
If tomorrow never comes, will she know how much I loved her. That she’s my only one. And if my time on earth were through, and she must face this world without me. Is the love I gave her in the past, gonna be enough to last ...
Jika esok tidak pernah tiba, akankah dia tahu betapa Aku mencintainya. Bahwa dia satu-satunya milikku. Dan jika waktuku di bumi sudah habis, dan dia harus menghadapi dunia ini tanpa Aku. Apakah cinta yang kuberikan di masa lalu padanya, akan cukup untuk bertahan ...
“Sayang, I love you.” Reza menarik tengkuk Galuh yang memeluk lehernya dari belakangnya, mengecup pipinya lama sambil terus membisikkan kata-kata cinta untuknya.
“Love you too, Abang.” Galuh balas mencium pipi kurus itu. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Membuat Reza tertawa geli.
Reza kembali memetik gitarnya dan menyanyikan lagi lagu untuknya. Lagu lain karena yang barusan kerap membuat sedih Galuh yang mendengarnya.
When I fall in love, it will be forever. Or I’ll never fall in love. When I give my heart, it will be completely. Or I’ll never give my heart.
Saat Aku jatuh cinta, itu akan selamanya. Atau Aku tidak akan pernah jatuh cinta. Saat Aku memberikan hatiku, itu akan sepenuhnya. Atau Aku tidak akan pernah memberikan hatiku.
Penggalan lagu cinta itu mampu membuat hati Galuh menghangat. Meski mengalami kesulitan dan kerap menarik napas, tapi Reza tetap ngotot bernyanyi untuk Galuh.
“Yank, kalau terjadi sesuatu yang buruk padaku. Kamu harus tetap kuat dan bertahan, demi anak kita.”
“Abang kok bicaranya seperti itu, Aku mewek nih.” Rajuk Galuh.
Dan seperti sebelum-sebelumnya, Reza lalu memeluk Galuh dan terus menciumi perutnya yang membuncit sambil berbisik seolah sedang bicara dengan anak mereka.
“Abang pasti sembuh, dan kita akan terus bersama.” Galuh menaruh dagunya di atas kepala Reza, berulang kali mengecupnya dan berusaha menahan air matanya. Sementara Reza semakin mempererat pelukannya.
Meski tahu sakit Reza bertambah parah, dan dokter sudah memberi batas waktu untuk Reza mampu bertahan. Tapi Galuh percaya, umur tetaplah Tuhan yang menentukan. Dan Reza akan sanggup bertahan demi dirinya dan putri mereka.
“Abang.” Galuh memanggil lembut Reza yang memejamkan mata sambil terus memeluk tubuhnya, tapi Reza seperti tak mendengarnya.
Saat Galuh merenggangkan pelukannya dan perlahan melepaskan tangan Reza di pinggangnya, tubuh suaminya itu jatuh terkulai di depannya. “Abang!”
Galuh berteriak kencang, tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Tangannya menggapai di udara, lintasan kebersamaan dirinya dan Reza terus melintas dalam benaknya. Galuh bergerak gelisah masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Galuh melihat Reza tersenyum dan melambaikan tangan padanya, ia ingin ikut bersamanya. Tapi laki-laki itu menggeleng dan mengingatkan dirinya agar tetap bersama anak mereka. Galuh menoleh, dilihatnya seorang bayi mungil menangis memanggilnya mama. Galuh bimbang, tangis anaknya makin kencang.
Akhirnya Galuh meraih putrinya dan membuainya dalam pelukannya. Tapi saat Galuh berpaling, Reza menghilang bersama dengan asap putih tebal yang membawanya pergi. “Abaangg!”
“Galuh, sayang. Sadar Nak.” Mama yang berada di dekatnya, terus mengusap peluh di kening dan lehernya.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaan hati mama saat ini, melihat putrinya ambruk dalam keadaan hamil tua sementara sang menantu dalam keadaan koma mencoba bertahan untuk tetap hidup.
“Galuh, sayang. Bertahan ya, Nak. Ingat, ada anak dalam kandunganmu yang juga butuh perhatianmu. Mama percaya Kamu bisa melewati ini semua.” Mama mengusap lembut perut Galuh, terlihat jelas ada gerakan-gerakan kecil di sana.
Mama tak kuasa menahan tangisnya, menggenggam tangan Galuh dan menaruhnya di atas perutnya. Dan gerakan itu terlihat lagi, di seputar tangan Galuh.
Galuh tersentak, matanya mengerjap perlahan. Cahaya terang lampu di atas kepalanya membuatnya memicingkan mata. Sayup-sayup telinganya mendengar suara isak tertahan, lalu suara seseorang lagi berusaha menenangkan.
Seketika matanya terbuka lebar, berpendar memindai sekelilingnya dan terkesiap saat mendapati dirinya tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Galuh ingat, terakhir kali ia sedang bersama Reza dan memeluk tubuh suaminya itu. Lalu tiba-tiba saja Reza kembali tak sadarkan diri, dan ia berteriak memanggil dokter yang berjaga di sana.
“Abang!” Galuh menjerit, air matanya tumpah begitu saja. Ia mencoba bangun dan turun dari ranjang, tapi perutnya kembali mengencang. “Aaargkh!”
Galuh terbaring di ranjang lagi, ia memegangi perutnya dan tangisnya semakin menjadi. “Mamaaa. Abang, Ma.”
“Sabar ya, Nak. Serahkan semua pada-Nya.” Kata mama dengan isak tertahan. Mama menangkup pipinya, menciumi seluruh wajahnya dan memeluknya erat. Merasa lega karena Galuh sudah sadar kembali.
“Maaa!” Galuh memegangi perutnya, wajahnya pucat pasi. Keringat mengucur deras.
Dokter segera datang dan memeriksa Galuh, mengatakan pada mama kalau Galuh akan segera melahirkan bayinya.
“Abaaang!” jerit Galuh di antara rasa sakit yang amat sangat. Air matanya mengalir deras, mengingat Reza tak bisa mendampinginya saat melahirkan anak mereka.
Ketika rasa sakit itu mereda, wajah Reza kembali melintas di benaknya. Lelaki itu tersenyum dan mengusap kepalanya. “Bertahan, sayang. Demi anak kita.”
Baru saja telinganya mendengar Reza bicara padanya, rasa sakit itu kembali datang. Galuh mendorong sekuat tenaga. “Abaaang!”
“Bagus, Nyonya. Saya sudah melihatnya. Dorong sekali lagi, ya ..!” seru dokter itu ketika bayi itu meluncur ke dalam tangannya yang telah siap menyambutnya. “Perempuan, cantik sekali dan sempurna.”
Dokter itu mengangkat putrinya dan memperlihatkan padanya. Galuh menangis, rasa haru menyeruak dalam dada saat pertama kali melihat dan mendekap putrinya. “Ayasha Noura Mahendra, itu nama yang ayah berikan untukmu. Selalu menjadi penerang dan cahaya sempurna untuk semua orang.”
Di tempat berbeda di saat bersamaan, Reza juga tengah ditangani dokter. Keadaannya masih tetap sama, tak ada perubahan sama sekali.
Dua hari setelah melahirkan, kondisi Galuh mulai membaik meski belum pulih sepenuhnya. Bersama mama dan Ayasha juga dokter Rendra yang mendampingi, Galuh mendatangi ruangan Reza dirawat.
“Ayah, kami datang. Lihat Asha, cantik sekali.” Galuh membaringkan Asha di samping Reza yang tertidur, bayi itu tampak tenang dan tak menangis sedikit pun.
Galuh mendekatkan jemari Reza ke tubuh putri mereka, dan berbisik pelan di telinganya. “Ayah bangun, lihat Asha. Asha mau dipeluk ayah.”
Monitor di atas kepalanya bergerak cepat, jemari tangan Reza bergerak-gerak. Galuh menahan napas, merasakan keharuan saat mata Reza perlahan terbuka.
“Sayang,” panggilnya dengan suara lemah, seraya menatap perut Galuh. “Anak kita ...”
Galuh mengangguk, dan berusaha menyembunyikan air matanya. Ia mengecup kening Reza. “Ayah, ini Asha datang. Bagaimana kabar Ayah hari ini, cepat sembuh ya Ayah?”
Reza menoleh, menatap putrinya yang baru lahir. Sudut matanya berair, ia menciumi wajah mungil Asha.
Hanya berselang lima menit, napas Reza tersengal. Mama yang berdiri memperhatikan dari dekat langsung meraih Asha, sementara Galuh meraih tangan Reza. “Abang, bertahan. Tolong, demi anak kita ...”
Mata sayu Reza menatapnya, bibirnya terbuka perlahan. Galuh hanya bisa menggelengkan kepalanya dan wajah berurai air mata. “Jangan pergi ...”
“Love you ...” bibir Reza tersenyum padanya, lalu beralih menatap Asha putrinya. Bibirnya bergerak tanpa suara, lalu perlahan Reza menutup matanya.
Tiiiit ... Monitor di atas kepala mereka menampilkan garis memanjang.
“Abaang!” Galuh mendekap tubuh suaminya. Asha menangis kencang, seolah tahu ayahnya telah berpulang.
Rendra menenangkan Galuh, dan membantunya berdiri. Tubuhnya masih lemah pasca melahirkan, kini bertambah lemas karena baru saja kehilangan suami tercinta. Mama mendekap Galuh, sementara Asha dibawa perawat dan ditaruh di kamar bayi.
“Selamat jalan sahabat, sekarang kamu sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi.” Bisik hati Rendra, ia menatap Galuh yang terisak di dalam pelukan mama. Teringat pesan terakhir Reza padanya, meminta dirinya untuk menjaga putrinya Asha.
Sore itu juga Reza dimakamkan di tempat yang sama dengan papa Mahendra juga oma. Galuh tetap berada di sana hingga menjelang senja, ditemani Rendra yang terus berada di dekatnya.
Tepat sebulan kepergian Reza, Galuh memutuskan kembali ke kampung halamannya bersama Asha. Sebelum kepergiannya, Reza sudah membuat wasiat untuk anak dan istrinya. Semua aset dan perusahaan dialihkan atas nama Galuh dan putri mereka, dan atas permintaan Reza untuk sementara perusahaan mereka tetap di jalankan oleh dua sahabat baiknya.
Rumah besar oma tetap ditinggali oleh bibi Mala, dan Galuh berjanji sewaktu-waktu akan menetap lagi di sana.
Sebelum pergi, Galuh menyempatkan diri ke makam keluarga. Dan tetap saja kesedihan itu tak hilang dari hatinya, Galuh tak bisa menahan tangisnya.
Rindunya tak tertahankan, tak bisa lagi mendengar suara nyanyiannya. Tak bisa lagi memeluk tubuhnya, dan ia akan pergi meninggalkannya di sini.
Sanggupkah kubertahan, tanpa hadirmu sayang. Tuhan sampaikan rindu untuknya ...
Reza memang telah pergi, tapi bagian dirinya yang masih hidup menunggunya di mobil. Asha Mahendra. "Tuhan, mampukan Aku menjalani hidupku tanpa dirinya demi anak kami Asha." Bisik hati Galuh seraya melangkah pergi meninggalkan makam suaminya Fahreza Raka Mahendra.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ T A M A T ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎