
“Sial an!”
Reza membanting setir mobilnya ke kiri dengan cepat, ketika tiba-tiba muncul cahaya menyilaukan dari arah berlawanan. Ia menginjak rem dan menepikan mobilnya ke bahu jalan yang berbatu. Kerikil beterbangan dari bawah roda dan kepulan debu melayang menutupi badan mobil sebelum akhirnya mobil itu berhenti sepenuhnya.
“Huufh!” Reza mengembuskan napasnya, hampir saja ia celaka kalau tidak segera menghindar tadi. Matanya menatap nanar ke arah depan pada kabut debu yang mulai menghilang perlahan. Reza memeluk setir mobilnya dan menempelkan dagu di kedua tangannya.
“Galuh.” Nama itu terlintas begitu saja dalam benaknya, Reza tersenyum getir seraya mengangkat ujung jarinya menahan sesuatu yang hangat yang perlahan mendesak keluar dari hidungnya.
“Berapa lama lagi waktu yang kamu butuh kan untuk menjawab lamaranku, bagaimana kalau Aku tidak punya banyak waktu lagi.” Reza menatap cairan kental berwarna merah di sela-sela jarinya itu, lalu mengusapnya dengan tisu.
Ada perasaan kosong dalam hatinya menghadapi sikap Galuh padanya. Apa ini merupakan reaksi dari sikap seorang lelaki yang terbiasa hidup enak seperti dirinya. Haruskah ia kehilangan impian yang paling penting dalam hidupnya?
Seminggu sudah berlalu sejak ia mengungkapkan isi hatinya lagi, meminta wanita itu untuk menikah dengannya. Dan seminggu pula mereka berdua tak lagi bertemu, tak lagi saling menyapa satu sama lain. Seminggu, waktu yang benar-benar menyiksa hati Reza.
Sama-sama bertahan, mungkin dengan cara seperti ini akan mampu menguji kesungguhan perasaan hati Galuh yang sebenarnya pada Reza. Apa ia juga memiliki rasa yang sama seperti apa yang dirasakan Reza padanya.
Mungkin ini memang terlalu cepat buat Galuh, tapi tidak buat Reza. Ia hanya mau Galuh, bukan wanita lainnya. Ia mencintai wanita itu, dan bertekad memilikinya. Reza benar-benar jatuh cinta padanya dan menginginkan Galuh jadi pendamping hidupnya.
“Apa Aku terlalu egois, meminta begitu banyak padanya. Sementara ada yang belum ia ketahui tentang keadaan diriku sesungguhnya,” gumam Reza dalam hati. “Apa Aku akan sanggup melihatnya menangis dan menyesali keputusannya?”
“Malu, Aku malu sudah buat Abang khilaf.”
Reza tersenyum mengingat ucapan Galuh padanya, sikap wanita itu begitu menggemaskan. Dan Reza suka kepolosannya, sikap malu-malunya.
Tanpa sadar matanya terpejam, mengingat kelembutan bibir wanitanya. Keharuman rambutnya dan rengkuhan tangan halus Galuh di pinggangnya. Semua itu membangkitkan semangat Reza lagi.
Mungkin ada baiknya ia tetap sabar menunggu, memberikan Galuh waktu cukup untuk berpikir. Wanita itu berhak mendapatkan kesempatan berpikir, sementara ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Banyak hal yang mesti dilakukannya, mempersiapkan liburan karyawan misalnya. Dengan begitu, ia akan terus bertemu dengan Galuh dan mereka akan memiliki waktu kebersamaan lebih banyak lagi.
Everything it’s gonna be okay!
Reza menghidupkan mesin mobilnya kembali dan melaju pulang dengan hati yang jauh lebih ringan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
Galuh mencoba memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya, pada apa yang jadi pilihan pelanggannya. Ia mengangguk dan tersenyum menanggapi celoteh si anak yang masih belia, ketika sang mama membelikan sepatu baru dan memasangkannya di kakinya.
“Saya ambil yang warna merah ini saja, Mbak. Sudah dicoba dan pas banget di kaki Tiara,” ucap ibu muda di hadapannya itu sambil berusaha menenangkan anaknya yang sudah mulai bosan karena terlalu lama berada di konternya.
“Baik Bu, segera Saya siapkan barangnya.”
Sepuluh menit kemudian Galuh sudah bisa bernapas lega, ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Sejenak ia duduk di bangku panjang, menatap ke arah luar kaca jendela besar konternya.
Galuh mengembuskan napasnya, mencoba mengusir rasa gundah yang kini mengganggunya. Sudah seminggu ini ia tidak mendengar suara laki-laki itu menyapanya, menunggunya di depan konter untuk mengajaknya pulang bersama.
“Aah, kenapa jadi seperti ini. Aku minta waktu berpikir untuk menjawab lamarannya, bukan untuk menghindar dariku.” Galuh mengusap pelan cincin pemberian Reza yang ada di jari manisnya.
Suara langkah kaki mendekat membuyarkan lamunan Galuh, ia tersenyum menatap Luna yang berdiri melongok di ambang pintu. “Ciee, ada yang lagi galau,” olok Luna.
Galuh meringis mendengarnya, ia menepuk bangku kosong di sampingnya memberi kode pada Luna untuk duduk di sana.
“Sudah dapat kabar dari bos ganteng?” tanya Luna begitu menjatuhkan bokongnya di samping Galuh. Ia melipat kaki dengan satu tangan menyangga dagunya, matanya lekat menatap wanita di sampingnya itu yang hanya diam sembari menggelengkan kepalanya.
“Belum ada kabar, Lun. Beberapa hari ini Aku malah gak lihat dia sama sekali,” sahut galuh ikut-ikutan melakukan hal sama dengan Luna, melipat kaki dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“Apa ini?” Luna menarik tangan Galuh dan mengangkatnya, “Cincin!”
Luna terkesiap dan langsung menutup mulutnya, “Apa bos ganteng sudah melamarmu?”
Galuh mengangguk dengan wajah tertunduk, “Sudah.”
Plak!
“Luna!” pekik Galuh terkejut seraya mengusap lengannya yang dikeplak Luna.
“Terus kenapa Lo jadi lemas kayak gini? Dilamar bos ganteng pengusaha, baik hati sukses di usia muda kaya raya punya banyak usaha, kenapa Lo jadi mlehoi kayak bakwan dingin kayak gini?!” Cecar Luna, membuat Galuh menutup rapat telinganya.
“Beruntung banget hidup Lo, Luh. Sekalinya pacaran dapat cowok ganteng, kaya pula. Lah Gue? Boro-boro kaya, yang mau ngajak pacaran juga kagak ada.”
Galuh meringis, “Tapi Aku belum jawab lamarannya, Lun. Aku minta waktu buat berpikir, semua terlalu cepat buat Aku. Kita juga baru kenal,” ucap Galuh.
“Lo sebenarnya suka gak sih sama Reza? Lo srantang-sruntung jalan berdua sama dia, pulang kampung bareng dia, ketemu sama keluarga Lo di kampung dan mereka juga setuju sama hubungan kalian berdua.”
“Aku gak ajak Reza pulang kampung waktu itu. Dia sendiri yang inisiatif nyusul Aku ke kampung,” elak Galuh.
“Kita semua juga tahu gimana usaha Reza buat dekatin Lo, Anak-anak mal juga sudah pada tahu hubungan kalian berdua. Apa yang Lo takutkan, Luh?”
“Aku masih belum yakin sama perasaan Aku sendiri,” sahut Galuh gamang. “Perbedaan di antara kami terlalu mencolok, Aku merasa seperti orang asing di lingkup pergaulan Reza. Apalagi setelah kejadian pesta waktu itu.”
“Lo bukan anak kecil lagi, Luh. Kalau memang Lo sayang sama Reza, terima lamarannya. Lo hanya perlu dengar apa kata Reza dan keluarganya yang udah terima Lo dengan tangan terbuka, jangan dengar apa kata orang di luar sana yang iri sama Lo.” Pungkas Luna sebelum ia kembali ke konternya.
Galuh mengesah lelah, jam istirahat ia enggan pergi ke kantin dan lebih memilih untuk tetap berada di konternya.
Galuh memaksa matanya untuk terpejam. Namun bayangan Reza lagi-lagi muncul dan menyelinap masuk dalam benaknya. Bukan hanya sosoknya saja yang menghantui malam hari menjelang tidurnya, bahkan kini suaranya yang lembut terdengar jelas memasuki gendang telinganya.
“Kasihan, Kamu pasti kelelahan sampai ketiduran di tempat kerja.” Tangan kuat itu mengusap helai rambut di keningnya. Galuh mengernyit, sentuhan itu terasa nyata. Perlahan matanya terbuka, dan siluet panjang dengan hiasan warna kebiruan di belakangnya itu berada dekat sekali dengannya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎