If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 47. Lihat saja nanti



Galuh menatap punggung lebar Danu Mahendra yang berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Reza, lelaki itu menahannya untuk tetap berada di sana agar bisa segera membahas rencana liburan karyawan.


Galuh menggosok kedua telapak tangannya canggung, kini hanya tinggal mereka berdua saja di dalam ruangan itu. Dilihatnya Reza sedang fokus menatap layar ponselnya sambil mengetik sesuatu di sana. Galuh tersenyum kecut, ia memilih untuk pergi dari ruangan itu.


“Karena urusannya sudah selesai, dan pak Mahendra juga sudah pulang. Aku pamit mau balik konter lagi,” ucap Galuh bangkit dari kursinya.


Reza bergeming, masih sibuk dengan ponselnya. Galuh menghela napas melihatnya, balik badan dan melangkah ke luar ruangan.


Saat tangannya bergerak membuka pintu, secara tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Seorang lelaki memakai jaket hijau berdiri di ambang pintu sambil membawa kotak makanan di tangannya.


“Saya mengantar pesanan untuk tuan Reza Mahendra,” ucapnya, lalu menyerahkan kotak makanan pada Galuh.


“Eh!” Galuh menggeleng, “Kasih ke dalam saja, langsung sama orangnya. Tuh!” Galuh menunjuk ke dalam ruangan.


“Kamu terima aja, yank. Itu makanan buat makan siang kita berdua,” ucap Reza yang sedang menata gelas minum di atas meja, bicara tanpa menoleh pada Galuh yang menatapnya dengan kening berkerut.


“Ini, Mbak.”


“Terima kasih,” balas Galuh pada kurir lelaki itu, yang langsung bergegas pergi setelah Galuh menerima kotak makanan dari tangannya.


Galuh memutar tubuhnya dan berjalan kembali menuju sofa, di mana Reza sudah duduk menunggunya. Ia meletakkan bungkusan di tangannya ke atas meja.


“Duduk, yank. Aku tahu Kamu pasti belum makan siang,” ujar Reza, sembari membuka kotak makanan di hadapannya.


Galuh menurut, ia duduk berhadapan dengan Reza. Tak ada gunanya membantah ucapan lelaki itu, karena memang ia belum sempat makan siang tadi. Terburu-buru ingin segera datang memenuhi panggilan bos besar Danu Mahendra.


Mereka makan dengan tenang, tak ada yang bersuara. Hanya denting suara sendok dan Garpu terdengar. Meski sedari tadi Galuh menahan rasa penasarannya dengan sikap Reza yang tidak menghubungi dirinya sejak semalam.


“Kita kok jadi kayak anak kecil gini, sih. Pada diem-dieman, gak nyaman tau.” Galuh meletakkan sendoknya dan menatap Reza seraya mengerucutkan bibirnya. “Abang kalau ngambek sama Aku, mending diutarain deh.”


Reza mengangkat wajahnya dan balas menatap Galuh lama. “Aku gak ngambek, buat apa?”


“Ya kalau gak ngambek, kenapa dari semalam gak ada hubungi Aku?” Galuh balik bertanya.


“Aku pikir Kamu butuh waktu buat berpikir, makanya Aku gak hubungi Kamu. Tapi jujur, Aku masih gak ngerti kenapa Kamu gak cerita soal pertengkaran Kamu sama Indri waktu itu. Aku justru tahu soal itu dari orang lain,” ungkap Reza.


“Aku rasa masalahnya sudah beres, dan perempuan itu pun sudah pergi meninggalkan acara pesta. Tidak ada yang perlu dibahas lagi,” jawab Galuh.


“Aku benar-benar sayang sekali sama Kamu, yank. Aku gak mau gara-gara masalah semalam, kita jadi bertengkar dan saling diam kayak gini.” Ucap Reza lagi.


“Maafkan Aku, semalam Aku terbawa emosi. Pandangan mata mereka yang hadir di acara pesta malam itu seakan mengingatkan diri ini bahwa perbedaan status sosial di antara kita itu memang nyata adanya.” Galuh menatap Reza, jujur mengatakan apa yang masih mengganjal dalam hatinya.


“Aku gak pernah memandangmu seperti itu, perasaanku ini benar-benar tulus. Papa dan oma sekali pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu, mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku yang menjalaninya.”


Galuh tersenyum mendengarnya, ia tahu Reza serius dengan ucapannya. “Aku sempat kesal tadi, pagi-pagi sengaja mampir ke mari mau lihat Abang sudah datang apa belum. Ternyata belum datang, dan sampai siang juga gak sekali pun ngehubungin. Aku pikir nih orang beneran marah, jadi gak datang ke kantor.”


“Tiba-tiba ibu Ratri telepon, kasih tau bos besar minta bertemu. Sempat bertanya-tanya di hati, ada apa gerangan. Eh, sekalinya datang lihat Abang juga ada di sini. Diemin Aku cuek lagi gayanya,” ujar Galuh mencebikkan bibirnya.


Galuh menolehkan wajahnya cepat, wajah Reza begitu dekat dengannya. Galuh terkesiap, wajahnya memerah ketika menyadari hal itu, hingga membuat ia terkejut sampai hampir melompat dari kursinya.


Bukan hanya Galuh saja yang terkejut, Reza pun tak kalah kaget mendapati respons Galuh saat Reza mendekatkan dirinya. Ia tersentak mundur dan tahu-tahu rambut Galuh sudah tersangkut di arloji tangannya.


“Sakit!” jerit Galuh, jemarinya berusaha menahan rambutnya yang tersangkut. Berniat ingin menghindari kedekatan fisik dengan lelaki itu, justru rambutnya malah tersangkut. Wajahnya sangat dekat dengan tangan Reza, hanya beberapa inci saja.


“Tunggu, yank. Jangan bergerak dulu, biar Aku coba lepaskan.”


“Pelan-pelan tariknya, sakit tau!”


“Iya, ini juga pelan-pelan.”


Galuh memiringkan kepalanya dan nyaris rebah di pangkuan Reza, lelaki itu setengah membungkuk di hadapannya berusaha membebaskan sedikit demi sedikit rambut yang tersangkut di arloji tangannya. “Begitu lebih baik, akan lebih mudah membereskannya bila kamu merebahkan kepalamu di pahaku.”


Wajah Galuh makin merona, ia mengangkat tangan dan menutupi wajahnya. Reza tersenyum memperhatikan, ia malah sengaja berlama-lama melepaskan rambut Galuh.


Galuh menahan napas, berusaha tidak memedulikan kedekatan mereka berdua dan mengabaikan aroma tubuh Reza yang tercium olehnya. Napas hangat Reza menyapu keningnya, Galuh meringis merasakan telinganya nyeri karena tertekan paha keras Reza. Galuh pun memutar wajahnya menghadap ke atas.


“Diam, yank. Jangan bergerak terus,” ucap Reza lagi.


Galuh menurut, mendongak dan menganggukkan kepalanya. Hal itu justru membuat matanya bisa melihat jelas wajah Reza yang menunduk dan dekat sekali dengannya. Galuh bisa melihat rahang lelaki itu bergerak mengetat, dan pandangannya yang tertuju pada bibirnya yang basah dan kini mengatup.


Galuh memalingkan wajahnya, tapi sebelah tangan Reza yang bebas menahannya. Pandangan keduanya bertaut, Galuh menelan ludah melihat Reza yang tersenyum dan menatapnya lembut. “Tarik napas, rileks yank. Sedikit lagi lepas,” ucap Reza, kembali berkonsentrasi melepaskan helai rambut Galuh.


“Akhirnya selesai,” ucap Reza mengembuskan napas lega, ia pun bergerak menjauhkan wajahnya.


Galuh menegakkan tubuhnya dan segera menyisir rambutnya yang kusut di bagian yang tersangkut tadi. “Terima kasih,” ucapnya dengan nada suara yang terdengar bergetar.


Reza tersenyum simpul, ia pun sedari tadi berusaha menahan keinginan hatinya untuk mencium bibir wanita itu. Reza melirik arlojinya dan langsung mengerutkan keningnya ketika menyadari kalau ternyata kejadian tadi terlihat jelas oleh orang yang berada di luar yang melihat dari balik kaca jendela ruang kerjanya yang terbuka.


“Ekhem!” terdengar suara deheman dari luar ruangan, Galuh menoleh dan langsung mesem ketika mendapati Luna berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.


Gue udah bantu gantiin tugas Lo tadi, tapi Gue gak tahu berapa harga sepatu sport di konter Lo. Sekarang Lo balik konter karena ada dua orang pelanggan yang nungguin buat transaksi.


Galuh melebarkan matanya, membaca pesan singkat Luna padanya, “Bang, Aku balik konter sekarang. Ada pelanggan yang nunggu,” ucapnya bergegas keluar ruangan. Baru dua langkah berjalan Reza menahan lengannya.


“Sore kita pulang bareng lagi, kan?”


Galuh menatapnya sejenak, sementara Luna yang tak sabar berteriak memanggilnya. “Galuh, buruan say!”


“Iya!” jawab Galuh balas berteriak pada Luna, ia melepaskan pegangan tangan Reza di lengannya. “Lihat saja nanti!” jawabnya lalu berlari menyusul Luna yang sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎