If Tomorrow Never Come

If Tomorrow Never Come
Bab 54. Rencana pernikahan



Galuh mengerjap, membuka matanya perlahan dan tersipu malu mendapati sepasang mata yang tengah menatap dirinya penuh arti. Rambutnya yang panjang tergerai di atas bantal putih, berantakan. Tali pengikatnya sudah lepas entah ke mana.


Reza berbaring miring dengan satu tangan menyusup di bawah bantalnya, matanya tak lepas terus memandang wajah wanita di sampingnya itu.


“Selamat pagi, sayang.” Reza mengusap helai rambut Galuh yang jatuh menutupi sebagian pipinya, lalu menyelipkannya ke balik telinganya.


“Pagi juga, Abang.” Sahut Galuh pelan.


Reza terkekeh, gemas melihat tingkah wanitanya yang terlihat malu-malu. Berniat menggoda, Reza mendekatkan wajahnya memangkas jarak di antara mereka.


“Eh! Abang mau ngapain?” Galuh memundurkan wajahnya, tangannya refleks mendorong bibir Reza menjauh.


“Gemes, pengen tium Kamu.”


“Dih, belum sikat gigi juga.”


Lelaki itu tertawa senang dan menahan tangan Galuh di bibirnya, lalu mengecupnya pelan. “Berarti kalau sudah sikat gigi boleh dong ditium Kamu?”


“Gak mau!”


Galuh menarik tangannya, lalu meraih selimut di kakinya dan menariknya ke atas hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia baru menyadari kalau dari semalam mereka tidur satu ranjang, dan tangannya yang bebas tanpa rasa malu memeluk pinggang Reza.


Reza tertawa lepas, Galuh merengut sebal. Lelaki itu berhasil menggodanya.


“Terima kasih ya, sayang. Kamu mau menemani Aku menginap di sini,” ucap Reza lirih, menyentuh pelan jemari tangan Galuh yang menyembul di balik selimut yang dipakainya.


“Abang sudah enakan, gak mimisan lagi?” Galuh menurunkan selimutnya, ganti menyentuhkan tangannya ke bawah hidung Reza.


Reza mengangguk, “Berkat Kamu, Aku merasa jauh lebih baik sekarang.”


“Syukurlah, Abang harus tetap sehat. Masih banyak hal yang ingin kulakukan berdua dengan Abang,” lanjut Galuh.


Reza mengangguk, “I love you, yank. Terima kasih sudah mau menerima lamaranku, Aku bahagia sekali.”


Galuh tersenyum balas mengangguk, “Love you too.”


Setelah membuat keputusan untuk menerima lamaran Reza malam itu, Galuh merasa lega.


Love is blind, cinta itu juga rela berkorban. Saat kita bertemu seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita, bukankah kita akan rela melakukan apa pun juga untuknya.


Selama dua hari dirawat di rumah sakit, Galuh terus berada di samping Reza. Bahkan ketika tuan Mahendra dan oma berada di sana, Galuh tak beranjak sedikit pun dari sisinya.


Kesempatan itu digunakan Reza untuk mengatakan pada keluarganya kalau mereka akan segera menikah.


“Pa, Oma, Galuh sudah menerima lamaranku dan setuju untuk menikah denganku.”


Oma Reza menangis bahagia dan langsung memeluk Galuh. “Oma senang sekali mendengarnya, kita akan mengadakan pesta besar.”


Tuan Mahendra mengusap bahu putranya dan tersenyum lega. “Selamat ya, akhirnya Kamu berhasil merebut hatinya.”


“Kita harus mengundang keluarga Galuh datang ke rumah, membicarakan rencana pesta pernikahan kalian nanti. Apa kalian sudah menentukan harinya?” tanya Oma.


Galuh menggeleng, lalu menatap Reza. Ia belum sempat memikirkan hal itu, bahkan keluarganya di kampung pun belum mengetahui rencana pernikahan mereka. Semua terasa begitu cepat.


Reza tersenyum maklum, tangannya meraih jemari wanita itu dan menggenggamnya erat. “Kami belum memberitahu hal ini pada mereka, rencananya pagi ini Reza mau telepon ibu di kampung.”


“Lebih cepat lebih baik, hal baik jangan ditunda-tunda. Kalian harus segera bicarakan hal ini pada ibu Galuh di kampung,” ucap oma Reza.


Keluarga Galuh di kampung menyambut berita pernikahan putri mereka dengan suka cita, apalagi mereka semua sudah mengenal Reza dengan baik.


Restu sudah didapat, hanya tinggal soal waktu acara. Reza dan Galuh menyerahkan semuanya pada mereka yang dianggap lebih tua dan berpengalaman. Hingga kedua belah pihak sepakat untuk pelaksanaan acara, dilangsungkan Minggu depan.


“Hah, Minggu depan?!” seru Galuh tak dapat menutupi rasa terkejutnya.


“Kalian lebih baik menikah dulu, pestanya bisa dilangsungkan belakangan.” Ujar Oma.


“Apa tidak terlalu cepat, Oma. Hanya satu minggu persiapan?” tanya Galuh lagi, ia melirik pada Reza lagi. Tapi laki-laki itu hanya diam dan sepertinya setuju dengan keinginan omanya.


“Papa rasa itu ide yang baik, keluarga Galuh di kampung juga setuju pernikahan kalian diadakan Minggu depan.” Timpal tuan Mahendra.


Galuh mengangguk pasrah, tak bisa lagi menentang ucapan oma. Ia melihat dengan jelas bagaimana hari itu suasana di kamar rawat inap Reza berubah ramai.


Kedua sahabat sekaligus rekan kerja Reza langsung datang menemuinya di rumah sakit, demikian pula dengan Luna. Siang itu suasana di ruang rawat Reza menjadi heboh, setelah mereka mendengar kabar pernikahan Galuh dan Reza.


“Kamu pasti kaget dengarnya,” ucap Galuh ketika ia ditinggal berdua dengan Luna. Reza sedang bersama dua sahabatnya di balkon rumah sakit tepat di samping kamar Reza.


“Aku sendiri masih belum percaya akan menikah Minggu depan,” ucap Galuh pelan.


Luna menggigit roti kacang di tangannya, terlalu kaget hingga tanpa sadar ia memakan sendiri kue bawaannya yang sedianya ia berikan untuk Reza.


“Aku lagi mikir, bagaimana diriku nanti kalau Kamu gak kerja lagi di mal. Don’t leave me alone, babe.”


“Lebay, ih.”


“Kamu pasti berhenti kerja, Aku yakin Reza gak akan biarkan Kamu kerja di mal lagi.”


“Aku belum bicarakan soal itu sama abang, tapi besar kemungkinan Aku bakal resign. Tapi sebelum hal itu terjadi, kita masih bisa kumpul bareng di acara liburan karyawan.”


“Iya, tapi tetap aja Aku sendirian. Sementara Kamu sudah punya pasangan halal,” ucap Luna dengan wajah nelangsa.


Galuh tertawa melihatnya, ia memeluk lengan Luna dan menyandarkan wajahnya di bahu sahabatnya itu. “Terima kasih ya, Lun. Kamu memang sahabat terbaikku.”


Luna menepuk-nepuk tangan Galuh. “Selamat ya, Luh. Akhirnya Kamu akan menikah juga dengan Reza.”


Reza masuk ke dalam kamar bersama Danil, tertegun sejenak melihat kedua wanita di hadapannya itu yang saling berpelukan lama. Wajah Luna terlihat sedih, dan Reza bisa menebak apa penyebabnya.


“Kamu gak mau ngucapin selamat buat Aku, Lun?” tanya Reza, lalu duduk di samping Galuh.


Luna melirik sekilas, lalu kembali mengunyah makanannya. “Please, Tuan Reza. Buat hari ini saja, jangan perlihatkan kemesraan kalian di depanku. Kasihani Aku yang jomblo ini.”


“Ish! Habisin dulu makanannya, mulut penuh gitu ngomong!” tegur Danil.


“Biarin!”


Reza tertawa melihat tingkah Luna, ia merangkulkan lengannya di bahu Galuh dan menariknya mendekat ke tubuhnya.


“Kan, kan gitu lagi. Kalian benar-benar gak ngerti perasaanku.”


“Dah, duduk sama Gue sini. Biar Gue peluk!” ajak Danil yang langsung disambut cibiran Luna.


“Males, yang ada bukannya sikap mesra. Malah sakit bahu Gue dicengkeram sama Lo!” sahut Luna.


“Ish!”


“Sudah sana duduk samping Danil, jangan pada bertengkar terus. Sama-sama jomblo, apa salahnya saling berbaikan. Siapa tahu kalian jodoh,” goda Reza.


“Ya kalau Gue sih mau-mau aja, gak tahu Luna.”


“Males, Lo mah play boy! Yang ada Gue sakit ati di duain terus sama Lo,” balas Luna.


“Ish, fitnah itu! Gue laki-laki baik, Lun.”


Reza hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan keduanya, tatapannya beralih pada Galuh yang terlihat setengah melamun.


“Ada apa, yank. Kok dari tadi diam saja?”


Galuh tersenyum dan mengusap dagu Reza, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Reza. “Aku senang Abang sudah sehat kembali, Aku juga bahagia dengan rencana pernikahan kita.”


Reza mengetatkan pelukannya, jemarinya mengusap lembut bahu Galuh. “Aku juga gak sabar menunggu hari itu tiba.”


Galuh langsung mengerutkan bahunya, ia mendongak menatap wajah Reza. “Apa Abang bahagia?”


“Sangat bahagia, ini hari yang sudah lama Aku tunggu. Menikah dengan wanita yang Aku cintai. Kamu!”


Galuh tersenyum mendengarnya, meski sebelumnya ia sempat tak ingin menikah muda. Tapi kali ini ia sama sekali tidak ragu dengan keputusannya untuk menikah dengan Reza.


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎