If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 65. Sakit parah



Takdir yang dituliskan Tuhan merupakan hal terbaik dalam hidup kita, walau terkadang yang terbaik itu tak selalu indah.


Galuh mengalami masa-masa tersulit dalam hidupnya. Di masa kehamilannya, saat wanita lain sedang menikmati momen-momen indah bersama keluarga tercinta sembari menantikan kelahiran si buah hati, ia justru harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang-orang tersayang.


Bukan itu saja, Galuh pun harus tetap kuat dan terus berusaha terlihat tegar saat suami tercinta berjuang untuk bertahan hidup menghadapi sakit yang sudah lama dideritanya.


Satu Minggu setelah kepergian oma, kesehatan papa Mahendra menurun drastis. Papa kehilangan semangat hidupnya, jiwanya terguncang. Papa sering terlihat duduk melamun lalu tiba-tiba menangis sedih.


Sepanjang hari papa lebih banyak menghabiskan waktunya berada di dalam kamar oma, dan menolak untuk makan. Mulutnya seolah terkatup, hanya mau minum itu pun sedikit saja hingga Reza dan Galuh kewalahan membujuknya.


Berbagai cara dilakukan Reza dan Galuh demi untuk kesembuhan papa juga untuk mengembalikan semangat hidupnya. Reza mendatangkan dokter spesialis terbaik juga menempatkan perawat yang bekerja khusus untuk merawat dan mengurus keseharian papa. Tapi papa sudah kehilangan gairah hidupnya.


Dari hari ke hari tubuh papa makin melemah, kedua kakinya mendadak sulit untuk digerakkan. Hingga pada akhirnya papa tidak bisa berjalan normal lagi dan harus terus berada di atas kursi roda.


Tepat sebulan kepergian oma, papa mengembuskan napas terakhirnya. Seperti orang yang tertidur lelap, wajah papa tampak begitu tenang. Papa pergi menyusul oma seperti janjinya saat di rumah sakit, meninggalkan duka mendalam untuk orang-orang yang ditinggalkannya.


Reza sangat terpukul, kehilangan oma dan papa tercinta dalam kurun waktu yang sangat dekat berimbas pada kesehatan dirinya. Reza ambruk, dan harus dirawat di rumah sakit selama hampir sepekan lamanya.


Tujuh bulan kemudian.


“Abang, kita masuk sekarang yuk.” Galuh berbisik di telinga Reza, mengecup pipinya lembut lalu merapatkan syal yang melingkari leher suaminya itu.


Udara pagi hari itu di seputar vila rumah peristirahatan keluarga Mahendra terasa dingin ditambah angin yang bertiup kencang membuat Galuh menggigil.


Reza mengangguk dan menepuk tangan Galuh yang berada di pundaknya, mendongakkan wajahnya sesaat lalu menarik tengkuk wanitanya itu balas mengecup pipinya. “Apa kabar anak kita hari ini?”


“Seperti biasa, tumbuh sehat dan kuat dalam rahim mamanya.” Jawab Galuh sambil melingkarkan lengannya di leher Reza.


“Kamu pasti lelah seharian ini harus bolak-balik membawaku keliling rumah kita,” kata Reza balas mengusap lengan Galuh, meski perutnya semakin besar tapi Galuh tidak tampak kesusahan berjalan. Ia mendorong kursi roda Reza perlahan menuju vila kembali.


Galuh berhenti sejenak, menggelengkan kepala berusaha menahan air matanya. Tangan kurus yang mengusap lengannya itu ia tempelkan di pipinya. Ia tetap berdiri di belakang Reza, dengan begitu suaminya itu tidak akan melihat matanya yang mulai berembun.


“Enggak, Abang. Aku gak lelah, lagi pula Aku juga kan harus banyak bergerak biar nanti lancar saat melahirkan.” Jawab Galuh serak.


“Aku ingin sekali ada di sampingmu dan melihat anak kita lahir,” kata Reza berubah sendu.


“Aku juga berharap Abang ada di dekatku, memegang tanganku. Memberi Aku kekuatan,” balas Galuh dengan suara serak. “Aku cinta Kamu, Abang.”


Reza tertawa, “Sudahkah Aku mengatakan hal yang sama padamu hari ini kalau Aku begitu mencintaimu dan ingin kita terus bersama?”


“Sudah, ini sudah yang ke delapan kalinya.” Galuh merentangkan tangan melewati bahu Reza dan melipat dua jarinya ke dalam, dan Reza tertawa lagi.


Mereka tiba di vila kembali, Galuh memapah Reza masuk ke dalam kamar tapi Reza menolak. “Aku ingin beristirahat di kamar atas.”


“Abang harus naik tangga, nanti Abang kelelahan. Lebih baik Abang beristirahat di kamar ini saja,” bujuk Galuh, tapi Reza menggeleng.


“Kalau hanya naik tangga Aku masih kuat, yank.”


Reza menggeleng lagi, “Kamu gak boleh bolak-balik naik tangga, berbahaya buat kalian berdua.”


Dan akhirnya Galuh mengalah, membiarkan Reza naik perlahan seorang diri dengan tetap mengawasinya dari bawah. Dan baru bisa bernapas lega saat melihat suaminya itu sudah mencapai anak tangga teratas.


Beberapa jam kemudian.


Galuh menarik napas, mendongak menatap titian tangga menuju kamar atas di mana suaminya tengah berada. Setengah ragu ia berhenti di anak tangga pertama, teringat kata-kata Reza yang melarangnya naik ke sana.


Selama berada di vila, sesekali Reza memang beristirahat di kamar atas dan melarang Galuh menyusulnya ke sana karena tak ingin membahayakan keselamatan Galuh juga bayi dalam kandungannya.


Usia kandungannya sudah masuk bulan ke sembilan, hanya tinggal menghitung hari ia akan segera melahirkan. Dan entah mengapa, sore itu Galuh ingin sekali naik ke kamar atas dan melihat suaminya di sana.


Galuh memilih mengambil risiko menerima kemarahan Reza padanya, dari pada ia resah karena sedari tadi hatinya diliputi perasaan khawatir melihat sikap Reza yang tidak seperti biasanya. Harusnya lelaki itu sudah turun dari sana, tapi menjelang sore ia masih bertahan di kamar atas.


“Sehat terus ya, nak. Kita lihat papamu di atas sama Mama,” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya yang membuncit.


Pelan-pelan Galuh melangkah naik, ia berpegangan pada pinggiran tangga dan berhenti beberapa kali sekedar untuk mengatur napasnya hingga tak lama kemudian ia sampai di depan pintu kamar Reza di lantai atas.


Perlahan Galuh membuka pintu dan mendorong pelan agar tak menimbulkan suara yang mengejutkan penghuni kamar.


Galuh melongok ke atas tempat tidur dan tersenyum mendapati suaminya itu masih tertidur, berbaring miring dengan punggung membelakanginya.


“Abang,” panggil Galuh, namun tak ada jawaban.


Galuh berjalan mendekat, ia naik ke atas ranjang dan duduk menyandarkan punggungnya di bantal besar yang ada di belakangnya sambil meluruskan kaki di sebelah Reza.


Disentuhnya bahu Reza dengan lembut, lalu mengusap rambut kepalanya yang mulai menipis karena harus menjalani pengobatan sakit yang dideritanya. Tapi laki-laki itu bergeming dan tetap dengan posisinya semula.


“Abang,” panggil Galuh lagi, kali ini dengan nada suara lebih tinggi. Tapi tetap saja Reza tak bergerak.


Cemas, Galuh membalik tubuh Reza untuk menghadap ke arahnya. Dan apa yang dilihatnya membuat Galuh terkejut dan menjerit tak percaya. “Ya Tuhan, Abaaang!”


Wajah Reza tampak pucat, bibirnya terkatup rapat dan dari hidungnya keluar darah segar yang menetes dan membasahi kemeja yang dipakainya. Dengan tangan gemetar, Galuh mengusap darah di bawah hidung Reza dengan ujung lengan bajunya.


Di saat bersamaan perut Galuh menegang, ia meringis menahan rasa nyeri sambil mengetatkan gigi dengan kedua tangan masih memeluk kepala Reza dalam pangkuannya.


Tak terasa air mata menetes di pipinya, ia sadar suaminya itu sakit parah. Ini bukan pertama kalinya Galuh melihat hidung Reza mengeluarkan darah segar, tapi tetap saja Galuh panik setiap kali hal itu terjadi. Apalagi suaminya itu seperti sedang tidak sadarkan diri.


“Abang bangun, jangan seperti ini. Abang harus temani Aku, Aku gak mau sendirian ngadepin semua ini,” kata Galuh sambil terisak.


Sambil menahan isaknya, Galuh mencoba menarik napas panjang berusaha untuk bersikap lebih tenang meski ia tak yakin akan mampu melakukannya.


Galuh menekan tombol di dinding yang terhubung dengan telepon di lantai bawah, sedetik kemudian terdengar suara asisten rumah tangga vila menjawab panggilannya. Galuh menyuruh sopir untuk segera naik ke lantai atas dan membantunya membawa Reza ke rumah sakit.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎