
Galuh menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya, ia melirik ke arah Luna yang berada di meja lain sedang menelepon seseorang. Galuh ingin melarikan diri dari suasana canggung yang ia rasakan saat ini terhadap pria itu, berdua saja dengan Reza hanya membuat suasana hatinya tidak nyaman.
“Aku perlu ke toilet ...”
“Aku harus bicara denganmu ...”
Galuh mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata Reza. “Ehm, biar Tuan dulu deh yang bicara,” ucapnya kemudian sambil menoleh ke arah lain, saat tatapan mata Reza menguncinya.
Reza tersenyum mendengarnya, “Panggil Reza saja, gak usah pakai embel-embel Tuan di depannya. Toh kita juga sedang berada di luar kantor.”
Galuh melipat bibirnya seraya menganggukkan kepala, “Oke.”
“Aku ingin bicara denganmu, ada sesuatu yang ingin kujelaskan padamu.”
Galuh melirik jam tangannya, “Sudah malam, Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan penjelasanmu. Kasihan Luna harus menungguku lama,” ujar Galuh, lalu beranjak berdiri. Namun tangan Reza menangkap pergelangan tangannya dan menariknya mendekat ke arahnya.
“Aku serius, sayang! Beri Aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu,” pinta Reza pada Galuh. Ia mendorong Galuh dengan lembut dan mendudukkan wanita itu di sampingnya.
Galuh menurut karena tak ingin menjadi tontonan gratis pengunjung lainnya, ia duduk dekat sekali dengan Reza. Rasanya ia ingin sekali memaki laki-laki itu, karena sudah membiarkan dirinya menuruti keinginannya.
“Jangan panggil Aku seperti itu,” sela Galuh cepat, panggilan sayang yang dilontarkan laki-laki itu padanya membuat tamu yang berada di seberang mejanya menoleh pada mereka. Ia kelihatan seperti seorang wanita yang sedang merajuk pada kekasihnya, dan itu terlihat jelas dari tatapan mata mereka yang melihat ke arahnya.
“Kenapa? Bukankah Luna dan Meldy sering memanggilmu dengan sebutan itu. Sahabatmu yang lain juga melakukan hal yang sama, lalu kenapa Aku tidak boleh memanggilmu seperti itu Galuh sayang?”
Galuh melotot pada laki-laki di sebelahnya itu, yang kini terkekeh melihat ke arahnya. “Kamu makin menggemaskan kalau melotot seperti itu,” ucapnya tanpa ragu, yang semakin membuat Galuh kesal sekaligus malu.
“Aku harus pergi sekarang. Aku benar-benar tidak punya waktu untuk melayani candaanmu barusan, Tuan!” Galuh bangkit berdiri.
Grep! Tangan Reza lebih cepat dari gerakan Galuh, dan Galuh kembali harus mengalah. Ia menyentak genggaman Reza di tangannya, bukannya terlepas malah lelaki itu semakin kuat menggenggamnya.
“Lepasin!” pinta Galuh dengan suara mendesis marah.
“Aku tidak akan melepaskan pegangan tanganku sampai Kamu mau menuruti ucapanku dan duduk dengan tenang di sampingku.” Reza menoleh, menatap Galuh tepat di manik matanya. “Bagaimana, Galuh sayang?”
Galuh mendengus sebal, namun tak urung menuruti ucapan laki-laki itu padanya. “Iyaaa!”
“Sekarang temani Aku makan. Tiba-tiba saja Aku jadi bersemangat untuk menyantap makanan ini,” ucap Reza. Ia melepaskan pegangan tangannya, lalu menarik piring makan milik Galuh ke hadapannya.
“Sekarang bahkan belum jam sembilan malam. Apa ada seseorang yang menunggumu di rumah sehingga membuatmu begitu tergesa-gesa ingin segera pergi dari tempat ini. Apa kehadiranku membuatmu tidak nyaman? Kamu bahkan belum menyentuh makananmu,” lanjut Reza lagi.
“Ya, Aku memang tidak nyaman berada satu meja denganmu. Setelah semua yang Kamu lakukan padaku!” ucap Galuh dalam hati, dan tanpa diminta ingatan itu hadir lagi berkelebat dalam kepalanya.
Tanpa sadar Galuh meraba bibirnya, dan hal itu tak luput dari perhatian Reza yang terus menatap ke arahnya sambil mengulas senyum tipis.
Dan seperti yang terjadi sebelumnya, Reza mulai menyantap makanan milik Galuh membuat wanita itu menahan napas. “Kamu! Kenapa gak pesan sendiri aja, sih!” protes Galuh tak nyaman.
Bukan apa-apa, ada yang berdesir di hatinya saat melihat lelaki itu menyuapkan makanan dari sendok yang sama dengan yang baru dipakainya. “Aneh banget!” ucapnya menutupi rasa hatinya.
Reza mengusap bibirnya dengan selembar tisu, ia menatap lekat wajah gadis di hadapannya itu. “Entah lah, Aku sendiri juga heran dengan diriku saat ini. Sejak pertama kali melihatmu, Aku sudah melakukan banyak hal di luar kebiasaanku. Kamu seperti magnet buatku, menarikku untuk terus berada di dekatmu.”
Pipi Galuh mendadak bersemu merah. Untung saja cahaya lampu di mejanya saat itu tidak seterang lampu yang berada di dalam ruangan, sehingga laki-laki itu tidak melihat perubahan di wajahnya.
“Ternyata Kamu jago gombal juga, ya. Sayang aja gak mempan sama Aku,” balas Galuh, menutupi perasaan gugup yang tiba-tiba saja melanda hatinya.
Reza tergelak, wajahnya terlihat semakin tampan. Ia memiliki lesung pipi yang dalam di bagian bawah bibir kanannya, tidak dengan bagian kiri yang hanya terlihat samar. Dan Galuh terpana untuk sesaat lamanya, melihat bagian lain wajah lelaki itu yang menarik perhatiannya. Mata Reza yang dihiasi alis tebal itu pun ikut bergerak seirama dengan gerakan matanya yang menyipit saat ia tertawa.
Seolah ada kekuatan yang mengalir dalam diri laki-laki itu, sehingga membuat Galuh langsung patuh dan tidak dapat menolak keinginannya. “Lun-Luna gimana?” Galuh melirik sahabatnya itu yang sepertinya terkejut melihatnya pergi bersama dengan Reza.
“Ada Aldy dan Danil yang akan menemaninya pulang,” sahut Reza, membawa Galuh berjalan keluar menuju mobilnya.
Lagi-lagi Galuh hanya bisa menurut, ia mencoba rileks saat berada di dalam mobil lelaki itu. Tapi kedekatan mereka berdua saat ini membuatnya sulit untuk melakukannya. Tubuhnya malah mendadak tegang ketika Reza menikung dengan tajam dan membuatnya oleng ke samping dengan posisi tangan menyentuh dada laki-laki itu.
Galuh mendelik pada Reza yang menahan tubuhnya dengan tangan kirinya yang bebas, tubuhnya kini bersandar di bahu laki-laki itu dan kepalanya berada dekat sekali dengan wajahnya. Galuh bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantung laki-laki itu yang berdebar dengan keras.
“Ekhem!” Reza berdeham.
Galuh tersadar dan cepat-cepat menarik tubuhnya menjauh, lalu duduk dengan punggung tegak di kursinya hingga Reza membawanya ke tengah kota dan menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang menghadap ke arah pantai.
Galuh menurunkan kaca mobil di sampingnya, lalu menoleh ke arah Reza. Laki-laki itu sedang melepas sabuk pengamannya, dan bersiap turun dari mobilnya.
“Kalau Kamu hanya ingin mengajakku bicara berdua di pantai, lalu mengapa tidak Kamu lakukan saat kita berada di pantai dekat kafe tadi?” tanya Galuh heran.
“Terlalu banyak orang yang melihat kita di sana. Aku hanya ingin bicara berdua denganmu,” jawab Reza santai. Ia melompat turun dari mobil dan berjalan memutar mendekati Galuh, lalu membuka pintu dan mengulurkan tangannya.
“Aku tahu Kamu suka suasana pantai, kita jalan-jalan yuk!” ajak Reza.
Langit malam tampak dipenuhi bintang yang berpendar, cahaya bulan menimpa air laut yang berwarna biru gelap. Galuh mengedarkan pandangannya, terlihat beberapa pasangan muda-mudi berjalan bergandengan menyusuri tepi pantai. Sebagian lain duduk menggelar tikar di atas hamparan rumput tebal yang berada di sekitar pantai.
Galuh tersenyum, hatinya menjadi lebih tenang setelah melihat sekitarnya karena merasa ia tidak sendiri. Ia menyambut uluran tangan Reza padanya.
Mereka berjalan-jalan di pinggir pantai, embusan angin kencang membuat Galuh menggigil dan kontan merapatkan kerah jaketnya. Kedua telapak tangannya menyatu dan digesekkan secara berulang, berusaha mengusir hawa dingin yang mulai mengganggu.
“Kamu kedinginan?” tanya Reza melihat Galuh yang terus menggosok kedua telapak tangannya.
Galuh hanya mengangguk pelan, rambut panjangnya mulai berkibar tertiup angin malam. Galuh merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan tali rambut lalu mengikatnya sembarangan, hanya supaya tidak berantakan dan menutupi matanya.
Reza meraih tangan kiri Galuh dan memasangkannya sarung tangan, sama seperti yang dilakukannya pada tangan kanannya sendiri. Sementara tangan kanan Galuh ia genggam lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya. “Masih dingin, gak?”
Galuh tersenyum sembari mengangkat tangan kirinya, “Lumayan anget,” jawabnya kemudian. “Katamu mau bicara sesuatu, kenapa tidak segera Kamu utarakan?”
“Aku baru tahu kalau Kamu orangnya juga gak sabaran,” ucap Reza sambil tertawa pelan. “Kita cari tempat yang lebih tenang.”
Reza memegangi lengan Galuh, membimbingnya menaiki anak tangga yang berada di pinggir pantai. Tubuh mereka begitu dekat, sulit untuk menghindari sentuhan dengan tubuh laki-laki itu. Demikian pula dengan detak jantungnya yang sulit untuk ditenangkan saat ini.
Reza membawanya ke salah satu warung tenda yang ada di ujung jalan, duduk saling berhadapan sambil menikmati minuman hangat. “Aku akan bicara yang sebenarnya padamu. Aku memang butuh seorang asisten pribadi saat ini, dan Aku mau itu Kamu!”
“Tuan Reza yang terhormat, sekali lagi kukatakan pada Anda. Saya tidak bisa melakukannya, Saya sudah punya pekerjaan yang menyenangkan. Saya tidak mungkin melakukan kerja ganda, sementara Saya bekerja di konter tapi juga harus bekerja full time untuk Anda?”
“Kamu tidak harus bekerja di kontermu lagi, Kamu hanya fokus bekerja denganku. Aku akan membayarmu berapa pun yang Kamu mau, asal Kamu mau menuruti keinginanku menjadi asisten pribadiku.”
“Tuan, art saja punya waktu untuk bersantai dan memanjakan dirinya pada hari libur tertentu. Bagaimana dengan asisten pribadi yang Tuan inginkan, harus bekerja full time sehari penuh dan terus berada di dekat Anda. Kenapa Tuan tidak mencari seorang istri saja sekalian?”
Reza terlihat bimbang untuk menjawab ucapan Galuh, namun ia harus jujur pada wanita itu apa sesungguhnya tujuannya meminta Galuh menjadi asisten pribadinya. “A-aku ... bagaimana Aku harus mengatakannya padamu.”
Reza mengusap wajahnya, lalu menatap tajam wanita yang duduk di hadapannya itu. “Intinya Aku menginginkanmu menjadi istriku secepatnya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki Kamu dalam hidupku.”
“Hah!” Galuh tercengang, entah harus bersorak girang atau malah menangis kencang mendengar ucapan Reza barusan.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎