghabiskan waktu istirahat siang mereka.


“Astaga, astaga, dia lagi! Malas banget, lebih baik cari tempat makan lain.” Galuh buru-buru membuang muka saat matanya bertemu pandang dengan sepasang mata coklat milik Reza yang sedang menatap ke arahnya, ia segera berbalik dan berlalu dari sana. Namun kedatangan Luna dan Meldy mengacaukan rencananya.


“Heii!” Meldy menghadang langkah Galuh dan memutar tubuhnya kembali, “Tadi katanya lapar, pengen makan ayam pedas. Tuh, sudah di depan mata. Kenapa putar balik lagi, Non?”


“Penuh gitu tempatnya. Cari tempat lain aja yuk,” kilah Galuh, namun gerakan tangan Luna yang mengapit lengannya membuat Galuh tak berkutik. Ditambah lagi ulah Meldy yang terus mendorong bahunya memasuki kafetaria yang ada di depan mereka.


“Penuh gimana, itu masih ada meja kosong di bagian tengah. Kalau di ujung memang penuh semua,” sahut Luna seraya menarik tangan Galuh menuju meja kosong yang ada di sana.


Reza memperhatikan Galuh dan kedua temannya saat masuk, senyum mengembang di wajahnya. Ia menepuk bahu Aldy lalu mengarahkan dagunya pada meja Galuh berada sambil berbisik, “Kalian tunggu bentar di sini, Gue mau nyapa mereka di sana.”


Aldy menolehkan wajahnya, melihat ke arah meja Galuh lalu menatap Reza dengan mengernyitkan keningnya. “Gue heran, tumben Lo segitu penasarannya sama itu cewek.”


“Kalian tenang aja, sebelum Gue ambil alih tugas bokap di sini. Gue mau kenal dulu sama mereka bertiga. Karena menurut pak Susilo, mereka bertiga ini aset penting mal ini. Selalu berhasil meraih top 3 penjualan terbaik selama tiga tahun berturut-turut mengalahkan penjualan brand pakaian ternama dari luar.”


“Kalau gitu Gue ikutan, kita kan juga bertiga pas sama mereka.” Danil menimpali.


“No!” Reza menjawab tegas. “Kalian tetap di sini, bahaya kalau kalian berdua ikut ke sana. Yang ada mereka bakal tahu siapa Gue!”


“Gue jadi curiga, sebenarnya apa sih rencana Lo sama mereka bertiga di sana?” tanya Danil.


“Seperti kata Gue barusan, cuma mau kenal doang. Itu saja!” sahut Reza sambil menatap Galuh dari kejauhan.


“Oke lah kalau begitu, kita tunggu aksi Lo!”


“Tunggu pas mereka lagi makan, biar gak lihat kalau Gue ke sana.”


“Kelamaan Bos, keburu siang. Kita harus balik kantor juga kali!”


“Berisik!” potong Reza cepat. “Kalian kan jalan bareng Gue, jadi amanlah.”


“Iya juga, sih. Lo kan bos kita di kantor,” sahut Aldy sembari menggaruk rambutnya.


Danil tertawa melihatnya, “Ketombean Lo!”


“Kagak lah, Bro!”


Sementara itu di mejanya, Galuh hanya duduk diam saat Luna dan Meldy sibuk membahas menu apa yang ingin mereka makan. Nafsu makannya mendadak menguap entah ke mana. Ia hanya mengiyakan ucapan Meldy yang memesan pecel ayam untuknya.


Galuh melirik sekilas pada meja yang berada di seberangnya, di mana dilihatnya Reza dan kedua kawannya duduk sambil menikmati makan siangnya.


Saat pandangan mereka kembali bertaut, Galuh melihat Reza mengetuk-ngetukkan ujung jarinya ke arah kotak sepatu di depannya seraya melemparkan senyum padanya. Galuh melengos, membuang pandangannya ke arah lain.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang, Galuh kembali fokus dengan makanan di hadapannya hingga ia tidak menyadari Reza yang berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan meja mereka.


Reza menarik satu kursi kosong di sebelah Galuh, lalu duduk dengan santainya sambil menekuk satu tangan di atas meja menyangga wajahnya.


“Astaga!” Luna meredam pekikannya dengan kedua tangannya, Meldy membelalakkan matanya dan langsung meraih tisu di atas meja mengusap sudut bibirnya yang terkena saos sambal, dan Galuh hampir tersedak makanannya sendiri melihat lelaki di sampingnya itu. Orang yang ingin dihindarinya justru datang dan malah bergabung bersama di meja mereka.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎