If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 61. Dua kabar berbeda



Galuh mengibaskan tangan di depan hidungnya sambil mengerutkan wajah, dan sejurus kemudian ia berbalik lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Reza sempat bengong sebelum mengendus kedua lengannya. “Aneh, gak bau? Tapi, kenapa Galuh langsung mual gitu ya. Apa jangan-jangan ...?”


Huegh!


“Ya Tuhan, istriku!” Suara Galuh yang terdengar dari dalam kamar mandi menyadarkan Reza, ia bergegas menyusul Galuh ke sana. Sayang pintunya dikunci dari dalam dan laki-laki itu kesulitan membukanya. “Yank, buka pintunya. Biarkan Aku masuk!”


Tak terdengar sahutan, hanya suara air yang mengucur deras dari dalam kamar mandi. Lalu tak lama kemudian hening, Reza mulai khawatir. Ia menggedor pintunya sambil terus memanggil nama Galuh. “Yank, buka. Ngapain pakai dikunci segala pintunya.”


“Sebentar!” sahut Galuh dengan suara serak.


Klek!


Pintu terbuka dan Reza langsung menerobos masuk. Matanya melebar begitu melihat Galuh terduduk di lantai kamar mandi sambil memeluk pinggiran toilet. “Yank?!”


Reza menyambar handuk kecil yang terlipat rapi di rak, lalu merendahkan tubuhnya dan berjongkok di sisi Galuh. Ia menyeka keringat yang mengembun di kening Galuh dan menangkup wajah cantik yang terlihat pucat itu, lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya.


“Kita ke dokter sekarang ya, yank.”


Galuh mengangguk. Reza menyelipkan kedua tangannya di antara paha Galuh, lalu mengangkat tubuh lemas istrinya itu dan menggendongnya keluar dari kamar mandi.


Galuh mengalungkan tangannya di leher Reza. Mual itu datang lagi, tapi Galuh sekuat tenaga berusaha menahannya hingga wajahnya memerah.


“Abang ganti baju dulu, keringatnya ...” Galuh menutup mulutnya, menahan rasa mual yang mendesak keluar.


“Iya, bentar Aku ganti baju. Sekarang Kamu duduk di sini dulu.” Reza mengatur letak bantalan sofa, lalu membantu Galuh berbaring di sana. “Mau Aku ambilkan sesuatu, biar mualnya berkurang. Teh hangat, minyak gosok?”


Galuh menggeleng, ia sedang tidak berselera. Tapi melihat kecemasan di raut wajah suaminya, ia jadi merasa bersalah. “Buah aja kali, Bang. Dipotong-potong kecil, tapi Abang yang kerjain. Gak boleh orang lain.”


“Gampang kalau soal itu, Aku gak masalah. Yang penting Kamu mau makan,” sahut Reza. “Biar Aku kerjain sekarang di dapur.”


Reza berdiri sedikit menjauh dari Galuh, menatap istrinya itu sambil mengarahkan tangannya ke belakang. Ia masih belum berganti pakaian, kaos yang dikenakannya basah keringat dan melekat erat di tubuhnya. Galuh tersenyum menatapnya.


“Tadi Aku pusing terus mual pas cium bau keringat Abang,” ungkap Galuh seraya mengarahkan telunjuknya ke dada Reza. “Tapi sekarang sudah berkurang mualnya.”


“Yank, masa Aku bau sih. Aku dah cium, masih wangi kok?” Reza menarik napas berat, dan balas menatap Galuh dengan wajah nelangsa. Kedua bahunya terkulai lemah di kedua sisi tubuhnya.


Galuh mengangguk, Reza langsung melorotkan tubuhnya dan terduduk lemas di lantai. Galuh tertawa melihatnya, ia merentangkan kedua tangannya memberi isyarat pada laki-laki itu untuk membantunya bangun.


“Nanti Kamu mual-mual lagi kalau Aku dekat-dekat,” kata Reza, tapi tetap saja ia menuruti keinginan istrinya itu. Ia bangkit berdiri dan bergegas mendekati Galuh di sofa.


“Makanya Abang cepat ganti bajunya dulu, keringat kering di badan gitu gak baik buat kesehatan tubuh.” Tegur Galuh, sambil menunjuk ke arah lemari pakaian. “Pakaiannya ambil sendiri di lemari ya, Bang.”


“Siap, Nyonya.” Jawab Reza.


Reza melepas pakaiannya dan menggantinya dengan yang baru, ia tersentak dan baru menyadari sesuatu ketika mencium aroma tajam dari baju yang dilepasnya tadi. Reza mengerti kini dan tersenyum penuh arti.


Reza menaruh pakaiannya terpisah dalam keranjang lain dan segera membawanya keluar kamar, ia tahu Galuh paling tidak tahan dengan aroma yang satu itu.


“Aku keluar bentar ya, yank. Mau taruh ini di bawah,” kata Reza mengangkat keranjang pakaian kotornya.


“Kenapa Abang senyum-senyum gitu?” Tanya Galuh bingung, tadi lemas sekarang kelihatan senang.


“Ya lagi pengen senyum aja,” sahut Reza sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Apaan, sih.” Galuh tersipu, dan Reza tertawa melihatnya.


“Ya udah, Aku ke bawah dulu.” Reza bergegas keluar dan menutup kembali pintu di belakangnya. Setengah berlari ia menuruni anak tangga rumahnya sambil bersiul gembira.


Di dapur rumah, Reza menemui bik Salma yang sedang memasak. Ia berjalan ke kulkas dan mengeluarkan beberapa buah segar. Reza menyiapkan wadah, dan mengupas sendiri.


Bik Salma hanya melirik dan membiarkan saja majikannya itu bekerja sendiri. Ia tahu, Reza tidak akan meminta bantuannya bila ia bisa melakukannya sendiri.


Bik Salma menolehkan wajahnya dengan kening berkerut. “Maksud Mas Reza, non Galuh mual-mual lagi pagi ini?”


Reza mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari buah yang dipotongnya. “Kemarin-kemarin diperiksa dokter sih katanya sakit perut biasa, karena siklus haidnya juga normal tiap bulan.”


“Kadang ada perempuan yang mual-mual kalau pas mau dekat tanggal haidnya, tapi setelah haid mualnya ngilang sendiri. Ada juga mual-mual di pagi hari pertanda awal kehamilan. Tapi alangkah baiknya diperiksa ke dokter saja, Mas Reza. Siapa tahu mualnya kali ini tanda kalau non Galuh sedang isi,” kata bik Salma memberi saran.


“Gitu ya, Bik.” Reza menolehkan wajahnya menatap bik Salma, “Bibi dulu suka mual gak kalau cium aroma sesuatu, semisal bau asap rokok atau parfum?”


“Masing-masing kehamilan orang berbeda-beda, Mas. Ada yang suka sekali cium bau bensin, ada yang langsung mual mencium bau rokok padahal sebelumnya biasa saja. Ada yang suka makan buah yang rasanya asem, padahal sebelumnya anti banget.” Jelas bik Salma.


“Iya, Bik. Saya juga sudah panggil dokter Rendra datang ke rumah, buat memastikan juga siapa tahu dugaan Saya benar. Soalnya Galuh tadi langsung mual begitu mencium bau asap rokok di baju Saya, katanya bau keringat.” Reza tertawa, ia tak ragu menceritakan semua masalahnya pada bik Salma yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.


“Ya, semoga saja Mas. Bibi berdoa biar Mas Reza dan non Galuh cepat dikasih momongan.”


“Amin. Terima kasih ya, Bik.”


Sementara di kamarnya, Galuh gelisah menunggu Reza. Berkali-kali melirik jam di dinding, sudah lebih dari seperempat jam namun laki-laki itu belum muncul juga.


Perlahan Galuh bangun, lalu berpindah ke atas tempat tidur. Badannya terasa lemah, ia merebahkan tubuhnya di sana. Menarik selimut dan tertidur dengan cepat.


Galuh terbangun ketika mendengar dering telepon seolah-olah ia berada di balik kabut. Matanya berputar mencari-cari sosok suaminya dan menemukan laki-laki itu sedang berdiri menerima panggilan telepon dengan wajah tegang.


“Abang,” panggilnya, ketika Reza masih berdiri tegang dengan punggung membelakanginya.


Reza berbalik, menatap Galuh dengan tatapan kosong. Tangannya masih memegang ponselnya, namun hanya sedetik ponsel itu terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai kamar.


“Abang, ada apa. Siapa yang barusan menelepon?” tanya Galuh, perasaannya tidak enak.


“Papa dan oma, mereka berdua ...” belum selesai Reza bicara, suara ketukan di pintu kamar terdengar dan mengalihkan perhatian keduanya.


“Ya, Bik.” Sahut Reza, ia menundukkan badan dan meraih ponselnya yang terjatuh di lantai.


“Mas Reza, Non Galuh, dokter Rendra sudah bersama Bibi sekarang.”


Reza menghela napas, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya lalu melangkah membuka pintu. Ia menahan diri untuk tidak mengatakan pada Galuh berita yang baru diterimanya di telepon.


“Dokter,” sapa Reza sambil menjabat tangan Rendra.


“Aku langsung datang kemari begitu Kau memanggilku. Bagaimana keadaan istrimu sekarang?” tanya dokter Rendra begitu Reza mempersilahkan dirinya masuk, sementara bik Salma berpamitan dan kembali ke lantai bawah.


“Beberapa hari ini setiap pagi Galuh mengalami mual-mual.” Reza menceritakan keadaan Galuh, dan dokter Rendra segera memeriksanya.


Tak lama ia tersenyum dan menjabat tangan Reza, sambil menepuk bahu sahabatnya itu. “Selamat, istrimu tengah mengandung. Kalian berdua akan segera memiliki seorang bayi. Selama masa awal kehamilan, jaga baik-baik kandungannya. Jangan stres dan hindari kesibukan yang akan membuat istrimu kelelahan.”


“Saya akan menjaga istri dan calon anak kami dengan baik. Terima kasih, Ndra.”


Reza tersenyum penuh rasa syukur mendengar berita baik itu, ia membalas jabat tangan dokter Rendra dan langsung memeluk Galuh. “Sayang, kita akan punya bayi.”


Bersamaan dengan itu, ponsel Reza berdering lagi. Ia melepaskan pelukannya dan langsung mengangkat ponselnya.


“Sa-ya akan segera ke sana,” ucap Reza dengan suara bergetar. Reza memejamkan matanya sebelum bicara pada Galuh yang sedari tadi terus menatapnya.


“Abang, ada apa. Apa yang terjadi dengan papa dan oma?”


“Itu tadi telepon dari rumah sakit, papa dan oma kecelakaan. Keadaan mereka kritis, dan Aku harus segera ke rumah sakit.”


Galuh tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia terduduk lemas di atas tempat tidur. Tak terbersit sedikit pun dalam benak mereka berdua akan mengalami hal ini, dalam waktu bersamaan menerima dua berita berbeda sekaligus. Satu berita bahagia dan satu berita duka.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎