If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 18. Asisten pribadi



Galuh berjalan cepat keluar dari kafetaria mal. Ia ingin segera berlalu dan menyingkir sejauh-jauhnya dari pria itu. Saat ini yang ia butuh kan adalah ruang kedap suara, pantai, atau tebing yang tinggi. Tempat di mana ia bisa berteriak sekencang-kencangnya, menendang sekuat-kuatnya, memukul sekeras-kerasnya, serta memaki sepuasnya untuk menyalurkan emosinya tanpa ada yang melihatnya.


“Dasar rese, bos gak jelas!” Galuh bersungut-sungut sementara ia terus berjalan keluar gedung mal.


Tiin tiin!


“Tunggu Galuh, Aku perlu bicara denganmu!” Reza menurunkan kaca mobilnya dan berteriak memanggil Galuh yang terus saja berjalan meski sudah melihatnya. “Tolong dengar dulu penjelasan Aku!”


Galuh menoleh lalu memalingkan wajahnya lagi dengan cepat. Haish! Reza memutar setir mobilnya, menghadang langkah Galuh dan berhenti tepat di depannya. Mau tidak mau Galuh menghentikan langkahnya dan menunggu Reza keluar dari dalam mobilnya.


“Masuklah, kita bicara di dalam mobil.” Reza berjalan mengitari mobilnya, lalu menyentuh bahu Galuh dengan lembut dan menghelanya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Galuh ragu sejenak. Tapi, ketika ia menatap wajah lelaki itu lagi, ada sesuatu yang mendorongnya untuk menuruti keinginan Reza. Memberikan kesempatan pada laki-laki itu untuk menjelaskan padanya apa maksud pertanyaannya saat di kafetaria mal tadi.


“Maaf, bila ucapanku sebelumnya membuatmu tak nyaman. Aku bukan bermaksud sengaja, memancing-mancing informasi yang bersifat pribadi demi kesenangan semata. Aku punya alasan kuat bertanya seperti itu,” ungkap Reza setelah mereka berada di dalam mobil.


“Aku ingin mengetahui segalanya tentang Kamu, sampai hal yang sekecil-kecilnya. Karena kita akan terus bertemu dan bersama setiap harinya nanti, full time! Aku membutuhkanmu untuk menjadi seorang asisten pribadi yang bisa terus berada di sampingku, yang selalu menemani hari-hariku dan akan selalu ada untukku di setiap waktu.”


“Aku?” Galuh terkesiap, “Aku jadi asisten pribadi Tuan?”


Reza mengangguk lalu menyunggingkan senyumnya. “Kamu tidak perlu buru-buru menjawabnya sekarang, Kamu bisa memikirkannya beberapa hari ini. Tapi Aku berharap, Kamu mau menerima tawaranku ini.”


“Kenapa harus Aku? Aku hanya perempuan biasa, hanya seorang pramuniaga di mal ini. Bukankah di luar sana banyak sekali wanita cantik, pintar, yang memiliki segala kriteria tinggi untuk menjadi seorang asisten pribadi seperti yang Tuan mau. Tuan bisa buka lowongan pekerjaan, dan Saya yakin akan banyak yang datang dan menerima dengan senang hati tawaran pekerjaan ini.”


“Aku tidak menginginkan orang lain. Aku mau Kamu!”


Galuh mengernyitkan alisnya, panjang lebar ia kemukakan alasannya namun Reza tetap tak mau mendengar ucapannya. Galuh memijit pelipisnya, mencoba mencerna ucapan Reza. Full time setiap harinya, seperti seorang pendamping sebenarnya. Apa itu alasan Reza menanyakan tentang kata ‘menikah’ padanya tadi? Selalu siap sedia saat dibutuhkan. Asisten pribadi macam apa yang dimaksud lelaki ini?


Tak pernah terlintas di dalam benaknya ia akan bekerja sama dengan lelaki itu, mengingat beberapa kali pertemuan mereka yang selalu berakhir dengan kemarahan di pihak Galuh. Belum apa-apa Galuh sudah merasa tak nyaman. Menjadi asisten pribadi Reza berarti ia harus kehilangan kebebasannya. Terkurung setiap hari bersama bos rese yang suka main perintah seenaknya. Oh No!


Galuh menghela napas dalam, “Maaf, Tuan Reza yang terhormat. Saya tidak bisa memenuhi tawaran Anda. Sebaiknya Anda mencari orang lain yang lebih cocok untuk menjadi asisten pribadi Anda. Terima kasih!”


Gurat kecewa tampak jelas di wajah Reza, tapi Galuh tetap pada keputusannya. Ia keluar dari mobil Reza dan melangkah cepat menjauh dari pandangan lelaki itu. Galuh menyelinap di antara lalu lalang pejalan kaki yang kebetulan lewat di dekatnya, lalu bersembunyi di dekat pintu sebuah toko, menunggu sesaat hingga mobil Reza berlalu dari sana.


Galuh mengembuskan napas lega, ia melangkah keluar dari persembunyiannya dan setengah berlari ia melambaikan tangannya ketika melihat angkot dengan nomor tujuannya melintas di depannya dan berhenti di ujung jalan.


Cekiiit!


“Arrggh!” Galuh terkejut dan kontan menjerit keras sembari menutup mata rapat-rapat.


Galuh tidak menyangka tiba-tiba saja dari celah gang sempit sebuah bangunan ruko tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu, muncul pengendara motor yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hampir saja ia tertabrak kalau saja pengendara itu tidak cepat mengerem laju motornya.


Lutut Galuh lemas seketika, ia berdiri dengan kaki gemetaran. Wajahnya pias dan bahunya lunglai tiba-tiba. Jantungnya berdetak lebih kencang dan telapak tangannya pun berkeringat.


Prakk! Tali tas panjang yang tersampir di bahunya terlepas begitu saja dan jatuh menimpa kakinya membuatnya terlonjak, terkejut untuk yang kedua kalinya.


Terburu-buru, pengendara motor itu memarkirkan motornya di pinggir jalan, lalu melepas helm full face yang dikenakannya. Ia berjalan memutar kemudian bergegas mendekati Galuh. “Ya Tuhan! Mbak, Mbak gapapa?”


Galuh hanya menoleh sekilas, tak memedulikan pertanyaan lelaki itu padanya, ia berjongkok dan segera mengambil tasnya yang terjatuh lalu membuka deret dan memeriksa isinya.


“Yaah,” ucapnya dengan nada lemas ketika merogoh tasnya dan mendapati ponsel miliknya retak di bagian depan layarnya. “Baru juga beli,” keluh Galuh menatap sedih ponselnya. Ia lalu memasukkannya kembali ke dalam tasnya dan beranjak berdiri.


Angkot di depan masih menunggunya dengan membunyikan klakson, tapi Galuh menggelengkan tangannya. “Gak jadi, Pak. Tinggal saja!” teriak Galuh, membuat sopir angkot itu bergegas melajukan mobilnya lagi, berlalu meninggalkan kepulan asap knalpot yang sukses membuat Galuh terbatuk-batuk dibuatnya.


“Mbaknya gapapa? Ada yang luka, gak? Maaf, Saya tadi buru-buru mau pergi karena ada urusan penting. Langsung tancap gas gak lihat kalau ada mbaknya lewat barusan.” Suara lelaki di dekatnya itu mengalihkan perhatian Galuh, membuatnya kembali teringat kejadian yang baru saja dialaminya tadi. Gara-gara lelaki ini, dirinya hampir saja celaka dan ponselnya juga rusak.


Galuh mengetatkan giginya, bersiap hendak menegur lelaki itu karena sudah ngebut di jalan umum dan hampir saja membuat pemakai jalan lain celaka akibat ulahnya. “Gara-gara Kamu ngebut, ponsel Aku rusak. Siku lengan Aku juga lebam, kesenggol setang motor Kamu!”


Galuh memegangi lengannya yang terasa ngilu, ia mendongak mengangkat wajahnya menatap lelaki yang berdiri tegap di depannya itu. “Aku mau Kamu tanggung jawab dan gantiin hp Aku ...”


Deg! Galuh tak dapat melanjutkan kata-katanya, suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Untuk sesaat lamanya ia hanya bisa bengong menatap sosok di hadapannya yang menatapnya dengan wajah khawatir.


Wajah lelaki di hadapannya itu mengingatkan Galuh pada sosok Hong Du Sik dalam drama Korea Hometown Cha Cha Cha yang ditontonnya. Kulit wajahnya putih bersih, lesung pipi di dekat bibirnya tampak dalam dan terlihat menggemaskan.


Tangan lelaki itu menyugar rambut kepalanya ke belakang, sebagian jatuh dan menjuntai di dahi. Ia memakai jaket kulit yang membungkus pas tubuh tegapnya. Lelaki itu sedikit menundukkan wajahnya saat bicara padanya. Galuh tersadar, ia harus menengadahkan wajahnya karena lelaki di hadapannya itu memiliki tinggi badan di atas rata-rata.


“Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah Aku perbuat. Kita ke rumah sakit buat obati luka di lengan Kamu sekarang, dan setelah itu Aku akan mengganti ponsel Kamu yang rusak.” Lelaki itu mengarahkan telunjuknya pada tas di bahu Galuh.


“Bukannya tadi Kamu bilang sedang terburu-buru, lagi pula Aku bisa obati lukaku sendiri. Gak perlu harus ke rumah sakit juga. Nanti dikompres es di rumah juga baikan,” tolak Galuh, yang membuat lelaki di depannya itu menaikkan satu alisnya.


“Bukannya barusan Kamu yang bilang padaku kalau Aku harus tanggung ...”


“Gak perlu ke rumah sakit maksud Aku,” potong Galuh cepat.


“Terus ponsel Kamu bagaimana?”


“Kalau itu, Kamu tetap harus bertanggung jawab!” Galuh melipat tangan di dada. “Gak perlu beli baru. Yang penting ponsel Aku balik kayak semula lagi, udah cukup.”


Lelaki itu tersenyum samar, “Tunggu sebentar!” ucapnya kemudian, lalu menelepon seseorang. “Oke Deal! Sekarang kita jalan.”


“Eh, ini maksudnya apa ya?” Galuh bingung ketika lelaki itu meraih tangannya dan membawanya menuju motornya. Ia membuka bagasi dan mengambil helm dari dalam sana, lalu memasangkannya di kepala Galuh. Lelaki itu menyuruh Galuh naik ke atas boncengannya sebelum ia menghidupkan mesin motornya.


“Aku Kevin, dan Kamu?” tanya Kevin sesaat setelah ia melajukan motornya.


“Galuh Nanda,” jawab Galuh setengah berteriak karena embusan angin yang kencang membuat suara mereka tak terdengar jelas.


“Galuh Nanda, nice to meet you!”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎